
"Cepat panggil para medis!," seru seorang kepala polisi saat melihat William begitu lemas tak berdaya.
Dengan cepat para medis segera datang dan memasang selang oksigen kepada William di tempat itu juga.
"Lain kali jangan bawa lansia ke penyelidikan ku," bisik kepala polisi kepada Yekka yang begitu nampak khawatir dengan kondisi William saat itu.
"Tenanglah Sir, lansia ini punya informasi penting untuk mu," ucap William dengan nafas yang masih naik turun.
"Informasi?," tanya kepala polisi begitu penasaran di buat nya.
"Informasi macam apa yang bisa di dapatkan seorang lansia yang tidak bisa di dapatkan oleh para pekerja handal ku di tkp ini?," ucap sang kepala polisi dengan nada meremehkan.
"Aku jamin 100 % kalau itu memang lah jasad dari Queensany seperti yang Yekka duga," ucap William membuat semua yang ada di sana begitu terkejut mendengar nya.
"Apa aku bisa mempercayai mu?, apa yang membuat mu yakin akan semua itu?," cerca Kepala polisi masih meragukan pengakuan dari William.
"Gaun ini adalah satu satu nya rancangan khusus untuk Queensany pada masa nya.
Gaun ini hanya di buat satu buah saja di dunia," ucap William meraba aksen jahitan khas dari sobekan kain yang telah lusuh di tangan nya.
"Apa kau bisa menyimpulkan penyebab kematian nya?," tanya kepala polisi semakin penasaran dengan cerita akan Queensany.
Pasal nya di dalam sejarah, Queensany di kenal telah meninggalkan Kastil sesaat setelah pernikahan nya dengan lelaki bernama Yossep, lalu kenapa jasad nya malah ada di dalam Kastil?, apa sejarah telah melakukan kesalahan dalam pencatatan nya?.
Pikiran seperti itulah yang kini terlintas di pikiran semua orang yang ada di dalam ruang bawah tanah itu, termasuk di pikiran William sendiri.
Perlahan William melepas selang oksigen nya dan kembali berjalan pelan mendekati tempat di mana jasad Queensany berada.
Apakah sejarah akan benar benar berubah?, dan bagaimana Mastany putri ku bisa mengetahui ini semua?, yang bahkan keturunan Yossep pun mungkin tak mengetahui akan semua ini, batin William terus mencari akar dari semua nya.
"Untuk itu maaf, aku tidak bisa menyimpulkan nya kali ini," ucap William sembari pergi begitu saja dari sana.
__ADS_1
...***...
Melihat William begitu tergesa gesa meninggalkan Kastil.
Yekka dengan cepat segera mengejar nya dan menawari nya bantuan.
"Kita akan tiba di rumah sakit beberapa menit kemudian, bersandar lah untuk beberapa saat," ucap Yekka sembari mengemudikan laju kereta nya.
"Antar aku pulang, bolehkah?," ucap William sembari tak henti henti nya menatap ke depan seakan sedang ada yang tengah ia pikirkan.
"Baiklah," sahut Yekka tak mempermasalahkan permintaan itu.
Satu jam berlalu, kini mereka telah tiba di rumah kediaman William.
William berjalan pelan menuju teras sembari menatap lekat lekat rumah yang sudah ia tinggali sejak menikah dengan Serril.
Aku begitu ingat jelas saat tangisan kecil Mastany terdengar pertama kali di rumah ini, tapi semua asumsi ini membuat ku ragu jika dia memang putri ku, hari ini aku merasa dia adalah orang asing yang sengaja datang dari masa lalu untuk tujuan tertentu, batin William sembari memutar kunci rumah dengan tangan gemetar nya.
"Mastany?," seru Yekka begitu terkejut saat melihat Mastany sudah berada di dalam rumah sebelum mereka.
"Aku sudah menunggu mu Abi," ucap Mastany dengan senyum kecil nya.
Sementara William masih terdiam di tempat nya berdiri sembari menatap tajam ke arah sang putri.
Perlahan ia melangkah kan kaki nya dan mendekat ke arah Mastany.
"Apa ada yang bisa Mastany bantu Abi?," ucap Mastany membuat Yekka semakin bingung menatap kedua nya.
"Putri ku memang wanita yang pintar," ucap William sembari tersenyum seakan tanpa beban.
"Tentu Abi, aku cukup beruntung karna Allah telah menciptakan ku menjadi wanita pintar di dua kehidupan, tapi aku juga tak beruntung jika di lihat dari sisi takdir," ucap Mastany seketika membuat William dan Yekka tercengang saat mendengar nya.
__ADS_1
"A- apa yang kau bicarakan Mastany?, seperti nya pikiran mu itu sudah terganggu, sebaik nya kau istirahat dan pikirkan kondisi anak kita," seru Yekka dengan reflek nya hingga membuka sebuah rahasia di depan William.
"Anak kita?, apa maksud nya ini?, jadi kini kau lah yang bermain gelap di belakang Albert?, apa semua ini hanya kedok untuk menutupi kebusukan mu saja!," seru William mulai marah.
"Kini Abi sudah tahu semua nya bukan. Carlos memang anak ku dengan Yekka, aku menikahi Albert hanya untuk menjadi malaikat maut untuk nya dan untuk mengambil Kastil yang seharusnya menjadi milik ku," seru Mastany begitu membuat William tak habis pikir.
Putri yang begitu ia banggakan ternyata bak iblis menakutkan.
"Maaf Yekka, aku tak pernah mengatakan satu rahasia terakhir ku pada mu selama ini, aku hanya ingin identitas ku tetap terjaga hingga nama ku sebagai Queensany bisa bersih sepenuh nya," ucap Mastany hanya bisa membuat Yekka mematung saat mendengar hal tak masuk akal itu.
"Jadi bagaimana aku harus memanggil mu kini?, Queensany atau Mastany?," ucap William dengan raut kekecewaan nya.
"Kenapa Abi menanyakan itu?, apa Abi tak ingin mendengar alasan ku membunuh nya?, harus nya itu yang Abi tanyakan untuk membersihkan nama ku di masa lalu," seru Mastany begitu tak sabar untuk melihat nama nya di bersihkan di dalam buku sejarah.
"Kenapa kau berfikir aku akan melakukan itu nak?, tidak!, biarkan sejarah tetap seperti itu, anggap saja itu adalah balasan dari perbuatan mu di masa kini," ucap William membuat Mastany begitu kesal.
"Abi tak boleh melakukan hal itu pada ku!, aku sudah melakukan semua hal untuk mewujudkan semua ini!" sentak Mastany hingga tak sadar tengah berhadapan dengan siapa.
"Jaga bicara mu Mastany!," seru Yekka memperingatkan.
"Apa yang kau tahu Yekka!, kalian tak pernah tahu penderitaan ku selama ini!, aku harus melewati dua kehidupan yang tak mudah!," seru Mastany begitu marah nya.
"Biarkan saja dia Yekka, hati nya memang sudah membatu sejak lama," ucap William sembari masuk ke dalam ruang kerja nya meninggalkan Mastany begitu saja.
"Ini tak adil bagi ku Abi!, Abi!," teriak Mastany sampai harus di dekap oleh Yekka agar tak lepas kendali saat itu.
Sementara William hanya duduk terdiam di kamar nya sembari menatap rak buku nya tanpa melakukan apapun juga.
Ia begitu syok akan semua kenyataan yang terungkap hari itu.
Entah bagaimana reaksi Serril saat mengetahui semua ini, batin William tetap terjaga sepanjang malam di kamar nya malam itu.
__ADS_1