
Beberapa minggu telah berlalu. Seusai hari kelulusan, tanpa ada yang merayakan, Mira selalu berpergian ke mana pun yang menurutnya nyaman bagi diri sendiri.
Lalu, pada saat yang sama, Kina yang hidup bersama dengan Ayahnya, kini mereka sedang bertengkar. Alasannya tak ada lain kecuali yang bersangkutan dengan Mira sendiri.
Kina tak ingin mendekatinya setelah tahu bahwa ada kejanggalan saat Mira ditabrak dan terlindas oleh dua kendaraan. Sementara Ayahnya mencoba untuk berpikir positif sebelum menduga yang tidak-tidak. Akibat perbedaan pendapat tersebut, mereka bertengkar.
Beberapa menit setelah keduanya bertengkar. Kina melihat sosok Mira yang berjalan sempoyongan dari balik jendela. Nampaknya Mira ingin kembali ke rumah, itu yang pertama kali Kina pikirkan namun tidak lagi setelah tahu Mira berbalik badan dan kemudian berjalan ke arah yang sebaliknya.
“Sebenarnya dia akan pergi ke mana?”
Penasaran, Kina memutuskan untuk mengikutinya. Tapi bukan sekadar mengikuti, Kina juga berencana untuk mengorek jati diri Mira yang sebenarnya.
“Lihat saja.”
Kebiasaannya yang suka berjalan-jalan sendirian, kini kembali terulang. Tanpa sepengetahuan Ayahnya, Kina pergi secara mengendap-endap.
Hingga ketika ia sudah berada di belakang Mira. Kina menjalankan kursi roda dengan secara perlahan agar tidak ketahuan.
“Hei! Apa yang kau lakukan?! Jalan yang benar!”
“Y-ya. Maaf.”
Kedengarannya Mira sedang bermasalah. Ia menabrak seseorang pejalan kaki dan membuatnya dimarahi habis-habisan.
Dalam beberapa waktu Kina masih saja mengikuti Mira, sosok mahluk yang masih bersemayam padanya saat ini kembali bereaksi. Bereaksi agar tak lagi mendekati Mira, ia merasa beban di kedua kakinya pun semakin berat rasanya.
“A-apa? Apa yang terjadi?” Kina bertanya-tanya dengan suara serak. Selain berat, ia mulai kesulitan menggerakkan kedua tangannya untuk mendorong roda kursinya.
Wajahnya memucat, keringat dingin mulai bercucuran tak wajar. Kekhawatiran pada diri sendiri serta kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya. Saat ini Kina hanya bisa berdiam diri dengan ekspresi jelas akan ketakutan.
“Mi-Mira ...,” Dengan suara seraknya, ia mencoba memanggil Mira yang berada di depannya. Namun percuma saja, suaranya yang semakin lama lirih hingga pada akhirnya lenyap pun tak lagi bisa didengar.
Ketika Kina mengira bahwa dirinya akan tumbang di sana, ia teringat suara Mira yang terkadang menyebut namanya. Dalam sekejap, keadaan kembali normal.
Kina yang terkejut, lantas terdiam dengan posisi tangan kanan terjulur ke arah depan seakan hendak menggapai sesuatu yang cukup jauh dari tempatnya.
__ADS_1
“Eh?”
Ia lagi-lagi terdiam dengan raut wajah kebingungan. Mencoba untuk mencerna tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun ia tak punya bukti apa-apa selain teringat suara Mira yang memanggil namanya.
“Mira lagi ...ya ampun, kenapa aku harus menyebut namanya juga? Aku juga tidak butuh ...pertolongannya,” lirih Mira yang sebenarnya ia terus mengegrutu kesal pada dirinya sendiri.
Secepatnya ia kembali membuntuti pergerakan Mira. Agar tak sampai kehilangan jejak, ia mempercepat gerakan pada rodanya. Lalu, Mira berhenti di sebuah taman.
Taman yang cukup ramai, terdapat banyak sekali anak-anak bermain serta beberapa orang dewasa yang sedang jalan pagi.
“Tempat ini malah membuatku semakin kesal saja,” tukas Kina. Dirinya kesal sebab, dulu ia seringkali jalan pagi di tempat ini namun karena sekarang ia tidak bisa, itulah mengapa dirinya sangat kesal.
“Kenapa Mira ke sini? Apa yang sebenarnya dia lakukan?” Kina bertanya-tanya.
Namun tak berselang lama kemudian Mira pergi setelah beberapa saat menatap ke arah taman. Entah apa yang ia pikirkan, selain Kina yang mencoba untuk mencari tahunya.
Selagi dirinya hendak mengungkap jati diri Mira, Kina yang berharap sesuatu akan terjadi justru didatangi oleh Ayahnya dari belakang.
“Sedang apa kamu?”
“Sedang apa ...memangnya apa urusan Ayah?” Dengan kejamnya, lidah tajam itu berbicara seakan-akan Ayahnya tak berhak ikut campur.
“Kina, kamu masih saja seperti itu. Tapi, melihatmu mengikuti Mira, aku yakin kamu belum sepenuhnya berubah. Sama seperti dulu.” Ayahnya bercerita sedikit lantas tersenyum.
“Sama seperti dulu? Apa maksudmu Ayah? Sudahlah, jangan ajak bicara. Aku sedang sibuk,” ketus Kina.
“Kina ...dari kecil kamu selalu mengikuti langkah Mira. Ke manapun kalian pergi, bahkan saat membuntuti Mira, kamu bergelagat sama seperti sekarang ini. Diam-diam memperhatikan,” ujarnya.
Merasa teringat akan kenangan yang lucu, ia tertawa cukup puas seakan tengah menertawakan anaknya sendiri.
“Ayah! Apa sih?” sentaknya.
“Sudah, sudah. Sudahi marahnya. Haha ...kamu persis seperti saat itu. Aku jadi tidak bisa menahan tawaku sendiri. Tetapi, ini bagus.” Setelah tawanya berhenti. Ia kembali tersenyum puas sembari menatap ke arah putrinya.
Kina yang duduk diam di kursi roda, sembari menoleh ke belakang, melihat wajah Ayahnya yang penuh keriput itu lantas secepatnya mengalihkan pandangan.
__ADS_1
Kina berkata, “Jangan menganggu. Aku sedang mencari tahu siapa sebenarnya orang itu.”
“Orang itu ...maksudmu adalah Mira?”
Tidak dijawab, Kina justru pergi, ia kembali membuntuti ke mana Mira akan pergi. Sebelum kehilangan jejak, ia semakin memperpendek jarak di antara mereka. Sesekali ia bersembunyi di balik sebatang pohon, atau bahkan sengaja menghadap ke arah sebaliknya saat tahu Mira menoleh ke belakang.
Lantaran takut bila ketahuan lebih cepat, Mira menjaga jaraknya seperti semula. Tidak jauh namun juga tidak dekat.
“Aku akan mengantarmu, Kina.” Ayah masih mengikuti Kina sampai saat ini.
Kali ini Mira pergi ke pusat perbelanjaan yang menyediakan banyak sayur-sayuran serta buah-buahan. Dan masih ada banyak lagi yang banyak jenisnya.
“Mira sedang membeli bahan makanan?”
“Mana aku tahu.”
“Tanggapan putriku kok dingin sekali.”
Walau masih bertengkar, Ayahnya ingin mendwjatkan dirinya lagi pada Kina. Ia tahu ini tidak akan mudah, namun selama mereka berdua tinggal di atap yang sama pasti ada kemungkinan untuk kembali seperti semula.
“Ayah, sudah diam.”
Langit senja sudah mulai muncul. Tanda malam akan segera tiba tak lama senja ini muncul. Sesudah berbelanja di tempat itu, Mira pergi lagi ke sebuah tempat. Yang pasti bukan rumahnya sendiri melainkan taman lain yang jauh lebih kecil. Letaknya berada di seberang jalan dari taman sebelumnya.
“Kali ini apa lagi? Kenapa dia melakukan semua kegiatan itu dengan percuma sih?”
“Bukankah wajar kalau dia seperti itu?”
“Memangnya kenapa?”
“Kesepian tidak membuat seseorang mudah melupakan masa lalu yang buruk bagi mereka,” tutur sang Ayah.
“Perkataan Ayah tidak masuk akal.”
“Tanggapanmu itu loh ...,”
__ADS_1
Mira berdiam cukup lama di taman mini yang sudah tidak ada lagi orang lain selain dirinya dan dua orang penguntit itu. Ia bergumam cukup panjang dengan mata sendu menatap ke langit. Mira yang tampak gelisah serta takut akan sesuatu, juga terdapat kesedihan yang mungkin takkan pernah Kina ketahui.