
"Di mana satu lagi?” Xiou Yu spontan menoleh ke belakang dan ternyata satu orang lawaknya itu ada di belakangnya. Xiou Yu ingin menghindar, tetapi semuanya sudah terlambat.
Pedang milik musuhnya sudah menusuk perutnya. "Xiou Yu!" teriak Li Hong. Dia ingin menoleh Xiou Yu, tetapi Ma Zeiji tidak membiarkan hal itu. Li Hong sama sekali tidak bisa membantu. Dia hanya bisa
melihat Xiou Yu terjatuh dengan darah yang mengalir dari tubuhnya.
"Lawanmu adalah aku!" ucap Ma Zeiji. Li Hong sangat kesal, tetapi tidak ada pilihan lain selain dia harus menyelesaikan pertarungannya. Hanya itu pilihan yang dia miliki. Li Hong pun menarik napasnya dan
menghembuskannya dengan perlahan. Dia pun menjadi lebih tenang.
"Ayo cepat kita selesaikan ini!" ajak Li Hong. Dia sudah sangat serius. Dia bahkan mengeluarkan dua buah belati di kedau tangannya. Belati itu mengandung racun Bulu Emas.
Dia tidak bisa menahan dirinya untuk menggunakan racun itu lagi. Sebenarnya ada alasan kenapa Li Hong lebih memilih tidak
menggunakan racun itu. Racun itu memiliki efek yang tidak kalah buruknya kepada si
pengguna.
"Jangan khawatirkan Xiou Yu! Aku yang akan membantunya.," teriak Qien Liwu. Tidak ada pilihan lain bagi Qien Liwu. Dia sebenarnya
dilarang oleh Xiou Yu untuk membantu karena dia tidak ingin berhutang budi, tetapi Qien Liwu tidak ingin Xiou Yu tewas sebelu
tujuannya. Li Hong menoleh sebentar dan dia pun mengangguk.
Dia kenal dengan Qien Liwu. Dia sebenarnya tidak percaya kepada Qien Liwu, tetapi hanya itu pilihannya. Dia harus percaya kepada orang yang sulit untuk dipercayai.
Li Hong pun mulai bertarung kembali. Sementara itu, QienbLiwu duduk sambil menatap Xiou Yu yang terbaring. Dia kemudian memberikan pill. Xiou Yu langsung menegak pill itu.
Perlahan tubuhnya mulai pilih, tetapi tidak dengan tenaga miliknya. "Kau bodoh," ucap Qien Liwu. "Bagaimana bisa kau lengah pada
saat seperti ini. Kalau saja kau menerima tawaranku sejak awal. Kau tidak akan seperti ini. Jangan halangi aku untuk kali ini. Aku
akan melindungimu."
"Terima kasih," ucap Xiou Yu. Qien Liwu pun membawah tubuh Xiou Yu dan meletakkannya agak jauh dari tempat pertarungan. Lebih tepatnya di tempat dia duduk sebelumnya. Setelah membaringkan Xiou Yu, pandangan Qien Liwu terarah Li
Huang.
__ADS_1
"Aku rasa kau sudah cukup lama beristirahat. Apa kau bisa membantuku?" tanya Qien Liwu.
Li Huang pun mengangguk. Dia pun berdiri dan langsung bersiap bertarung. Qien Liwu
tersenyum. Dia sudah lama sekali tidak bertarung. Itu membuatnya sangat senang. Apalagi tidak ada yang akan memarahinya kalau dia sampai membunuh.
"Hey, Guru!" sapa Qien Liwu. Cao Yuen pun menoleh. Dia kaget dengan kehadiran Qien
Liwu. Rasa kesalnya menjadi lebih besar. Melihat Qien Liwu membangkitkan kejadian masa lalu yang buruk baginya. Cao Yuen bahkan ingin langsung menyerang Qien Liwu saat itu juga, tetapi Din Lize menahan
dirinya.
"Sudah lama sekali, bukan? Aku akan mengalahkan mereka dan setelah itu aku akan membunuh juga, Guru!" ucap Qien Liwu dengan sangat percaya diri.
Ucapan itu memancing amarah Cao Yuen. Qien Liwu tersenyum. Tanpa Cao Yuen sadari, dia lengah dan membuat dirinya terkena serangan Din Lize. Dia pun terluka di bagian depan tubuhnya. itu adalah tebasan yang cukup kuat.
Darah mengalir dari tubuh Cao Yuen. "Kau masih saja bodoh seperti itu," hina Qien Liwu.
"Saudara Na Song, lebih pergi saja dari sini!" pinta Ji Gen. Saudara mereka sudah terluka
semua. Yang tersisa hanya beberapa lagi. Sedangkan, lawan mereka hanya terluka gores.
Lebih tepatnya dikalahkan oleh La
Song. Perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh. itu yang membuat mereka dikalahkan dengan mudah. "Kalau harus mati. Aku akan
mati bersama dengan kalian,” jawab Na Song.
"Jangan seperti itu! Kalau kita semua mati, siapa yang akan bertemu dan meminta maaf
kepada Bos Xiou? Kami ingin kau yang mewakili kami,” ucap Ji Gen sekali lagi. Dia dan saudara mereka yang lainnya setuju
dengan hal itu.
"Aku tidak bisa melakukannya. Aku akan tetap di sini," ucap Na Song dengan tegas. Dia tidak ingin pergi sama sekali. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk mati bersama dengan yang lainnya. Baru ini dia merasa memiliki keluarga. Sangat berat untuknya meninggalkan orang-orang yang sudah dia
anggap sebagai saudara sendiri.
__ADS_1
"Jangan banyak omong kosong!" teriak Cao Ma. Cao Ma ingin menyerang mereka lagi, tetapi La Song memegang bahu Cao Ma. Dia
menggeleng pelan. “Kau lebih baik kejar wanita tadi sebelum dia pergi sangat jauh," ucap La Song.
Cao Ma agak ragu. Dia tidak yakin bisa melakukannya. Perbedaan tingkat kultivasi Bai Lianhue lebih tinggi dari dirinya.
Kalau bertarung, dia pasti dikalahkan. Dia terdiam sejenak dan akhirnya dia pun
memutuskan untuk mengejar Bai
Lianhue.
"Kau susul aku kalau sudah selesai mengurus mereka," ucap Cao Ma. "Baiklah," jawab La Song. Cao Ma pun pergi dari sana. Na Song ingin menghalangi Cao Ma, tetapi tiba-tiba sebuah pisau kecil menusuk paha kirinya. Dia
pun terjatuh ke tanah.
Ji Gen yang dekat dengan Na Song
langsung membantunya. "Lawan kalian adalah aku!" ucap La Song. Tidak ada yang berani bergerak dari sana. Yang tersisa dari mereka hanya lima belas orang saja. sisanya sudah tidak sadarkan diri. Yang tewas diantara mereka hanya lima orang dan
sisanya hanya tidak sadarkan diri.
"Aaaaah!" Na Song berteriak ketika dia mencabut pisau yang menancap di pahanya. Dia pun bangun dengan bantuan Ji Gen. " "Terima kasih," ucap Na Song. "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ji Gen.
"Kita harus menahan dia selama mungkin sampai Nona Bai Lianhue sudah sangat jauh." "Baiklah," ucap Ji Gen.
Lin Mare terjatuh karena kakinya tersandung akar pohon. Itu membuat Bai Lianhue juga ikut terjatuh. Dia pun langsung bangun dan mengangkat Bai Lianhue kembali. Dia merasa
sangat lelah, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan.
"Lepaskan aku!" pinta Bai Lianhue. "Aku tidak bisa melakukan itu. Kalau sampai Nona ditangkap. Apa yang akan kami jelaskan kepada Bos Xiou? Kami akan mempertaruhkan nyawa kami demi Nona," jawab Lin Mare Dia pun kembali berlari.
Meski, tubuhnya sudah sangat kelelahan. Dia masih berusaha sekuat yang dia bisa. "Kenapa kalian melakukan ini?" tanya Bai Lianhue.
"Kami hanyalah anak yang tidak beruntung dan diperlakukan dengan tidak adil, tetapi ketika bertemu dengan Bos Xiou.
Semuanya berubah, dia memperlakukan kami dengan sangat baik.
__ADS_1
Dia memberi kami perlakukan yang tidak pernah kami terima sebelumnya. Ini adalah bentuk rasa terima kasih kami kepadanya,” jawab Lin Mare. Bai Lianhue terdiam.