
Setiap manusia pasti memiliki hati yang gelap. Setiap keadaan yang baik dan buruk akan selalu mendatangkan sama baik dan buruknya. Begitu terus-menerus, terus berulang hingga akhirnya mereka tiada.
Tetapi, manusia itu memiliki banyak perasaan, di mana mereka akan memiliki tekad atau keinginan, berbagai masalah yang diselesaikan dan hal-hal lainnya. Sudah hal lumrah bagi mereka yang mementingkan diri sendiri namun juga tidak sedikit bagi mereka yang lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri.
Begitulah manusia.
Lalu, sekarang. Apa yang dilihat Kina adalah temannya yang bodoh. Tak peduli seberapa banyak kesalahan dan keburukan yang ada pada diri Kina, tak peduli juga seberapa buruknya Kina memperlakukan Mira layaknya seorang penjahat, Mira tetap bersikukuh menyelamatkannya dan terus menganggap Kina adalah temannya.
Ini adalah pertemanan, pertemanan abadi. Sehidup semati.
“Syukurlah, Kina selamat. Syukurlah ...,”
“Ya, terima kasih sudah menyelamatkanku. Aku senang, Mira.”
Ini adalah kali kedua mereka mempererat hubungannya sebagai teman sejati. Dan Kina tak ingin kejadian yang sama akan kembali terulang, dirinya memastikan ini adalah terakhir kalinya ia berpikiran buruk pada satu-satunya teman yang pantas, Mira.
***
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Mira sembari membawakan segelas air putih padanya.
“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” balasnya bertanya.
“Seperti yang kamu lihat.” Tatapan yang nampak sendu terlihat sangat jelas.
Mira sadar bahwa Kina melihatnya tidak terluka sama sekali. Sementara Ayahnya saat ini sedang berbaring di ranjang tidur dengan perban yang hampir membungkus seluruh tubuhnya.
“Begitu, syukurlah.” Menghargainya, ia mengatakan rasa syukur yang terdalam untuk temannya.
“Kalau begitu, tidurlah setelah minum air ini.”
“Aku maunya begitu.” Kina menenggak minuman segelas itu dalam sekejap lantas berkata, “Tapi sepertinya sulit untuk tidur kembali.”
“Kalau begitu, aku akan temani. Lagi pula aku tidak pulang di malam selarut ini bukan?”
“Haha ...benar juga.”
__ADS_1
Walau sekarang keadaan sudah jauh lebih tenang, namun kejanggalan serta teror yang pernah diterima oleh mereka takkan mudah hilang begitu saja. Meski tidak ada bekas sedikitpun dari penglihatan yang ada, namun tetap tak bisa membodohi hati yang takut ini.
Baik Ayahnya, Kina lalu Mira, mereka bertiga merasakan perasaan yang sama. Mana mungkin mudah untuk melupakannya.
“Mira, ada hal yang ingin aku tanyakan.”
“Apa itu?”
“Apa menurutmu aku bisa dimaafkan?” tanya Kina, ia menatap Mira dengan tatapan sendu. Kegelisahannya terus bertumpuk.
Mira tersenyum tipis lantas menggenggam kedua tangan Kina sambil berucap, “Aku sendiri memaafkanmu, tidak hanya aku bahkan Ayahmu juga. Jadi kenapa kamu merasa gelisah?”
“Kamu tahu aku melakukan kesalahan. Kesalahan terburuk yang pernah ada. Aku bermulut kasar, tidak punya etika dan selalu membencimu. Mengatakan itu seolah-olah aku tidak punya siapa pun yang berpihak kepadaku.”
“Ya, aku tahu. Tapi apakah perlu mengungkit masa lalu? Kalaupun perlu, pasti masa lalu itu digunakan untuk membentuk masa depan yang jauh lebih baik. Benar?” sahut Mira.
Senyumnya yang begitu indah dan tulus. Keteguhan hati seorang gadis yang nampak rapuh nyatanya berbeda dengan penampilan lugu, Mira adalah gadis pemberani, ia bahkan berani mengambil langkah tak perduli apa resiko yang menanti.
“Kamu memang tidak pernah berubah. Sedangkan aku berubah hanya karena satu dua rumor tentangmu. Yang ini dan itu, tapi kalaupun benar aku tidak lagi peduli.”
“Karena kamu adalah temanku yang terbaik,” imbuh Kina.
Pada awalnya, Mira bertanya-tanya apa maksud dari "Teman yang terbaik"? Ketika memikirkannya, ia justru tidak mendapatkan jawabannya sama sekali. Namun sekarang, ia merasa lega karena akhirnya dapat membebaskan Kina dari beban seberat itu.
Mahluk yang hidup, emosi negatif yang dulu mencoba untuk mengambil alih tubuh Kina sekarang sudah tidak ada. Fakta tentang itu saja, ia sudah sangat senang.
“Aku tidak sekolah karena aku tidak lagi memiliki teman. Mereka semua mengejekku saat tahu aku cacat. Padahal sebelum itu terjadi, mereka semua baik. Apakah itu berarti selama ini mereka hanya berpura-pura saja?”
“Untuk itu aku sendiri tidak tahu, Kina. Aku juga belum berpengalaman. Tapi kalau aku tidak akan berbuat seperti itu padamu,” ujarnya dengan sangat jujur.
“Ya, terima kasih Mira. Kamu benar-benar orang yang baik, tapi juga sedikit bodoh,” tukas Kina lantas tertawa pendek.
“Wah, kata-katamu masih pedas juga ya.”
“Hahaha! Tenang saja, aku mengatakan ini karena aku tahu kamu seperti apa. Jadi bukan masalah? Karena orang bodoh akan selalu diingat.”
__ADS_1
Mira menganggukkan kepala sebagai tanda jawaban.
“Aku tidak begitu mempermasalahkan kebodohanku, tapi entah kenapa aku tidak mau disebut begitu.”
Mendengarnya membuat Kina semakin merasa senang.
“Benar juga. Kamu bukan bodoh tapi terlalu polos.”
Saat kecil, Mira dan Kina selalu bermain bersama. Itu terjadi tepat sebelum kematian kedua orang tua Mira. Masa kanak-kanak mereka dipenuhi dengan kebahagiaan tanpa adanya sedikit kekerasan. Bersenang-senang bersama, kadang menangis dan juga bertengkar. Hal-hal seperti itu sudah biasa, lalu pada akhirnya mereka kembali berbaikan.
Sama seperti saat ini.
Di mana hubungan mereka mulai semakin renggang di saat rumor buruk tentang Mira mulai muncul di permukaan masyarakat, ditambah lagi saat kecelakaan yang menimpa Kina hingga mengakibatkan kedua kakinya tak lagi bisa digunakan.
Situasi yang semakin memburuk, membuat hubungan mereka sepenuhnya patah. Tapi itu hanya berlaku di satu sisi saja yakni dari Kina ke Mira. Sementara Mira berusaha untuk mempertahankan hubungan mereka walau mungkin hanya setipis helai rambut.
Ketika waktu sudah bergerak, takdir yang dipilih, hubungan mereka akhirnya kembali erat. Kembali erat dengan sangat kuat, bahkan melebihi benang baja, sekuat itulah hubungan persahabatan mereka berdua sekarang.
“Aku sangat bersyukur kamu bisa kembali. Sebelumnya aku meminta maaf karena memasuki alam sadarmu tanpa sadar.”
“Tidak. Bagiku itu tidak masalah. Justru karena itu, aku masih hidup sampai sekarang. Terima kasih, Mira. Sampai kapan pun hutang budi ini mungkin takkan pernah lunas sampai aku mati,” tutur Kina.
“Jarang sekali kamu bicara begitu, dan lagi itu terdengar mengerikan tahu,” sahut Mira.
“Benarkah?”
Malam yang gelap bertabur bintang, embusan angin yang dingin menyeruak hingga ke tulang. Terasa menggigil namun juga nyaman, mengingat perasaan ini ke dalam hati kecil yang rapuh. Di samping teror menakutkan, ada pula kenangan indah dibuatnya sekarang.
Malam sudah cepat berlalu, kini fajar kembali menyingsing. Matahari kembali muncul menyambut hari yang telah terganti. Beberapa dari orang-orang mulai beraktivitas, tak sedikit pula kendaraan beroda dua dan empat telah mulai berjalan di jalanan aspal.
“Sudah pagi? Cepat sekali.”
“Aku rasa baru sekarang mengantuknya.”
“Hei, sudah pagi. Jangan bermalas-malasan.”
__ADS_1