Pendekar Keabadian

Pendekar Keabadian
Kehancuran Sekte Emas 2


__ADS_3

Ma Xien tidak punya pilihan selain bertarung. Pria tua yang menyerangnya itu adalah Lu Lin. Dia baru keluar dari ruangan miliknya. Dia keluar karena merasa adanya keributan. Tepat ketika dia keluar, dia melihat Ma Xien.


Ma Xien menunduk untuk menghindari serangan Lu Lin. Setelah berhasil menghindar, dia melakukan serangan balik dengan menusuk ke arah perut Lu Lin.


Serangan itu membuat Lu Lin mundur sebentar karena hampir saja serangan itu mengenai dirinya. Lu Lin tidak menggunakan senjata. Dia bisa menggunakan pedang, tetapi tidak ahli. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Lu Lin melempar jarum beracun ke arah Ma Xien.


Jarum itu sulit untuk dilihat, tetapi untuk orang yang kuat seperti Lu Lin dia bisa


merasakan gerakan benda yang mendekati dirinya. Dengan itu Ma Xien pun berhasil menghindari serangan jarum itu.


"Apa kau ingin menyerah?" tanya Lu Lin.


"Menyerah? Aku bahkan tidak tahu apa arti dari kata," jawab Ma Xien. Dia pun melakukan


serangan balik.


Dia mengayunkan tombak miliknya, tetapi kali ini berbeda. Tusukan tombak itu membuat sebuah angin yang berbentuk seperti sebuah ular. Serangan itu pun melesat ke arah Lu Lin.


Lu Lin tidak ingin kalah. Dia pun melakukan gerakan dan muncul sebuah tembok transparan di depan Lu Lin. Serangan Ma Xien membentur tembok transparan itu dan ternyata tembok itu berhasil di


tembus.


Lu Lin terkejut. Dengan cepat dia pun mengeluarkan perisai dari dalam kantong semesta miliknya. Serangan Ma Xien itu pun


mengenai perisai yang baru saja Lu Lin keluarkan.


Dia pun terdorong ke belakang. Lu Lin kaget dengan apa yang terjadi. Dia tidak menyangka kalau serangan itu lebih kuat dari pertahanan yang dia buat.


Ma Xien melakukan serangan yang sama berulang kali. Itu membuat Lu Lin kewalahan dan akhirnya dia pun terluka cukup parah. Dia tidak bisa bergerak dengan leluasa seperti sebelumnya, tetapi Lu Lin tidak menyerah.


“Pak Tua, aku rasa kau akan mati di sini. Apa kau ada permintaan sebelum kau mati?”


tanya Ma Xien. Ma Xien tersenyum dengan sangat lebar.


Sebenarnya dia kelelahan karena melakukan jurus yang sama berulang kali. Apalagi jurus itu memerlukan qi yang cukup banyak.

__ADS_1


Tetapi Ma Xien bisa mengatur napasnya. Itu membuat dia tidak terlihat kelelahan.


Padahal aslinya dia sudah ingin terjatuh.


Lin. "Dalam mimpimu!” teriak Lu Ma Xien pun melakukan gerakan yang sama. Dia mengeluarkan jurus yang sama, tetapi kali ini dengan kekuatan yang lebih besar. Dia ingin


membunuh Lu Lin agar dia bisa pergi dan mencari Li Hong.


Tujuannya ke sana adalah balas dendam kepada Li Hong. Dia tidak ingin menghabiskan waktu dengan orang yang tidak dia kenal.


Serangan itu mengarah ke arah Lu Lin. Dia sudah pasrah karena dia sudah tidak bisa menghindar sama sekali. Lu Lin tersenyum kecut. Dia menyesal tidak segera melakukan apa yang Xiou Yu minta. Dia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.


"Aku memang pria Tua yang bodoh," keluh Lu Lin. "Lepaskan aku!” teriak Bai Lianhue. Dia terus memberontak. Dia diikat dengan tali oleh Na Song. Awalnya Na Song ingin membawa Bai Lianhue dengan normal dan mengajaknya secara baik-baik, tetapi setelah dia pikirkan kembali. Itu agak mustahil.


Dia pun memutuskan untuk mengikat tubuh Bai Lianhue dan membawanya pergi secepat


mungkin. Mereka sekarang sudah berada di luar sekte Bulu Emas. Na Song tidak sendirian. Dia bersama dengan semua rekannya.


Mereka ada tiga puluh orang. Mereka sadar kalau mereka lemah karena itu mereka berjalan secara


"Tidak bisa," ucap Na Song. Dia terus menggendong Bai Lianhue. "Bos, meminta kami untuk membawa Nona pergi menjauh dari sekte. Nona bisa lihat sendiri kalau sekte dalam keadaan kacau. Kami tidak akan membiarkan Nona kembali ke sekte."


"Bagaimana dengan Xiou Yu? Dia masih di sana, bukan?" tanya Bai Lianhue. Na Song tidak menjawab. Dia tidak ingin berbohong karena itu dia memilih untuk tetap diam saja. Rekannya yang lain juga tidak ada yang menjawab pertanyaan itu.


Mereka memalingkan wajah mereka. "Aku tahu kalau Xiou Yu masih ada di sekte. Aku ingin kembali!" bentak Bai Lianhue. Dia


mencoba memberontak lagi. Untung saja tali itu sangat kuat. Bai Lianhue kesulitan melepaskan dirinya.


Na Song tidak bisa menahan Bai Lianhue dan akhirnya Bai Lianhue pun terjatuh ke tanah,


tetapi tali itu masih belum terbuka. Na Song pun membungkuk untuk kembali menggendong Bai Lianhue, tetapi tiba-tiba ada sebuah serangan mengarah ke arah dirinya.


Na Song tidak sempat menghindar. Untung saja ada rekannya yang sigap dan menepis


serangan itu. Na Song pun kembali menggendong Bai Lianhue.

__ADS_1


"Terima kasih, saudara Ji Gen "Tidak perlu berterima kasih. Kau telah banyak membantu kami. Meski, awalnya aku membenci mu," ucap Ji Gin dengan sangat jujur. Dia tersenyum ke arah Na Song. Dia dan beberapa rekannya yang lain sudah bersiap bertarung. Mereka tidak tahu berapa orang


yang akan mereka lawan.


"Apa yang kalian lakukan kepada Tunangan ku?" tanya seseorang dari balik pohon. Dia


pun keluar dan wajahnya pun terlihat. Dia tidak hanya sendirian, tetapi mereka berdua. Satu dari dua orang itu adalah Cao Ma.


"Tunangan? Jangan bercanda! Nona Bai adalah calon istri dari Bos Xiou. Jangan terlalu banyak berkhayal!" ucap Na Song. "Benar itu. Jangan asal bicara "Benar."


Wajah Bai Lianhue langsung memerah mendengar hal itu. Bukan hanya satu orang yang mengatakan itu, tetapi ada puluhan orang. Bai Lianhue sangat senang, tetapi sebaliknya Cao Ma menjadi sangat kesal.


Dia mengeluarkan senjata miliknya. Dia tidak suka dengan apa yang dikatakan Na Song dan rekannya. Cao Ma berniat untuk menghabisi mereka semua dan


membawa Bai Lianhue bersama


dengannya.


"Apa kau bisa membantuku, saudara La?" tanya Cao Ma. "Apa kau ingin bantuanku untuk membunuh mereka?" tanya La Song sambil menunjuk ke arah Na Song dan rekan lainnya. "Tentu saja," jawab Cao Ma. La Song mengangguk. Na Song dan yang lainnya langsung bersiap bertarung. Na Song langsung menyerahkan Bai Lianhue kepada rekannya yang merupakan pelari tercepat


diantara mereka.


Awalnya dia menolak karena dia juga ingin


ikut bertarung, tetapi Na Song menjelaskan kalau Bai Lianhue lebih penting. Dia pun akhirnya mengerti. "Aku serahkan Nona Bai


kepadamu," ucap Na Song. "Baiklah," jawab Lin Mare.


Dia adalah salah satu-satunya wanita diantara mereka bertigapuluh. Dia juga yang paling mudah diantara yang lainnya dan selalu diperlakukan baik oleh rekan yang lainnya. Dia selalu didahulukan dalam banyak hal.


"Jangan berhenti sampai kau merasa sudah sangat jauh!" ucap Na Song. Lin Mare pun mengangguk dan langsung berlari dengan


sekuat tenaga. Cao Ma dan La Song ingin mengejar, tetapi mereka dihadang oleh


keduapuluh sembilan orang yang ada di sana.

__ADS_1


Tidak ada pilihan bagi mereka selain mengalahkan mereka semua lebih dulu.


__ADS_2