Pembalasan Queensany

Pembalasan Queensany
Bab 25.


__ADS_3

Berminggu minggu, bahkan berbulan bulan, Yekka tak bisa mengendus jejak Pio sedikit pun.


Pio seakan hilang di telan bumi setelah kejadian malam itu.


Namun aneh nya, tak ada teror atau apapun yang dengan sengaja mengusik kehidupan Mastany setelah nya.


Mastany tetap hidup bahagia setelah peristiwa itu terjadi.


Bahkan kini, ia sedang fokus menikmati peran nya sebagai seorang ibu baru.


Untuk urusan ranjang Albert.


Mastany tidak akan pernah kehabisan akal.


Bahkan ia rela setiap malam nya menyewa jasa gadis malam untuk menggantikan nya.


Rupa nya rencana nya juga berhasil dengan mudah.


Pengaruh obat andalan Yekka masih bisa di percaya untuk membuat Albert bercinta dengan keadaan setengah sadar hingga ia tak akan bisa mengingat dengan siapa jelas nya ia pernah bercinta.


"Akan sampai kapan kita begini?, aku tak mau anak ku tumbuh besar dan mengenal Albert sebagai ayah nya," keluh Yekka menagih janji Mastany agar cepat menyelesaikan rencana nya.


"Aku begitu sibuk menikmati hari hari ku mengurus putra kita, hingga aku lupa dengan tujuan awal ku," sahut Mastany mengambil sebuah dokumen dari bawah ranjang nya.


"Ku kira kau sudah membuang nya," ketus Yekka masih kesal dengan penundaan rencana mereka.


"Ayolah Yekka!, jangan seperti anak kecil, bagaimana aku akan membuang dokumen yang sengaja kau buat untuk memudahkan ku menggapai keinginan terbesar ku itu, hem!" seru Mastany mencoba membujuk Yekka agar bersabar sedikit lagi.


"Baiklah, kali ini apa rencana nya?," tanya Yekka sembari menikmati hisapan rokok di tangan nya.


"Aku butuh bantuan wanita yang akan melayani Albert malam ini, apa kau membawa nya?," ucap Mastany begitu berharap Yekka tak lalai dari tugas nya.


Karna sehari saja ia melupakan hal itu, Mastany akan berakhir menjadi pelampiasan nafsu dari Albert.

__ADS_1


"Kemarilah!," seru Yekka membuat seorang gadis segera bergegas masuk lewat pintu rahasia Kastil.


Wanita itu nampak masih muda, seksi dan menggoda.


Dengan percaya diri, ia menawarkan diri nya sanggup melayani hingga semalam suntuk tanpa jeda.


Membuat Mastany langsung mendengus pelan.


"Kau belum tahu lawan main mu sayang, jadi jangan sok di sini!, melihat mu saja aku sudah tahu kalau kau gadis baru dalam bisnis ini, dan jam terbang mu aku yakin masih sebatas pemuda sekolahan bukan?," ucap Mastany tersenyum remeh ke arah gadis itu.


"Ku akui memang aku masih baru, tapi aku bukan pemain amatiran, jadi bersiap siap lah membayar lebih akan jasa ku malam ini!," seru gadis itu masih dengan penuh percaya diri.


"Oke, kita lihat saja nanti. Dan sebelum itu, aku punya tugas tambahan untuk mu," ucap Mastany melempar sebuah dokumen ke arah gadis malam itu.


"Apa ini?, aku tak mau terikat kontrak apapun," seru sang gadis tanpa mau membaca terlebih dahulu isi dari dokumen yang kini sudah berpindah tangan kepada nya.


"Siapa yang mau mengontrak anak ingusan seperti mu!, aku minta kau dapatkan cap jempol Albert malam ini," perintah Mastany membuat gadis itu tertawa.


"Apa yang akan aku dapatkan sebagai ganti nya?," tanya gadis itu takut jasa nya di bayar tak sepadan dengan banyak nya pekerjaan yang Mastany berikan pada nya.


"Kau yakin?, kita masih membutuhkan banyak uang untuk menyewa satu gadis permalam nya sampai Albert benar benar kau lumpuhkan," bisik Yekka sedikit ragu akan keputusan Mastany saat itu.


"Tenanglah Yekka, kita harus berani mengambil resiko demi semua itu," ucap Mastany lalu mulai menarik tangan gadis itu menuju ke kamar nya.


Saat itu Albert sudah terlihat mengoceh tak karuan, seperti nya Mastany sudah memberikan obat kepada Albert lebih awal malam itu.


Sementara gadis itu masih terbelalak tak percaya menatap tubuh Albert yang kini hampir terlihat polos seluruh nya.


"Seksi sekali," ucap gadis itu begitu jatuh hati pada tubuh Albert pada pandangan yang pertama.


Bodoh!, kau tak akan tahu berapa besar dosis yang kuberikan pada Albert malam ini, batin Mastany segera mempersilahkan gadis itu masuk ke kamar Albert dan segera mengunci pintu kamar dari luar.


"Kenapa harus di kunci?, kau buka 2 hari lagi pun tak masalah bagi ku, kamar ini punya semua yang aku butuhkan, terutama lelaki perkasa itu," ucap gadis itu saat Albert perlahan mulai berjalan mendekati nya.

__ADS_1


"Hanny, kau begitu seksi malam ini?. Emm, tapi kau nakal!, biasa nya kau selalu memakai handuk saat aku menginginkan mu," seru Albert tanpa menyadari siapa yang tengah berada di hadapan nya.


Awal nya gadis itu begitu girang hingga melucuti pakaian nya tanpa menunggu Albert menyentuh nya.


Namun ia segera teringat akan dokumen yang bernilai 3 x lipat dari bayaran nya malam itu.


"Tunggu sebentar hanny, aku butuh sesuatu dari mu," ucap gadis itu mencoba merayu Albert.


"Apa itu?," sahut Albert sembari mengecup leher gadis itu dengan begitu tak sabar.


Perlahan gadis itu menekan kan jari Albert ke atas tinta biru dan dengan cepat membubuhkan cap jari Albert ke dokumen yang telah di berikan Mastany beberapa saat lalu.


Ini hal mudah bagi ku, kenapa mereka semua tak bisa melakukan nya?, apa sulit nya bagi mereka?, batin gadis itu segera memulai permainan mereka yang ia kira akan begitu membuat nya melayang.


Gadis itu begitu tak menyangka, sentuhan kecil nya akan di balas dengan begitu brutal nya oleh Albert.


"Pelan Hanny," ucap gadis itu mulai merasa risih dengan permainan yang ia bayangkan akan begitu menyenangkan itu malah terasa begitu dipaksakan oleh Albert.


"Kau begitu nikmat," seru Albert malah terus menghujam tubuh gadis itu dengan kasar nya.


Bahkan gadis itu tak pernah tau kalau kata kata itu selalu di ucapkan Albert kepada semua gadis yang pernah bercinta dengan nya.


"Arrrrgh!, hentikan!," seru gadis itu mulai merasa kesakitan dengan cara Albert menggauli nya.


Namun seperti malam malam yang lain nya, Albert tak pernah mendengarkan keluh kesah dari para gadis yang sudah terlanjur berada di bawah tubuh nya.


Suara memberontak dari gadis itu semakin terdengar hingga ke telinga Yekka dan Mastany.


Pintu kamar berulang ulang kali nampak di paksa di buka dari dalam oleh sang gadis.


Seakan ia sudah tak kuat lagi di dalam sana seperti yang telah ia sombong kan sejak awal.


"Tolong buka pintu nya, aku mohon!, aku sudah dapatkan yang kalian inginkan!, sekarang biarkan aku pergi!," teriak gadis itu begitu terdengar hingga keluar.

__ADS_1


"Kau dengar itu Yekka, akhir nya!," seru Mastany begitu kegirangan mendengar semua itu tanpa memperdulikan permintaan tolong dari sang gadis yang mungkin kini telah lemas melayani Albert.


"Selamat Mastany!, aku begitu senang mendengar nya, akhir nya tak lama lagi kita akan jadi satu keluarga yang utuh," seru Yekka sembari memeluk anak dan istri nya.


__ADS_2