Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 29


__ADS_3

Pengumuman keberhasilan tes awal sampai akhir, akhirnya mulai terdengar di kedua telinga Mira. Saat berbaris rapi dalam lapangan, tak hanya Mira bahkan semua calon murid mendengarkannya dengan seksama hingga nama terakhir pun disebut.


“Terakhir, Mira! Sekian.”


Rupanya Mira nyaris gagal, begitu mendengar namanya terpanggil di bagian akhir. Tapi setidaknya itu lebih dari cukup, karena yang ia butuhkan hanyalah lulus tes atau tidaknya untuk masuk ke sekolah ini.


“Bagus!” Dengan semangat ia mengepalkan kedua tangan, senyum girang terukir di wajahnya bak mendapatkan hadiah spesial.


Setelah pengumuman itu selesai, beberapa guru mulai berdatangan. Mereka memberitahukan beberapa informasi yang akan disampaikan termasuk tanggal kapan mereka akan masuk.


Lalu, sebelum dipulangkan, mereka semua yang telah dianggap lulus tes akan dipanggil satu persatu guna mengukur seragam yang akan diterima. Banyak dari mereka yang memiliki Ayah atau Ibunya berada di sisi mereka, sejujurnya itu membuat Mira iri.


“Orang tua lah yang akan membayar seragam putra-putrinya. Sedangkan aku sendirian, membayarnya hanya dengan harta warisan tersisa.”


Beginilah jalan hidup Mira. Tidak ada yang perlu dikecewakan, selain berjuang untuk masa depannya sendiri.


***


Siang yang cukup panas, menyeruak dan membuat sekujur tubuh Mira berkeringat. Usai melakukan hal-hal kepentingan di sekolah itu, ia pun segera berpulang kembali ke rumah.


Sepanjang perjalanan yang ramai seperti biasanya. Lalu lintas tidak cukup padat, namun kemudian salah satu kendaraan yang lebih besar dari truk mulai melintas, telah menarik perhatian Mira.


Sirene mobil pemadam kebakaran berbunyi sangat nyaring, arah yang mereka tuju adalah ke jalan di mana rumah Mira berada. Merasa firasatnya buruk, ia pun bergegas untuk sampai ke rumah.


“Apa yang terjadi?”


Jalannya sudah tertutup oleh mobil merah itu, dan yang pasti Mira melihat rumah siapa yang terbakar. Tak lain adalah rumahnya sendiri.


“Tidak mungkin!”


Melihat dari toko yang masih memiliki tanda "tutup" di pintu depan, Mira memastikan bahwa Kina dan paman belum pulang kembali dari rumahnya setelah lama menginap.


“Jangan-jangan ...mereka!”


Tidak memiliki cukup waktu untuk menerobos, belum lagi kebakaran yang hebat itu takkan mengijinkan Mira masuk ke dalam begitu saja. Mira lantas bergegas menuju ke pintu belakang, meski harus berjalan di gang-gang sempit dan cukup jauh, ia tak memperdulikannya asalkan ia dapat memeriksa situasi dalam rumahnya sendiri.

__ADS_1


“Semoga kalian berdua baik-baik saja. Aku harap kalian sedang ada di luar dan tidak berada di rumahku,” harap Mira.


Semburan api datang bagai lidah naga setelah Mira membuka pintu belakang. Terasa sangat panas dalam beberapa waktu, begitupun setelah Mira masuk ke dalamnya.


Bagian dapur, kamar mandi dan beberapa ruangan lainnya mungkin sudah terbakar habis bersama dengan barang-barang berharganya.


“Tidak mungkin! Dari mana api ini berasal?”


Mira bertanya-tanya mengenai sumber api ini. Belum lagi ia tidak menemukan keberadaan Kina dan paman, tak peduli seberapa keras ia memanggilnya namun tak kunjung mendapat jawaban dari salah satu mereka.


“Kina! Paman! Jawablah! Ini aku, Mira!”


Kadang kala ia terbatuk-batuk akibat asap hitam yang mengepul. Tak sedikit percikan api membakar sebagian kulit tubuhnya. Hawa panas yang justru semakin tinggi kini terasa sangat berbeda dari sebelumnya.


Api itu seolah hidup. Ia terus membakar di saat para petugas berusaha keras memadamkan apinya. Tak terdengar jeritan seseorang, apalagi komentar orang-orang di dekat sana yang mungkin saja mengetahui keberadaan Kina dan paman.


Kenyataan itu membuat hati Mira semakin gelisah tak karuan.


“Kina!!!”


Setelah beberapa menit ia terus mencarinya, Mira akhirnya mendengar suara batuk seseorang. Yang kemudian namanya terpanggil dari ruang tertutup dalam gudang.


Tidak peduli rintangan yang ada di hadapannya, Mira tetap membuka pintu gudang meski pada akhirnya sebatang pondasi rumah rubuh nyaris menimpa dirinya.


“Sudah separah ini? Apa yang pemadam lakukan sampai apinya terus menyebar dan bukannya padam?” celoteh Mira. Setengah kesal, setengah panik.


“Kina, kamu di sana?”


“Mi-Mira? Di sini ...Ayahku ...tolong!”


Kina terbaring dengan kulit merah dan ada sedikit bekas abu di wajahnya. Sedangkan sosok lainnya tak lain adalah paman, ia ditemukan dalam keadaan setengah terbaring dengan benda tajam, sebilah pisau menusuk tubuhnya.


“Paman?!”


BLARRR!!!

__ADS_1


Api tiba-tiba menyambar lebih cepat, seakan api tidak akan membiarkan Mira mendekati baik Kina maupun paman. Karena hal itu, Mira jadi sulit menerobosnya. Walau ia memaksakan diri, hawa panas terus menyengat dari dalam dan luar tubuhnya.


“KINA!! PAMAN?!”


Semburan api yang membatasi pergerakan Mira telah berhenti selama beberapa waktu. Sesaat setelah halangan lenyap, ia langsung bergegas menghampiri mereka berdua yang ada di dalam gudang.


“Sudah terlambat untuk menangani mereka berdua. Jadi jangan sia-siakan tenagamu,” ucap sesosok misterius. Sama seperti sosok yang sebelum ini muncul ke hadapannya.


“Kau!”


Kedua jasad berada dalam gudang, yang satu paman tertusuk sebilah pisau dan sebagian tubuhnya telah terbakar lalu satunya lagi adalah putri paman yakni Kina, napas dan detak jantungnya telah berhenti, serta luka bakar yang diterimanya juga sangat parah.


Hanya dengan melihat itu semua, Mira langsung tahu bahwa mereka benar-benar tidak bisa diselamatkan.


“Kina ...paman!”


Berharap ini tidak mungkin terjadi, Mira yang menolak kenyataan tersebut lantas memeriksa denyut nadi mereka berdua. Dengan pelan namun dengan kedua tangan yang terus bergetar. Dalam kubangan api itu, setetes air mata yang terjatuh dari pelupuk matanya berubah menjadi uap dan lenyap.


“Tidak mungkin ...”


Jari-jemarinya tak lagi merasakan denyut nadi. Semakin deras lah air mata yang tumpah, perasaan bersalah pun kembali muncul tak terduga.


“Kina, kumohon bangunlah.”


Sebenarnya apa yang terjadi? Tak pernah sekali ia memikirkan kejadian buruk yang ia amati selama ini, namun tidak untuk hari ini. Ia terus memikirkannya. Sejak kapan kesalahan ini mulai terjadi?


Perasaan bersalah muncul sebab mengira insiden ini karena keberadaannya yang semakin dekat dengan mereka berdua.


“Bangunlah, Kina. Bukankah kamu ingin bersekolah? Kita akan kuliah bersama nantinya? Ya? Kina ...bangunlah, kumohon. Kina!!!”


Jerit dan tangis, penyesalan terdalamnya ialah tak bisa melakukan apa pun dalam kondisi seperti itu. Ia hanya bisa menangis sepanjang waktu tanpa henti, lalu kobaran api semakin merajelala seakan merespon emosi Mira saat itu.


“Kina ....!! Paman! Kumohon bangunlah! Kumohon ...jangan mati. Jangan tinggalkan sendirian. Maaf, maaf, maaf!”


Hari yang ia pikir akan selamanya cerah, telah meredup untuk ke sekian kalinya. Berbagai kemalangan terus muncul di dekatnya, entah ini kebetulan ataukah mungkin karena sesuatu hal lain.

__ADS_1


Tetapi, sosok misterius yang kerap kali muncul di hadapan Mira, justru amat senang melihat Mira seperti itu.


“Mungkin memang seharusnya aku menunggu lebih lama lagi, ya.” Sosok itu menggumam lirih sesaat sebelum dirinya menghilang.


__ADS_2