
Tahun demi tahun terus berganti begitu cepat nya.
Banyak tempat di beberapa penjuru negara Suriah yang telah berubah dan berkembang mengikuti perkembangan zaman yang ada.
Nampak seorang lelaki tua sedang mengendarai kereta nya melintas di area jalan tak jauh dari Kastil kuno yang telah terbengkalai sejak kepergian Albert bertahun tahun silam.
Sebuah senyum kecil terukir di bibir lelaki tua itu sebelum akhir nya ia juga segera memalingkan muka serta pandangan nya dari Kastil kuno yang sudah tak terawat itu.
Perlahan kereta nya berjalan menyusuri jalan jalan ramai di sudut kota itu.
"Udara nya begitu sejuk. Hem!, anak itu. Kenapa dia selalu melarang ku berkeliling seperti ini?," keluh sang kakek terus mengendarai kereta nya sembari sesekali mengeryitkan kedua kelopak mata nya supaya bisa mendapatkan fokus yang lebih baik lagi di usia nya yang telah lanjut.
"Hei paman!,".
Seruan beberapa orang terus menyapa nya di sepanjang jalan yang tengah ia lewati.
Sesekali ia melirik ke arah jam tangan nya sembari menambah kecepatan kereta yang ia kendarai.
Beberapa menit kemudian, kereta itu telah memasuki sebuah halaman rumah yang cukup luas dan megah.
Namun taman di sekeliling nya masih tak berubah dari tahun ke tahun nya.
__ADS_1
Masih dengan nuansa bunga bunga yang di sukai seseorang yang begitu spesial di hati sang pemilik kebun.
Tak jauh dari tempat sang lelaki tua, seorang lelaki muda sudah berdiri tepat di depan pintu sembari berkacak pinggang menatap tajam ke arah nya.
"Anak itu, dia akan mulai mengomel sebentar lagi," keluh sang lelaki tua berusaha mematikan mesin kereta sembari turun dari kereta milik nya walaupun dengan begitu susah payah.
Merasa punggung nya sakit, sang kakek masih berusaha berjalan se normal yang ia bisa.
Ternyata ada benar nya juga ia melarang ku berlama lama naik kereta itu, aduh!, punggung ku, keluh sang kakek berusaha tetap bersikap biasa saja di hadapan sang putra.
"Ayah, sudah puas berkeliling nya?," ucap sang putra kesal.
"Adam, Ayah hanya keluar sebentar mencari angin, kau pelit sekali," keluh sang lelaki tua yang ternyata ialah Yekka.
"Ayah bosan nak," sahut Yekka sembari melepas kopyah nya sehingga menampakkan rambut nya yang telah memutih semua nya.
"Rumah ini sudah aku sulap sedemikian mewah dan serba lengkap untuk ayah, tapi ini semua masih belum cukup?," ucap Adam tak habis pikir dengan ayah nya sendiri.
"Sudah lah lupakan. Ayah mau menyuapi ibu mu dulu," seru Yekka berjalan tertatih tatih masuk ke dalam rumah megah nya itu.
Kini kehidupan mereka telah naik ke permukaan.
__ADS_1
Berkat ketekunan dan kerja keras Adam, ia bisa mendapatkan beasiswa yang ia inginkan bahkan hingga kejenjang terakhir pendidikan.
Rumah yang dulu kecil dan sederhana, kini telah berubah menjadi begitu mewah nya dan serba ada.
"Sudah ku bilang, sebaik nya kita cari pembantu untuk merawat ibu, jadi ayah tidak usah bersusah payah seperti ini," keluh Adam terus membujuk nya.
"La!, selama ayah masih sehat dan mampu, ayah akan selalu merawat ibu mu," seru Yekka masih begitu menyayangi Mastany hingga kini.
Saat sebuah pintu kamar di buka.
Nampak seorang wanita cantik kini masih terduduk diam di tempat nya yang lalu.
"Assalammualaikum," ucap Yekka sembari mengecup kepala sang wanita yang tak lain ialah Mastany.
Dengan rambut yang juga sudah memutih seluruh nya, Mastany masih nampak muda dan cantik seperti dahulu.
"Bismillah, sarapan dulu ya," ucap Yekka dengan tutur kata nya yang lembut sembari mulai menyuapi Mastany dengan sarapan yang sudah siap di atas meja kamar.
"Aku saja yang menyuapi nya ayah, sebaik nya ayah juga sarapan, oke," seru Adam berusaha mengambil sepiring sarapan di tangan sang ayah.
"La!, biarkan aku yang menyuapi nya, selama aku masih sehat, aku akan merawat nya, sendiri." sahut Yekka berusaha menghentikan nya.
__ADS_1
Mendengar ucapan sang ayah yang tak terdengar seperti biasa nya, hati Adam mulai risau di buat nya.