Pembalasan Queensany

Pembalasan Queensany
Bab 60...The end...


__ADS_3

Hari itu alam seakan ikut bersedih.


Ikatan antara seorang ibu dan anak yang begitu retak nya hingga membuat ajal lah yang akhir nya memutuskan semua nya.


Bahkan ikatan antar seorang istri dan suami pun terancam renggang di hari itu juga.


Tatapan Marwa tak sedetik pun berpaling menatap batu nisan di hadapan nya.


Keinginan nya memiliki seorang ibu untuk menggantikan kedua orang tua nya yang telah meninggal kini benar benar telah pupus.


Dan itu karna keegoisan dari suami nya sendiri.


Raut wajah kekecewaan begitu nampak jelas tergambar di wajah Marwa saat itu.


"Ibu, its okey?," ucap Aslan mencoba menggenggam tangan sang ibu demi membangun lagi kekuatan di dalam diri sang ibu.


"Okey sayang, ayo kita pulang," ucap Marwa mencoba begitu tegar saat itu tanpa air mata setetes pun.


"Hey, kau tidak lupa kan akan perjalanan kita hari ini bukan?," seru Adam menghentikan langkah kaki sang istri.


"Setelah semua yang terjadi mas?, kau masih membahas itu semua?," sahut Marwa tak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran suami nya sendiri.


"Aku minta maaf jika aku salah, tapi sebaik nya kita lupakan semua ini, okey!, semua sudah terjadi," ucap Adam tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Ayah!," tegur Aslan tak tega melihat ibu nya begitu tertekan akhir akhir ini.

__ADS_1


"Diam Aslan!, berapa kali ayah bilang jangan menyela saat orang tua berbicara," seru Adam membuat Marwa tersenyum sinis.


"Biarkan ayah mu melakukan apa yang menjadi keinginan nya Aslan, pilihan kita hanya menuruti nya," Ucap Marwa kembali beranjak pergi dari sana.


"Ayah, aku tidak akan bersikap buruk pada mu seperti yang ayah lakukan pada ibu dan nenek. Tapi semua ini akan ku ingat selalu di ingatan ku ayah, sebaik nya ayah mencoba menurunkan ego ayah itu jika tak mau rasa hormat kami ke ayah semakin terkikis dan menghilang," ucap Aslan meninggalkan Adam yang kini hanya mematung mendengar ucapan berani dari sang putra.


Seakan ada rasa ketakutan tersendiri dalam diri nya akan reaksi Marwa dan sang putra saat itu.


----##----


"Selamat datang tuan, kita akan berlayar 1 jam lagi," ucap seorang petugas segera bergegas membantu keluarga Adam untuk naik ke atas kapal yang akan membawa mereka pergi jauh dari Suriah.


Sementara sampai saat itu, tak ada reaksi berarti dari Marwa dan Aslan sedikitpun.


Seperti yang Aslan sempat ucapkan, ia tidak akan bersikap buruk pada sang ayah, namun tak akan pernah melupakan kejadian hari itu.


"Aku sudah ucapkan sebelum nya mas, aku akan menurut dengan semua keinginan mu, kini aku tak akan mengkritik apapun yang kamu lakukan dan inginkan, meskipun hari ini kau meminta ku terjun dari kapal ini aku akan lakukan dengan senang hati," sahut Marwa sembari berjalan meninggalkan Adam seorang diri di tengah tengah waktu makan malam mereka.


"Arrrrgh!," keluh Adam sembari memeras gelas kaca nya hingga pecah dan melukai tangan nya sendiri.


Sedangkan Aslan yang menyaksikan itu semua dari jauh memilih untuk pergi dari sana, ia berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi ibu nya dari sang ayah tanpa mau berdebat apapun lagi dengan sang ayah.


Sejak saat itu, kehidupan rumah tangga Adam begitu terasa dingin.


Rasa hormat dari istri dan anak nya kini telah berubah menjadi sikap acuh tanpa perhatian sama sekali, meskipun dalam keseharian nya, Marwa maupun Aslan tidak pernah meninggalkan kewajiban mereka sebagai istri dan anak dari Adam.

__ADS_1


Kini aku tahu rasa nya hidup seorang diri ibu, terlepas dari kesalahan yang pernah kita perbuat sebelum nya, maafkan aku, maafkan aku, batin Adam begitu merenungi kesalahan nya selama ini.


Perlahan dia mulai mengutarakan semua kekhilafan nya itu pada istri dan anak nya.


Dengan berderai air mata ia begitu menyesal akan sikap nya yang dahulu kepada almarhum sang ibu.


"Alhamdulillah jika kau sudah menyadari semua nya mas," ucap Marwa tanpa bisa membendung air mata bahagia nya.


"Nenek pasti akan senang melihat semua ini yah, kami begitu bangga pada mu ayah," ucap Aslan sembari tersenyum ke arah jendela luar .


Seakan bayangan akan kakek dan nenek nya muncul dan sedang berkunjung menyaksikan semua itu.


Dengan sebuah senyuman mereka kembali menghilang tak berbekas.


...The End...


Alhamdulillah Perjuangan Queensany alias Mastany sudah selesai sekarang.


Ia mencoba mengajarkan pada kita bahwa penyakit hati hanya akan memperburuk apapun yang akan terjadi di masa depan.


So, tetap jaga hati kita dan tindak tanduk kita.


Karna hukum sebab akhibat akan selalu melekat dalam takdir hidup kita.


Othor ucapin terima kasih ya yang udah nemenin mulai awal sampai akhir.

__ADS_1


Semoga kita selalu dalam lindungan nya.


See you,.......


__ADS_2