
“Kina, Kina ...sebenarnya dia perempuan yang baik. Dia putriku, aku jadi tahu betul bagaimana sikapnya. Termasuk perubahan sikapnya saat ini dikarenakan apa.”
Ayah Kina lah yang paling tahu bagaimana sikap Kina sebenarnya. Dan dengan alasan apa sampai Kina seperti ini. Tetapi, yang namanya Ayah dan anak, mereka berdua memiliki hubungan darah dan membuat keduanya seakan-akan mengerti satu sama lain.
Itu benar, tapi tidak ada yang bisa dibuktikan selain rasa kepercayaan.
“Aku berharap kamu dapat berteman dengannya. Mira, maukah kamu berteman dengannya?”
“Tentu saja. Kina adalah temanku. Mana mungkin aku membiarkannya sendirian di saat kesusahan.”
“Kesusahan?”
“Ah, tidak. Tidak ada apa-apa.” Takut akan memburuk bila mengatakan hal yang ia pikirkan, Mira mengalihkannya dengan pembicaraan hal lain.
“Begitu. Aku sangat yakin kalian bisa berteman dengan baik. Contohnya ini ...,”
Paman menyodorkan kotak makan yang sudah tidak ada isinya. Sudah sangat bersih sebagai tanda makanan yang ada di dalamnya sudah dimakan. Paman berkata bahwa yang memakannya lebih banyak adalah Kina.
Sejujurnya Mira tidak percaya. Padahal saat itu jelas-jelas Kina menolaknya. Namun paman mengatakan hal yang sama lagi.
“Kina memakannya. Dia itu memang tidak suka pedas apalagi sayuran yang lebih cocok dimakan oleh pak tua sepertiku.”
“Aku tidak sangka.”
“Ya. Dia benar-benar tidak menyukainya. Tapi setelah mencicipi masakanmu, dia jadi ketagihan dan bilang ...,”
Paman bilang, Kina berkomentar tentang makanan yang dibuat oleh Mira mengingatkannya dengan buatan masakan Ibunya.
“Justru aku jadi seperti ibunya, ya. Haha.” Agaknya lucu sampai membuat Mira tertawa.
“Benar 'kan? Aku sendiri tidak menyangka kalau dia akan menyukainya. Tidak terlalu pedas tapi tetap nikmat. Sayuran yang biasa pahit dimakan itu ternyata bisa dibuat nikmat seperti itu.”
“Ibu yang mengajariku. Kata Ibu, jika sewaktu Ibu pergi keluar lalu Ayahku sudah pulang dari pekerjaannya, maka akulah yang harus memasak. Hehe.”
“Memasak di usia sedini itu? Aku tidak pernah bisa membayangkan bahwa kamu jadi semandiri ini, Mira.”
“Benar juga. Saat itu aku tidak bisa memasaknya. Karena kami memutuskan untuk pergi ke luar.”
__ADS_1
Saat itulah kecelakaan terjadi. Begitulah kata Mira, usai mengatakan bahwa dirinya di masa lalu tidak dapat memasak untuk si Ayah.
“Maaf telah membuatmu mengingatnya.”
“Tidak apa. Aku hanya ingat yang baik-baik saja. Begitu juga dengan Kina. Kapan pun, aku akan selalu menganggapnya teman terbaikku.”
Paman merasa senang, ia sangat lega saat Mira mengatakan bahwa dirinya mengenal Kina hanya sebagai orang yang baik. Bukan seperti sebelumnya, wajah ketus dan ucapan kasar yang tidak biasa itu sudah menjadi makanan sehari-hari Mira, namun meskipun begitu Mira tetap mengatakan dirinya tetap mengenal Kina sebagai orang yang baik.
“Aku senang, putriku mendapat teman yang baik.”
“Ya, terima kasih. Paman.”
Terkadang ia ingin menangis mendengar pujian dari seorang bapak tua dengan satu anak seumurannya. Bagaimana rasanya saat kepala mungil itu terusap lembut oleh tangan besar, bagaimana rasanya saat mendengar kata-kata pujian serta semangat lalu bagaimana rasanya saat duduk bersama dengan paman.
Seperti bersama dengan Ayah saja. Ketika Mira berpikir begitu, ia lagi-lagi teringat dengan Kina.
“Kina mengalami kecelakaan tapi di saat itu aku tidak bisa apa-apa selain hanya melihatnya saja. Mungkin benar ini salahku.”
Teringat sebab merasa ini adalah salahnya, lantas Mira menghampiri Kina yang saat ini berada di kamarnya.
“Kina.” Sambil memanggil, Mira mengetuk pintu kamar. Ia memintanya untuk tidak terus berada di dalam kamar selama seharian.
“Berisik! Diam! Pergilah!”
Sahutan demi sahutan yang kasar kembali terdengar ke kedua telinga Mira. Sejenak ia diam sampai teriakan Kina selesai. Barulah ia kembali membujuk.
“Kina, aku—”
“Berisik! Sudah aku bilang pergi! Jangan ganggu aku! Apa kamu tidak tahu artinya aku mengatakan itu?” pekik Kina.
“Maafkan aku. Aku hanya ingin ...,”
“KUBILANG PERGI!”
Semakin Kina berteriak, Mira merasakan aura jahat yang berasal dari dalam kamar Kina semakin menguat.
“Sudah aku duga, ini karena salahku. Apa yang seharusnya aku lakukan?” gumam Mira.
__ADS_1
Ia tengah berpikir bagaimana caranya untuk keluar dari situasi ini. Tapi di saat-saat seperti itu, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka lalu Kina menarik tubuh Mira sampai akhirnya masuk ke dalam. Sesaat setelah itu pintu kembali ditutupnya, sang Ayah yang hanya diam memperhatikan kini bingung dengan tingkah laku putrinya itu.
“Apa? Kenapa?” Mira juga linglung karena tiba-tiba diperlakukan seperti ini.
“Hei! Aku ingin dengar jawabanmu.”
“Y-ya?” Mira menjawab dengan gugup, dan dengan posisi setengah berdiri di lantai. Posisinya tampak seperti sedang bersimpuh di hadapan Kina.
“Kenapa kamu bisa melihat apa yang aku lihat? Dan juga merasakan apa yang aku rasakan?” Pertanyaan ambigu, terdengarnya begitu.
“A-anu ...sebenarnya—”
“Sudahlah! Jawab saja! Kenapa kamu bisa tahu apa yang aku pikirkan! Kau tahu kecelakaan itu bukan! Dan kau ...,” Ia menunjuk-nunjuk Mira dengan kesal, tetapi itu hanya beberapa saat yang kemudian ia berpaling dan mulai merendahkan suaranya.
“Sudah cukup! Kurang lebihnya biar aku tanya Ayah saja! Pergilah!”
Tiba-tiba menyeret masuk dan sekarang diusir pergi. Memang benar-benar keterlaluan sekali anak gadis satu ini.
“Ya. Maaf.”
“Ampun deh! Kenapa kamu minta maaf segala sih! 'Kan aku yang nyeret kamu ke sini!” Saat dia mengamuk meski tengah mengakui kelakuannya barusan, namun aura jahat juga semakin merajalela.
Hal itu membuktikan bahwa kegelapan yang ada di dasar hati Kina masih tidak ada tanda-tanda akan lenyap justru meningkat. Dan jika terus dibiarkan, Mira sadar bahwa suatu saat Kina akan dirasuki olehnya.
“Bagaimana?” Baru saja keluar, sudah dihadapkan pertanyaan dari Ayah Kina.
Lekas Mira menjawabnya, “Gagal.” Ia tentu sangat sedih. Terlebih Kina memang sulit didekati khususnya saat ini. Dan juga ada beberapa hal yang menganggu pikiran Mira semenjak Kina menanyakan sesuatu yang ambigu.
“Paman, apa maksud pertanyaan, "Kenapa kamu bisa tahu isi pikiranku"?”
“Apa Kina yang menanyakannya padamu?”
“Ya.” Ia menjawab seraya menoleh ke samping kiri, namun perasaan ngeri sekaligus teringat akan mimpi buruk sosok Kina yang tak wajar membuatnya langsung berpaling, dan kembali menghadap ke depan.
“Kalau begitu ...itu artinya kamu sudah mulai menyentuh hati Kina. Syukurlah, dia masih memiliki perasaan itu,” ucap paman dengan perasaan lega, ia senang.
Sedang tidak dengan Mira. 'Apa? Kenapa aku malah teringat itu lagi? Sudah cukup menyelami alam kesadaran Kina. Aku tidak mau ingat yang buruk-buruk itu lagi,' batinnya merasa gelisah.
__ADS_1
Mira menggelengkan kepala, berusaha keras menyingkirkan pemikiran buruk yang terlintas agar tidak mudah dihasut oleh sesuatu yang biasa disebut "iblis."
Ia kemudian mengatakan sesuatu dengan semangat sembari mengangkat kepalan tangan. “Tunggu aku, Kina! Aku akan menyelamatkanmu.”