Pembalasan Queensany

Pembalasan Queensany
Bab 45.


__ADS_3

"Lihatlah wanita itu, dia begitu cantik namun langsung berubah menjadi gila semenjak kepergian suami dan Abi nya," gunjing orang orang tak ada henti nya saat mereka tengah melintas di area depan Kastil.


Namun tak ada ekspresi berarti dari diri Mastany setiap mendengar ucapan semua orang yang bahkan asing di mata nya namun aneh nya mereka seakan begitu paham dengan semua cerita hidup dari Mastany sendiri.


Di sepanjang hari nya kini, Mastany hanya terlihat duduk dengan diam di kursi teras favorit nya.


"Hanya sendiri, itulah aku sekarang," ucap Mastany akan terus terduduk di sana sampai sore hari tiba sembari menatap pintu gerbang Kastil nya, seakan ia sedang menunggu seseorang datang tuk menemui nya.


Namun tepat di hari itu, tuk pertama kali nya Yekka pun tidak datang sore itu bahkan hanya untuk sekedar membawakan Mastany makan malam.


Perlahan Mastany mulai beranjak dari tempat duduk nya dan mulai berjalan menuju perapian.


Hangat dari api perapian membuat bayangan akan kebodohan kebodohan nya kembali terlintas dalam benak nya.


Kebodohan yang akhir nya membuat ia kehilangan sosok seorang ayah tuk kedua kali nya.


Karena begitu besar ambisi balas dendam nya ia sampai melupakan rasa sedih nya saat kehilangan sosok seorang ayah di kehidupan nya silam.


Hingga akhir nya rasa pedih itu kembali ia rasakan di kehidupan nya kini.


Aku begitu beruntung telah memiliki kedua orang tua seperti sosok Abi dan Ummi di kehidupan ku kini, bahkan aku juga memiliki sosok seorang lelaki yang begitu tulus mencintai ku yang bahkan telah menjadi ayah dari anak ku, tapi kenapa aku bisa mempertaruhkan semua yang telah aku miliki hanya demi sebuah pembalasan dendam?, keluh Mastany mulai meringkuk dan menangis terisak isak tepat di depan perapian.


Rasa penyesalan yang besar kini telah hinggap di diri nya.


Kehilangan William bahkan di acuhkan oleh Serril membuat nya sadar akan semua nya.


...***...


"Semoga Ummi bisa membaca surat ini," ucap Mastany sembari mengecup sepucuk surat yang baru selesai ia tulis.


Perlahan ia mulai mengambil selembar kertas baru dan mulai menorehkan kembali tinta di atas nya.

__ADS_1


"Semoga kalian bisa memaafkan ku, Ummi, terutama kau Abi," ucap Mastany sembari beranjak dari tempat duduk nya tanpa melepas selembar kertas terakhir yang ia pegang.


Perlahan ia berjalan hingga tak terasa langkah kaki nya kembali membawa nya sampai ke ruang bawah tanah.


Tepat di depan sebuah lubang ia berhenti.


Lubang di mana jasad nya sebagai Queensany pernah terkubur di sana hingga beratus ratus tahun lama nya.


Bahkan garis kepolisian masih terpasang mengitari tempat itu.


"Selalu ada harga yang harus di bayar atas semua nya, itu kan yang coba Abi sampaikan pada ku selama ini," ucap Mastany sembari mengusap air mata nya yang kembali menetes.


"Efwan Abi, Mastany tidak pernah bisa mengerti apa yang coba Abi ajarkan pada ku, aku begitu buta akan upaya balas dendam ku, dalam otak ku hanya kematian Albert lah tujuan hidup ku, namun saat aku benar benar bisa membunuh nya hati ku malah merasa begitu kacau, hidup ku semakin gelap, bahkan semakin kehilangan cahaya nya saat Abi meninggalkan ku seorang diri di dunia ini," ucap Mastany sembari meringkuk dan menangis dengan histeris nya di tempat itu.


...***...


"Mastany pasti sudah menunggu ku, dia pasti juga sudah kelaparan sekarang," keluh Yekka sembari melajukan kereta nya semakin cepat menuju ke tempat Serril berada.


Memakan waktu hingga satu jam, akhir nya kereta Yekka telah tiba di tempat tujuan awal nya.


Rasa cemas nya sedikit hilang saat melihat sang anak tertawa ceria di pangkuan sang nenek.


"Terima kasih kau telah sudi untuk datang kemari" ucap Serril sembari mengusap lembut wajah Yekka.


Selama beberapa minggu ini, Yekka lah pengganti Mastany saat ia merindukan sosok sang anak.


"Apa ada yang kau butuhkan nyonya?," tanya Yekka begitu perhatian kepada Serril selayak nya ibu kandung nya sendiri.


"Bisa kau antar aku bertemu dengan nya?," tanya balik Serril sembari menatap sebuah bungkusan makanan yang ada di dalam kereta Yekka, melihat itu Serril sudah bisa menebak untuk siapa dan mau kemana Yekka di sore hari itu.


Mendengar ucapan itu, Yekka begitu tertegun hingga tak terasa mata nya mulai basah.

__ADS_1


"Apa nyonya yakin?," tanya Yekka meyakinkan.


Karna dalam beberapa minggu ini, Serril begitu marah kepada Mastany, bahkan Serril tidak segan segan pergi jauh dari sisi sang putri semata wayang nya itu.


"Aku hanya ingin sekedar memberi nya makan malam, bukan berarti aku memaafkan nya semudah itu," ucap Serril sembari menenteng sebuah rantang berisi penuh makanan kesukaan Mastany.


Dengan senyum merekah nya, Yekka segera mempersilahkan Serril menaiki kereta nya tanpa banyak bertanya lagi.


Mastany, pasti kau akan begitu senang saat melihat mereka datang, batin Yekka sembari bergegas melajukan kereta nya tuk menuju ke tempat Mastany berada.


Sepanjang perjalanan, Serril hanya diam sembari menatap ke arah jalanan.


Sementara Carlos nampak sudah lelap tertidur di dekapan sang nenek saat itu.


"Tuan pasti begitu senang melihat ini semua dari atas nyonya," seru Yekka membuat Serril menghela nafas panjang nya seketika.


"Suami ku memang lelaki yang luar biasa, sampai akhir hayat nya pun hanya putri nya lah yang ada di fikiran nya. Segala cara ia lakukan untuk kehidupan sang putri tanpa memperdulikan diri nya sendiri, aku ingin menjadi seperti dia, aku akan berusaha menerima Mastany kembali dan melupakan semua nya, tapi semua itu butuh waktu Yekka, jangan paksa aku tuk bersikap lebih lagi dari ini, aku tidak begitu hebat seperti William suami ku," ucap Serril bersamaan dengan turun nya hujan malam itu.


Butuh waktu hingga hari mulai gelap untuk bisa sampai ke Kastil milik Mastany.


Namun saat kereta mereka telah berhasil sampai di gerbang masuk Kastil.


Raut wajah Serril seakan berubah menjadi gusar saat itu juga.


"Kenapa nyonya?," tanya Yekka begitu heran dengan raut wajah Serril saat itu.


Wajah nya begitu menggambarkan kegelisahan dan kekhawatiran yang begitu besar seakan ada firasat yang tengah ia rasakan.


"Entah kenapa hati ku begitu gelisah setelah tiba di sini," sahut Serril mencoba menenangkan perasaan nya.


"Jika nyonya ragu, tunggulah saja di sini, aku yang akan mengantarkan makanan itu kepada Mastany, dan aku akan memastikan ia makan sampai habis. Sebelum ia menghabiskan nya aku tak akan meninggalkan nya sedikitpun," ucap Yekka begitu tak tega melihat kebimbangan Serril saat itu.-

__ADS_1


__ADS_2