Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 8


__ADS_3

Sejak awal Mira tak pernah sekali menunjukkan raut wajah kesal. Apa pun masalahnya ia selalu saja tersenyum. Terkadang banyak orang berpikir bahwa Mira benar-benar adalah orang yang baik, namun sebagian dari mereka berpikir Mira itu terlihat sedikit mengerikan.


Ya, mau bagaimanapun manusia tetaplah manusia. Takkan mereka tidak pernah kesal, seberapa besarnya kesalahan orang lain yang menimpa dirinya. Sekalipun tersembunyi, takkan manusia mampu untuk mempertahankan emosinya setiap saat.


Namun ini adalah Mira. Mira mungkin sudah lama bertahan, bahkan sudah pernah berulang kali merasa kecewa, sedih dan sebagainya. Tapi mungkin saja karena sudah lelah, ia jadi lebih terbiasa dengan setiap kekecewaan orang lain. Kerap kali digunjing pun tidak membuatnya menangis karena hal tersebut sudah biasa terjadi.


“Aku bingung harus berkata bagaimana. Tapi kamu perempuan yang baik ya. Aku berharap kamu dan Kina akan kembali akrab lagi,” harap paman.


Sejujurnya paman amat sangat kecewa terhadap putrinya sendiri. Ia tidak begitu mengerti jalan pikirnya selain emosi yang kadang memuncak tak sesuai pada waktu dan tempatnya. Paman sudah tahu kalau Kina berubah tapi ia tidak mampu melakukan apa pun untuk itu.


“Ya, terima kasih.”


“Seharusnya aku dan Kina yang berterima kasih.”


“Tidak. Itu seharusnya saya. Saya yang tidak punya teman, tapi dipercayai oleh paman. Dan mungkin saja Kina nanti juga menaruh kepercayaannya padaku. Suatu saat nanti kita akan kembali berteman.”


“Kamu ini selalu berpikir positif ya?”


“Saya memang begini. Saya harus memikirkan kemungkinan hal baik agar tidak mudah membenci seseorang. Dan saya pun berpikir bahwa Kina mempunyai alasan tersendiri.”


Meski hatinya sakit, kadang pula terbayang dengan kata-kata kejam dari Kina, Mira selalu bertahan setiap saat. Seperti ada lapisan dinding yang sangat tipis namun sangat kuat bahkan mengalah-ngalahkan dinding sekuat baja. Tidak hanya itu, Mira memiliki sikap mandiri dan terbuka.


Hanya saja ia dibenci karena telah dianggap sebagai gadis pembawa nasib buruk, maka inilah dampaknya. Tak punya teman, bahkan kerabat dekat atau jauh sudah tak lagi menganggap dirinya. Tapi sekarang berbeda, ia masih memiliki satu orang.


“Paman, apa yang paman lihat dariku?” Hari itu Mira bertanya.


“Apa maksudmu bertanya seperti itu Mira? Aku sama sekali tidak mengerti.”


“Maaf. Karena setiap kali mereka melihatku, mereka menatapku dengan sinis sambil berkata bahwa aku ini pembawa nasib buruk atau semacamnya,” ujar Mira. Ia menundukkan kepala sembari memainkan jari-jemarinya.


“Begitu?”


“Ya. Jadi aku bertanya pada paman. Apa yang paman lihat dariku?”


“Tanggapanku mengenaimu, itu sangat bagus. Kamu pintar dalam beberapa aspek. Tidak hanya itu kamu baik, rendah hati dan yang paling penting suka membantu orang lain.”

__ADS_1


Ekspresi Mira justru murung. Ia tidak merasa senang atas tanggapan berupa pujian berlebihan tersebut. Ia menurunkan pandangan matanya seraya berpikir apakah benar dirinya seperti itu?


Paman menepuk pundak Mira dengan pelan lantas berkata, “Kamu itu anak yang baik kok. Jadi untuk selanjutnya, aku berharap kamu tidak berubah dan tetap seperti ini.”


“Terima kasih, paman.”


“Hm ...,” Paman berdeham cukup panjang. Nampaknya ada hal lain yang menganggunya. “Kamu mungkin berpikir kalau tanggapanku barusan berlebihan, tapi yakinlah itu yang aku lihat darimu sejak kecil hingga sekarang.”


Hati Mira merasa lega untuk sesaat. Tidak menyangka paman, Ayah dari Kina mengatakan hal itu padanya. Jujur saja itu tak terduga.


'Maaf karena pernah menaruh rasa curiga padamu, paman. Ternyata aku salah,' batin Mira.


“Ini enak ya. Aku pikir ini akan terasa pahit. Ternyata benar kamu pintar dalam beberapa aspek terutama hal memasak. Aku yakin kamu akan jadi istri yang baik untuk suami masa depanmu nanti,” celoteh paman yang tengah asik memakan makanan hasil kerja keras dari Mira.


“Terima kasih, paman. Sudah memakannya. Kalau begitu, aku pamit.”


Sesaat setelah Mira pergi dari sana. Terlihat Kina mengintip dari balik pintu kamarnya. Melihat sang Ayah yang sedang menyantap makanan dengan lahap, agaknya membuat ia sedikit iri. Terlebih sepanjang waktu perutnya mulai keroncongan.


BRAK!


“Ki-Kina ...kalau mau buka pintu kamar jangan keras-keras begitu,” pinta Ayahnya. Meminta Kina agar tak lagi melakukan hal itu.


“Ayah, aku ingin bertanya.”


“Tanya? Apa? Tumben sekali kamu mengajak ngobrol Ayahmu lebih dulu?”


Wajah mengkerutnya seperti biasa. Kina bahkan sekarang tak sedang menatap Ayahnya.


“Ayah ingat, apa yang terjadi pada Mira saat kecelakaan itu?” tanya Kina sekali lagi.


Mengingat kenangan buruk itu tentunya tidak membuat hati tenang. Ayah Kina kemudian menjawab, “Sayangnya aku tidak ingat, Kina.”


“Lalu, bukankah seharusnya Ayah bisa berpikir?”


“A-apa maksudmu berkata begitu pada Ayahmu sendiri? Maksudmu Ayah ini tidak bisa berpikir begitu?” cerocos sang Ayah, tak rela disindir oleh anaknya sendiri.

__ADS_1


“Maksudku ...seragam perempuan itu sampai banjir darah, seragamnya yang putih berubah jadi merah karena darah. Sementara dia sendiri sama sekali tidak terluka, bukankah itu aneh?” pikir Kina.


Itu hal yang masuk akal. Mira pun sempat bingung atas kejadian yang menimpa dirinya sendiri. Dan sekarang yang sadar akan kejanggalan itu adalah Kina lalu para petugas kepolisian.


“Itu ...,”


“Ayah memang bodoh. Kenapa hal sebesar itu saja tidak tahu?” ketus Kina.


“Jadi yang membuatmu penasaran itu? Tapi bisa saja itu darah orang lain? Yang ada di dalam mobil?”


“Mana mungkin! Aku sudah dengar tidak ada pengendaranya di dalam mobil, dan juga dua-duanya!” pekik Kina.


“Oh, atau mungkin saja itu bukan darah tapi toma—”


“AYAH!!!” Suara Kina semakin meninggi, teriakannya langsung membuat Ayah itu terdiam dalam sekejap.


“Kalau tomat, sudah pasti polisi takkan serepot itu. Ayah pikir aku sama seperti Ayah yang bodoh? Aku langsung tahu, baunya yang anyir itu sudah pasti darah. Dan siapa lagi kalau bukan dia yang terluka, seharusnya begitu,” ujar Kina.


Akhirnya kejanggalan yang mulai dibuka oleh Kina membuat Ayahnya benar-benar terdiam. Tak lagi terbuka mulutnya itu untuk hanya sekadar berbicara. Kini ia terdiam dengan membiarkan Kina mengatakan semua hal yang ingin dikatakan.


“Seharusnya begitu ...itu yang tadi aku pikirkan. Tapi selain bekas darah, aku tidak melihat ada luka bahkan segores pun tidak. Sebenarnya apa yang terjadi?”


Ayah Kina masih terdiam cukup lama. Sesekali ia pula menyantap makanan yang diberikan oleh Mira sebelum ini. Dengan sangat perlahan, ia makan sesuap demi sesuap.


“Ayah, apa saat kejadian yang menimpa Mira, pasti akan seperti ini?” tanya Kina.


“Apa maksudmu? Ayahmu ini tidak mengerti.”


“Maksudku, sebelumnya juga terjadi hal seperti ini bukan? Kalau tidak, polisi itu pasti akan mendatangi Mira!”


“A-ah ...iya. Mungkin.”


Usai jawaban penuh keraguan dari Ayahnya, perut Kina kembali berbunyi. Tanda lapar sudah melanda.


“Cih, kenapa di saat seperti ini. Membuatku muak saja.”

__ADS_1


__ADS_2