Pembalasan Queensany

Pembalasan Queensany
Bab 38.


__ADS_3

"Dasar lelaki bodoh!," sentak Mastany seketika saat Albert kembali berbalik badan menghadap ke arah nya.


Albert yang terkejut dengan sosok Mastany yang kini kembali hidup dan tengah berdiri di hadapan nya tak sempat menghindar dari pukulan kayu yang kini ada di genggaman Mastany.


Plak..!!


Plak..!!


"Hentikan wanita iblis!, hentikan!," seru Albert terus saja di hujam pukulan keras bertubi tubi tanpa ampun dari Mastany.


Ia begitu membabi buta namun terlihat masih membiarkan Albert hidup dengan tak berniat memukul area kepala nya saat itu.


Karna pukulan dari Mastany, Albert perlahan terlihat lunglai dan jatuh pingsan tergeletak di tanah.


"Rasakan itu!, lelaki biadab!," seru Mastany sembari melempar kayu penyangga obor yang ia gunakan untuk memukul Albert saat itu ke arah Sesil.


Sesil yang begitu amat ketakutan sedari awal semakin meringkuk melihat besar nya dendam Mastany kepada Albert saat itu.


"Ku, ku mohon maafkan aku, aku tidak akan lagi mengganggu mu jika kau melepaskan ku kali ini, a- aku akan pergi jauh hingga tak akan muncul di kota ini lagi," rintih Sesil sembari bersujud di hadapan Mastany.


"Semestinya kau pikirkan dulu sebelum memutuskan untuk bermain api dengan ku!," bisik Mastany sembari menarik rambut Sesil yang kini telah acak acak kan tak karuan lagi.


"I- ini milik mu," ucap Sesil sembari tersedu sedu dengan tangan gemetar nya yang berusaha mengulurkan sebuah dokumen surat kuasa yang menjadi perebutan mereka selama ini.


"Bagaimana kau bisa berpikir untuk mengambil sesuatu yang bukan milik mu?, hem!," seru Mastany sembari memeriksa keaslian surat kuasa atas Kastil incaran nya itu.


"B- bolehkah aku pergi sekarang?, ku mohon?," ucap Sesil dengan nada keputusasaan.


"Pegang lah dulu kayu itu!," perintah Mastany.


Tanpa berpikir lagi, Sesil segera memegangi kayu itu ujung hingga ke ujung nya yang lain.


"Bagus, sekarang letakkan kembali di tempat nya semula!," perintah Mastany kembali.

__ADS_1


Yang lagi lagi segera di laksanakan oleh Sesil tanpa bertanya apapun lagi.


"Sekarang bolehkah aku pergi?," tanya Sesil penuh harap.


"Kau boleh pergi beberapa saat lagi, setelah kau melaksanakan perintah terakhir dari ku," seru Mastany sembari mengambil pisau berkarat nya dan memainkan nya di hadapan Sesil tanpa mau melihat ketakutan Sesil saat menatap pisau milik nya itu.


"Kau telah berjanji untuk melepaskan ku bukan?," ucap Sesil terisak isak sembari pandangan nya yang terus terfokus dengan pergerakan pisau yang ada di tangan Mastany saat itu.


Ia begitu takut jika tiba tiba pisau itu menghujam ke arah nya saat ia tak melihat nya.


"Itu benar!, dan aku tak akan mengingkari nya, tapi sebelum itu, tetaplah di sini, duduk lah diam, hingga aku usai dengan urusan ku," bisik Mastany sembari tersenyum dengan licik nya.


Perlahan Sesil pun mengangguk karna tidak ada pilihan lain bagi nya.


Sebagai normal nya manusia, ia hanya ingin melindungi nyawa nya saat itu.


"Gadis pintar," ucap Mastany perlahan memalingkan pandangan nya ke arah Albert yang mulai mendapatkan kembali kesadaran nya.


"Arrrrgh!, kepala ku, badan ku," rintih Albert sembari mencoba meraba lengan dan kaki nya yang terluka akibat pukulan keras dari Mastany.


Dengan terhuyung huyung, Albert mencoba bangkit dan menghindar dari sosok Mastany yang kini telah kembali bersiap dengan pisau di tangan nya.


"Sebenar nya apa mau mu!," seru Albert masih belum bisa fokus dengan gerak tubuh nya sendiri.


"Semua sudah ku jelaskan di awal sayang, aku menginginkan Kastil ku ini kembali, dan juga nyawa mu itu!," seru Mastany membuat Albert terasa sulit hanya untuk sekedar menelan ludah nya.


"Ambillah semua kekayaan ku!, tapi tolong lepaskan aku," ucap Albert tak ada cara lain selain memohon untuk kebebasan nya.


"Semudah itu?, tidak!, nyawa harus di bayar dengan nyawa Albert!," sentak Mastany kembali menodongkan pisau nya ke arah Albert.


"Ini tidak benar Mastany!, kita masih punya Allah!, kau harus mempertimbangkan semua nya," seru Albert terus mencoba lepas dari cengkraman Mastany.


"Allah?, sejak kapan kau menyadari itu?, hidup mu saja sudah jauh dari nya sejak lama," seru Mastany perlahan terus berjalan mendekati Albert seperti seorang malaikat maut yang tak mau melepaskan sasaran nya.

__ADS_1


"To- tolong, maafkan aku jika aku bersalah," ucap Albert yang kini memilih bersimpuh di hadapan Mastany.


Dengan harapan ia akan luluh dan melepaskan nya.


Sementara Sesil yang menatap semua kejadian itu, seakan begitu tertekan dengan apa yang ia lihat, mata nya hanya bisa membulat sempurna menyaksikan kejadian itu seperti yang telah diperintahkan Mastany sebelum nya.


"Aku tak mau mati, aku tak mau mati," ucap lirih Sesil terus menerus.


"Aku akan berubah, dan jika perlu aku akan menjadi suami dan ayah yang baik bagi Carlos tanpa mempermasalahkan apapun juga, aku akan wujudkan impian mu saat dulu ingin hidup bahagia bersama kakek Yossep, tolong lepaskan aku," rintih Albert di puncak keputusasaan nya.


"Terlambat!, luka hati ku sudah terlalu dalam Albert!, bahkan aku sudah tak mau membayangkan hidup berumah tangga lagi dengan mu!," sentak Mastany sembari menatap tajam ke arah sepasang mata yang kini mulai tersadar dari kesalahan nya.


"Aku mohon," rintih Albert di tengah tengah tangisan nya.


"Cukup!, aku sudah muak dengan mu!," teriak Mastany sembari tanpa ampun segera menancapkan pisau nya tepat ke arah perut Albert.


"Tidak!," teriak Sesil sesaat sebelum ia pingsan di buat nya.


Erangan panjang Albert segera terdengar menggema di ruangan itu.


Satu, dua, bahkan berkali kali tusukan kini telah mendarat di tubuh Albert.


Sembari tertawa puas, Mastany perlahan melepas pegangan nya dari pisau yang masih menancap di perut Albert saat itu.


"Queensany!, kita sudah menang!, kita sudah berhasil membalaskan dendam kita!," seru Mastany sembari menatap Albert yang mulai lemas terkapar tak berdaya namun masih bernafas.


"A- apa kau puas?," ucap Albert di tengah tengah nafas nya yang sudah tak beraturan.


"Puas!, aku sangat puas!," sahut Mastany tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Untuk terakhir kali nya, maafkan aku, aku bahagia jika kau sudah lepas dari dendam mu Queensany, maafkan aku," ucap Albert sebelum akhir nya ia memejamkan mata nya untuk selama nya.


Namun bukan lagi tawa yang kala itu di tunjukkan oleh Mastany.

__ADS_1


Mendengar kata terakhir Albert, ada rasa terenyuh yang melintas di hati nya.


"Dia, dia benar benar meminta maaf," ucap Mastany seketika berdiri mematung di tempat nya berdiri.


__ADS_2