
"Akhirnya aku menemukanmu," ucap Cao Ma.
Dia tersenyum sangat lebar karena dia menemukan Bai Lianhue. Bai Lianhue langsung mengeluarkan pedangnya. Dia
sama sekali tidak main-main. Dia sudah menunggu hal ini.
Dia sudah lama ingin membunuh Cao Ma. Bai Lianhue sangat membenci Cao Ma karena dia pernah dipermalukan ketika dia pertama kali datang ke sekte. Hal itu masih membekas di ingatan Bai Lianhue. Untung saja Li Huang datang dan membantunya. Kalau tidak Bai Lianhue akan mengakhiri
hidupnya setelah itu.
"Aku sudah menanti hal ini,” ucap Bai Lianhue. Dia tersenyum lebar. Senyuman yang baru pertama kalinya Cao Ma lihat. Senyuman yang menakutkan. “ Aku selalu menahan diri karena kita berada di dalam sekte, tetapi kali ini kita berada di luar. Tidak akan ada yang tahu kalau aku membunuhmu. Ah, mungkin tidak ada yang peduli juga," tambah Bai Lianhue.
Bai Lianhue menurunkan Lin Mare lebih dulu. Dia menyandarkan tubuh Lin Mare ke pohon yang tidak jauh dari sana. Tanpa basa-basi lagi Bai Lianhue langsung menyerang Cao Ma dengan sangat brutal. Dia bahkan tidak sempat berkata apa-apa. Dia berusaha menghindari serangan Bai Lianhue.
Beberapa kali Cao Ma berhasil menghindari serangan Bai Lianhue dengan sempurna, tetapi beberapa kali juga dia harus terkena serangan Bai Lianhue. Meski, hanya goresan, tetapi tetap saja luka.
"Ini gawat," batin Cao Ma. Dia tidak menyangka kalau Bai Lianhue menyerangnya
dengan sangat brutal tanpa ampun. Dia bahkan tidak sempat melakukan serangan balasan. Cao Ma hanya menghindar tanpa bisa melakukan serangan balik.
"Apa yang membuatnya sangat marah?" batin Cao Ma. Bai Lianhue pun melompat dengan sangat kuat. Dia melesat dan langsung muncul di depan Cao Ma. Itu membuat Cao Ma kaget karena jarak mereka sudah sangat dekat. Cao Ma berusaha untuk mundur, tetapi ternyata itu sudah terlambat.
Serangan Bai Lianhue sudah dipastikan mengenai dirinya. Yang dia lakukan hanyalah mengurangi dampak dari serangan itu. Dia pun mengelak sebisa yang dia bisa. Seperti apa yang Cao Ma duga.
Pedang Bai Lianhue pun menebas bahu kirinya. Itu membuat luka yang sangat parah. Darah mengalir deras dari bekas luka itu. Setelah itu Cao Ma pun langsung mundur. Dia melihat ke arah luka itu dan ternyata tebasan Bai Lianhue sampai membuat tulang Cao Ma
retak.
Kalau dia tidak mengorbankan bahu miliknya. Serangan itu akan menebas kepala Cao Ma.
"Sudah aku duga kalau ini adalah ide yang buruk," gumam Cao Ma.
Dia berharap kalau La Song cepat datang dan membantu dirinya karena kalau tidak, maka dia akan menjadi mayat. Perbedaan kultivasi keduanya terlalu jauh. Itu yang membuat Bai Lianhue bisa sangat unggul dan membuat Cao Ma tidak berkutik.
__ADS_1
Bukan hanya dari segi tingkat kultivasi, tetapi dari teknik bertarung juga Bai Lianhue lebih
unggul. Dia menguasai ilmu pedang yang sangat hebat. Li Hong tidak terlalu menguasai
ilmu pedang, tetapi dia mengajarkan sebisa yang dia bisa. Yang membuat ilmu pedang Bai Lianhue berkembang pesat adalah
Xiou Yu.
"Jang berpikir untuk lari," ucap Bai Lianhue.
Dia pun berlari lagi. Dia tidak akan menghentikan serangannya sampai dia yakin kalau Cao Ma benar-benar tewas.
Kebencian membuat Bai Lianhue menjadi
brutal. Untung saja lawan Bai Lianhue adalah Cao Ma. Kalau dia bertarung melawan orang yang memiliki tingkat kultivasi yang sama atau memiliki teknik dan ilmu pedang yang sama, maka dia akan mudah di kalahkan.
Sekali lagi pedang Bai sudah diayunkan.
Sasaran Bai Lianhue masih sama. Dia ingin menebas leher Cao Ma. Sekali lagi Cao Ma tidak bisa menghindar. Dia ingin mengorbankan bahu kirinya lagi, tetapi kalau dia melakukan itu, maka dia akan dalam masalah. Cao Ma yakin kalau bahu kirinya terkena tebasan Bai Lianhue lagi, maka tangan kirinya akan putus.
"Maaf aku terlambat," ucap seseorang.
Cao Ma pun di dorong mundur. Dia tersenyum karena La Song sudah tiba di sana. Dengan
satu serangan La Song bisa membuat Bai Lianhue terdorong mundur. La Song tersenyum lebar.
"Lawanmu adalah aku,” ucapnya dengan sangat santai. Bai Lianhue melihat ke arah
bahu kanaknya dan ternyata ada bekas pukulan di sana. tanpa dia sadar La Song berhasil menyerang dirinya. Itu membuat Bai Lianhue semakin kesal. Dia pun langsung
menyerang lagi tanpa pikir panjang.
"Kau masih kekanak-kanakan" ucap La Song.
__ADS_1
Dia pun meladeni Bai Lianhue. Mereka bertukar serangan. Hanya dalam beberapa detik, La Song sudah diunggulkan. Dia berhasil melukai Bai Lianhue dengan senjata miliknya. Bukan hanya satu kali, tetapi tiga kali Bai Lianhue berhasil dilukai.
Sedangkan, dirinya sama sekali tidak berhasil melakukan apa pun. Tidak ada serangan Bai Lianhue yang berhasil mengenai La Song. Itu membuat Bai Lianhue kesal. Dia kembali
melakukan serangan. "Masih ingin mencobanya. Cukup menarik," ucap La Song.
Sekali lagi Bai Lianhue terluka.
Dia tidak bisa melakukan serangan balik kali ini. Serangan didominasi oleh La Song. Sesuatu yang membuat Bai Lianhue
frustrasi. Dia pun terpaksa mundur lebih dulu.
"Jangan libatkan emosi kalau kau ingin menang dalam pertarungan. Emosi hanya akan membuat kau sulit mempertimbangkan banyak hal.
Tenangkan dirimu.” Ucapan itu tiba-tiba muncul di kepala Bai Lianhue. Itu adalah perkataan Xiou Yu yang sering dia katakan kepada dirinya. Bai Lianhue selalu saja mudah terbawa emosi. Bai Lianhue pun
menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan.
"Aku harus tenang," gumamnya. Setelah merasa selesai dan merasa lebih tenang. Dia pun bersiap bertarung lagi. "Baiklah. Kita mulai lagi pertarungannya," ucap Bai
Lianhue.
"Ini akan merepotkan," batin La Song Ma Xien tersenyum lebar. Dia mendapatkan celah dan langsung memanfaatkan celah itu untuk
menyerang Li Hong. Dia sangat senang karena dendamnya kepada Li Hong bisa dia balaskan.
Nama baiknya diantara anggota Cakar Bayang akan baik kembali. "Mati kau!" ucap Ma Xien.
Baru ingin menyerang Li Hong, tiba-tiba fokusnya hilang karena ada sebuah jarum kecil menancap di tubuh Ma Xien. Itu membuat pandangannya langsung buram. Dengan terpaksa dia mundur dan mengurungkan niatnya.
"Apa yang kau lakukan?” teriak Ma Zeiji.
"Diamlah! Sepertinya ada racun di dalam aluran darahku,” ucap Ma Xien. Dia pun mundur sangat jauh.
__ADS_1
"Aku serahkan dulu pertarungan kepadamu," ucap Ma Xien. Dia pun berusaha menetralkan racun yang masuk ke dalam tubuhnya. "Dasar tidak berguna," keluh Ma Zeiji.