Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 9


__ADS_3

Hari ini adalah hari kelulusan serta hari bahagia para murid kelas 3 smp. Mereka akan berekreasi di suatu tempat yang tentunya akan membuat mereka senang.


Sementara Mira hanya bisa melihat dari kejauhan. Ia berdiri di luar gerbang sekolah, melihat teman-teman sekelasnya yang naik ke kendaraan umum, yakni bus. Satu persatu dari mereka masuk dan kemudian bus pun akhirnya mulai berjalan keluar menuju ke jalan raya.


“Mereka akan berangkat. Sudah seharusnya aku pergi.”


Itu memang bukan kewajiban Mira, tapi ia ingin saja melakukan hal sia-sia itu.


Setelah merasa puas melihat teman-temannya pergi, Mira akhirnya kembali ke rumah. Akan tetapi sebelum pulang, ia sempat berhenti di depan toko barang antik. Sesekali pelanggan masuk-keluar dari sana. Ada seorang pria, tak lain adalah paman itu.


“Paman!” Mira menyapa ramah seraya melambaikan tangannya.


“Mira, mau mampir?” tanya paman.


“Tidak. Tidak perlu. Terima kasih.”


Hari ini, tidak ada yang bisa ia lakukan selain berjalan sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya sendiri. Saat dirinya hendak membuka pintu rumah, ia tiba-tiba saja mengurungkan niatnya untuk masuk lantas pergi ke suatu tempat tertentu.


Kadang-kadang ia melewati jalan sempit untuk menuju ke sebuah taman. Melihat taman yang begitu ramai, ia kemudian beralih ke tempat lain.


“Hei!”


“Aaa!! Apa?!” Reflek, Mira berjinjit, lantas berbalik badan sembari berteriak keras. Saking ia terkejutnya, Mira hampir saja jatuh tersandung.


Ia berpikir ada seseorang yang mengagetinya dari belakang, namun sekarang ia tidak melihat apa-apa. Mira pun bingung.


“Eh? Apa aku salah dengar?” pikir Mira.


Seharusnya Mira tidak akan pernah disapa oleh orang lain seperti sebelumnya. Di sekitarnya juga tidak ada siapa-siapa kecuali angin berembus.


“Aku melindur? Hanya karena kurang tidur? Tidak. Tidak mungkin.”


Sejenak Mira terdiam sembari melipat kedua lengannya ke depan dada. Dengan mata terpejam, ia mencoba untuk berpikir siapa yang barusan memanggil.


“Hantu?” Munculah jawaban yang tak terpikirkan sebelumnya.


“Tidak mungkin!” Kemudian ia menyangkal, lantas tertawa bahak-bahak. Ia tertawa sendirian sampai orang-orang yang bahkan berada jauh darinya sempat bergosip tentang Mira.


Masing-masing dari mereka telah mengganggap Mira sudah tidak waras karena tertawa sendirian. Alhasil mereka semua menyadari keberadaan Mira.


Buru-buru Mira pergi dari sana. Ia saat ini sedang menuju ke sebuah lapangan, lapangan yang biasa digunakan oleh anak-anak untuk bermain sekaligus berolahraga. Biasanya sepak bola.

__ADS_1


“Hari ini banyak sekali orangnya.”


Tapi, di lapangan itu pun juga banyak sekali anak-anak bermain. Mira jadi semakin bingung, akan pergi ke mana saat itu.


Dan lagi, terjadi hal yang sama.


“Hei! Kamu dengar tidak?!”


Kali ini, suaranya lebih nyaring dan ada tambahan kalimat. Mira yang tiba-tiba saja mendengar suara tersebut, memilih untuk melarikan diri dengan wajah ketakutan. Ia berlari sekuat tenaga, sampai menuju ke sebuah gang kecil yang letaknya cukup jauh dari rumahnya sendiri.


“Hei, dengar tidak?”


“AAAAAA!!!” Jeritan Mira sungguh luar biasa. Teriakannya sampai terdengar hingga ke jalan raya bahkan ke taman bermain yang seharusnya sangat jauh dari sana.


Mendengar suara-suara yang memanggil, tentu membuat Mira ketakutan. Ia tak dapat melihat siapa yang bersuara itu. Bahkan sekarang, tanpa melarikan diri namun dengan tubuh yang gemetaran ia mencoba untuk mencari sumbernya.


“Dengar tidak? Aku di sini. Di sini, di punggungmu,” ucap seseorang.


Ia menelan ludah, memberanikan dirinya untuk melihat sesuatu yang barusan ia rasakan ada yang berjalan dari punggung ke pundak kirinya. Kedua mata Mira bersiap melihat sesuatu.


“Sia—”


Baru saja ia melihatnya, siapa sangka itu adalah sosok Kina dengan leher yang terpelintir. Sontak terkejut, lantas ia pun terbangun dari ranjang tidurnya.


“Oh iya, hari ini harinya mereka rekreasi. Juga kelulusan ...atau wisuda, atau apalah itu.”


Ia teringat, dirinya berada di rumah bukan sedang berjalan-jalan keluar. Meski rasanya seperti nyata hingga tubuh Mira sendiri bergidik merinding, Mira meyakinkan diri bahwa itu hanyalah mimpi.


“Kina. Kina ...apa kamu baik-baik saja?”


Mimpi yang mengerikan itu tak kunjung menghilang. Yang kemudian beralih menjadi perasaan cemas terhadap Kina, teman semasa kecil.


“Kina!!”


Barusan teringat bahwa masalah yang diemban oleh Kina sendiri belumlah terselesaikan. Takut bila itu akan semakin memburuk, lekas Mira menuju ke tempatnya.


“Kina!”


“Ada apa Mira? Hari ini kamu terlihat gelisah.” Bukan Kina yang menjawab melainkan paman.


“Ma-maaf menganggu. Kina bagaimana? Apa dia baik-baik saja?” tanya Mira.

__ADS_1


Paman mempersilahkan Mira masuk, dan mengatakan bahwa Kina baik-baik saja. Ketika Kina dan Mira saling bertukar tatap, seperti biasa Kina langsung mengalihkan pandangannya dan pergi. Sedang Mira merasa ada sesuatu, tubuhnya saat ini masih merasakan kengeriannya.


“Apa aku masih ketakutan?” pikir Mira seraya menggenggam tangannya.


“Ada apa Mira?”


“Tidak. Tidak ada apa-apa.” Mira menggelengkan kepala lalu tersenyum.


“Mira. Aku dengar ini hari kelulusanmu. Bagaimana? Apa kamu mau aku antar?”


“Itu tidak perlu, paman. Aku sudah diberikan ijazah dan lain-lainnya. Saat ini aku sudah dianggap lulus.”


Paman tersenyum lantas berkata, “Begitu. Selamat sudah lulus. Kamu sudah berjuang keras untuk bertahan hidup dan tetap pertahankan nilai-nilaimu ya!” Paman nampak sangat semangat.


Pujian sebatas ucapan saja telah membuat Mira senang. Ia kemudian tertawa kecil menanggapi pujian tersebut lantas mengucapkan rasa terima kasih.


Walau itu hanya bersifat sementara. Sebab Mira masih merasa aneh saat bertukar tatap dengan Kina sebelumnya.


“Paman, apa Kina tidak sekolah?”


Ekspresi paman seketika berubah drastis.


“Dia sudah tidak mau.”


“Maaf aku malah menyinggung hal itu, paman!” Teringat bahwa pembahasan itu membuat hati seseorang merasa gundah. Mira lekas meminta maaf karena telah menyinggung perasaannya.


“Tidak apa, nak. Kina tidak mau lagi sekolah, tapi bukan berarti dia berhenti belajar. Dia anak yang rajin. Aku juga ingin memberitahumu kalau Kina tidak ingin sekolah karena teman-temannya.”


Tanpa bertanya lebih lanjut lagi, Mira langsung tahu apa maksud ucapan paman selaku Ayah dari Kina.


“Maaf aku menyinggung hal itu, paman.”


“Tidak. Tidak apa-apa. Aku juga ingin kamu mendengar hal ini.”


“AYAH!!” Jeritan Kina lagi-lagi terdengar dari dalam kamarnya. Sepertinya ia marah karena sang Ayah membicarakan sesuatu di belakangnya.


Keduanya pun langsung terdiam begitu saja.


“Jangan mengatakan hal-hal seperti itu! Memangnya dia siapa aku?! Nggak usah ikut campur segala!” pekik Kina yang semakin lama semakin menjadi.


“Ma-maaf.” Lirih-lirih Mira mengatakannya.

__ADS_1


Sekali lagi Mira yang bertelinga cukup lebar itu kembali berteriak dengan sangat keras, “AWAS YA!”


__ADS_2