Pendekar Keabadian

Pendekar Keabadian
Kehancuran Sekte 7


__ADS_3

Lin Mare kembali terjatuh. Dia berusaha untuk bangun kembali, tetapi bukannya bangun malah dia terjatuh kembali. Dia sudah sangat kelelahan. Dia sudah berlari sangat jauh sambil membawa Bai Lianhue. Itu bukan


sesuatu yang mudah.


"Berhenti saja! Kau sudah kelelahan," ucap Bai Lianhue. Dia juga kesakitan karena dua kali dia jatuh dengan bagian depan tubuhnya yang terhempas ke tanah. Wajah Bai Lainhue bahkan luka dan hidungnya mengeluarkan darah karena hal itu. Dia ingin protes, tetapi dia tidak akan setega itu.


Dia menghargai perjuangan Lin Mare. Bagaimana pun Lin Mare masih sangat muda. Dia bahkan lebih mudah dari pada Xiou Yu.


"A-aku harus ... membawa No ... na pergi sejauh mung... kin," ucap Lin Mare sambil berusaha untuk bangun. Melihat itu Bai Lianhue cemas. Dia cemas dengan keadaan Lin Mare dan dia cemas dengan keadaan dirinya sendiri.


"Sepertinya kita sudah jauh,” ucap Bai Lianhue. Dia berusaha meyakinkan Lin Mare untuk berhenti. Sayangnya itu tidak berhasil karena Lin Mare sudah bangun dan sudah berusaha mengangkat tubuh Bai Lianhue


lagi.


Dia pun mulai melangkah, tetapi dia pun terjatuh lagi. Dia bangun dan terjatuh lagi dan lagi beberapa kali. Keadaan tubuh Lin Mare sudah sangat kelelahan. Matanya sudah mulai muram dan napasnya sudah tersengal-sengal.


"Maaf, Nona," ucap Lin Mare dengan suara kecil. Dia pun terjatuh untuk terakhir kalinya


dan akhirnya dia pun tidak sadarkan diri.


Bai Lianhue lega. Dia pun berusaha bangun. Dia berusaha melepaskan ikatan yang mengikat dirinya. Beberapa kali dia harus


mengatur napasnya. Bukan karena dia kelelahan, tetapi karena hidungnya yang seperti tersumbat darah.


Jatuh beberapa kali tadi membuat Bai Lianhue terlihat seperti baru selesai melakukan pertarungan yang berat. Dia berharap kalau tidak ada yang mengejar dirinya lagi, tetapi dia langsung terdiam. Dia baru ingat kalau ada orang yang bersama Cao Ma yang kekuatannya sama seperti dirinya.


Itu membuat Bai Lianhue menjadi cemas.b"Aku harus cepat," gumam Bai Lianhue. Dia pun berusaha melepaskan ikatannya dengan cepat. Dia cemas kepada Na Song dan yang lainnya. “Aku harap


mereka bisa bertahan."


Membayangkan pertarungan itu saja sudah membuat Bai Lianhue cemas. "Aku mohon terbukalah!" pinta Bai Lianhue. Dua puluh menit berlalu begitu saja dan dia belum juga

__ADS_1


lepas dari ikatan itu. Bai Lianhue baru ingat kalau dia memiliki pisau di kaki kanaknya. Dia pun berusaha mengambil pisau itu dan setelah usaha yang cukup lama dia pun berhasil mendapatkan pisau kecil itu.


"Aku bodoh sekali," gumam Bai Lianhue.


Dia tidak butuh waktu lama untuk dia bisa memotong tali yang mengikat dirinya. Setelah terbuka, dia pun berdiri dan melakukan sedikit peregangan.


Setelah merasa cukup Bai Lianhue pun menggendong Lin Mare dan membawanya pergi. Tujuan Bai Lianhue adalah tempat awal. Dia ingin membantu Na Song dan yang lainnya. Dia sudah menganggap mereka semua sebagai keluarga dan dia tidak


ingin kehilangan mereka semua. Tidak ada orang yang ingin kehilangan orang yang sudah dianggap keluarga.


"Aku harap kalian baik-baik saja," gumam Bai Lianhue. Bai Lianhue tersenyum sambil melirik ke arah Lin Mare. Dia kagum dengan perjuangan Lin Mare ketika membawa dirinya pergi. Bai Lianhue tidak punya teman cewek karena itu ketika melihat Lin Mare pertama kali. Dia merasa sangat senang dan ingin mengangkat Lin Mare sebagai saudara angkat.


"Xiou Yu, akan setuju atau tidak?" batin Bai Lianhue. Qien Liwu dan Li Huang sudah berhasil mengalahkan musuh mereka. Li Huang tidak terlalu berperan banyak karena hampir semua musuh itu dikalahkan oleh Qien Liwu. Itu membuat Li Huang malu, tetapi


dia berusaha menutupi hal itu.


"Di mana, Bai Lianhue?" tanya Li Huang.


"Sudah aku katakan kalau dia sudah dibawa pergi dari sekte. Dia akan baik-baik saja,” jawab Qien Liwu. Sekarang dia menatap ke


Dia pun kembali melihat ke arah Li Huang. “Apa yang akan kau lakukan kalau kau tahu di


mana dia berada? Kau ingin melindunginya dan ingin terlihat seperti pahlawan bagi Bai Lianhue. Jangan terlalu percaya diri! Dia


lebih kuat darimu. Aku tahu kau menyukainya, tetapi jangan melakukan hal yang membuatmu terlihat bodoh," ucap Qien Liwu.


Li Huang hanya menelan ludah mendengar perkataan itu. Dia merasa ada yang menusuk hatinya dengan kuat. Perkataan itu menyelekit di hati Li Huang, tetapi dia tidak bisa membantah karena apa yang Qien Liwu


katakan benar.


"Kalau kau ingin berguna. Lebih baik kau menolong yang lainnya. Masih banyak musuh

__ADS_1


yang lain. Lebih baik kau kalahkan mereka," ucap Qien Liwu. “Aku juga akan melakukan hal yang sama." Qien Liwu pun beranjak pergi dari sana. Li Huang menyusul dari belakang.


"Apa kita tidak akan membantu, Guru?" tanya Li Huang.


Qien Liwu mengerutkan keningnya, “Apa yang bisa kau lakukan? Aku cukup yakin kepalamu tidak berisi otak," ucap Qien Liwu. "Jangan lakukan hal bodoh! Bukannya membantu,


tetapi kau akan merepotkan


Petrarch saja," tambah Qien Liwu.


Cao Yuen dalam keadaan buruk. Dia sudah kelelahan dan tubuhnya sudah terluka parah.


Dia bahkan sulit untuk menggerakkan tubuhnya. Cao Yuen sangat kesal karena Nin Luwien tidak kunjung datang.


Dia sudah meminta dia untuk datang ke tempat kediaman Li Hong, tetapi sampai saat ini dia belum juga tiba. Padahal waktu yang berlalu sudah sangat lama. Itu benar-benar membuat Cao Yuen marah. Dia berniat akan


menghukum Nin Luwien setelah


semua ini berakhir.


"Apa yang kau harapkan? Kau ingin menunggu bantuan? Jangan berpikir mereka akan datang. Mereka tidak akan datang sama


sekali. Mungkin sekarang mereka sudah dikalahkan," ucap Din Lize.


Tentu saja itu hanyalah mulut besar Din Lize saja. Dia juga tidak terlalu yakin dengan apa yang terjadi di tempat lain. Yang pasti para tetua sedang bertarung dan para murid juga melakukan hal yang sama.


Sebelum dia tiba di sana, sudah ada puluhan murid yang tewas dalam pertarungan. Apalagi sekarang. Dia yakin korban sudah jauh lebih banyak.


Membayangkan nya saja sudah membuat Din Lize geram. "Kau harus membayar atas apa yang kau lakukan!” teriak Din Lize. Dia pun kembali menyerang Cao Yuen. Gerakan Din Lize membuat Cao Yuen kesulitan dan


dia pun terluka kembali.

__ADS_1


Semakin banyak luka yang dia terima. Bahkan salah satu serangan Din Lize berhasil melukai mata Cao Yuen hingga satu matanya tidak bisa melihat lagi.


Darah mengalir dari mata Cao Yuen. "Itu masih belum setimpalbatas apa yang kau lakukan," ucap Din Lize.


__ADS_2