Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 20


__ADS_3

Suatu tempat yang memiliki kehendaknya sendiri, terdapat jam yang tidak akan bergerak sebelum waktu akan tiba di mana para mahluk akan berkumpul.


Sementara sesosok beraura jahat datang sendirian ke tempat ini dengan tujuan tertentu. Ia tersenyum sembari menatap jam yang begitu besar di hadapannya. Lalu ia mengulurkan tangan dan mulai mengucapkan sesuatu.


“Ketika semua sudah berkumpul, maka saat itulah aku akan mengambilnya. Tunggulah sampai kau benar-benar sadar siapa dirimu yang sesungguhnya.”


Dua pintu yang terbuka lebar tiba-tiba saja tertutup dengan sangat rapat. Lalu keberadaan tempat yang memiliki kehendak itu menghilang tanpa jejak bersamaan dengan sesosok misterius tersebut.


***


Kembali ke sebuah tempat, toko barang antik yang sekaligus adalah rumah bagi keluarga Kina.


Pecahan gelas yang sempat menusuk bagian matanya, hal itu membuat Mira terkejut. Namun bukan karena pecahan gelas itu sendiri melainkan karena bayangan melintas di hadapannya saat mata itu terluka. Dan apa yang ia lihat adalah keberadaan tempat serta sesosok pria tersebut.


“Kau benar-benar tidak merasa sakit?”


Mira menggelengkan kepala sebagai tanda jawaban, ia menyatakan dirinya baik-baik saja hingga saat ini. Kina merasa separuh lega dan separuh cemas karena merasa aneh saja terhadap Mira.


“Maaf, membuatmu terkejut. Jadi, apa kamu akan keluar dari kamar? Aku akan mengantarmu.”


“Tidak. Tidak perlu. Sudah, kau diam saja di sini.”


“Kalau begitu aku akan pulang saja,” kata Mira.


“Jangan Mira. Hari sudah malam. Meskipun rumahmu dekat dari sini, tetap saja akan berbahaya jika kamu pergi saat ini juga,” sahut Ayah Kina.


“Kalau begitu Mira akan menginap?” pikir Kina.


“Ya, apa kamu keberatan? Aku pikir kalian sudah mulai akrab kembali. Aku yakin itu,” ucapnya sekaligus menyindir Kina.


“Ayah! Jangan berkata seperti itu. Tapi, ini memang salahku.”


Mengakui kesalahan memang tidak semudah yang dikira, Kina meraih tangan mungil gadis aneh itu lantas berkata, “Malam ini menginaplah di sini. Tidurlah bersamaku.”


“Baiklah kalau tidak merepotkan. Aku akan menganggap ini sebagai pembalasan hutang budimu, jadi terima kasih.”


“Bodoh! Kalau kau menganggap ini balasan hutang budiku maka tak seharusnya kau mengucapkan terima kasih,” tukas Kina.

__ADS_1


Malam ini banyak sekali kejadian aneh yang terjadi dalam satu tempat. Tapi, pertanyaan terbesar bagi Kina terhadap sosok perempuan bernama Mira masih mengambang tak begitu jelas. Sementara Mira, memiliki penglihatan yang aneh namun tidak bisa memberitahukan hal seperti ini begitu saja.


Dok! Dok! Dok!


Terdengar suara dobrakan yang cukup keras dari luar kamar. Mira meminta agar Kina tetap berada di dalam kamarnya, sementara ia sendiri pergi dari sana. Ketika itu ia mendapati Ayah Kina yang tengah berusaha untuk membuka pintu depan.


“Apa yang terjadi, paman?”


“Pintunya tidak mau terbuka.”


“Apa?”


Sebelumnya pintu itu belum terkunci, dan Ayah Kina menjelaskan saat dirinya hendak mengunci, ia mencoba untuk membukanya guna memastikan sesuatu tapi beginilah yang terjadi. Pintu tidak mau terbuka sedikitpun.


“Belum dikunci tapi sudah tertutup, dan lagi tidak bisa dibuka? Apa mungkin macet?” pikir Mira.


“Tadinya aku pikir begitu. Tapi tidak hanya pintu saja, Mira. Coba periksa jendelanya.”


Entah apa yang dimaksudnya, Mira lantas mengikuti arahannya.


“Baiklah, aku akan keluar dari jendela lalu membuka pintunya dari luar.”


“Apa-apaan ini? Kenapa sama sekali tidak mau dibuka? Apa yang sebenarnya terjadi?”


Rumah yang dikiranya sudah dalam keadaan tenang justru tidak sama sekali. Kejanggalan terus ditemukan dalam toko dan membuat kepanikan. Pintu, jendela maupun segala jalan keluar yang ada sepenuhnya tertutup.


“Ini bagaimana?”


“Aku juga tidak tahu kenapa ini terjadi. Padahal sebelumnya baik-baik saja. Mira, apa kamu tahu sesuatu?”


Dengan berat, ia menggelengkan kepala. Tidak bisa menjelaskan situasi apa pun. Ia juga tidak melihat adanya tanda-tanda ini ulah orang lain atau ulah sesosok tak kasat mata yang melakukannya.


“Aku berusaha menghubungi orang lain tapi tidak ada yang menjawab. Antara panggilannya cepat terputus atau kadang tidak bisa terhubung.”


“Ini aneh. Apa ini karena keberadaanku?” pikir Mira.


“Mira.” Sambil memanggil, paman mengelus pucuk rambutnya lalu berkata sekali lagi, “Ini bukan salahmu.”

__ADS_1


“Maaf.”


“Kenapa kamu harus meminta maaf? Ini bukan kesalahanmu. Aku yakin ini pasti ulah hantu atau semacamnya haha,” katanya lantas tertawa kecil.


“APA INI?! TIDAK!!!” Kina menjerit ketakutan akan sesuatu. Tampaknya telah terjadi sesuatu hal yang tidak baik di dalam kamarnya yang sekarang lampu di sana tidak hidup.


“Ada apa Kina?”


Bergegas Ayahnya dan Mira menuju ke kamar. Salah satu dari mereka mencari-cari saklar lampu agar dapat dihidupkan lagi, sementara itu Mira mencari keberadaan Kina.


“Paman!”


“Lampunya tidak mau menyala! Bagaimana dengan Kina?”


“Kina! Jawablah!”


Mira masih mencari-carinya, selagi ia merangkak dan memastikan agar tidak menabrak benda-benda secara sembarangan. Ia terus memanggil nama temannya itu tapi sampai sekarang masih belum ada jawaban sama sekali.


“Tidak mungkin, apa yang terjadi? Hei!”


Setelah beberapa saat ia diam dengan posisi merangkak, ia mendapati suatu genangan air. Dalam posisi gelap, entah kenapa kedua mata Mira masih berfungsi dengan baik. Seperti senter, ia melihatnya dengan jelas bahwa genangan itu bukanlah genangan biasa.


“Apa ini?”


Semula ia berpikir ini mirip sekali dengan riak hitam yang ada dalam kesadaran Kina namun ia merasa ada perbedaan jauh dengan yang sekarang ini.


“Bagaimana dengan Kina? Kenapa dia tidak menjawab? Kina! Kina! Apa kamu dengar Ayahmu? Nak!”


Ayahnya jelas sangat panik, ia kesulitan mengendalikan diri dan pasrah dengan terus menyala-matikan saklar lampu. Hingga tak lagi mendengar suara Mira yang sebelumnya terus berteriak, ia kemudian memutuskan untuk ikut mencarinya.


Tetapi karena kepanikan serta kecerobohannya akibat terlalu tergesa-gesa, ia sampai menabrak meja, kursi dan benda-benda lain di sekitar.


“Nak? Kina? Mira? Kenapa tidak ada yang menjawab panggilanku?” Ayahnya semakin cemas, juga semakin tidak bisa berpikir jernih.


Sedangkan Mira, ia diam membisu seakan mulutnya terjahit rapat. Kedua matanya melotot tajam ke arah genangan tersebut yang tak lain adalah darah. Bau anyir mulai tercium dengan jelas dan saat ketika ia berpindah tempat ke depannya, Mira melihat tubuh Kina yang tergeletak dengan wajah ketakutan.


Dalam posisi tak wajar di mana tulang kedua tangannya terbalik, wajah ketakutan serta bola mata yang mencuat keluar. Darah segar keluar dari setiap luka, termasuk dari dua kakinya yang terlihat seperti baru saja terputus.

__ADS_1


“Ini ...ini ...,”


Kedua bibir yang tadinya mengatup kini mulai bergetar pelan, syok berat ia melihat semua itu di depan mata. Perlahan ia mengangkat tangan yang menyentuh genangan darah tersebut, namun segenggam tangan muncul dari dalam sana lantas menarik tangan Mira tiba-tiba.


__ADS_2