
“Ayah, boleh aku berlari lebih cepat?”
“Boleh saja. Tapi kenapa kamu mau melakukan hal melelahkan seperti itu?”
“Karena aku merasa bebas jika terus berlari.”
“Oh, maksudmu adalah ingin menjadi pelari tercepat. Bukankah begitu?”
Kilas balik bayangan yang dilihat Mira, adalah milik Kina. Sewaktu kecil dirinya memimpikan cita-cita yang bisa dianggap sungguh luar biasa. Keinginannya untuk menjadi pelari tercepat sudah tertanam dari lahir hingga saat ini.
Kina pernah berkata, “Aku akan merasa bebas jika bisa berlari lebih cepat!” Entah apa maksud perkataannya saat kecil itu, namun itu terdengar mengagumkan bagi Mira.
Ingatan itu perlahan beralih ke arah hal lain. Semasa sekolah, setiap kali ada kegiatan olahraga lari maka ialah yang paling tercepat. Bahkan mengalah-ngalahkan perempuan atau laki-laki lainnya. Kemampuan serta bakat itu kian menguat, kesehariannya tak pernah lepas dari yang namanya "berlari".
Sepanjang dan selama apakah batasannya, terkadang Kina mengukur kekuatan itu sendiri. Setiap kali ia berpikir untuk membuat rekor barunya. Maka saat itulah ia akan semakin cepat.
“Ayah, aku menang lomba lari!”
“Oh, bagus, bagus. Bagus sekali!” Sang Ayah pun selalu menyanjungnya tanpa henti. Ia sangat mengakui kehebatan putrinya itu.
Ada hal lain yang Mira pikirkan, dari kecil hingga semasa sekolahnya. Bahkan hingga saat ini, tak pernah sekali Mira melihat Ibu Kina.
“Apa dari dulu hanya ada Ayahnya?” pikir Kina.
Bayangan ingatan itu kemudian terbenam dalam gelapnya danau hitam. Sekitarnya pun terdapat dinding segelap isi pikiran dan hati Kina saat ini. Kegelapannya semakin meningkat, monster-monster yang hidup pun mulai bermunculan dari rawa-rawa hitam pekat.
“Apa? Apa? Ada apa ini?”
Semula merasa tenang, dan kemudian mereka semua bermunculan. Satu persatu dari monster-monster yang hidup itu, mengambil wujud manusia yang sama yakni Kina.
“Kenapa kau melakukan itu?”
“Kenapa saat itu kau ada di sana?”
__ADS_1
“Seharusnya kau menyingkir!”
“Pergilah!”
Satu dari yang lain mereka mulai membicarakan sesuatu. Ya, apa lagi jika itu bukan menyangkut masalah Kina.
Saat itu usianya masih belia, sekitar 12 tahun. Usia yang masih sangat kecil itu, harus mengalami nasib yang begitu malang. Kedua kakinya hancur setelah ban truk bagian belakang melindasnya.
Temannya Kina bahkan Mira sendiri tidak membantu, saking syok karena kejadian itu terjadi tepat di depan mata mereka. Sementara Kina mengerang kesakitan luar biasa.
Mira akui, dirinya menyesal karena tidak bisa membantu apa pun saat itu. Dan karena ketakutan, ia hanya bisa melarikan diri.
“Ma-maaf ...,” Tanpa sadar ia kembali mengucapkan permintaan maaf meski Kina saat ini tidak mendengarnya.
Setelah diberitahukan bahwa kedua tulang kakinya hancur. Maka sudah tidak dapat dipastikan lagi dirinya tidak bisa berjalan seperti orang lainnya. Ia harus merelakan cita-citanya sebagai pelari tercepat serta waktu dan hanya bisa duduk diam di atas kursi roda itu saja.
Kemalangan tak berhenti sampai situ saja. Teman-temannya yang biasa datang berkunjung sekarang tidak lagi. Kina juga telah berhenti sekolah karena menanggung malu serta rasa penderitaan akibat dirundung oleh teman sekelasnya sendiri.
Lalu, rasa iri, dendam, dan rasa tidak rela karena nasibnya saat ini membuat sifatnya berubah drastis. Kebencian dan dendam diarahkan pada Mira, keirian terus muncul setiap kali melihat banyak orang berjalan di atas jalanan beraspal dengan tenang sementara ia tidak bisa.
“Jadi benar, ini semua salahku?” Mira bergumam lirih.
Meskipun begitu, ia merasa ini bukanlah kesalahannya. Karena yakin bahwa dirinya bukanlah gadis membawa nasib buruk seperti kata orang. Namun, ia pun tetap tak pernah meninggalkan siapa pun yang membutuhkan bantuan.
Ketika seorang nenek yang berjalan sendirian, atau bahkan seseorang yang menjatuhkan barangnya dengan sengaja. Walau semua orang berpikiran buruk, ia tetap melakukan keinginannya untuk membantu. Sama seperti saat ini.
Ia menjulurkan tangan dan meraih pundak Kina dari belakang.
“Pergilah!” Kina justru berteriak padanya lalu menepis tangan Mira agar menjauh.
Ya, ini adalah reaksi orang biasa. Sudah biasa Mira diperlakukan seperti ini.
“Kina, mungkin saat ini kamu tidak mendengarkanku. Tapi aku juga turut prihatin terhadap apa yang telah terjadi padamu. Aku sangat khawatir.”
__ADS_1
“Kenapa kamu khawatir padaku? Itu bukanlah urusanmu!”
Hembusan angin datang tiba-tiba saat Kina menoleh ke belakang. Dengan tulang leher yang terpelintir, ia juga menatap Mira dengan kebencian yang semakin dalam. Kedua matanya berubah, pupil yang putih menjadi hitam sekelam hatinya saat ini.
Mira tersentak, akibat hembusan tersebut pun ia jadi terjatuh di belakang kursi rodanya.
“Mengerikan ...aku takut,” ucap Mira menundukkan kepala. Benar ia takut sampai tubuhnya bergemetar tak beraturan, tapi ia tetap kukuh terhadap pendiriannya.
Kembali ia menjulurkan tangan tuk menggapai Kina, serta tak lupa ia mengalihkan pandangan dari danau air hitam kini menatap Kina yang sedang kesakitan.
“Dengar Kina, meskipun kakimu sudah tidak bisa digunakan tapi bukan berarti kamu sudah mati. Ingatlah Kina, kamu masih mempunyai keluarga. Jadi kembalilah seperti dulu, kamu yang periang.”
Ia berharap Kina merelakan semuanya, dengan begitu beban berat tak akan ditanggung olehnya sendirian. Harapannya mungkin tak pernah memudar namun Mira masih sadar bahwa ini takkan semudah membalikkan telapak tangan.
“Kina ...Kina!”
Berulang kali ia mencoba memanggil Kina, selagi berharap Kina kembali seperti sedia kala. Tak apa ketus, asalkan ia kembali, itulah yang Mira pikirkan.
Beberapa dari perwujudan kebencian menyerupai wajah Kina mendatangi Mira dari belakang. Mereka berjumlah empat dan mengerubungi wajah Mira, gigi mereka yang bertaring tampak mengerikan. Lantas Mira memejamkan mata guna menghalau bayangan hantu tersebut.
“Pergilah! Pergilah! Pergilah! Pergilah! Monster! Pergilah!!!” teriak Mira dengan tetap memejamkan mata.
Ia berusaha menekan rasa takut dan mencoba untuk kembali menyadarkan Kina. Lagi-lagi Kina berbalik badan, ia enggan menatap Mira sekalipun Mira berada di bawahnya saat ini.
“Kina ...!”
PLAK!!
Dalam kenyataan, jeratan dari dua ekor mahluk hitam berada di kedua kakinya. Tak lagi semakin membesar dan tetap pada bentuknya seperti semula. Dan kesadaran mereka yang terhubung telah terputus saat ketika Kina menepis tangan Mira yang hendak mendekapnya dari belakang.
“Berani sekali kau mengintip ingatanku?! Dasar kau ...!”
Hubungan di antara mereka tidak semakin kuat justru merenggang atau bahkan mungkin terputus sekarang. Dengan kesal, Kina berbalik dan mulai menggerakkan kursi roda sendiri untuk segera kembali ke rumahnya.
__ADS_1
“Tidak mungkin ...tidak ...! Tidak, Kina. Kumohon ...jangan ...aku ...takut! Perasaan apa itu sebelumnya?”
Sementara Mira tercengang. Ia nampak syok akibat tekanan batin yang dipenuhi kebencian saat menyelami alam kesadaran Kina sebelumnya.