Pembalasan Queensany

Pembalasan Queensany
Bab 49.


__ADS_3

"Alhamdulillah, kita sudah sampai nak" ucap Yekka sembari membuka pintu rumah kecil milik nya yang merupakan tempat paling nyaman untuk nya saat itu.


Tempat yang akan selalu menjadi tempat terbaik untuk nya sampai kapan pun juga.


Sudah berulang ulang kali pihak properti dan pemerintah membujuk Yekka agar mau menempati Kastil tua peninggalan Albert dan Mastany.


Pemerintah berharap Kastil kuno itu tak terbengkalai dan hancur terlepas dari kejadian kejadian mengerikan yang terjadi di sana akhir akhir itu.


Pemerintah berharap Adam selaku ahli waris terakhir mampu membangkitkan kejayaan Kastil kuno itu saat ia telah dewasa nanti.


Namun untuk saat itu, pemerintah menunjuk Yekka sebagai pemilik sementara sampai Adam dewasa kelak.


"La!, Adam tidak akan pernah mewarisi Kastil terkutuk itu!," Sentak Yekka tak terima saat petugas pemerintah datang membujuk nya.


"Tapi secara hukum, dia adalah keturunan dan pewaris yang sah dari tuan Albert dan nyonya Mastany tuan," seru seorang petugas masih mencoba membujuk Yekka.


"Kalian pasti sudah tahu bukan, ayah biologis dari Adam!, kenapa kalian masih bersembunyi atas nama hukum!, itu hanya kalian lakukan untuk kepentingan kalian saja!, kalian tidak ingin aset kuno kota ini hancur dan meredupkan kejayaan kota ini bukan!," sentak Yekka naik pitan, karna ia merasa semua orang tak pernah menghargai pendapat dan keinginan nya selama ini.


"Baiklah, kami beri satu penawaran lagi untuk tuan. Tuan dan Adam akan di pastikan tidak akan berurusan dengan Kastil itu lagi kalau tuan mau menjual nya kepada kami sebagai perwakilan dari Adam, bagaimana?," ucap seorang petugas yang tawaran nya terus saja terngiang ngiang di telinga Yekka bahkan hingga mereka telah pergi dari hadapan Yekka.


Perlahan Yekka berjalan memasuki rumah dan mencoba menidurkan Adam di ranjang tidur nya.


"Tidurlah dengan nyenyak, beberapa hari ini begitu terasa melelahkan untuk kita ya nak," keluh Yekka sembari menghela nafas panjang .


Semua perkataan dan ucapan dari semua orang akhir akhir ini begitu terngiang ngiang di otak nya.


Bahkan saat ia tengah berbaring dan telah bersiap untuk memejamkan mata nya seperti sekarang ini.


Namun rasa bersalah lah yang tiba tiba muncul di benak nya saat mengingat kembali ucapan dari sang nyonya majikan sesaat sebelum ia di perbolehkan pulang hari itu.


Ia tatap lekat lekat wajah Adam yang begitu mirip dengan wajah Mastany, wanita yang pernah begitu ia cintai.

__ADS_1


"Orang tua akan kesepian tanpa anak mereka," ucap Yekka pada diri nya sendiri.


Ia tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa ia telah dengan sengaja menjauh kan Adam dari Mastany.


"Apakah dia masih pantas kau sebut sebagai ibu nak?," ucap Yekka begitu bimbang saat itu.


Di satu waktu, ia sudah begitu yakin bahwa keputusan nya itu sudah tepat.


Tapi kini, ia merasa sama jahat nya dengan Mastany karna mencoba memutus hubungan antara seorang ibu dan anak nya.


"Apa kau rindu ibu mu nak?," tanya Yekka sembari memeluk Adam hingga ia pun ikut terpejam di malam itu.


...***...


"Tuan Yekka?," seru seorang dokter begitu heran saat melihat kedatangan Yekka pagi itu ke rumah sakit.


Pasal nya, Yekka sudah tak terlihat lagi datang ke rumah sakit sejak Serril meninggal beberapa bulan yang lalu.


"Apakah kau masih merawat nya?," tanya Yekka tanpa basa basi lagi.


"Apakah kau bisa mengantar ku ke sana?," tanya Yekka lagi lagi mengutarakan pertanyaan yang tidak butuh sebuah jawaban.


"Dia tetap berada di tempat yang sama di saat terakhir kau menjenguk nya, apa aku masih harus mengantar mu?," sahut sang dokter begitu heran saat melihat tatapan raut wajah Yekka yang kebingungan saat itu.


Seakan begitu banyak beban pikiran yang sedang Yekka tanggung saat itu.


"Aku tidak akan pernah lupa di mana dia berada, tapi jika kau tidak sibuk bisakah kau temani aku menemui nya dokter?," ucap Yekka berubah tanpa ekspresi sedikitpun.


"Baiklah," sahut sang dokter mempersilahkan dahulu Yekka untuk berjalan menuju tempat Mastany berada.


...***...

__ADS_1


Beberapa saat kemudian.


Langkah kaki Yekka telah berhenti tepat di depan pintu ruang perawatan Mastany.


Sembari memeluk erat Adam dalam gendongan nya, perlahan Yekka mulai berjalan memasuki ruangan itu.


Tak terasa air mata nya menetes saat diri nya telah sampai di ruangan itu kembali setelah berbulan bulan lama nya ia tak pernah menginjakkan kaki di sana.


"Bagaimana keadaan nya dok?," tanya Yekka sembari menyeka air mata nya.


Mendengar pertanyaan dari Yekka, sang dokter hanya bisa menghela nafas panjang sembari menepuk punggung Yekka dengan lembut.


"Kami sudah berusaha se maksimal mungkin, tapi apa lagi yang bisa kami ucapkan kepada mu?, kau bisa melihat sendiri kondisi nya," seru sang dokter seakan telah pasrah akan kondisi dari Mastany.


Perlahan Yekka mulai mendekat pada sosok Mastany yang nampak tertidur pulas di atas ranjang nya.


"Assalammualaikum Mastany, bagaimana keadaan mu?," ucap Yekka sembari menahan tangis nya.


"Maafkan aku karna baru sekarang bisa menjenguk mu, lihatlah!, anak kita sudah besar, kini nama nya bukan lagi Carlos, tapi Adam, sesuai keinginan mu dahulu bukan?," seru Yekka tetap berakhir menangis walaupun ia begitu kuat menahan tangis nya.


"Sabar tuan, nyonya Mastany tidak akan bisa menjawab semua pertanyaan mu, dia sudah tidak menunjukkan reaksi kesadaran apapun sejak berbulan bulan lalu," ucap sang dokter menjelaskan keadaan Mastany yang sudah tanpa harapan itu.


"Lalu, apa yang sebaik nya aku lakukan?," tanya Yekka begitu tak tega melihat Mastany terus menderita dengan penuh alat dan selang yang terpasang di sekujur tubuh nya.


"Melepas alat bantu hidup nya," sahut sang dokter membuat Yekka begitu syok dan lemas saat mendengar nya.


"Ta- tapi itu arti nya," seru Yekka tak bisa lagi berkata kata.


"Kasihan nyonya Mastany tuan, bahkan otak nya saja bahkan telah mengalami kelumpuhan yang cukup serius, di beberapa kasus yang sama, penderita akan tetap seperti itu sampai kita rela melepas nya," ucap sang dokter membuat Yekka tak kuasa menahan tangis nya lagi saat itu.


Bersamaan dengan itu, Yekka menangis sejadi jadi nya sembari memeluk wanita yang telah menjadi ibu dari anak nya.

__ADS_1


Rasa penyesalan nya semakin bertambah besar saat mengingat bahwa ia telah membuang buang waktu berbulan bulan lama nya untuk bisa merawat dan menjaga Mastany selama ini.


"Kau benar benar tak berguna Yekka!," keluh Yekka di sela sela tangisan nya.


__ADS_2