Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 37. Malam Menegangkan


__ADS_3

Setiap detik, Ania selalu berusaha mendapatkan celah. Namun, setiap kali itu ia selalu terganggu akan kehadiran Mira serta beberapa orang terdekat murid yang menjadi incaran Ania.


“Memang sulit melakukannya saat ada dia. Dan lagi di situasi ramai ini.”


Ania perlahan melangkah menuju ke gerbang sekolah, ia berniat mengakhiri hari ini dan segera pulang ke rumahnya.


Di satu sisi, anak gadis yang merupakan incaran Ania tengah berbicara dengan kakaknya.


“Kak, aku ketinggalan pulpen di kelas. Tunggu sebentar ya.”


Secara tidak langsung, mereka berdua kembali bertemu di satu jalan. Bukannya Ania yang ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan itu, justru sebaliknya.


Gadis itu berlari ke arah Mira dan dengan sengaja menyenggol pundak Ania sampai terjatuh.


“Aduh! Maaf ya, tubuhmu terlalu kecil jadi sulit dilihat.” Ania sendiri tahu bahwa ia melakukannya dengan sengaja.


Dalam posisi tubuh merunduk, menatap ke jalan. Ia menahan amarahnya sekuat tenaga. Urungan niatnya telah hancur, kini keinginan terdalamnya adalah menghancurkan anak ini bagaimanapun caranya.


“Maaf ya, Ania.” Jelas saja Ania kesal, sebab gadis ini menatapnya begitu sinis dengan senyum tipis.


Berkata maaf namun aslinya ia mengejek dan mempermalukan Ania saat itu. Tentunya Ania mendapat perhatian dari puluhan murid di sekitarnya, bukan karena hal kebaikan namun karena hal memalukan. Mira yang masih berada di dalam kelas, melihat itu dari kejauhan.


Ia hanya bisa menatap dari balik jendela kelaa sembari menyayangkan emosi negatif yang kerap kali diserap oleh Ania dan masuk ke dalam boneka jahitnya.


“Ania.”


Walau hanya sekadar disenggol sampai terjatuh ke jalan, yang memalukan adalah cara gadis ini mengejeknya.


'Awas kau! Aku tidak akan mengampuni siapa pun yang berani denganku!' amuk Ania dalam batin.


Segera Ania bangkit dari sana, lekas pergi tepat setelah ia sengaja menepuk belakang pundaknya untuk mencabut sehelai rambut milik gadis itu. Tidak ada keraguan sama sekali, sehingga ia pun dengan cepat berlari setelah melakukan hal yang sudah seharusnya ia lakukan sejak awal.


“Hei kau! Apa-apaan?!”


“Mereka semua sama saja! Semuanya memandang rendah diriku! Tidak peduli aku pintar atau apa, mereka semua selalu menatapku tajam!” pekiknya seraya berlari meninggalkan area sekolah.


Bersembunyi di suatu gang, sembari mengatur napas, ia beristirahat sejenak di sana. Sehelai rambut yang berhasil ia cabut, kemudian diikatkan pada helaian benang pada boneka miliknya.


Boneka berwarna coklat yang baginya sangat cantik, kini berubah menjadi wanita jelek dengan tanda lahir di bagian lehernya.


“Temannya meninggal karena aku, meski aku tahu dia sedih, tapi sudah kuduga dia tetap merundungku meski tidak separah dulu. Dasar sampah yang hanya tahu mengejek orang!”


Ia ingin sekali mengutuknya saat ini juga. Tapi ia menunggu waktu yang lebih tepat. Apalagi jika mengakhirinya secepat ini takkan membuat perasaan Ania lega. Ania memilih untuk melihat saat-saat terakhirnya nanti.


“Kakak akan pergi setelah menjemputku ini bukan? Memangnya kakak ke mana?”


Baru saja dibicarakan saking kesalnya Ania kepadanya, target Ania datang melintasi gang.


“Iya, kakak ingin pergi ke rumah nenek sebentar. Sementara kamu harus jaga rumah ya, seenggaknya sampai kakak pulang malan nanti.”


“Ya, cuman sebentar kok. Tidak akan jadi masalah. Baiklah.”


Waktu yang sangat pas untuk melihatnya menderita sendirian, Ania cukup senang mendengar kabar membahagiakan ini. Tanpa ia sadari kalau Mira mengetahui apa yang direncanakan olehnya saat itu.


Saat Ania pergi entah ke mana, namun yang pasti menjauhi gadis itu untuk sementara, Mira menghampiri gadis tersebut untuk membicarakan sesuatu.


“Hei, Jina. Kamu sebelumnya mengajakku untuk bermain ke rumah bukan?”


“Oh, siapa ini?”


“Ah, maaf belum memperkenalkan diri. Saya Mira. Temannya Jina.”


“Oh, begitu.”


“Iya.” Jika menganggukkan kepala. “Dia temanku, Mira. Dan benar aku mengajakmu, jadi apa kamu bisa sekarang?”


“Ya tapi ...kalau dipikir daripada bermain, kenapa tidak belajar bersama saja?” ujar Mira memberi ide yang lebih bermakna.


“Ya, itu boleh juga. Baiklah.”


***


Setiap menit terlewati, jam sore telah berlewat menjadi jam malam. Hari telah gelap, suasana yang cukup dingin namun tetap hangat saat berada di dalam rumah.


Mira cukup senang karena akhirnya dapat menghentikan tindakan Ania nantinya.


“Ngomong-ngomong Mira, apa orang tuamu tidak akan cemas nantinya?”


“Sepertinya aku belum bilang kalau orang tuaku sudah lama meninggal. Jadi aku rasa tidak masalah.”


“Begitu ya. Maaf membuatmu teringat kenangan buruk.”


“Tidak, tidak. Kamu bertanya dan aku menjawab, itu hal wajar.”

__ADS_1


Tak berselang lama, akhirnya tamu yang dinanti telah tiba. Seseorang datang mengetuk pintu tanpa menyebut nama siapa pun yang hendak ditemui. Tidak salah lagi itu pasti adalah Ania.


“Biar aku bukakan untukmu, Jina.”


“Baiklah, terima kasih.”


Benar saja sesuai dugaan Mira. Ania benar-benar datang untuk menuntaskannya. Namun sayang sekali Ania akan melihat titik di mana ia harus menyerah setelah melihat keberadaan Mira.


Sontak saja cengir di wajah Ania terhapus begitu mudah. Sebagi gantinya ia menatap dengan ekspresi terkejut. Ia pula merasa bahwa semua ini sia-sia.


“Mira?” Mencoba memastikan, ia memanggil namanya.


“Ania? Kamu datang untuk belajar juga? Wah, senangnya.”


Kali ini tidak hanya Ania yang terkejut dengan sosok Mira, baginya yang terlihat menyeramkan. Sementara itu Jina juga terkejut, setelah mendengar nama Ania dari mulut Mira.


“Ania katamu? Buat apa dia datang kemari?”


Degup jantung yang hanya bisa didengar oleh Mira. Terdengar jelas bahwa Ania dan Jina sama-sama merasa ketakutan meski dengan alasan yang berbeda. Tapi sebagai penengah, Mira tetap bersikap polos layaknya anak kecil.


Mira berbalik badan dan berkata, “Tidak aku sangka ternyata Jina juga mengundang Ania.” Meski ia tahu itu tidaklah mungkin.


“Sudah aku duga kalau Jina sama baiknya dengan Ania. Mari kita belajar bersama,” lanjutnya berterus-terang seraya menggandeng tangan Ania dan masuk ke dalam.


“Tunggu, aku tidak—”


“Ania, jangan bilang kamu sungkan?” sahut Mira. Ia bertanya dengan wajah sedih.


“Mira, tunggu sebentar. Anak itu tidak seharusnya ...,”


“Tidak? Kenapa tidak?” Kembali ia menatap wajah Jina dengan tatapan sendu.


Melihat wajah yang terlihat seperti harapan pupus bagai daun layu membuat hati Jina gelisah. Ia tidak ingin membuat kesan buruk di hadapan Mira yang begitu populer di mata banyak orang namun perasaan benci ada pada Ania yang tengah digandeng oleh Mira saat ini.


Melihat dari sisi manapun, Jina sulit memilih dan berpaling dari harapan Mira sehingga ia pun terpaksa menerimanya begitu saja.


“Bukan itu maksudku, kalau dia ingin belajar bersama kita maka apa boleh buat, dan seharusnya tidak membuatku menunggu.”


“Syukurlah, aku pikir kamu tidak mau.”


“Mana mungkin.”


Sedang Ania muak hanya berada di sini, akan tetapi ketakutannya terhadap sosok Mira membuat ia bertekuk lutut sampai sulit bicara bahkan untuk mendongakkan kepala saja seperti mengangkat batang besi yang super berat.


***


Malam kedatangan tamu tak diundang, dan di sana Mira bersandiwara. Dirinya berkata seolah berpikir bahwa Jina lah yang mengundang Ania kemari untuk belajar bersama. Tanpa tahu maksud asli dari Ania.


Mereka berdua yang saling bermusuhan di sekolah, kini harus berhadapan dengan kedok belajar bersama. Sikap keakraban palsu pun tercipta begitu mudah dan Mira sebagai penengah terus mengawasi baik-baik di balik wajah polosnya itu.


“Belajar ulang materi ini akan mempermudah kita ke depannya. Tapi memang ya kalau pada dasarnya kelas sampah, kapasitas otak kita berbeda dengan murid cerdas lainnya.”


“Kau menyindirku?”


“Jangan pesimis begitu. Mungkin memang belum waktunya bagi kita untuk bersinar di bawah bayangan gelap.”


“Haha, ungkapanmu bagus juga. Mira.”


“Ya, terima kasih. Selanjutnya ini.”


Terpaksa adalah kata yang paling pas dalam kondisi tegang seperti ini. Meski begitu tak terlihat ada perubahan wajah riangnya Mira sejak awal. Benar-benar mengagumkan.


Baik Ania maupun Jina, keduanya mengakui bahwa Mira tidak pandai melihat situasi. Terlalu polos atau bahkan bodoh.


'Sebentar lagi mungkin kita akan beristirahat. Jadi apa yang akan kamu lakukan, Ania?' batin Mira bertanya-tanya seraya melirik Ania yang fokus belajar.


“Pintar atau bodoh seharusnya tidak perlu dibedakan bukan? Aku jadi agak kecewa melihat kelas sampah kita,” tutur Mira.


“Yang kamu katakan benar. Tapi itu lebih baik daripada harus bersaing dengan anak murid lainnya yang sudah dipastikan mereka jauh levelnya dari kita.”


“Benar juga. Karena jika begitu, murid pintar selalu berada di ranking teratas sementara kita selalu di bawah ya?”


“Itu masuk akal. Bagaimana menurutmu Ania? Bukankah kau yang pintar akan selalu berada di ranking teratas di kelas sampah kami?” sindir Jina terhadap Ania.


Ania lantas menjawab, “Kau tidak usah banyak bicara. Yang pintar memang selalu ada di atas, jadi belajarlah jika kau tidak mau ada di bawah,” balasnya dengan tatapan tajam.


Situasinya mulai agak panas ketika pukul 8 malam. Padahal cuacanya dingin begini, namun pertikaian di antara mereka lah yang membuat suasananya berubah drastis.


“Sudah, sudah. Sudahi pertengkaran kalian. Aku pikir lebih baik kita istirahat sejenak, sambil memikirkan soal latihan mana yang sulit dikerjakan nanti,” ujar Mira. Menenangkan mereka berdua.


“Baiklah Mira. Kamu memang baik hati ya. Aku suka dengan orang jujur sepertimu. Tidak seperti seseorang yang memiliki kehidupan suram,” tukas Jina.


“Kalau kau ingin mengata-ngataiku, maka bilang saja di hadapanku, pengecut!” pekik Ania.

__ADS_1


Ini mungkin tidak ada habisnya, tapi di lain sisi keduanya tidak menyerah jika berkaitan dengan pelajaran. Mereka berjuang bahkan tanpa sadar juga saling membantu. Entah itu dengan kesadaran mereka sendiri atau tidak.


“Aku akan pulang ke rumah.”


“Ya terserah. Pulang, pulang saja.”


Ketika Ania akan pulang, Mira ikut mengantarnya. Jina yang terkejut lantas bertanya kenapa Mira sampai seperti itu, dan jawaban yang didengar cukup sederhana.


Ia berkata, “Ania adalah temanku. Dia juga perempuan, jadi aku akan menemaninya sampai pulang ke rumah.”


“Kamu akan pulang juga?”


“Kalau kakakmu belum pulang, aku akan kembali ke rumahmu.”


“Hei, kau tidak perlu mengantarku segala. Sana pulang saja sendiri!” ketus Ania.


“Kau tidak usah meninggikan suara! Sudah diperlakukan baik masih saja begitu! Dasar tidak tahu etika, bahkan menghargai perasaan orang saja tidak pernah!”


“Hah?!”


“Sudah! Jangan bertengkar terus seperti ini. Padahal kalian berdua sempat akrab saat menghadapi pelajaran, tapi sekarang—”


“Tidak akrab!” Secara serentak mereka berdua menyangkalnya.


Sepanjang perjalanan ditemani banyak lampu di pinggir jalan, tak sedikit pula lampu dari banyaknya kendaraan lalu-lalang. Tidak ada percakapan di antara Mira dan Ania. Rasanya begitu canggung dan terasa sepi.


Namun suatu waktu, saat sebentar lagi sampai ke rumah, tiba-tiba Ania membuka percakapan pertama kali.


“Hei, kau ada di sana bukan karena kebetulan bukan?”


“Mana mungkin. Aku ke sana juga ingin belajar.”


“Benarkah?”


“Ya. Aku kebetulan ada di sana. Memangnya kenapa? Bukannya kamu juga? Kamu 'kan ingin belajar juga,” ujar Mira sok polos padahal sudah berbohong entah yang ke berapa kalinya itu.


“Aku tidak mau mengatakannya berulang kali, aku tidak mau belajar dengannya. Aku benci dia!”


Setelah mengatakan banyak hal yang menjadi pemicu kebenciannya, Ania mempercepat langkah lekas ia masuk ke dalam rumah tanpa berpamitan dengan Mira sama sekali.


“Ha ...dia benar-benar orang yang berwaspada. Tapi hanya dengan ini bukan berarti aku sudah menghindari kemungkinan yang terburuk. Karena dia punya boneka itu, dan jika dia sudah mengambil sesuatu dari bagian tubuh Jina ...,”


Maka mungkin kemungkinan terburuk yang pernah Mira pikirkan akan benar-benar terjadi untuk yang kedua kalinya. Mira enggan melihat teman sekelasnya mati begitu saja. Tapi di lain sisi, memang sangat sulit mengendalikan bahkan membaca pikiran Ania saat itu.


“Aku berharap setidaknya ada rasa belas kasihan walau hanya sedikit,” harap Mira.


***


Di dalam kamar Ania. Pukul setengah sembilan. Ania dengan khidmat memperhatikan bonekanya perlahan-lahan. Semula yang berwujud wanita bertanda lahir kini kembali berubah ke wujud aslinya.


Boneka coklat sekilas mirip beruang, mata terbentuk dari kancing dan mulut dibuat dari jahitan tangan. Tidak hanya itu, rupa dari boneka itu hampir berubah total karena terdapat banyaknya bekas-bekas jahitan akibat robekan yang dilakukan oleh Ania sendiri.


“Menyebalkan! Kesempatanku hanya itu saja dan sekarang tidak bisa lagi! Andai Mira tidak ada pasti sudah kusukseskan dengan mudah!”


Ia menggerutu dengan kata-kata kasar sambil merobek-robek boneka itu dengan keji.


“Mira! Jina! Kurang ajar! Awas kau! Argh!!!!”


Boneka itu hancur berantakan, potongan di setiap bagian tubuhnya jatuh dan berserakan. Tak terkecuali dengan kapas-kapas berisi boneka itu.


Saking bencinya, ia kembali melempar boneka itu sampai ke depan pintu. Napasnya terbuang sia-sia, ia tersengal cukup berat sampai tak bertenaga kemudian.


BRAKK!!


Namun tak lama kemudian, terdengar suara keras yang berasal dari pintu depan. Seseorang datang.


Sementara Mira yang barusan berbalik badan tuk segera menuju ke rumah Jina lantas terkejut akan suara keras itu.


“Siapa itu? Jangan bilang ...,”


Masih dalam keadaan kesal, ia hendak mencari siapa pun yang barusan menghasilkan suara keras tersebut dari balik jendela. Namun karena jarak pandang sempit, ia tidak bisa melihatnya dengan jelas.


Sampai ketika orang itu masuk dan kemudian membuka pintu kamar Ania.


“Ania ...Ania ...kau di mana?”


“Paman? Ke mana saja selama semingu ini?”


Pamannya sedang bermabukan. Ia berjalan sempoyongan sampai menabrakkan tubuhnya ke pintu usai dibuka sendiri. Sembari ia membawa sebotol kaca hijau pekat berisi cairan yang kurang dari setengah.


“Paman?”


Awalnya Ania tidak merasakan apa-apa. Akan tetapi ketika pamannya mulai mendekat, Ania pun berteriak kencang dan ketakutan karena ulah paman sendiri.

__ADS_1


“Menjauhlah, paman! Paman sedang tidak waras! Menyingkir!”


__ADS_2