
"Menjijikkan!, benar benar menjijikkan!," seru sebuah suara dari para opsir polisi ketika Yekka baru saja tiba di kantor polisi.
"Benar!, mungkin dia memang wanita tak waras, ke sana ke mari dia terus membawa tulang belulang seorang bayi, entah itu anak nya atau itu juga korban nya," keluh seorang opsir wanita begitu merinding saat menatap Pio yang terus menimang nimang tulang belulang bayi nya di dalam sel tahanan.
"Lalu, apa motif nya membunuh tuan Albert?, apa kalian sudah mendapatkan titik terang nya?," tanya seorang kepala polisi saat ia datang bersama Yekka saat itu.
"Kami masih belum mendapatkan kepastian nya sir, namun sidik jari di pisau itu sudah jelas milik kedua wanita itu," ucap seorang opsir polisi wanita membuat Yekka sedikit ketakutan.
Bagaimana kalau Mastany benar benar dalang dari semua ini?, apa yang akan terjadi pada kedua orang tua nya?, keluh Yekka dalam hati.
"Lalu bagaimana dengan tulang belulang yang terkubur di sana?," tanya kepala polisi membuat Yekka begitu tercengang mendengar nya.
"Ja- jasad?, di dalam ruang bawah tanah?," seru Yekka begitu tak percaya, pasal nya selama ia bekerja di sana ia tak pernah mengetahui hal itu.
"Kami masih mendalami kasus ini tuan, seperti nya dua kasus ini merupakan dua kasus yang berbeda," ucap kepala polisi menjelaskan.
"Wanita pemilik jasad itu diperkirakan telah meninggal beratus ratus tahun yang lalu," ucap seorang opsir wanita membacakan hasil sementara dari penyelidikan mereka.
"Wanita?," seru Yekka lebih syok lagi mendengar nya.
Sesaat ingatan nya tiba tiba mengingat ucapan Mastany tentang sejarah Queensany di Kastil itu.
"Apa tuan mengetahui sesuatu tentang semua ini?," tanya kepala polisi mengingat jika Yekka telah cukup lama bekerja di keluarga Albert.
"Setahu ku tidak ada wanita yang mendiami Kastil itu sampai tuan Albert bersedia tinggal di sana, dan ruang bawah tanah itu tak pernah sekalipun terbuka sejak lebih dari 300 tahun silam," ucap Yekka menjelaskan opini nya.
"Lalu, apa arti nya semua itu?," tanya kepala polisi begitu berharap ada titik terang dari kasus nya itu.
"Queensany!," seru Yekka seketika membuat semua anggota kepolisian tertegun saat mendengar nya.
__ADS_1
...***...
"Kau yakin Yekka?," tanya William dengan suara begitu pelan saat berbicara dengan Yekka dari telfon rumah sakit.
Entah kenapa firasat nya mengatakan bahwa istri dan anak nya belum saat nya tahu akan keinginan nya menyelidiki kasus wanita misterius itu.
Karna saat mendengar nama Queensany di sebut, seketika ia merasa semua sumber masalah seakan berasal dari sang putri sendiri.
Kau selalu menyebut nama Queensany sejak kecil nak, dan kau selalu marah saat Abi mengatakan isi buku sejarah tentang catatan buruk Queensany pada mu. Bukan hal kebetulan nama Queensany kembali menyeruak ke permukaan seperti yang kau inginkan sejak dulu, batin William sembari berjalan kembali ke arah istri dan anak nya.
"Aku mau cari udara segar," ucap William sesaat membuat Serril keberatan.
"Apa kau mau kesehatan mu menurun?," keluh Serril marah.
"Sudahlah Ummi, biarkan Abi bernafas lega untuk sesaat, bukan begitu Abi?," ucap Mastany membuat William seakan begitu gugup saat itu sembari tatapan yang tak berpaling dari sang anak.
"Apa yang kau bicarakan nak!," seru Serril tak sependapat dengan sang putri.
Aku tahu kemana Abi akan pergi, Abi tak perlu khawatir, aku tidak akan menghentikan niat Abi, justru aku akan membuka jalan seluas mungkin supaya penelitian Abi berhasil dan nanti nya bisa membersihkan nama ku sebagai Queensany. Aku tak akan kalah meskipun aku nanti nya akan terbukti bersalah dari mulut mu itu Abi, batin Mastany menatap sang Abi sampai benar benar hilang dari pandangan nya.
...***...
"Mana jasad itu Yekka?," seru William seketika saat ia telah sampai di Kastil, tepat nya di dalam ruangan bawah tanah.
Ia begitu tak sabar melihat sendiri jasad yang di duga adalah milik Queensany, wanita arsitek terhebat yang banyak di tulis di buku sejarah saat ia dulu tengah bekerja.
"Bukan kah ini ayah dari nyonya Mastany?," tanya kepala polisi menatap William yang tiba tiba datang ke sana tanpa di undang.
"Tenanglah Sir, aku yang meminta nya datang, dia punya keahlian dalam bidang sejarah yang kita perlukan saat ini," seru Yekka mengantisipasi jika lau keberadaan William begitu tak di inginkan oleh petugas tkp yang ada.
__ADS_1
"Baiklah, jika dia bisa membantu, silahkan," ucap kepala polisi seketika membuka jalan ke arah di mana kerangka yang di duga Queensany telah di temukan.
Kaca mata yang dulu nya selalu menemani nya bekerja kini kembali ia pakai saat mengamati kerangka yang ada di hadapan nya.
Ia terus mengamati dan mengusap usap kerangka itu walaupun dengan tangan tua yang tak berhenti bergetar saat bergerak.
"Dia tak memerlukan catatan atau buku sejarah?," bisik kepala polisi begitu heran saat William tengah terjun ke kasus nya di usia nya yang tak lagi muda dan kemungkinan telah pikun sejak lama.
"Tenanglah tuan, semua catatan sudah ada di dalam kepala nya," sahut Yekka tanpa berpaling sedikitpun menatap ke arah William yang tengah memperlihatkan keahlian masa muda nya.
Perlahan tangan William meraba kerangka tangan dan kepala yang ada di hadapan nya.
Namun seperti nya dengan mata telanjang saja ia tak akan bisa mengenali sosok wanita di hadapan nya.
"Ini begitu sulit, bagaimana aku bisa mengenali nya hanya dengan kerangka yang sudah kering dan berumur ratusan tahun ini," keluh William namun tak menunjukkan kalau diri nya telah putus asa.
Ia lalu meraih dan mengamati sobekan gaun yang telah hampir habis di makan cacing dan ulat tanah.
Ia terus meraba jahitan yang seakan bisa ia kenali.
Jahitan yang identik di buat orang Suriah di 300 tahun di masa lalu.
"Apa kau mendapatkan sesuatu?," tanya kepala polisi begitu tak sabar mendapatkan hasil dari pengamatan William.
"A- apa kalian sudah membersihkan kerangka ini?, apa kalian menemukan sobekan lain dari gaun milik nya?," seru William seakan begitu tak sabar saat itu.
"Tenang tuan, tenanglah!, kita akan selesaikan kasus ini secara perlahan," ucap Yekka mencoba menenangkan William yang begitu nampak gelisah saat itu.
"Apa ini yang kau cari?," seru seorang opsir wanita dari kejauhan sembari menyodorkan sekotak barang dari penggalian mereka malam itu.
__ADS_1
Saat tangan William memungut secarik kain lusuh dari kotak itu, mata nya langsung basah, dan tubuh nya seakan lemas dan tak kuat berdiri dengan kedua kaki nya.