Pembalasan Queensany

Pembalasan Queensany
Bab 58.


__ADS_3

Sinar matahari hari itu belum begitu menyengat dan menyilaukan pandangan.


Itu menandakan bahwa hari belum menginjak waktu shalat dhuhur bagi warga sekitar.


Namun para pelayat sudah mulai pergi satu per satu dari tempat pemakaman termasuk juga Adam.


Ia perlahan berjalan meninggalkan gerbang pemakaman.


Namun langkah nya terhenti saat menatap sebuah nisan tak jauh dari tempat nya berdiri.


"Awal nya kau bibi Sun, lalu mereka berdua, kenapa bukan perempuan itu yang pergi dari dunia ini?, wanita yang sudah membuat kehidupan ayah ku jadi mengenaskan sampai akhir hayat nya," keluh Adam sembari kembali meneruskan perjalanan pulang nya.


"Kemana lagi kita tuan?," tanya sang lelaki yang nampak berpakaian layak nya sopir pribadi.


"Kita ke rumah Lansia," perintah Adam sembari sibuk dengan dokumen perjalanan penting nya hari itu.


"Aku harap Yazid sudah menemukan pengganti nya," ucap Adam penuh harap.


----##-----


"Nyonya tak apa?, aku harap nyonya tidak mengingkari janji nyonya. Jika tuan sampai tahu kalau aku yang memberitahukan semua ini kepada nyonya..," ucap lelaki yang sama yang berbicara dengan Adam pagi itu.


"Tenanglah, turuti saja semua keinginan tuan mu, jangan hiraukan keberadaan ku," ucap Marwa sembari bergegas pergi meninggalkan rumah nya.


Di sepanjang perjalanan, ia hanya termenung memikirkan semua kebenaran yang baru saja keluar dari mulut sang kaki tangan suami nya.


Sesekali ia memandang ke arah pucuk Kastil kuno yang memang sebenar nya tidak terlalu jauh dari letak rumah mereka selama ini.


Kenapa aku baru sadar sekarang, ya Allah. Jadi selama ini ibu ada di sana?, dekat dengan kami, semoga Allah menyelamatkan mu dari api neraka suami ku, batin Marwa segera keluar dari kereta nya saat telah tiba di halaman Kastil yang kini telah beralih fungsi menjadi rumah lansia.


"Nyonya, apakah nyonya yakin ingin mengunjungi tempat ini?," tanya sang sopir sekaligus ajudan yang di perintahkan khusus oleh Adam untuk mengawal dan melindungi sang istri dimanapun ia berada.

__ADS_1


"Diam lah!, aku tahu kau sudah mengetahui apa yang sedang ku cari, dan ya..., mungkin tempat ini adalah salah satu larangan dari tuan mu saat mengawal ku pergi bukan," seru Marwa membuat sang ajudan langsung menunduk dan terdiam.


Marwa dengan begitu tergesa gesa langsung memasuki rumah itu tanpa memperdulikan penjaga dan suster yang bertugas hari itu.


Namun, karna mereka semua telah mengenal sosok Marwa sebelum nya.


Mereka hanya diam tanpa berani mencekal dan melarang nya masuk.


"Apakah tuan tidak akan marah?," tanya seorang suster begitu ketakutan dengan kedatangan Marwa saat itu.


"Matilah kita," keluh seorang penjaga dengan lesu nya, seakan ia tahu nasib mereka setelah tuan Adam tahu jika istri nya datang ke tempat itu.


Jika aku jadi mas Adam, kemana aku akan menempatkan ibu ku yang sangat ku benci?, batin Marwa terus menyusuri lorong untuk mencari di mana keberadaan Mastany.


Aku juga tak melihat keberadaan bibi Sun sepanjang lorong ini, kemana mereka?, batin Marwa penuh dengan tanda tanya.


Lalu langkah nya seketika terhenti.


Sejarah kelam tentang penemuan mayat wanita dan percobaan bunuh diri dari seorang wanita bertahun tahun silam.


Adam sengaja memajang surat kabar itu agar diri nya tak pernah lupa dengan apa yang telah menjadi masa lalu dari Mastany sang ibu yang begitu membuat nya hidup menderita selama ini.


"Astaga," ucap Marwa begitu syok di buat nya.


Jadi selama ini, ibu Mastany adalah wanita yang pernah menggemparkan dunia, batin Marwa begitu lemas di buat nya.


Selama ini ia hanya mengenal sosok Adam dan Almarhum mertua lelaki nya Yekka dengan sangat baik, baik dari para sahabat serta para tetangga nya.


Ia tak pernah mengira ada sebuah cerita yang memang sengaja di tutup dan hilangkan dari dunia saat ia masuk ke keluarga mereka.


"Ruang bawah tanah," ucap Marwa segera berlari menyusuri lorong Kastil.

__ADS_1


Berharap, tebakan nya kali ini membuah kan hasil.


"Ini perawat baru mu ibu," ucap Adam sampai terdengar di telinga Marwa.


Membuat langkah kaki Marwa terhenti, ia memilih untuk menguping pembicaraan suami nya dari pada memergoki nya secara langsung.


Kita lihat, sejauh mana kedurhakaan mu suami ku, batin Marwa sembari melihat keadaan di dalam kamar lewat celah luar pintu tanpa berniat masuk ke dalam.


"Oh ya ibu, aku akan pergi dari negara ini dan tak akan kembali lagi. Tapi tenanglah, aku akan terus mengirim biaya untuk perawatan mu ke pada para suster yang ada di sini sampai malaikat maut sudi menjemput mu ibu," ucap Adam membuat Marwa begitu geram dan tak tahan lagi.


"Begitu kejam nya kau suami ku!," seru Marwa dengan wajah yang begitu merah padam.


"Sedang apa kau di sini?, apakah aku pernah mengizinkan mu untuk ini semua!," sentak Adam naik pitan.


Di tengah tengah perdebatan mereka.


Mastany perlahan mengangkat pandangan nya.


Mata sayu nya berusaha menatap penuh ke arah Adam sang putra tercinta nya.


Sang putra yang begitu berharga bagi hidup nya, separuh nyawa bagi diri nya tanpa mau di mengerti oleh sang putra sendiri.


Perlahan mata nya mulai menggenang air mata saat sebuah sosok yang begitu ia rindukan muncul tiba tiba di hadapan nya.


"Kau masih cantik seperti dulu,".


Senyum Mastany perlahan muncul di bibir nya yang begitu lama sekali tak pernah terukir senyum di sana.


Perlahan Mastany mulai terperangkap dalam lamunan dan alam bawah sadar nya sendiri.


Hingga ia melupakan akan pertengkaran anak nya yang tengah berlangsung tepat di hadapan nya.

__ADS_1


__ADS_2