
“Ayah, aku ingin membicarakan sesuatu.”
“Kina? Kamu sudah pulang?”
“Ya. Aku tidak jadi ke sana.”
Semenjak bertemu dengan Mira, Kina merasa aneh walau tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan saat itu.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Sembari bertanya, ia meletakkan beberapa kardus dan ditempatkan ke bagian belakang rak.
Kina memperlihatkan wajah murung, seakan bingung apa yang harus ia katakan atau jelaskan. Sejenak ia diam sembari mencuri pandang pada sang Ayah yang sibuk mondar-mandir merapikan barang-barangnya.
“Apa, Kina?”
Sampai ketika Ayahnya datang mendekat, menatap wajah Kina yang sejak tadi menunjukkan ekspresi bingung dengan kepala tertunduk.
“Begini, ini tentang Mira.”
“Mira ...apa ada sesuatu terjadi di antara kalian berdua?”
“Tidak. Tapi, apa ayah ingat saat kejadian hari itu? Saat Mira ditabrak.”
Lantas Ayah Kina terkejut. Ia tak sangka bahwa putrinya akan membicarakan hal ini lagi. Yang mana seharusnya ini pembicaraan yang terdengar sensitif.
“Ayah tidak ingat apa-apa.”
“Bohong! Aku dan Ayah melihatnya terlindas bukan? Dia saat itu benar-benar ...,”
Kina terus menceritakannya, apa yang ia lihat adalah saat ketika Mira telindas dua mobil dari depan maupun belakang secara bersamaan. Kejadian yang tak masuk akal itu terjadi tepat di hadapan mereka. Dan Kina tidak bisa menyangkal kalau Mira telah terlindas. Di mana seseorang akan mati apabila sudah separah itu, tapi Mira justru sebaliknya.
“Aneh! Dia seharusnya sekarat atau bahkan mati. Tapi dia baik-baik saja seolah dari awal tidak pernah terluka sedikitpun. Ayah tahu ini bukan?”
“Kina ...Ayah, sebenarnya tidak begitu mengingatnya. Selain tahu bahwa Mira ditabrak.”
“Karena itu, kalau Mira ditabrak pun pasti setidaknya ada luka gores. Tapi aku sama sekali tidak melihatnya, Ayah!” Kina menegaskan, bahwa yang ia lihat itu nyata.
“Apakah selama ini kamu menghindari Mira hanya karena salah menduga?”
“Ya! Tentu saja! Siapa pun pasti takut kalau tahu ada orang seperti dirinya.” Kina mengakui, itulah perasaannya saat terus bertemu dengan Mira.
__ADS_1
Itulah mengapa ia selalu kabur dan berusaha menghindar. Namun juga, dua mahluk yang sampai saat ini masih bersemayam di kedua kalinya bereaksi, jika bertemu Mira maka mereka akan mempengaruhi emosi Kina. Dan tentunya hal itu tidak disadari oleh Kina maupun Ayahnya. Hanya Mira lah yang tahu hal itu, dan sampai sekarang masih mencoba untuk mencari jalan keluarnya.
“Kina, tolong jangan berkata seperti itu.” Dengan sangat memohon, Ayahnya meminta Kina untuk tidak lagi mengatakan hal-hal seperti itu.
Dirinya khawatir, namun ia tahu betul bahwa sikapnya benar-benar di luar batas. Dengan sangat berhati-hati ia menasehati seraya menepuk kedua pundaknya dengan lembut.
“Tidak. Aku takut! Aku tidak mau bertemu dengannya lagi! Kemarin saja dia tahu apa yang aku pikirkan, bukankah itu mengerikan?”
“Kina!”
“Ada apa dengan Ayah? Kenapa Ayah selalu membela anak itu!”
“Kina, ini bukan tentang membela atau tidaknya. Tolong dengarkan dulu!”
“Sudah cukup! Hentikan!”
Entah datang dari arah mana sebenarnya, embusan angin membuat keduanya hening dalam sekejap. Aura jahat yang berasal dari kedua kaki Kina sedikit demi sedikit kembali merayap hingga ke bagian atas tubuh.
Ayahnya sejenak diam, ia mencoba untuk berpikir agar Kina bisa tenang dan mendamaikan hatinya sendiri. Namun di saat yang sama ia merasakan kengerian yang datang dari arah Kina.
'Hari ini, ada apa dengan Kina? Kenapa dia jadi semakin memberontak. Padahal dulu dia tidak seperti ini. Jadi ada apa sebenarnya?' batin Si Ayah.
Sekalipun ia ingin bergerak dan menghentikan langkah kepergian putrinya, namun tetap saja tubuhnya tidak bisa digerakkan.
“Ayah sudah berubah. Ayah tidak lagi memihakku. Dan justru memihak anak orang lain, dan lagi dia adalah anak yang di cap sebagai pembawa si—”
PLAK!
Reflek, tangan besar itu menampar wajah Kina. Ini yang kedua kalinya ia menampar putrinya sendiri.
“Maaf Kina. Ayahmu melakukan ini untuk kebaikanmu sendiri. Aku tidak mau mendengar omongan kasar itu, dan kamu yang paling tahu seperti apa Mira itu. Benar bukan?”
Karena rasa sayang serta kecemasan sebagai seorang Ayah, kegelapan tak lagi menggapai dirinya. Ia kemudian memeluk Kina dengan sangat erat seakan enggan melepaskannya.
Ia berkata, “Putriku yang paling tahu, rasa sakit saat seseorang digunjing. Ayah yakin bahwa kamu suatu saat nanti akan mengerti.”
“Dan putriku bukanlah orang seperti itu. Kembalilah seperti semula, Kina,” imbuhnya.
“Mengerti apanya, setelah menamparku?” sahut Kina dengan suara kecil namun bergetar pendek.
__ADS_1
Kina menyingkirkan kedua tangan Ayahnya yang memegang pundak. Ia kemudian menatap dengan tajam lantas berkata, “Aku tidak mau dinasehati.”
“Kina? Kamu ini sebenarnya kenapa?”
Kegelapan itu semakin lama semakin menyebar dan membesar. Bahkan mungkin sekarang, kesadaran Kina hampir setengahnya diambil alib oleh dua mahluk menyeramkan itu.
“Tunggu, Kina!” Sang Ayah mencoba menghentikannya. Entah kenapa ia merasa jika membiarkan Kina begitu saja maka pasti akan terjadi sesuatu yang tak terduga.
“Ayah, sudahlah! Aku tidak mau bicara dengan Ayah lagi.”
“Tunggu. Dengarkan Ayah bicara! Kina, sejak kapan kamu jadi seperti ini. Ayah tahu kalau kamu takut karena Mira dan benar Ayah tahu itu. Ayah juga melihat kecelakaan itu.”
“Kalau begitu—”
“Dengarkan Ayah bicara!” sahutnya dengan suara keras dan tegas, ia memperingati Kina agar tak lagi memotong kalimatnya.
“Ayah juga tahu. Tapi untuk saat ini, kita tidak perlu bertingkah begitu. Mau bagaimanapun dia adalah Mira, teman baikmu semasa kecil.”
“Bukan! Orang mengerikan seperti itu bukanlah temanku! Palingan Ayah ingin aku akrab dengannya karena dulu Ayah berteman dengan orang tuanya, bukan?!” sahut Kina.
Di samping Ayahnya cemas akan sesuatu yang tidak nampak di hadapannya, Kina yang sementara itu hanya bisa mengamuk dan mengarahkan kebenciannya pada Mira seorang.
Kini, hubungan di antara mereka agaknya sedikit renggang.
“Kina, Ayahmu ini masih percaya kalau kamu masih bisa kembali seperti semula.”
Tapi, kepekaan sang Ayah terhadap putrinya sendiri yakni Kina sangatlah terasa jelas seperti sekarang ini. Terbukti, emosi negatifnya menurun karena perkataan Ayahnya itu.
Namun bukan berarti akan melepaskan beban berat itu dari kedua kaki Kina.
Setelah lamanya mereka berdua tidak berbincang. Kina yang berdiam diri di dalam kamar, secara tidak langsung dirinya melihat sosok Mira.
Mira saat itu berjalan dengan sangat aneh. Kadang berjalan lurus dengan sedikit lebih cepat tapi kepalanya tertunduk. Kadang-kadang juga berjalan secara zig-zag atau berlika-liku sampai kepalanya membentur tiang listrik.
Tak sampai di situ saja, Mira kembali berbuat ulah dengan memasuki toko. Walau hanya sebatas membuka pintu, ia tiba-tiba saja langsung berlari menjauhi toko tersebut. Seolah dirinya sedang bingung atau kemungkinan sesuatu terjadi kepadanya.
Dan itu membuat Kina penasaran.
“Mungkin aku akan tahu rahasianya jika mengikuti dia,” pikir Kina.
__ADS_1