
Beberapa tahun berlalu.
Marwa nampak sibuk mengemasi dan menatap semua pakaian ke dalam koper besar milik nya pagi itu.
Namun sesekali ia terlihat menghela nafas panjang.
Ia juga nampak terlihat sedang memikirkan sesuatu meskipun tangan nya terus sibuk menyusun tatanan isi koper nya.
Hingga kedatangan Adam pun tak ia sadari sama sekali.
"Apa yang sedang kau pikirkan?, bisa kah kau percepat semua ini?, apa kau memang sengaja mengulur ngulur waktu?," seru Adam membuyarkan lamunan Marwa saat itu.
"Kenapa kita harus pindah ke negara lain mas?, ini tanah kelahiran kita, kita tumbuh dan mengukir kenangan di negara ini," keluh Marwa mencoba meluapkan keluh kesah nya atas keputusan sepihak Adam yang memilih pergi dari negara kelahiran mereka.
"Aku sudah mempersiapkan semua nya dengan baik, aku pastikan kita bertiga akan hidup lebih tenang di sana, apa kau mau menghancurkan semua nya kali ini?," seru Adam nampak begitu tegas semenjak kepergian Yekka bertahun tahun silam.
Kepribadian nya juga nampak semakin keras dan penuh akan kedisiplinan penuh.
"Baiklah, tapi aku ingin tahu satu hal terlebih dahulu dari mu. Di mana keberadaan ibu mu sekarang?," seru Marwa membuat Adam mengepalkan kedua tangan nya seketika itu juga.
__ADS_1
"Sudah berulang kali aku bilang, jangan ungkit hal itu lagi," ucap Adam dengan ketus nya.
"Ini sudah 20 tahun lebih sejak mas menyingkirkan ibu dari rumah ini, aku berhak tahu semua nya mas," seru Marwa bersikeras.
"Cukup!, aku tak suka dengan sikap mu ini!," sentak Adam seketika membuat Marwa tersentak dan terdiam.
Baru pertama kali nya Adam berbicara kasar di hadapan sang istri semenjak 20 tahun pernikahan mereka berjalan.
Hanya tangis yang bisa Marwa tunjukkan saat itu.
Hati nya begitu tersayat dengan sikap dari sang suami yang selama ini sudah berusaha ia patuhi dan cintai setulus hati.
"Jangan ikut campur Aslan, ayah peringatkan itu pada mu, ini hanya masalah normal antara pasangan suami istri," ucap Adam tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Tapi yah...," ucap Aslan yang tak lain adalah putra semata wayang dari Adam dan Marwa.
"Cukup!, sekarang beritahu ayah, kenapa kau kemari?," tanya Adam.
"Ada seseorang yang mencari ayah di luar," sahut Aslan tak berani menatap wajah ayah nya sedikit pun juga saat itu.
__ADS_1
"Cepat persiapkan diri kalian, kita lupakan semua ini," seru Adam sembari berjalan menuju sang tamu yang di maksud oleh Aslan.
Dalam sekali tatap, Adam sudah mengenali siapa yang tengah mencari nya saat itu.
"Kau?, kenapa kau semakin sering saja menemui ku?," keluh Adam begitu nampak kesal hingga membuat sang tamu bergetar ketakutan.
"Di- dia meninggal lagi tuan," ucap lelaki itu terbata bata.
"Lagi!, jangan berani bercanda di hadapan ku!," seru Adam naik pitan.
"Saya tak berani melakukan itu tuan, saya hanya mau mengabarkan bahwa dia akan di makamkan siang nanti," ucap lelaki itu segera pergi dari hadapan Adam sembari lari terbirit birit.
"Kenapa harus hari ini?," keluh Adam sembari sibuk mencari kaki tangan setia nya untuk membantu nya menyelesaikan semua permasalahan itu.
---##---
"Tuan ingin saya mencari yang seperti apa lagi?," tanya seorang lelaki bertubuh kekar dan tegap yang tak lain adalah kaki tangan dari Adam.
"Terserah pada mu, tapi setidak nya jangan pilih yang sudah terlalu tua. Cepat cari secepat nya untuk ku!, aku tak mau keberangkatan ku ini tertunda," ucap Adam tak menyadari bahwa Marwa sang istri telah menguping pembicaraan nya sedari tadi.
__ADS_1
Apa yang sedang mas Adam cari?, batin Marwa begitu penasaran di buat nya.