Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 7


__ADS_3

Menjelang hari kelulusan, akan ada hari libur selama beberapa hari ke depan. Namun sekarang, ada yang mendadak dari sekolah. Mengharuskan murid kelas 3 masuk kembali ke sekolah.


Dan pagi ini, mau tidak mau ia harus berangkat sekolah.


“Kamu akan berangkat 'kan?” tanya seorang guru perempuan yang datang ke rumah Mira.


“Ya. Terima kasih.”


“Ya ampun. Lain kali belilah gawai agar aku tidak perlu datang kemari.”


“Ya, maaf.”


Alasan mereka ingin kelas 3 kembali ke sekolah, pastinya bukan untuk belajar melainkan untuk membagikan selembaran yang terkait dengan sisa pembayaran yang belum lunas lalu rekreasi yang menjelang perpisahan.


“Setidaknya aku sudah melunasi semuanya. Tapi kalau untuk rekreasi, aku tidak yakin apa aku bisa? Tidak. Tidak usah saja.”


Mereka juga menjelaskan perpisahan itu, ke mana dan kapan. Segalanya dengan rinci. Itu bukanlah ide buruk tapi tidak dengan Mira yang tidak memiliki uang untuk perpisahan.


“Kelulusan kalian juga akan diadakan di tempat sana.”


Dan hal yang paling mengejutkan adalah ini. Kelulusan itu diadakan di tempat rekreasi, tempat yang sama.


Setelah mereka dibubarkan, Mira secepatnya pergi mendatangi guru yang sama. Ia hendak memberitahukan bahwasanya ia tidak bisa pergi ke sana.


“Bu Guru, saya tidak bisa pergi ke sana. Mohon maaf. Ini kendala ...,”


“Oh, jadi kamu tidak bisa ya? Apa kamu benar-benar tidak punya wali? Paling tidak kerabat dekat atau jauh?”


“Maaf.”


Tidak ada hal semacam itu dalam keluarga Mira. Kecuali kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal.


“Padahal kelulusan juga akan diadakan di sana. Kalau kamu tidak ikut lalu bagaimana dengan penyerahan ijazahmu? Ha?”


“Maaf. Mohon pertimbangkan.”


“Tidak bisa. Kamu pikir hanya karena satu orang tidak bisa, mereka akan mengikutimu?”


“Ya, saya tahu itu akan begitu.”


Datang guru yang lain, ia menepuk pundak guru yang barusan berbincang dengan Mira. Setelah beberapa saat mereka bertukar tatap, guru wanita yang saat ini berhadapan dengan Mira lantas menghela napas.


“Ha ...baiklah. Tidak ada hari kelulusan untukmu.”


Guru itu pun pergi menuju ke mejanya, ia mengambil selembar kertas yang kemudian diberikan pada Mira.

__ADS_1


“Ini ...”


“Tidak ada hari kelulusan bagimu tapi tetap saja kamu telah lulus dengan nilai tinggi. Kamu pandai,” ucap guru itu.


“Kalau begitu saya—”


“Akan lebih baik jika kamu tidak ikut. Karena kamu tahu apa yang akan terjadi jika kamu ikut bukan?” sindirnya.


Kebahagiaan Mira seketika lenyap, bahwa ternyata keberadaan Mira tidak begitu penting bahkan di mata para guru maupun di mata anak sekelasnya.


***


Sepulang dari sekolah.


“Ibu, mau ke mana? Mau saya antarkan?”


Dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan seorang Ibu-ibu yang tampaknya sedang mengandung. Dengan wajah berseri, Mira menghampiri lantas membantunya membawakan beberapa barang di dekatnya.


“Oh, kamu ...untuk apa menghampiriku?” Pertanyaan yang terdengar seperti usiran. Ia bertanya sembari memegangi perut buncitnya yang seakan sedang dalam bahaya.


“Maaf. Saya ingin membantu saja.”


“Tidak perlu. Suamiku sebentar lagi datang.”


“Ya, maaf.”


“Yah, aku sudah biasa menghadapi ini semua. Kalau mereka tidak butuh, maka ya sudah.”


Meski terdengar langsung acuh begitu, Mira menunggu di belakang posisi ibu hamil tersebut. Menunggunya sampai suami wanita itu benar-benar datang, barulah Mira pergi dari sana.


“Baguslah, suaminya tidak lari dari tanggung jawab. Kuharap mereka selamat sampai tujuan,” lirih Mira.


Matahari sudah semakin meninggi, keseharian yang biasa ia lakukan mulai dari membersihkan rumah dan sejenisnya. Serta tak lupa ia mengangkat jemuran yang sejujurnya hanya ada satu pakaian dan seragam.


“Ini sudah kering. Jadi selanjutnya ...,”


Sebelum ia pergi ke rumah Kina, Mira membuatkan makan siang dalam kotak bekal. Memang mungkin takkan sebanding dengan masakan rumah, namun hanya ini yang bisa ia lakukan guna membalas budi keluarga Kina.


“Siang, pak! Maaf menganggu di waktu sesiang ini.”


“Oh, Mira. Sudah siang dan panas begini kamu masih semangat ya. Sini, masuklah.”


“Ya!”


Wajah ceria selalu terpasang, mengumbar senyum ibarat sedekah kecil sudah sering ia lakukan. Berbeda dengan Kina, dari awal pun Kina selalu ketus terhadapnya.

__ADS_1


“Pakaianmu sudah aku cuci dengan bersih. Ini sudah kering.” Mira menyodorkan pakaian milik Kina langsung ke hadapannya, itu ia lakukan agar Kina tak segera pergi begitu saja.


“Oh.” Seperti biasa tanggapan yang begitu dingin. Kina menerima pakaian itu, dan saat ketika ia hendak menyingkir dari hadapan Mira, lagi-lagi Mira kembali berdiri di hadapannya dengan maksud menghalangi.


“Apa yang kau lakukan?”


“Makan siang. Aku ingin kamu dan Ayahmu mencoba masakan ini,” kata Mira.


“Tidak perlu.”


Kina hendak menghindarinya lagi, maka dengan sigap Mira kembali menghadap ia. Menghalanginya agar tidak pergi dengan acuh begitu.


“Coba sedikit saja. Ini sebagian dari utang budiku,” ucap Mira. Ia kemudian membuka bekal itu.


Memperlihatkan lauk pauk yang begitu segar, tersisa uap panas nampak hangat dan menggiurkan. Meski begitu, lauk pauk itu cukup sederhana yang diantaranya ada tahu, tempe. Walau tidak ada daging agar sempurna, ada sayuran segar yang dibuat dari daun singkong.


“Makanan macam apa ini?”


“Ayahku dulu suka dengan sayuran ini. Jadi aku harap kamu mau mencobanya.”


“Aku tidak suka makanan pedas. Menyingkirkan dari hadapanku. Kau menganggu saja,” ketus Kina.


Sang Ayah yang tahu kelakuan Kina lantas segera memberinya peringatan. Ia berkata, “Kina! Jangan membuat usaha Mira sia-sia. Apa kamu tidak tahu kalau memasak itu membutuhkan keahlian?” Dengan tegas.


“Ayah sendiri? Setiap kali selalu saja beli makanan. Tidak pernah aku lihat memasak?”


“Itu karena ...,”


“Tolong ya, Ayah. Aku tahu kita berdua tidak bisa masak sama seperti cewe ini. Jadi kenapa dia harus repot-repot melakukannya? Lagi pula kenapa dia sok ikut campur pada keluargaku.”


“Kina!”


“Ya ampun, Ayah! Sudah cukup!” pekik Kina sembari menutup kedua telinganya rapat-rapat. Lekas pergi sebelum diceramahi kembali oleh Ayahnya.


Makin hari Kina selalu membangkang. Sang Ayah yang terus berusaha memperingati Kina agar tidak meninggikan suara justru tak pernah didengarkan barang sekali saja.


“Maaf ya, Mira. Anakku jadi begini. Tapi tenang saja, kalau Kina tidak mau, apakah tidak masalah jika aku yang akan memakan masakanmu?” tanya paman.


Sementara Mira, ia tidak bisa mengatakan sepatah kata pun untuk menanggapinya. Terlebih ia telah terlanjur kecewa karena menganggap masakannya ternyata tidak disukai oleh Kina.


“Ya, terima kasih.”


“Maaf ya. Kina berubah semenjak dia tidak bisa lagi menggunakan kedua kakinya. Padahal dulu sekali kalian berdua akrab. Tapi sekarang jadi seperti ini.” Paman penjual toko barang antik merasakan penyesalan yang amat mendalam.


Ia bahkan sampai tidak bisa menatap kedua mata Mira saat itu. Namun Mira mengatakan sesuatu yang membuatnya tenang.

__ADS_1


“Ya, terima kasih. Saya yakin dia punya alasan dengan bersikap seperti itu, paman.”


__ADS_2