Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 23


__ADS_3

Di bawah alam sadarnya, Kina berdiri di depan seseorang yang begitu mirip dengannya. Seolah berkaca pada dirinya sendiri di depan cermin, namun tampaknya ini nyata.


Saat ketika Kina mengulurkan tangan, cerminannya menundukkan kepala. Terlihat ia tak ingin menatap mata Kina dan sebagai gantinya ia mengatakan sesuatu.


“Apa kau adalah aku?”


Kina pun terkejut. Ia menurunkan tangannya, dan kemudian bergerak mundur perlahan. Takut seseorang ini melakukan hal-hal buruk padanya, ia memutuskan untuk pergi. Namun sayang sekali, langkahnya tak seperti biasa. Kina memang sedang berlari berlawanan arah akan tetapi ia tak pernah menjauh dari cerminan bayangannya sendiri.


“Eh?”


“Hei, kenapa kau melarikan diri?”


“Kau sendiri ...untuk apa mengikutiku?”


“Karena aku adalah kau,” katanya.


“A-apa?” Ucapan Kina terbata-bata, bukan hanya takut ia juga sangat gelisah.


“Kupikir kita tidaklah sama tapi setelah dipikir dua kali, ternyata kita berdua adalah sama. Kau adalah aku, dan aku adalah kau,” ujarnya sembari menunjuk Kina dan dirinya sendiri secara bergantian.


Mustahil bagi Kina melarikan diri dari cerminannya sendiri, sehingga ia pun pasrah. Ia berbalik badan dan menghadap sosoknya sendiri. Meski takut, ia mencoba untuk tetap berani.


“Sebenarnya ini ...aku ada di mana? Aku tidak pernah ingat tempat ini. Apa kau tahu sesuatu?” Lantas bertanya.


“Tempat ini adalah tempat di mana semua emosi kita bersatu.”


Sesuai ucapannya, sosok Kina yang lain bermunculan. Masing-masing dari mereka memiliki ekspresi yang berbeda, ada yang sedih, kesal, datar, bingung dan lain-lainnya lagi.


Tetapi, tak satupun dari mereka yang memiliki ekspresi bahagia.


“Kalau benar ini adalah tempat di mana semua emosiku berkumpul. Lalu kenapa yang senang atau bahagia tidak ada?”


Semua emosi menoleh ke salah satu dari Kina yang sejak tadi mengajaknya berbicara. Dari situlah Kina baru sadar.


“Jangan-jangan kamu yang—”


Kina menunjuk, lantas cerminan Kina mengangguk lantas tersenyum.

__ADS_1


“Ya, aku lah emosi yang mencerminkan kebahagiaanmu. Tapi ini adalah emosi yang paling kecil, ini adalah hati kecilmu,” ungkapnya sembari tersenyum.


Ia bilang emosi kebahagiaan atau rasa senang adalah emosi terkecilnya, yang bisa disebut sebagai hati kecil Kina.


“Kenapa kebahagiaanku kecil?”


“Entah. Sebelumnya aku lenyap tapi sekarang aku kembali muncul. Aku rasa kau tahu apa yang terjadi, dibandingkan semua emosi yang ada di sini,” tuturnya.


Dan benar, sebagai seorang manusia yang memiliki banyak emosi, hanya Kina lah yang tahu kenapa emosi kebahagiaan menjadi kecil.


Yang kemudian ia merasakan perasan benci, dendam, sekilas-sekilas ia melihat bayangan masa lalunya di mana saat dirinya kehilangan kedua kaki akibat kecelakaan.


Cukup tragis untuk diingatnya, dan emosi yang paling besar saat kejadian itu bukanlah rasa sedih ataupun takut melainkan benci pada seseorang.


“Mira. Jadi aku kehilangan kebahagiaanku karena kehadiran Mira?”


“Bukan.” Cerminan Kina, emosi kebahagiaan menyangkal. “Sebagai hati kecilmu aku menjawab, bukan karena gadis itu. Kau hanya melampiaskannya dan membuat gadis itu yang bersalah atas apa yang terjadi padamu.”


Mendengar hal itu, Kina tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bagai tersambar petir, ia tersadar kebenciannya sudah semakin mendalam dan membuatnya tutup mata dan hati.


“Jadi itulah mengapa kebahagiaanku lenyap.”


Emosi negatif seperti rasa takut, benci ada dendam dan hal-hal lainnya akan semakin meningkat apabila Kina terus mengurung dirinya sendiri di bawah alam sadarnya.


Dan sekitarnya yang semula terang-benderang pun berubah drastis menjadi sangat gelap gulita. Tak terlihat apa pun selain kekosongan dan hampa. Sangat gelap hingga semua indra tertutup.


“Eh, aku di mana? Apa yang terjadi padaku? Apakah aku ...sudah mati?” pikir Kina tanpa sadar.


Kegelapan membuatnya hancur secara perlahan. Dan apa yang membuatnya rusak adalah keberadaan sosok emosi negatif yang memiliki wujud hidup.


“Hei, apa kau mendengarku? Jangan mau kalah dari mahluk jahat itu. Jadilah diri sendiri atau kau akan lenyap tak bersisa!”


Di samping terdengar suara yang sama, dari cerminan Kina sendiri. Ia juga mendengar suara seseorang yang amat dikenalnya.


“KINA! KINA!! SADARLAH!! KINA! INI AKU! MIRA! HEI, KINA! JANGAN PERGI, JIKA KAMU TIDAK BISA BERJALAN MAKA AKU LAH YANG AKAN MENJADI KEDUA KAKIMU!”


Suaranya yang begitu keras, ia memaksakan dirinya dan Kina tahu hal itu.

__ADS_1


***


Di dalam kamar Kina, yang sepenuhnya dipenuhi oleh bercak-bercak hitam bahkan terlihat seperti dindingnya di cat dengan warna hitam pekat. Saat ini, Mira berusaha untuk membuat Kina terbangun sebelum tubuhnya benar-benar dilahap habis oleh mahluk yang mendiami emosi negatifnya selama ini.


“Kina! Kina! Sadarlah!”


“Kina! Ini Ayah! Bangunlah!”


Sudah dua tahun lamanya, sikap Kina terhadap Mira sangatlah kasar. Tidak hanya sekadar membenci bahkan juga dendam dan menyalahkan semuanya pada Mira seorang. Pembalasan atas sikapnya yang kurang ajar seharusnya tak lagi mendapatkan apa-apa dan ia pun akan kehilangan segalanya.


Tapi sekarang apa?


“KINA!!!”


“KINA!! BANGUNLAH!”


Sosok Mira yang dibenci justru selalu menolongnya. Ini kenyataan yang sulit dibantah, bahkan disangkal pun juga akan percuma. Siapa yang tak percaya bila orang yang dibencinya justru dibantu tanpa rasa pamrih.


“Kina ...kumohon!”


Benda yang menempel ke tubuh Kina perlahan-lahan menjadi surut. Emosi negatifnya perlahan menurun dan Kina merasakannya. Lalu, tak hanya itu, ia kini mulai mendengar tangisan Mira dan Ayahnya secara langsung.


Mereka yang mau menumpahkan air mata hanya untuk gadis bodoh ini, tentu saja Kina akan sangat senang. Ia merasa bersalah atas semua perlakuannya terhadap mereka berdua. Ia tahu itu tidak pantas tapi tetap saja dilakukan hanya karena harga diri yang meminta, namun sekarang sudah berubah.


“Kina, tidak masalah jika kamu tidak bisa berlari lagi. Tapi aku akan menjadi kakimu, jadi berjuanglah. Ada aku dan Ayahmu yang telah lama menunggu, kumohon bangunlah.”


Sungguh sangat beruntung Kina memiliki dua orang seperti mereka. Tanpa sadar, senyum pun terlukis di wajah Kina, menandakan dirinya menerima hati kecil nan rapuh ini dengan baik.


Perlahan ia membuka kedua mata, melihat mereka berdua yang nyaris terbungkus rapat oleh mahluk hitam, ia sedikit sedih. Namun meski dalam keadaan seperti dan lagi mereka terluka karena hal tersebut. Keduanya tetap tersenyum bahagia sebab Kina telah terbangun.


“Syukurlah!”


Hati yang lega membuat emosi negatif itu mengecil dan akan lenyap untuk selamanya meski harus secara perlahan-lahan. Tetapi, berkat keteguhan hati seorang Ayah dan teman bagai saudara sedarah, Kina kembali seperti saat-saat kenangan indahnya di masa lampau.


“Syukurlah, Kina! Kamu sadar juga akhirnya! Syukurlah!”


“Ya ampun! Lain kali jangan lakukan hal sembrono lagi, ya! Kina! Ayahmu ini sangat cemas padamu.”

__ADS_1


“Ya, Ayah. Lalu Mira. Maaf atas sikapku yang selama ini sangat buruk pada kalian berdua,” ucap Kina.


__ADS_2