Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 22


__ADS_3

Detik demi detik terus berjalan tanpa henti. Toko Barang Antik yang semula baik-baik saja kini melekat dengan adanya sosok tak kasat mata dan supernatural. Hal-hal yang tak masuk akal telah menjadi teror bagi mereka yang berada di dalam sana.


Tak peduli seberapa keras mencoba untuk keluar dari sana, ataupun dengan cara lain seperti berteriak pada seseorang yang kebetulan melintas juga tidak akan ada perubahan. Mira, Kina lalu Ayah Kina tetap terjebak di dalam sana entah seberapa lamanya itu.


Terakhir kali, semua jalan keluar termasuk pintu maupun jendela sepenuhnya tertutup rapat, tidak bisa dibuka bahkan dirusak akan kembali pulih secara tak wajar. Lalu, Kina yang menjerit tiba-tiba ditemukan tak sadarkan diri dengan punggung yang melekat pada dinding. Seolah ia disandera, dan menurut penglihatan Mira, Kina terjerat sesuatu yang berwarna hitam. Mirip dengan slime.


“ARGHHH!!”


Di mana sekali saja menyentuh hitam-hitam itu akan membuatnya meleleh namun ada satu pengecualian sebab Kina masih baik-baik saja sampai saat ini. Namun Ayah Kina tak mengindahkan peringatan Mira, ia bergerak dan menahan kedua lengan sosok hitam mirip dengan manusia tak bertulang, alhasil telapak tangannya pun memanas.


“Paman!!”


Rasa sakitnya tidak hanya sampai situ saja. Kulitnya mulai terkelupas, di mana ia menyentuh lengan tak bertulang tersebut. Ia mengerang kesakitan, berusaha untuk menahannya.


“Paman, tunggu sebentar!”


Mira berniat membantunya, namun karena itulah ia menjadi sasaran empuk bagi mahluk tersebut. Memindahkan target, Mira menjadi sasaran pentingnya, ia mencekik lehernya sampai kedua kaki Mira tak lagi menapaki lantai.


Keduanya dalam kondisi yang sama-sama sulit. Tidak ada kata tanya, "Kapan", untuk malam ini akan berakhir selama teror masih berlanjut hingga saat ini. Bahkan Toko Barang Antik, terlihat dari luar baik-baik saja. Tidak ada seseorang mencurigai sebab mereka melihat toko itu sudah tutup, itu saja.


Tetapi, ada pula beberapa di antara mereka yang melintas, merasakan hawa tidak enak di sekitar sana. Dan karena rasa takut, mereka lebih memilih untuk menghindar daripada terlibat yang tidak-tidak.


“Pa ...man!” Kesadarannya perlahan memudar, Mira berjuang sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Walau sangat sulit, terlebih lengan tak bertulang yang lunak benar-benar membuatnya jengkel.


Kadang kala ia tidak bisa memegangnya dengan benar saking lunaknya mahluk itu, namun juga terkadang ada suatu waktu tulangnya mengeras dan itu terjadi saat mahluk ini mengeratkan cekikannya pada Mira.


Mira memanfaatkannya, saat ketika tulang mengeras, ia memukul lengan yang sama dengan yang mencekik lehernya sekuat tenaga. Tidak butuh waktu lama hingga lengan tak bertulang itu akhirnya terbagi menjadi dua. Namun itu hanya bersifat sementara, dan Mira bergegas melarikan diri dan menuju ke tempat Ayah Kina.


“Paman! Paman tidak apa-apa?”


“Ti-tidak ...aku tidak mungkin baik-baik saja setelah semua ini. Tapi bagaimana ...denganmu?” Suaranya yang bergetar, masih saja ia mengkhawatirkan orang lain daripada dirinya sendiri.


Sama seperti Mira.

__ADS_1


“Ya, tidak masalah. Ayo cepat pergi dari sini Paman. Setidaknya naik ke atas saja.”


“Tapi bagaimana dengan Kina? Aku tidak mau meninggalkannya.”


“Untuk itu ...akan saya usahakan. Lagi pula mereka tidak akan bisa langsung melahapnya.”


“Melahapnya?”


Tidak ada waktu lagi, atau nanti akan benar-benar terbunuh dalam sekejap oleh sesosok tersebut. Secepatnya Mira menarik tangan paman, dan berlari menuju ke lantai atas. Mempercepat langkah kakinya lantas masuk ke dalam salah satu ruangan guna bersembunyi.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ada orang seperti itu?” Ayah Kina bertanya-tanya mengenai sosok yang sempat dihadapinya.


Sembari membantu mengobati telapak tangannya Mira menyahut, “Itu bukan orang, paman. Mereka itu sejenis hantu.”


“Tapi kenapa aku baru melihatnya sekarang?”


“Apa maksud paman?”


“Tidak hanya kamu, kakakku juga melihatnya. Hantu atau apalah itu. Tapi tidak satu dari kalian yang melakukan sesuatu untuk itu sebelum semua ini terjadi, kenapa?”


“Emosi negatif? Maksudmu Kina yang suka sekali marah-marah adalah penyebabnya?” pikir Ayah Kina.


“Ya. Seperti itulah.”


“Tapi bukankah kamu sudah membuatnya lebih tenang?”


Pertanyaan itu yang paling sulit dijawab untuk saat ini. Kilas bayangannya dalam benak sebelum ini membuat pikiran Mira menjadi tumpul tanpa disadari. Dan tentunya ia tidak bisa menjawab pertanyaan terakhir dari paman, sebab dirinya sendiri saja tidak mengerti kenapa hal itu terjadi saat ini.


'Dari yang menjadi besar, lalu mengecil saat aku di sana. Tapi sekarang lebih dari sekadar besar saja, bahkan mereka sudah mulai menguasai wujud hidup. Aku akui ini memang aneh,' batin Mira.


Selang beberapa lama, tidak ada tanda-tanda kehadiran sosok tersebut mendekati mereka. Untuk saat ini, keduanya merasa lega dan bersembunyi di sini juga sangat aman.


“Dia tidak mengejar?”

__ADS_1


“Aku pikir tidak karena dia mungkin masih berada di bawah. Iya, di bawah,” ucap Mira sambil menundukkan kepala.


Apa yang dilihatnya seakan tembus pandang, sehingga tahu bahwa mahluk tersebut masih berada di bawah.


“Dia bergerak saat kita bersuara, atau mungkin langkah kaki kita yang menjadi penyebabnya?”


“Paman, mungkin saja begitu. Tapi, dia tidak mengejar saat kita menaiki tangga.”


“Oh, mungkinkah karena lengannya terputus?” pikir paman.


“Itu mungkin saja.”


Tidak ada jawaban yang jelas. Terlebih ini adalah kali pertama melihat emosi negatif telah berwujud ke tahap ini, di mana sosok yang tak dapat diprediksi itu memiliki kehendaknya sendiri.


“Kalau terus dibiarkan, Kina akan dalam bahaya.”


Perlahan ia membuka pintu, paman menghentikan langkah Mira sebab ia khawatir bila nanti sosok yang sama akan menyadarinya.


“Tunggu Mira. Jangan terlalu terburu-buru.” Paman menggelengkan kepala, memohon agar Mira tetap berada di dalam ruangan.


“Tenang saja paman. Aku akan baik-baik saja. Dan aku pastikan Kina tetap selamat,” ucap Mira mengulas senyum. Ia masih bisa tenang saja sudah menjadi keajaiban sekaligus keanehan yang membuat Ayah Kina heran.


“Sebenarnya kamu itu siapa?” Ayah Kina bertanya-tanya mengenai jati diri Mira namun sebelum berhasil ditanyakan, Mira telah pergi meninggalkan dirinya.


Paman tua itu mendesah lelah lantas menggerutu, “Hah ...aku jadi lebih payah dari seorang gadis pemberani. Putriku dalam bahaya sementara aku hanya bisa bersembunyi. Dasar menyedihkan.”


Ia pun memutuskan untuk mengikuti langkah Mira. Ia keluar dari tempat persembunyiannya. Sedang Mira telah menuruni tangga. Sampai saat ini tidak ada tanda-tanda akan diserang, selain keadaan kembali normal dengan pintu depan toko dapat dibuka.


“Ini bagus.”


“Mira, paman akan ikut denganmu. Mari kita ke kamar Kina.”


“Iya paman.”

__ADS_1


Tetapi, kejadian normal tidak berlaku dalam kamar Kina. Pintu terbuka lebar seolah mempersilahkan masuk, paman dan Mira tak melihat keberadaan Kina sama sekali.


__ADS_2