Pembalasan Queensany

Pembalasan Queensany
Bab 31.


__ADS_3

Seketika Albert langsung memandang heran ke arah gadis yang datang entah dari mana asal nya itu.


"Kenapa kau begitu peduli dengan tangisan putra ku?, dan bagaimana kau bisa berfikir aku akan mengizinkan orang asing seperti mu menemui putra ku?," seru Albert sembari mendekatkan wajah nya ke arah gadis itu, bahkan begitu dekat nya hingga nafas mereka saling beradu.


"Aku hanya kasihan pada bayi mu, apa kau tega mendengar nya terus menangis sampai serak seperti itu?, jika ia, aku sebaik nya pergi," ucap gadis itu dengan tenang nya sembari berjalan pergi dari hadapan Albert.


"Tunggu!. Baik lah kalau kau bisa menenangkan putra ku, masuk lah ke dalam," seru Albert membuat sang gadis diam diam tersenyum menyeringai.


"Baiklah jika tuan mengizinkan," ucap gadis itu sembari berjalan pelan mengikuti Albert menuju tempat bayi Carlos berada.


Saat gadis itu mencoba menenangkan bayi Carlos, tak butuh lama untuk bayi Carlos menjadi tenang dan lelap tertidur dalam pelukan nya.


Hebat juga gadis ini, dari penampilan nya dia terlihat tak meyakinkan dalam hal mengurus anak, tapi...., ah sudahlah!, setidak nya ada yang mengurus putra ku untuk sementara waktu, batin Albert mengamati perilaku gadis asing di hadapan nya itu.


"Siapa nama mu?," seru Albert sembari mencoba merebahkan tubuh nya di sofa, mencoba se rileks mungkin dari semua masalah yang tengah menerpa diri nya.


"Sesil tuan," sahut gadis itu mengungkap nama nya di sela sela ia sedang bernyanyi lagu tidur untuk bayi Carlos.


"Baiklah Sesil, terima kasih sudah mau menenangkan putra ku. Bagaimana jika aku tawarkan padamu untuk menjadi pengasuh putra ku?, bagaimana?," seru Albert tanpa rasa curiga sedikitpun pada Sesil.


"Dengan senang hati tuan," sahut Sesil tersenyum kian manis nya, hingga hampir membuat Albert sedikit terpesona akan wajah cantik nya.


"Ada kamar di sudut lorong ini, kau bisa tidur di sana jika bersedia menjadi pengasuh anak ku, tapi jangan harap ada pembantu selepas ashar di sini, selain pengasuh bayi, tidak ada pelayan yang tinggal di sini selepas ashar, itu sudah tradisi keluarga ku untuk menjaga privasi dan keharmonisan keluarga," seru Albert menjelaskan.


"Aku menyanggupi nya tuan," ucap Sesil menunduk hormat pada Albert, membuat nya kembali mengingat sosok Petra yang selalu bersikap manis di hadapan nya.


Sementara Albert berjalan kembali ke ruang kerja nya, Sesil nampak meneteskan sesuatu ke mulut bayi Carlos.

__ADS_1


"Dengan begini kau tidak akan menyusahkan ku sayang, dan aku akan lebih mudah melancarkan rencana ku untuk menjadi nyonya Albert yang terhormat, jika ia tidak mau berpaling dari ibu mu yang kejam itu!, aku akan pastikan ia kehilangan semua ini," ucap Sesil sembari mengingat saat diri nya terbangun di tepi jalan setelah malam melelahkan nya dengan Albert beberapa waktu yang lalu.


Tanpa mendapatkan bayaran atau apapun dari hasil kerja keras nya malam itu, ternyata di saku baju nya nyata nya terselip sesuatu yang lebih berharga dari selembaran uang kertas, yang ia tak pernah sadari juga bagaimana dokumen itu bisa ia bawa sampai keluar dari dalam Kastil.


"Syukurlah waktu itu ada gadis bercadar misterius yang menolong ku, jika tidak!, entah jadi apa aku dengan keadaan ku yang seperti itu," ucap Serril sembari meletakkan kembali bayi Carlos ke dalam box bayi nya.


----##----


"Keterlaluan kau Yekka!," sentak Mastany begitu marah nya sehingga membuat pasien yang lain berhamburan keluar dari dalam klinik.


"Ini demi kebaikan mu Mastany, coba mengertilah!," seru Yekka sembari memeluk dan menenangkan Mastany.


Namun mendengar semua itu, Mastany malah semakin hilang akal dan mengobrak abrik seluruh isi klinik milik dokter psikiater pilihan Yekka.


"Kau tidak tahu apa apa tentang diri ku Yekka!, jadi jangan pernah melampaui batasan mu!," seru Mastany memperingatkan.


Dengan tatapan mata yang penuh amarah dan emosi yang tak terkendali, Yekka semakin merasa diri nya telah kehilangan sosok Mastany yang begitu ia cintai.


Namun bukan nya mereda, amarah Mastany semakin memuncak kala itu.


Ia semakin bertekad untuk menyelesaikan rencana balas dendam nya kepada Albert malam itu juga.


"Baiklah, aku memaafkan mu. Tapi aku minta, cepat bawa aku pergi dari tempat sakit jiwa ini!, kau tidak menganggap ku benar benar gila kan Yekka?," seru Mastany sembari menatap tajam ke arah Yekka.


"Tentu Mastany, tentu!, bagaimana mungkin aku bisa berfikiran seperti itu" sahut Yekka tak ada pilihan lain.


Dengan cepat Mastany mulai berjalan pergi dari sana, sedangkan dokter psikiater malah berusaha mendekati Yekka dengan tubuh yang masih gemetar ketakutan.

__ADS_1


"Yekka!, aku harap ia tak pernah datang lagi ke tempat ku!, cukup aku di permalukan hari ini, mungkin dia hanya menginginkan bayi nya dan semua akan beres seperti keinginan mu," ucap sang dokter psikiater sembari meninggalkan Yekka dengan perasaan kecewa.


Karna ulah Mastany yang mudah terpancing emosi, semua pasien langsung pergi tunggang langgang dari sana.


"Saya permisi dok," ucap Yekka merasa sangat malu pada salah satu sahabat nya itu.


------##---


"Sekarang apa lagi?," tanya Yekka saat mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Mastany tanpa membawa hasil apapun dari sang dokter psikiater.


"Aku hanya ingin pulang secepat nya," sahut Mastany singkat dan begitu tenang.


Tapi sebenar nya, dalam otak nya ia berusaha merencanakan pembalasan dendam nya malam itu.


"Baiklah, tapi jika kau butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menelfon ku," ucap Yekka namun hanya di jawab anggukan oleh Mastany.


Kau tidak seharusnya ikut campur kali ini Yekka, ini adalah urusan ku dengan keturunan Yossep, batin Mastany sembari bergegas turun dari kereta Yekka tanpa berkata apapun lagi.


"Bagaimana nak?, apa dia bisa ceria lagi seperti dulu?," tanya Serril saat melihat kedatangan Yekka serta Mastany sore itu.


"Dia hanya rindu pada putra nya Umma, itu saja," ucap Yekka menutupi kejadian hari itu di dalam klinik.


Mendengar itu semua, Serril hanya bisa menangis meratapi nasib putri nya yang begitu tak beruntung.


Bersamaan dengan itu, Mastany segera bergegas masuk ke dalam kamar dan mengunci nya dari dalam.


Dengan cepat ia mencoba kembali mengambil pisau berkarat milik nya yang dengan sengaja ia sembunyikan di bawah kolong ranjang agar Abi dan ummi nya tak pernah tahu akan pisau tua itu.

__ADS_1


"Tunggu aku Albert," ucap Mastany kembali berusaha kabur lewat jendela kamar nya.


Namun usaha nya ternyata sia sia saja, semenjak ia kabur beberapa hari yang lalu, kini Serril menutup rapat jendela Mastany untuk mengantisipasi rencana pelarian Mastany dari rumah tuk yang kedua kali nya.


__ADS_2