Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 13


__ADS_3

Akhirnya, waktu untuk tes awal ujian akan dimulai pada hari ini. Secepatnya Mira menuju ke sekolah dengan berlari, jaraknya lebih jauh dari sekolah menegah pertamanya namun itu tidak membuat Mira gundah. Walau pasti ia akan sangat kelelahan, namun inilah cara hidupnya.


“Menghemat uang adalah yang pertama dalam segala hal.” Begitulah katanya.


Sesampainya ia masuk ke dalam kelas. Sembari menunggu lembar soal yang akan dibagikan, Mira mencuri-curi pandang ke sekitar dalam kelas. Ruang kelas yang cukup tinggi tidak menbuatnya terasa panas. Terlebih ada lebih dari satu buah kipas angin yang tertempel di dinding.


“Ruang kelasnya benar-benar nyaman. Kalau aku diterima apakah aku akan duduk di ruang kelas ini?” pikirnya dengan wajah bahagia. Sejak tadi ia terus sumringah tanpa tahu bahwa orang di sekitarnya tertawa karena kelakuan Mira.


“Hei, kau. Sejak tadi kenapa senyum-senyum seperti itu?” tanya anak laki-laki yang duduk di sampingnya.


“Oh, itu ...maaf. Aku hanya merasa senang karena di sini sangat nyaman.”


“Oh, iya. Itu benar. Karena di sini hanya menerima murid-murid yang pintar. Jadi aku tidak pernah berpikir bahwa kau akan diterima.”


Sudah jelas sekali anak laki-laki ini sedang menyindir dirinya.


“Oh, maksudmu aku kurang pintar?” balas Mira. Agaknya ia sedikit kesal.


“Tidak, bukan begitu.”


“Lalu?” Ia bertanya dengan alis yang terangkat.


“Itu karena kau bodoh! Hahaha!!”


Diikuti oleh tawa dari semua calon murid dalam siang kelas. Mira jadi bahan tertawaan di sana.


'Apa salahku? Kenapa mereka mengataiku bodoh?' batin Mira. Sedang berpikir apa salahnya serta tanggapan tak masuk akal dari anak lelaki itu.


Lembar soal sudah berada di depan mata. Ketika pengawas atau guru pergi dari ruang kelas. Satu persatu dari mereka sudah mulai menulis jawabannya di sana. Akan tetapi tak bertahan lama, kurang lebih sekitar 5 menit kemudian, salah satu dari mereka bersiul pendek yang memberikan isyarat pada seseorang.


“Apa itu? Berisik sekali.”


Karena itu Mira jadi terganggu. Tapi ternyata tak hanya satu atau dua orang saja. Lainnya mulai berulah sebagai tanda, istilah kata "ingin mencontek." Ketika Mira sadar bahwa mereka saling bekerja sama, sontak saja Mira meremas bolpoint yang keras itu. Meski tidak sampai patah, kekesalannya masih menempel kuat akibat tindakan dari para calon murid sekolah ini.


'Kalian semua bilang aku bodoh, dan tidak akan diterima di sekolah ini. Tapi lihat sekarang, kalian semua malah bekerja sama untuk mencari contekan.' Mira membatin.


***


Di Toko Barang Antik.


“Ayah, aku akan pergi sebentar.”


“Ke mana?”


“Aku ingin pergi ke warung di pertigaan jalan.”

__ADS_1


“Apa? Jangan pergi sendirian. Di sana ada banyak sekali kendaraan, jadi jangan pergi.”


“Ayah, aku sudah biasa. Dan juga, jalan di depan rumah kita juga sama saja.”


Menyepelekan hal itu, Kina langsung pergi begitu saja. Membuat Ayahnya cemas, namun ia tak bisa meninggalkan toko sebab ada beberapa pelanggan yang masih berada di sana.


“Tunggu Ayah! Sebentar lagi!”


“Tidak usah. Ayah di rumah saja. Lagi pula aku hanya ingin sendirian.”


Kina nekat pergi. Dan secara kebetulan jalan itu melewati sekolah yang saat ini sedang diadakannya tes awal. Di mana Mira ada di sana saat itu dan juga baru saja selesai dari tes awal pada hari ini.


“Aku merasa aku mengenalinya. Siapa dia?”


Mira masih belum sadar siapa yang melintas menggunakan kursi roda. Setelah hari ini dibubarkan oleh pengawas, cepat-cepat Mira menghampiri seseorang tersebut.


Dalam perjalanan, menuju ke gerbang luar sekolah, barulah Mira sadar.


“Hitam-hitam yang ada di kedua kakinya! Kina!”


Tidak hanya sadar bahwa itu Kina, Mira juga sadar bahwa beban berat pada kedua kaki Kina akan melahap sekujur tubuhnya. Sebelum itu terjadi, Mira menepuk kedua pundaknya. Dalam sekejap dua mahluk itu kembali tetap pada volume yang sama.


“Syukurlah tidak memburuk. Hampir saja Kina dilahap saat dia sedang sendirian,” gumam Mira.


“Maafkan aku Kina. Aku tidak sadar kalau ini kamu. Aku pikir ...aku pikir ...,” Saking gugupnya, sulit untuk membuat penjelasan mengenai tindakannya saat itu.


“Ck! Malah ketemu kau! Pergi sana!”


Masih saja ketus seperti biasa. Kina langsung melipir pergi, ia yang hendak pergi lebih jauh justru berbalik arah.


“Dia mau pulang ya?”


Kebetulan jalan yang dilewati sama. Maka tak ada salahnya untuk tetap berada di belakang Kina sekalipun jarak di antara mereka cukup jauh.


Ia melakukan hal itu bukan hanya karena kebetulan saja melainkan juga karena ingin menjaganya agar tidak terjadi hal yang sama.


“Tes awal sudah berakhir. Selanjutnya aku akan menunggu hasil lalu melewati beberapa tes lagi. Tapi sebelum itu, aku masih mempunyai banyak waktu untuk secepatnya melakukan sesuatu pada mahluk itu.”


Setelah lama mengikuti, Kina akhirnya sadar.


“Hei!” Dia memberhentikan laju kursi rodanya. Menoleh ke belakang, dengan tatapan sinisnya.


“Y-ya?”


“Kenapa kau mengikutiku?”

__ADS_1


“Bukankah kita searah?”


Dalam sekejap situasi di antara mereka hening. Tak ada yang memulai percakapan sama sekali, sampai ketika cuaca terik menyorot langsung ke arah mereka.


“Kemarilah, ada hal yang ingin aku bicarakan.”


“Ya? Apa itu?” Mira sudah berada di belakangnya. Ia bertanya dengan semangat serta senyum lebar seakan telah menanti perbincangannya dengan Kina.


“Kenapa kamu tahu hal itu?”


Sembari melanjutkan langkah mereka menuju ke jalan berikutnya, Mira terdiam sejenak guna menelaah isi pembicaraan ini.


“Hal itu ...apakah maksudmu itu, soal aku yang tahu bagaimana isi hatimu? Begitu?” tanyanya memastikan.


“Ya. Aku tahu kamu melihatnya. Dan entah kenapa kamu bisa melakukan itu.”


“Entahlah. Aku sendiri juga bingung. Yang jelas, aku bisa merasakan beban yang ada pada kedua kakimu itu, Kina.”


Ia mendorong kursi rodanya secara perlahan, seraya ia melihat pergerakan dua mahluk tersebut.


“Dan aku juga tahu apa yang kamu pikirkan, mungkin itu kebetulan. Maaf.”


“Kau itu anak aneh ya? Aku tidak biasa bertemu anak aneh sepertimu.”


“Apa tanggapanmu tentangku sudah berubah?”


“MANA MUNGKIN!” Suaranya yang tiba-tiba meninggi, berhasil mengejutkan Mira sampai tulangnya ikut bergidik.


Terkadang suara Kina yang lemah lembut bisa berubah sedrastis ini, wajar saja bagi Mira atau orang lain akan langsung terkejut.


“Ngomong-ngomong mau ke mana sebelumnya?”


“Aku ingin pergi ke warung yang ada di jalan pertigaan. Di sana makanannya sesuai seleraku. Tapi sekarang aku sudah tidak niat,” ujar Kina.


“Oh, begitu.”


“Ya. Sudah cukup. Pergilah lebih dulu!”


“Eh? Pembicaraannya sudah selesai?” Jujur saja Mira saat ini sangat kecewa karena pembicaraan yang tadinya ia pikir akan mengakrabkan hubungan di antara Kina dan Mira justru akan berakhir sekarang.


“Berisik! Jangan tanya setiap kali aku sudah membuat keputusan!” pekik Kina. Kesal, ia lantas menggerakkan kursi rodanya sendiri dengan kecepatan sedang.


Sementara Mira, enggan mengikutinya. Sengaja ia melambatkan langkah agar tetap berada di belakang Kina. Ia kembali menjaganya dari belakang, tidak dekat dan tidak begitu jauh.


“Sepertinya aku punya kesempatan.” Mira merasa pembicaraan singkat ini tetap meningkatkan sisi positif bagi Kina.

__ADS_1


__ADS_2