Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 16


__ADS_3

“Kamu tahu Kina, kamu dan Mira itu anak yang sama-sama pendiam. Seharusnya begitu, dari kecil.”


“Apa? Tiba-tiba membicarakan hal itu. Aku tidak tahu kalau Ayah pandai sekali melucu.”


“Lagi-lagi bicaramu itu.”


Adanya ikatan maka suatu saat akan terikat erat namun juga dapat terputus dengan mudah. Seperti berhadapan dengan sehelai benang, Kina yang berdiri jauh di belakang Mira tengah memandangi langit senja yang sama.


'Sejak awal aku tidak berencana menghadapi dia. Lagi pula dia itu aneh. Sudah terlindas ban mobil tapi tidak terluka, seperti abadi.' Kina membatin.


Ada suatu firasat tertentu yang tak dapat ia mengerti saat menatap punggung Mira. Tapi karena tidak memahami, ia justru semakin penasaran.


“Sebentar lagi malam ya? Baiklah, sebelum aku pulang aku akan membeli buku di tempat itu!” seru Mira bersemangat seraya merenggangkan kedua tangannya.


“Dia akan pergi,” lirih Kina. Bersiap untuk kembali mengikuti langkah Mira secara diam-diam.


Toko buku adalah tempat tujuan Mira selanjutnya. Di sana ia sedang memilih beberapa buku yang nampaknya berhubungan dengan mata pelajaran di setiap sekolah. Ekonomi, bisnis atau mungkin sejenisnya, itulah yang Mira pilih.


“Nenek!”


Mira memanggil seorang nenek yang rupanya adalah penjual buku-buku tersebut. Saat ketika ia hendak membayar, datang seorang lelaki berambut cepak mendekat.


Kehadirannya tidak dapat dirasakan, membuat Mira terkejut karena lelaki ini tiba-tiba saja berada di dekatnya.


“Nenek, aku ingin buku ini. Berapa?”


Sembari menyodorkan buku, salah satu jari-jemarinya mengetuk meja yang ada di dekatnya saat itu. Mira masih belum melepaskan pandangannya dari pria itu, sebab merasa aneh saja.


“Ya, itu 50 Ribu.”


“Eh, bohong?! Terlalu mahal!”


“Kalau tidak mau kembalikan!”


Sempat ada perdebatan di antara lelaki itu dengan nenek penjual buku-buku ini. Sebagian buku memang baru, tapi selebihnya ada buku bekas. Termasuk buku yang dipegang olehnya dan Mira.


“Baiklah, baiklah. Ini!”


Selesai berdebat dengan kekalahan telak, lelaki itu langsung berbalik dan pergi. Namun belum ada dua langkah setelah berbalik, ia tak sengaja menjatuhkan buku itu.


“Permisi ...buku—”


“Cih, kenapa harus jatuh segala?” ketusnya. Ia nampak kesal, bahkan mengambil buku yang jatuh saja ia terlihat malas.

__ADS_1


Tak seperti ia benar-benar akan membeli buku itu.


“Buku itu ...,” Mira bergumam lirih, tak sengaja melirik sampul buku miliknya yang tertera sebuah tulisan "Saint".


“Apa?” Lelaki itu sadar dirinya dipanggil oleh gadis itu, ia bertanya dengan wajah kesal.


“Maaf. Bukumu tadi terjatuh. Tapi kamu sudah mengambilnya, jadi tidak ada lagi masalah,” ucap Mira. Tak lupa ia tersenyum seperti yang biasa ia lakukan.


Sementara Kina, secara tak langsung ia merasa geram akibat sikap Mira yang terlalu santai setelah diperlakukan tidak sopan terutama dengan mata tajam dari lelaki itu.


Dalam persembunyiannya, Kina mengepalkan kedua tangan dengan membalas tatapan tajam pada lelaki tersebut. Meski memang tidak akan terlihat dari sananya.


“Kina ...,”


“Ssst! Diam Ayah!”


Sedang si nenek mengamuk saat tahu Mira berbalik badan seakan pergi dengan buku yang belum dibayarnya.


“Hei! Kau belum bayar dan masih pegang buku itu?!”


“Ah, maaf. Ini nek.”


Saat setelah menerima uang dari Mira, nenek mendongakkan kepala guna melihat wajah si pembeli.


“Astaga, apakah tokoku yang bobrok ini akan dikutuk! Ya ampun, seharusnya aku tebar garam di depan toko! Syush! Syush!”


Ia mengusir Mira seperti mengusir hewan liar yang merepotkan. Ia melakukannya sembari menutup hidung dengan mata tajam yang berusaha untuk tidak langsung bertatapan dengan Mira.


“Itu ...bukunya ...uangnya ....apakah cukup?” tanya Mira dengan suara parau. Ia tengah menahan tangis.


“Ya, ya! Sana pergi! Tidak peduli kurang atau lebih. Aku justru tidak mau jika mengambil uang dari gadis sepertimu!” pekik si nenek seraya melempar beberapa recehan serta beberapa uang kertas padanya.


Sekali lagi ia berteriak, “Sana pergi! Ambil saja buku yang sudah ternoda buruk itu!” lanjutnya dengan marah.


“Y-ya ...,”


Melihat kejadian itu, Kina jadi teringat hal yang menyebalkan. Di mana Ayahnya menyamakan dirinya dengan Mira, sedang Kina menyangkal hal itu.


“Gadis yang bodoh. Kau bodoh sekali karena tidak bisa melawan, mungkinkah kau sudah tidak waras?” gerutu Kina. Ia lantas pergi, dan enggan mengikuti Mira.


“Hush! Kina! Jangan berkata seperti itu lagi! Berapa kali Ayahmu harus bilang hah?”


“Sudahlah, aku mau pulang.”

__ADS_1


Niatnya jadi tersingkirkan setelah Mira berinteraksi dengan orang lain. Ada sedikit perasaan iba atau simpati, namun ia terus menyangkal karena tidak mau disamakan oleh gadis seperti Mira itu.


“PERGI!” Bersamaan dengan kepergian Kina. Nenek penjual itu terus berteriak dan menyuruhnya pergi sambil melempari buku-buku yang sudah usang. Sebagai bentuk pengusiran.


“Ya, maafkan aku.”


Kina dan Mira pergi ke jalan yang berlawanan arah. Meski pada akhirnya jalan yang akan mereka tempuh menuju ke rumah masing-masing itu sama.


“Sayang sekali. Aku tidak bisa membayar cukup buku ini. Tapi apakah itu tidak masalah? Takutnya jika dia rugi nanti aku lagi yang disalahkan,” pikir Mira dalam perjalanan pulang.


Merasa bahwa buku yang barusan dibeli terlalu murah, namun sepertinya nenek itu tidak berniat mengambil uang dari Mira. Bahkan sebelumnya dilempar begitu saja seolah-olah uang itu tidak ada harganya.


“Ya sudahlah. Aku juga tidak berniat untuk mengambil uangnya lagi. Kalau suatu saat dia butuh, pasti akan diambil lagi,” celetuk Mira.


Sesampainya di rumah, bahan-bahan makanan yang tadi ia belikan untuk makan malam, sekarang hanya dimasukkan ke dalam kulkas. Ia tak berniat untuk masak, dan langsung merebahkan dirinya ke kasur.


Dengan tirai jendela yang masih terbuka, dalam keadaan berbaring, ia menatap arah luar dari sana. Tatapannya yang dipenuhi banyak pikiran, perlahan-lahan mulai kosong hingga akhirnya ia tertidur tanpa sadar.


“Kapan aku harus melakukannya? Bagaimana aku melakukannya? Lalu, apa aku boleh berteman lagi dengannya?” Pemikirannya sampai membuat mulut itu bergerak dan berbicara tanpa sadar.


***


Di Toko Barang Antik.


“Aku akan tunjukkan kalau aku berbeda dengan Mira!”


Dalam kamarnya, Kina tengah bergelut dalam pikirannya sendiri. Kina menghubungi seorang teman perempuan yang ada dalam nomor kontaknya.


“Rena, angkatlah panggilan dariku.”


Ponsel pintar yang tengah menunggu panggilan itu diangkat oleh temannya. Sembari menunggu, ia terus berharap panggilan itu diangkat.


“Sudah berakhir? Dia tidak mengangkatnya? Yah, sudah 3 tahun aku tidak bercakap-cakap dengan teman-temanku, jadi wajar saja.”


Ia kembali menghubungi seseorang lagi, yang pastinya berbeda dengan Rena. Berulang kali menghubungi sampai sekarang tidak ada yang mengangkatnya.


“Tidak hanya Rena, bahkan teman-temanku lainnya juga? Ada apa ini? Atau mereka mengganti nomornya?”


Sekali lagi ia menghubungi nomor kontak Rena, teman terdekatnya saat sekolah dasar. Mereka sudah sangat dekat bahkan sebelum mulai bersekolah.


“Akhirnya terangkat!”


“Apa? Maaf, ini siapa?”

__ADS_1


Saat panggilan terangkat justru Rena tidak mengenali nomornya.


__ADS_2