
Tepat di malam itu juga, perlahan Sesil nampak berjalan menuju ruang kerja Albert.
Tanpa canggung dan ragu, ia menarik aksen tali pengikat yang menutupi dada nya, hingga garis di dada nya kini tersibak cukup lebar hingga menampakkan sedikit bagian kenyal dari buah dada nya.
Bergerak cepat!, itulah saran ku!.
Ucapan itu terus terngiang ngiang di telinga Sesil saat wanita bercadar yang tak lain ialah Pio mengusul kan rencana licik yang akan ia lancarkan malam itu.
Rencana untuk menggait Albert dan menguasai kekayaan nya demi harga jasa nya beberapa waktu yang lalu.
"Wanita itu benar!, aku harus bergerak cepat jika ingin menang dari Mastany yang licik itu," ucap Sesil sembari menyeduh sebuah teh hangat untuk Albert.
Tok..
Tok..
Tak berselang lama, suara ketukan pintu telah berhasil menghentikan jari jemari Albert yang nampak masih begitu sibuk mengoperasikan mesin ketik nya walaupun hari sudah menunjukkan hampir tengah malam.
"Sesil?," seru Albert menebak.
Karna di malam itu, hanya Sesil lah orang dewasa yang ada bersama nya di dalam Kastil.
"Boleh aku masuk?," sahut Sesil sedikit bermain halus untuk mengantisipasi lawan nya agar tidak memberontak saat di dekati.
"Silahkan," seru Albert menyandarkan sejenak tubuh lelah nya dari penat nya bekerja malam itu.
Namun saat melihat pakaian Sesil yang sedikit terbuka di area dada, Albert langsung kembali duduk tegak dengan tatapan tanpa berkedip ke arah Sesil.
Melihat perhatian sasaran nya sudah ia dapatkan, Sesil perlahan semakin mendekat hingga berhenti tepat di meja kerja Albert.
"Maaf tuan, aku hanya membawa kan segelas teh hangat untuk tuan, aku hanya kasihan karna di rumah sebesar ini tak ada satupun pelayan yang melayani tuan di malam hari, hanya untuk sekedar membuatkan tuan secangkir teh hangat," ucap Sesil membuat Albert perlahan berdiri dari kursi nya dan mulai menatap Sesil dengan tatapan nakal nya.
Satu hal yang tak bisa di elak kan, bahwa selama ini kebutuhan ranjang Albert tidak bisa tersalurkan semenjak kepergian Mastany berhari hari yang lalu.
Hingga membuat nafsu Albert bisa langsung terpancing hanya dengan melihat sedikit pemicu saja.
"Dimana tali yang menutup baju mu itu?," tanya Albert terus mengitari tubuh seksi Sesil.
"Astaga!, maaf tuan, tali itu sempat tertarik oleh bayi Carlos barusan," seru Sesil sedikit berakting dengan menutupi bagian dada nya yang memang sengaja ia buka.
__ADS_1
"Apa putra ku sudah tidur?," tanya Albert semakin mendekat ke arah Sesil.
"Sudah tuan," sahut Sesil sembari mengingat kembali saat diri nya meneteskan obat tidur pada bayi Carlos dengan tujuan agar bayi Carlos tak mengganggu rencana nya malam itu.
Seketika itu juga, Albert dengan cepat mendorong tubuh Sesil ke atas meja kerja nya.
"Entah kau sengaja datang ke sini atau memang kebetulan, tapi kau begitu cantik hingga membuat ku tertarik," bisik Albert di telinga Sesil.
Membuat Sesil begitu senang karna rencana awal nya telah berhasil.
"Apa tuan tak malu tertarik pada wanita biasa seperti ku?," tanya Sesil sembari bermain manja dengan kancing baju milik lelaki kekar di hadapan nya.
"Selama aku menyukai nya, siapapun dia aku tak mempermasalahkan nya, yang penting dia bukan dari kalangan wanita kupu kupu malam," ucap Albert membuat Sesil sedikit tercengang namun segera dengan cepat kembali ke alur rencana nya.
Tanpa kau sadari tuan, kau sudah pernah menikmati tubuh pelac*r ini dengan puas nya malam itu, batin Sesil mulai membalas sapuan lembut tangan Albert yang semakin bernafsu pada diri nya.
"Karna kau menyukai ku, maka silahkan lakukan apapun yang kau mau," bisik Sesil membuat Albert tersenyum puas mendengar nya.
"Kau wanita yang unik, baru sesaat lalu kita bertemu, tapi kau sudah tak ragu menawarkan diri mu pada ku," ucap Albert menyibak rambut Sesil yang menutupi wajah cantik yang masih ingin dengan puas Albert pandang.
"Aku hanya kasihan pada mu tuan, lelaki seperti diri mu harus di permainkan oleh wanita macam istri mu, jika aku jadi diri nya aku tidak akan pernah menyianyiakan mu," seru Sesil mencoba menarik hati Albert semakin dalam lagi.
"Dengan senang hati tuan," ucap Sesil membuat Albert langsung bertindak cepat tanpa memberi jeda untuk nafsu nya yang sudah begitu memuncak.
Membuat mereka mulai beradu dan bercinta di dalam ruangan itu.
******* dan erangan kenikmatan antara kedua nya mulai terdengar sampai keluar ruangan itu.
Sama persis seperti suara di malam peraduan mereka beberapa hari yang lalu.
Namun kali ini, mereka menikmati nya dengan sama sama sadar dan tanpa pengaruh obat apapun yang menguasai Albert seperti malam sebelum nya.
Hingga membuat kedua nya tidak ada yang merasa tertekan dan terbebani di peraduan kedua mereka malam itu.
Sementara di persimpangan jalan menuju Kastil.
Mastany terlihat berjalan tergesa gesa menuju ke arah Kastil.
"Efwan Ummi, tapi aku punya seribu cara demi memenuhi tujuan ku," ucap Mastany sembari mengingat bagaimana ia bisa lolos dari penjagaan ketat sang Ummi.
__ADS_1
Sembari memeluk erat pisau berkarat nya, Mastany terus berjalan tanpa henti memasuki area Kastil dan masuk melewati pintu rahasia yang hanya ia dan Yekka yang tahu.
Namun dalam kenyataan nya, ia tak pernah tahu bahwa Pio juga telah mengetahui pintu rahasia itu sejak lama.
Wanita itu!, batin Pio sembari menatap marah ke arah Mastany dari kejauhan.
Saat Mastany telah benar benar sampai ke area dalam Kastil.
Ia segera mengeluarkan pisau nya sembari memegang nya dengan penuh amarah.
Seakan pisau berkarat itu sudah siap menerkam sasaran nya kapan pun juga.
Amarah Mastany semakin memuncak saat mendengar suara ******* tak jauh dari tempat nya berada kini.
"Dasar lelaki biadab!, kau tidak akan pernah bisa menghargai ku di masa lalu maupun di masa kini," ketus Mastany sembari mempercepat langkah nya menuju asal suara yang semakin terdengar berasal dari ruang kerja milik Albert.
"Kau akan binasa malam ini Albert, dan dengan begitu dendam ku akan segera usai," ucap Mastany semakin yakin untuk membuat perhitungan pada Albert malam itu.
Namun, langkah nya seketika terhenti saat melihat bayi nya nampak tertidur pulas di atas ranjang dengan pintu kamar yang terbuka lebar.
Sepintas, rasa rindu nya mengalahkan amarah dan ambisi nya.
Perlahan ia menurunkan pisau nya dan mencoba berjalan mendekati sang putra hanya untuk sekedar melepas rindu.
"Hai sayang," bisik Mastany sembari mencium mesra sang putra.
Namun saat merasakan ada yang aneh dari putra nya.
Ia langsung syok dan panik seketika.
Dengan cepat, ia langsung menggendong sang putra dan berlari keluar dari dalam Kastil.
"Bangun nak!, bangun!," seru Mastany sembari terus melakukan pertolongan pertama yang ia bisa untuk membangunkan sang putra di sepanjang jalan menuju rumah sakit terdekat.
Melihat semua itu, Pio begitu marah hingga mencabik cabik cadar dan baju nya sendiri.
Mencakar dan melukai tubuh nya sendiri hingga ia puas.
"Aku harap kau terlambat Mastany," ucap Pio berjalan pergi sembari kembali menimang nimang bayi malang nya untuk pergi dari tempat itu.
__ADS_1