
“Hm, lalu ada yang aneh dengan Mira? Beritahukan aku.”
“Hal yang aneh ...mungkin karena Mira tidak pernah terluka?” Paman sedikit bingung menjelaskannya, bahkan ia ragu apakah itu benar terjadi atau tidak.
“Kenapa kau jadi ragu begitu? Bukankah benar kalau dia tidak pernah ...lebih tepatnya tidak bisa terluka?”
Mereka berdua tampaknya sudah mengetahui rahasia Mira. Mira yang tidak bisa terluka, Mira adalah gadis abadi. Namun sampai saat ini masih diambang pertanyaan-pertanyaan, lebih tepatnya sulit dibuktikan apakah itu benar atau tidak.
“Dulu, kita pernah melihatnya. Dan sekarang kau, untuk yang kedua kalinya bukan?”
“Ya, itu tidak salah.”
Akibat perbincangan mereka yang sebelumnya sempat saling bersahutan satu sama lain dengan nada suara meninggi, Kina terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba ia sudah membuka pintu kamar seraya mengedipkan kedua matanya berulang kali agar ia dapat melihat dengan baik.
“Kina?”
“Kita akhiri pembicaraan ini.” Si kakak langsung pergi sebelum Mira benar-benar sadar bahwa dirinya berada di rumah ini.
“Ayah? Ayah sedang berbicara dengan siapa? Kenapa aku hanya melihat Ayah sendiri?”
“Oh, itu. Ayah menghubungi seseorang. Apa kamu terbangun karena suara Ayah yang terlalu keras?”
“Tidak. Tidak sama sekali.”
“Begitu.”
Pembicaraan ini dirahasiakan dari Kina. Tentunya mereka tidak bisa memberitahukan hal itu begitu saja.
***
Pukul 9 pagi.
“Apakah sebaiknya aku pergi ke perpustakaan saja ya?”
Mira tidak ada keinginan untuk berjalan-jalan dengan sia-sia. Ia pun perlu menggunakan waktu untuk belajar, tapi ia juga sadar bahwa hanya dengan buku miliknya saja takkan cukup, itulah mengapa ia ada rencana untuk pergi ke perpus.
Karena tahu Kina akan pergi ke sekolah juga, Mira memutuskan untuk menghampirinya. Tapi ternyata mereka tidak ada di rumah, ada sebuah papan bertuliskan "tutup" di pintu toko. Tak hanya itu, bahkan pintunya terkunci.
“Pergi, ya.”
Tidak ada pilihan lain selain pergi sendiri.
“Hei!“ Suara seseorang yang asing membuat langkah kaki Mira sepenuhnya terhenti. Ia berhenti bukan karena sekadar reflek, melainkan juga karena seperti dihentikan secara paksa.
Dalam benaknya, ia bertanya-tanya siapa yang melakukan ini. Sosok misterius dengan jubah bertudung muncul di hadapannya. Tak terlihat ia menapak sebab dirinya melayang.
“Hantu?”
__ADS_1
Ditambah lagi, sekitarnya juga mengalami hal yang sama seperti Mira. Mereka semua berhenti, waktu telah terhenti di saat sosok ini datang ke hadapan Mira.
“Siapa kau?!”
“Sungguh tidak sopan memanggilku hantu. Maaf saja saya bukanlah hantu rendahan seperti kebanyakan yang ada di sini.”
“Aku bilang, siapa kau?”
Tap!
Begitu Mira berkedip, ia tersadar ada seseorang lain yang menepuk pundaknya dari belakang. Suasana yang terhenti kini mulai kembali dengan normal. Jalanan ramai akan kendaraan beroda dua dan empat, tak sedikit pula para pejalan kaki. Termasuk Ayah Kina yang barusan menyadarkan dirinya.
“Ada apa denganmu, Mira? Apa kamu baik-baik saja?”
“Y-ya,” jawabnya terbata-bata. Mira masih dalam keadaan bingung sebab dirinya tidak mengerti apa yang tengah terjadi.
Ia yakin bahwa dirinya saat itu bertemu dengan sosok misterius. Sosok yang dapat berbicara dan melayang, entah hantu atau semacamnya, Mira masih belum mengetahuinya dengan jelas.
“Ini tidak mungkin. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Bukankah seharusnya ...,” gumam Mira.
Ia menoleh ke depan, memastikan sesuatu. Sosok yang seharusnya datang dan mendekati kini sudah tidak ada. Waktu telah kembali normal dan ia juga bisa bergerak.
“Ada apa Mira?” tanya paman sekali lagi.
“Paman, apa Kina ada di rumah?”
Paman berkata bahwa Kina sedang mengurung dirinya di dalam kamar. Itu separuhnya benar dan salah. Sebab ada alasan tersendiri mengapa paman menyembunyikannya.
Itu terjadi kurang lebih 1 jam yang lalu.
“Hei, jangan biarkan Mira bertemu dengan Kina hari ini.”
“Apa maksudmu?”
“Setidaknya untuk hari ini. Pastikan itu!”
Kakak paman pergi setelah mengatakan hal itu. Lalu barulah Kina keluar dari kamarnya.
“Kina?”
“Ayah sedang berbicara dengan siapa?”
“Maaf. Apa suara Ayah terlalu keras? Karena Ayah barusan menghubungi seseorang.”
“Oh, ternyata begitu.”
Sejak itulah, Kina sampai saat ini berada di dalam kamarnya. Ia tertidur cukup pulas karena baru pukul 6 pagi, ia mulai tertidur.
__ADS_1
“Jangan bilang dia terlalu lelah untuk beraktivitas karena semalaman ia terjaga?” pikir Mira.
“Ya. Meskipun terlihatnya dia seperti tidur saat itu terjadi, tapi ternyata dia masih sangat kelelahan. Mungkin karena hantu itulah yang menguras tenaganya.”
“Itu benar juga, aku jadi kasihan dengannya.”
“Kalau kamu bagaimana? Bukankah kamu juga kelelahan? Semalaman kamu tidak tidur, lihat ini ...kantung matamu terlihat hitam loh.”
Setelah dilihat baik-baik, benar kata paman bahwa kantung mata Mira menghitam. Tapi ia sama sekali tidak merasa lelah.
“Ya, aku juga sedikit lelah.” Dan ia memilih untuk berbohong.
“Lalu kenapa malah keluar? Bukanlah lebih baik kamu istirahat di rumah saja?”
“Itu benar. Tapi masalahnya aku sulit tertidur karena gangguan mahluk halus, paman,” katanya sembari tertawa pelan.
“Jadi, kamu akan pergi ke mana?” tanya paman.
“Ke perpustakaan. Siapa tahu aku akan cepat tertidur,” pikirnya.
“Itu ide yang bagus. Tapi kamu tidak berencana untuk tidur seharian di perpustakaan bukan? Itu akan terlihat aneh,” sindir paman.
“Hahaha, itu benar juga.” Tawanya yang hambar, entah kenapa mereka berdua jadi lebih canggung tak seperti biasanya.
“Kalau begitu aku akan pergi ya, paman.”
“Ya! Berhati-hatilah!”
Pada akhirnya ia harus benar-benar sendirian juga. Maka memang tidak ada pilihan lain, hari ini pun perpustakaan dalam kota juga sangat sepi. Seperti biasanya.
“Perpustakaan memang tenang dan sepi. Entah aku merasa senang atau sedih saat ini,” gumamnya.
Ia mencari tempat duduk yang paling nyaman, tak lain adalah tempat yang paling pojok bagian belakang, di mana rak terbesar juga ada di sana. Dan lagi, sisi kiri terdapat jendela sama besarnya. Pemandangan di sana juga cukup membuatnya senang.
Benar-benar tempat yang sempurna.
“Terakhir kali saat di kelas, aku selalu dapat bangku paling depan dan tengah. Tapi sekarang, tidak ada lagi seorang pun yang menghentikanku!” ungkapnya dengan semangat. Sembari mengepalkan kedua tangan, seakan dirinya telah memenangkan perlombaan.
“Hei, jangan berisik di sini. Apa kau tidak tahu peraturannya?” Penjaga perpus mulai angkat bicara, ia memperingatkan Mira yang heboh sendiri.
“Ya, maafkan saya.”
Buku-buku di sini sangat lengkap. Disamping tidak perlu membayar uang masuk atau sejenisnya, tempat ini sangat nyaman dan terjaga. Sangat bersih berkilau, seperti rumah mewah.
“Hehe ...aku akan mulai mempelajari pelajaran SMA, jika materi akan muncul di pelajaran pertama maka aku akan mudah menyelesaikannya tanpa harus mendengarkan perkataan guru lagi.”
Semangat belajar Mira semakin bertambah semenjak Kina telah dibebaskan. Kini hubungannya juga semakin erat, namun meski begitu ia sedikit gelisah karena tidak bisa menemuinya lagi di pagi menjelang siang ini.
__ADS_1
Dan belum ada waktu sekitar setengah jam, ia mulai letih karena terlalu memikirkan keadaan Kina.