
Sosok misterius dengan mengenakan jubah bertudung hitam, terdengar dari suaranya yang berat mungkin saja ia adalah seorang lelaki. Namun kedua kakinya yang tak menapak ke jalanan dan hanya terbang itu membuatnya terasa aneh.
Mira berpikir bahwa sosok itu bisa saja adalah mahluk yang seharusnya tak ada di dunia ini, hantu, iblis atau sejenis lainnya.
“Suatu hari nanti, kita akan kembali bertemu dan saling bertukar tatap satu sama lain. Maka saat itulah aku akan menjemputmu.”
Sosoknya menghilang usai ia mengatakan kalimat tersebut. Lalu, kobaran api yang selama berjam-jam terus membara akhirnya terhenti. Para pemadam pun telah menemukan keberadaan Mira, dalam kondisi sadar dengan posisi duduk sembari menatap ke arah utara, membelakangi mereka.
“Hei, kamu baik-baik saja?”
“Segera bawa dia ke rumah sakit!”
Mira menepis tangan seseorang yang hendak meraihnya, ia lantas pergi dari rumah yang sudah tak terbentuk lagi. Meninggalkan jejak abu, ia berjalan dengan langkah sempoyongan.
“Hei, kamu! Tunggu!”
Tak seorang pun digubrisnya, dan yang Mira lakukan hanyalah melarikan diri begitu saja.
***
Setelah beberapa hari, insiden kebakaran yang terjadi di sebuah rumah. Tak ditemukan apa penyebab atau alasan mengapa rumah itu terbakar. Dua mayat yang ditemukan sudah hangus, sampai tidak bisa dikenali sama sekali.
Insiden itu menyebar begitu luas hingga ke satu daerah ke daerah lainnya. Banyak dari mereka yang membicarakan tentang Mira, yang kembali selamat dari maut.
“Gadis itu, dari waktu itu dia terus duduk di sana. Apakah tidak masalah membiarkannya?”
“Kau mulai mencemaskan anak orang lain?”
“Bukan itu maksudku tapi aku takut jika dia terus tinggal di daerah ini maka kita yang akan menjadi korban berikutnya.”
“Ah, itu benar juga.”
Gosip simpang siur tak terelakkan, entah ke manapun Mira pergi maka ejekan atau sindiran terus terdengar di kedua telinganya. Ia kini hanya bisa duduk di dekat rumah yang tak lagi terbentuk itu.
Tentunya ia mengenakan pakaian yang sudah sangat lusuh, ia tak lagi terurus semenjak hari itu. Kesedihannya semakin dalam dan semakin memburuk, namun dalam satu waktu ia teringat perkataan Kina.
"Kita akan kuliah bersama nantinya." Dan berkat kata-kata itu, Mira dapat kembali bangkit. Ia kembali bersemangat meski tak seberapa.
“Ya!” Mira menampar wajahnya sendiri, lantas beranjak dari sudut tempat itu. Sekali lagi ia berkata, “Aku akan melanjutkan hidupku! Setidaknya aku bisa menyelamatkan kartu berisi harta kedua orang tuaku. Dengan sisa ini, aku akan menggunakannya seminimal mungkin.”
Dua minggu berlalu. Di rumah kontrakan, daerah yang sangat jauh dari rumahnya dulu.
__ADS_1
Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu, dan berkata bahwa mereka adalah petugas kepolisan. Tanpa ragu Mira membuka pintu kamar kontrakannya langsung.
“Ya, Anda berdua memanggil saya?”
“Sepertinya kamu tahu kalau kami akan datang, nak. Jadi bisakah aku menginterogasimu sekarang? Aku tidak perlu berbasa-basi seperti saat kamu masih anak kecil bukan?”
“Ya, silahkan masuk. Meski sempit, saya berharap Anda nyaman.”
Wajah lesu masih terpampang jelas di sana. Ia masih membutuhkan waktu untuk memulihkan mentalnya, namun meski begitu. Sudah lebih dua minggu itu, tak sedikitpun ada senyum yang terlukis di wajah manisnya.
“Mira, gadis berusia 15 tahun. Saat ini hidup sendirian sebagai seorang pelajar. Benarkah ini?”
“Ya, itu benar. Saya Mira, esok hari saya akan memulai sekolah menengah atas. Entah saya punya atau tidak, tapi seperti yang Anda ketahui bahwa saya tidak memiliki siapa pun di sisi saya.”
“Ya, itu benar. Jadi, bisa aku mulai dari semasa kecilmu?”
“Boleh saja. Tapi saya tidak bisa mengingat seluruhnya. Selain ....,”
“Selain?”
“Sopir bus terkejut karena sesuatu, lalu dia membanting stir dan terjadilah kecelakaan itu.”
“Ayah dan Ibu melindungiku.”
“Begitu. Lalu bagaimana dengan kecelakaan di dekat Toko Barang Antik?”
“Saya ingin pulang ke rumah, tapi kedua kendaraan tiba-tiba menuju ke arah saya dan begitulah yang terjadi. Tapi saya tidak ingat, kenapa bisa selamat.”
“Itu aneh. Seharusnya, menurut saksi kamu dihimpit oleh kedua kendaraan yang lepas kendali tanpa adanya seorang pengemudi. Kamu yakin kamu selamat tanpa luka sedikitpun?”
“Sejujurnya saya tidak mengerti. Tapi kalau mungkin terluka, maka seharusnya ada bekasnya bukan? Tapi ini tidak. Dan satu hal yang mungkin terjadi adalah, saya terjatuh dan masuk ke bagian bawah mobil itu.”
Pernyataan yang sedikit masuk akal apabila Mira saat itu terjatuh. Tapi, kedua petugas ini masih belum bisa mempercayainya, terlebih tanpa luka sedikitpun.
“Lecet?”
“Tidak.”
Luka gores mungkin bisa saja tapi jika sudah lebih dari 2-3 minggu, maka bekasnya tidak akan terlihat lagi. Dan bisa saja Mira mengakui hal itu namun sayangnya tidak, ia menyangkal akan kemungkinan tersebut yang bahkan penyataan itu bisa saja membuatnya lolos dari kecurigaan.
__ADS_1
“Kalau mendengarkan ini dari korban, rasanya sedikit aneh. Ini seperti bukan kejadian biasa dan kamu mengatakan kamu tidak terluka sedikitpun. Hm ...,”
Kedua petugas kepolisian saling bertukar tatap, mereka mencerna apa maksud perkataan Mira sebelum ini. Namun setelah dipikir-pikir, nampaknya tidak ada yang berubah selain perasaan janggal.
“Lalu bagaimana dengan dua minggu lalu?“
“Maksud Anda saat kebakaran di rumah saya?”
“Ya. Tapi kamu tidak terlihat terkejut sama sekali ya? Bahkan kami datang ke rumah kontrakan ini saja kamu tidak ada reaksi mengejutkan sama sekali.”
“Tentu saja. Anda berdua adalah polisi. Sebagian orang di sana pasti tahu ke mana aku pergi. Jadi tidak sulit untuk menemukan alamatku di sini.”
“Hm, kamu cukup pintar ya.”
Salah satu dari mereka memuji. Lainnya langsung menyahut untuk segera membahas hal yang penting-penting saja.
“Saat itu saya sedang ke sekolah baru saya untuk memastikan apakah saya lulus tes masuk atau tidaknya. Begitu pulang, saya sudah melihat rumahnya terbakar.”
“Kami mendengar salah satu saksi mengungkapkan kamu masuk melewati pintu belakang.“
“Ya, benar. Saya ingin memastikan apakah teman saya di sana atau tidak.”
“Kenapa bertindak gegabah seperti itu? Kamu bisa mati terbakar.”
“Nyawa teman saya yang lebih penting,” tutur Mira dengan tangan mengepal kuat seakan enggan membahas korban lainnya.
“Kamu menemukan mereka?”
“Ya, tapi saya terlambat. Ayahnya dan teman saya sudah lebih dulu meninggal. Kemudian saat kebakaran itu selesai, saya ditemukan masih hidup bukan?”
“Ya, aku melihatmu juga. Kamu masih hidup. Apakah kali ini tanpa luka? Sepertinya itu tidak mungkin bukan?”
“Entahlah. Saya masih baik-baik saja sampai sekarang.”
“Tidak ke rumah sakit?”
“Sayangnya tidak. Anda pikir saya memiliki uang untuk itu?” sahutnya dengan kesal.
“Maafkan kami. Jika ada sesuatu, panggil saja kami. Karena kami tidak mau satu-satunya korban yang selamat mati karena tidak dipedulikan oleh orang sekitar.”
Kedua polisi beranjak dari sana sembari berkata, “Kami akan pergi. Terima kasih atas kerja samanya.”
__ADS_1
Mira menatap tajam punggung mereka dan menjawab, “Ya.”
Bagian Prolog Selesai.