
Perlahan sinar mentari pagi mulai menyeruak masuk dari sela sela jendela rumah keluarga Mastany.
Membangunkan Yekka yang tak sengaja telah tertidur di sofa rumah Mastany malam itu.
"Kau sudah bangun?," ucap Yekka sembari mengusap raut wajah nya yang masih nampak begitu lelah karna keadaan rumit semalam.
Sementara Mastany hanya menatap sayu ke arah pintu ruang kerja sang Abi tanpa bergeming sedikitpun, bahkan diri nya tak sedikitpun menanggapi pertanyaan yang di ajukan Yekka saat itu.
"Apa kau tak tidur sama sekali?," tanya Yekka mencoba mengartikan sorot mata dari Mastany pagi itu.
Namun lagi lagi, tidak ada respon sedikitpun dari Mastany bagaimana pun keras nya usaha Yekka.
Membuat Yekka hanya bisa menunggu dan menunggu sampai Mastany atau William memecah keheningan di antara mereka bertiga.
...***...
"Sudah hampir pukul 10 pagi, minumlah susu hangat ini, kita akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Carlos, Ummi mu pasti sangat menantikan kabar dari mu," ucap Yekka sembari menyodorkan secangkir susu hangat ke arah Mastany.
"La!, aku tidak mau!," sentak Mastany masih tak mau beranjak dari tempat duduk nya.
"Setidaknya kau pikirkan juga Abi mu, ia tak akan keluar dan mengisi perut nya jika kau tetap bersikeras menunggu nya. Biarkan ia sendiri dulu dan menyantap beberapa roti pagi nya, oke," bujuk Yekka yang akhir nya membuat Mastany tak ada pilihan lain selain menuruti nya.
Saat Mastany dan Yekka beranjak pergi dari sana, perlahan William juga mulai berjalan meninggalkan rumah nya secara diam diam dengan membawa seikat dokumen pribadi nya.
Ia nampak berjalan tanpa ekspresi menuju ke arah kantor polisi di mana jasad Queensany di urus.
"Selamat pagi tuan, ada yang bisa kami bantu?," sapa sang kepala polisi begitu terkejut saat melihat William yang datang seorang diri, bahkan dengan raut wajah yang nampak begitu pucat dan lelah.
"Aku mau bertanya tentang perkembangan penyelidikan atas jasad itu," ucap William dengan nada suara yang bergetar.
"Sebaiknya tuan pulang dan beristirahat, urusan jasad itu biar kami yang membereskan nya," sahut sang kepala polisi sembari mencoba menghubungi rumah sakit tempat keluarga William kemungkinan berada.
"Hanya aku yang bisa menyelesaikan penyelidikan ini, hanya aku yang bisa menorehkan sejarah baru dalam buku dokumentasi milik negara kita!, apa kau tak paham akan hal itu!," seru William bersikeras, hingga pihak kepolisian mau tidak mau akhir nya membiarkan William mengurus semua nya.
__ADS_1
Sejak saat itu, William tak henti henti nya terus meneliti dan mencatat semua hasil riset nya terhadap jasad itu.
Fakta kekerasan dan bukti dari siapa pelaku penganiayaan itu mulai terungkap dari barang barang yang tersisa di jasad itu.
Kebusukan memang selalu berjejak, batin William sembari berusaha fokus mengetik pembaharuan buku sejarah yang memuat akan riwayat hidup Queensany sang arsitek terhebat sepanjang masa itu.
...***...
"Apa nak?, bagaimana bisa kau berdebat dengan Abi mu!," keluh Serril saat Mastany mengungkapkan perdebatan nya dengan sang Abi di malam itu.
"Aku minta maaf Ummi," ucap lirih Mastany begitu bingung akan diri nya kini.
"Sebaiknya aku pulang, sudah ada kalian berdua yang menjaga Carlos di sini, Abi mu lebih membutuhkan Ummi saat ini," seru Serril menatap kecewa kepada sang putri.
"Tapi Ummi," sahut Mastany keberatan.
"Saat anak anak sudah besar, orang tua akan kembali kesepian, hanya di antara kami berdua lah yang tersisa untuk saling menguatkan satu sama lain," ucap Serril membuat hati Mastany semakin remuk redam.
Namun sebelum Serril melangkah kan kaki nya dan pergi dari sana.
Senyum Serril mulai muncul saat ia menatap sosok sang suami ada di tengah tengah kelompok orang orang yang tengah berjalan ke arah mereka.
"Will?," ucap Serril sembari bergegas memeluk sang suami.
"Hai sayang, aku datang membawa kru pencatat sejarah dan pers yang aku kenal, seperti keinginan terbesar putri kita," ucap William sembari menatap binar ke arah sang putri.
Sementara Mastany hanya terdiam dan terpaku di tempat nya saat menatap kedatangan sang Abi ke hadapan nya.
"Apa maksud mu?," tanya Serril sembari menatap penuh tanda tanya ke arah sang suami, ia juga mulai menyadari bahwa kesehatan suami nya mulai menurun saat itu.
"Anak anak, bisa kita mulai klarifikasi nya?," seru William membuat para pers langsung bersiap mendokumentasikan pengumuman penting dari William sore itu.
Mereka begitu antusias melempar beragam pertanyaan ke arah William tanpa henti.
__ADS_1
Hingga membuat Serril semakin khawatir dengan kondisi nya.
"Buku ini, buku yang telah saya tulis sebagai mana fakta yang telah saya dapatkan sejauh ini, aku sebagai seorang pengagum dan pemuja sejarah ingin membersihkan nama atas gadis hebat bernama Queensany, dia adalah wanita baik baik, dia hanya korban dari keserakahan sepasang kekasih di masa nya," seru William membuat Mastany menangis saat itu juga.
William terus menjelaskan secara gamblang penyebab dan kemungkinan besar dalang dari kematian Queensany di masa silam.
Fakta yang ia tunjukkan juga bersamaan dengan bukti yang berhasil ia temukan setelah penelitian lama nya tanpa memikirkan tidur bahkan makan sedikitpun.
"Terima kasih Abi," ucap lirih Mastany sembari bersimpuh di lantai rumah sakit dengan perasaan yang begitu bahagia nya saat itu.
"Lalu, bagaimana dengan dalang dari kematian tuan Albert, apakah tuan bisa mengungkap kan nya juga?," tanya seorang pers tanpa menyadari akan penurunan kesadaran dari William saat itu.
Hingga sebelum acara itu usai.
William sudah tersungkur ke lantai dan tak sadarkan diri saat itu.
"Abi!," teriak Mastany segera berlari mendekap sang Abi.
"Bangun Will!, William!," seru Serril tak kalah histeris nya saat itu.
Dengan cepat para dokter segera menangani William dan segera membawa nya ke ruang tindakan.
"Boleh saya menemani nya?," ucap Serril dengan nada memohon.
Hingga tak ada pilihan lain bagi para petugas medis selain membiarkan wanita tua itu masuk dan menemani suami nya.
"Kau tidak boleh masuk!, hanya aku keluarga nya yang tersisa," seru Serril menghadang Mastany yang berniat ikut masuk ke dalam ruang tindakan saat itu.
"Tapi Ummi," keluh Mastany tersedu sedu namun tak di hiraukan oleh Serril sedikitpun.
"Sudahlah Mastany, tenanglah!, kau hanya membuat mereka semakin kesal saja," seru Yekka mencoba meredam emosi nya kala itu.
"Kenapa kau juga berubah Yekka?," keluh Mastany tak habis pikir, Yekka yang selalu ada untuk nya kini juga telah bersikap berbeda kepada nya.
__ADS_1
"Sebaik nya kau pikirkan itu sendiri, aku mengenal mu sebagai Mastany bukan Queensany yang hanya mementingkan pembalasan dendam nya saja," ucap Yekka berjalan pergi meninggalkan Mastany begitu saja.