Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 35. Gagal Mengutuk


__ADS_3

“Bohong.“


Ania menolak percaya atas apa yang ia lihat saat itu, dirinya yang berpikir telah sukses melakukannya kini sepenuhnya dibungkam. Tak berpikir bahwa perkataan Mira sebelumnya benar-benar nyata.


“Kamu hidup lagi? Bohong. Aku pasti melakukan kesalahan lagi.”


Mira meraih pergelangan tangannya sembari berkata, “Tolong jangan lebih dari ini. Kamu lah yang paling tahu area mana yang berupa titik vital. Apa aku salah?”


Ania tak bisa berkutik lagi. Ia sepenuhnya terdiam tanpa tanggapan atau sahutan sama sekali. Meski begitu, ia mencoba untuk mencerna kejadian ini.


“Abadi, 'kah?”


“Yah, begitulah. Aku tidak mau mengatakannya terang-terangan pada orang biasa karena mereka pasti akan menatapku jijik atau takut. Tapi siapa sangka kalau orang yang sama tidak biasanya sepertiku juga bersikap sama.”


“Ah, itu. Bukankah aneh? Kalau dipikir secara logika, mana ada manusia abadi. Kecuali kebal, aku berpikir itu mungkin saja ada.”


“Yang kamu katakan itu benar juga. Tapi beginilah aku, aku tidak tahu apa yang terjadi —”


“Sudah kubilang kamu bukan bagian dari dunia ini, tahu,” sahut sosok itu.


“Diamlah!” Tanpa sadar ia meninggikan suara, seolah menyentak gadis itu.


“A-apa?!” Ania yang gampang panik, ia kembali menjaga jarak sembari bertanya namun dengan ucapan terbata-bata.


“Maaf, Ania! Bukan maksudku berkata seperti itu padamu. Ini ...ini karena ...,”


Mira kesulitan mendapatkan alasan, ia mulai gelisah sebab takut apabila nanti Ania mulai menyadari sesuatu hal lain. Terlebih sosok misterius yang memiliki suara berat seperti laki-laki itu selalu muncul tidak terduga. Meski tidak secara wujud fisik melainkan suaranya saja tetaplah menganggu Mira hingga saat ini.


“Hahaha! Lihat dirimu yang kelabakan karena tidak punya alasan!” Dan sekarang ia mengejek Mira habis-habisan.


“Karena? Sudah kuduga ...di sini ada hantu bukan? Hantu yang hanya bisa dilihat olehmu dan bukan aku? Aku jadi yakin, itu pasti karena dirinya sehingga boneka terkutukku tidak bekerja dengan baik,” cerocos Ania.


“Aku rasa bukan Ania. Sebenarnya hantu atau apalah itu, dia selalu mengangguku,” ucap Mira yang sampai saat ini masih mendengar suara tawanya.


“Bukan? Dia hantu yang menganggumu? Kau terjebak dengannya?”


“Yah, kurang lebih begitu. Aku tidak tahu siapa dia, wujudnya saja tidak bisa aku lihat. Selain suaranya.”


“Kalau begitu, jangan katakan kamu bersikap aneh karena hantu itu ingin melakukan sesuatu terhadapku ya?” duga Ania.


Tidak disangka, otak gadis ini cukup encer sehingga bukan karena asal berpikir panjang, melainkan cara berpikir melalui beberapa petunjuk yang tidak sengaja ditinggalkan.


“A-ah ...begitulah.” Saking bingungnya harus menjawab bagaimana, Mira jadi ikut panik padahal sosok itu tidak berhubungan dengan Mira, setidaknya itulah yang ia pikir.


“Hantu, hantu, hantu, iblis. Ya ampun, semuanya kacau balau begitu. Aku jadi tidak yakin apakah semua yang kau katakan itu benar. Tapi setelah melihatmu yang aneh, aku jadi tidak bisa berkata-kata.”


“Jadi Ania, hari sudah malam. Apa kamu ingin menginap di sini? Aku rasa tidak baik bagi perempuan pergi selarut ini.”


“Tidak perlu.” Ania mengangkat telapak tangan, menolak mentah-mentah.


“Begitukah?”


“Untuk hari ini aku gagal membunuhmu, tapi lain kali ini tidak akan terjadi. Camkan itu baik-baik dalam ingatanmu, Mira.”


“Ya?”


Rupanya segigih itu Ania hendak menghabisi Mira. Bahkan setelah upayanya gagal, ia hendak mencobanya di lain waktu.


“Ania, bukankah seharusnya kamu tidak perlu melakukan hal-hal seperti itu?” pikir Mira.


“Ini bukan urusanmu. Silahkan kau melapor pada siapa pun tapi perlu kau ingat, tidak ada satu orang pun yang mampu menghentikan diriku!” ucap Ania mempertegas kalimatnya lantas pergi meninggalkan kamar kontrakan ini.


Setelah kepergian Ania, entah mengapa Mira merasa sepi. Tiada seorang pun yang bisa diajaknya bicara selain sosok tak dikenal yang lebih suka menganggu daripada membantu. Mira akui, ia sosok menyebalkan dan ingin sekali ia mengusirnya tapi sayangnya ia merasa itu mustahil.


“Hei, Mira. Apa menurutmu dia bisa membunuhmu?” tanya si sesosok tersebut.


“Berisik sekali kau ini. Kalaupun dia bisa itu justru menjadi keuntungan bagiku.”


“Eh, kupikir kau akan lebih senang jika hidup dan berteman dengan orang tak biasa seperti gadis itu.”


“Yang kau pikirkan tidaklah salah, tapi kalau kau yang bilang aku jadi jengkel.”


“Apa itu? Menyindirku? Haha.”


Sesosok yang sampai saat ini belum menunjukkan wujudnya namun hanya sekadar suara saja tetaplah menjengkelkan. Apalagi ia memiliki kepribadian sok ikut campur dan sok tahu, semakin kesal lah Mira terhadapnya.


“Mira, aku pinjam punggungmu.” Setelah ia mengatakan ini, punggung Mira terasa berat.


“Hei! Apa yang kau lakukan?!” pekik Mira.


“Aku 'kan sudah bilang, pinjam punggungmu. Maksudku aku ingin bersandar ke punggungmu,” ujar sosok tersebut.

__ADS_1


“Hentikan! Jangan seenaknya bersandar pada punggung perempuan. Kau lebih baik pergi!”


“Tidak mau. Kenapa aku harus melakukan perintahmu?”


“Jangan anggap seenaknya sendiri. Lagi pula pulang atau tidaknya, atau apa pun maksudmu aku tidak akan melakukannya sesuai yang kau katakan!” amuk Mira semakin lama semakin menjadi.


“Apa katamu? Sudah turuti saja kalau kau ingin aman, Mira. Ini yang terbaik untukmu, daripada harus bersama dengan manusia yang selalu menatapmu rendahan,” ujarnya.


Setiap ungkapan darinya terasa masuk akal, namun Mira tidak bisa menerimanya begitu saja.


“Terserah kau bicara apa. Aku bosan berbicara terus denganmu,” ucap Mira.


Ia kemudian berbaring di alas tidur dengan nyenyak sembari berselimut hangat. Malam ini terasa begitu dingin, dan semakin membuatnya terasa nyaman.


“Ah, lelah sekali. Tapi di sini enak.”


Kecuali satu hal,


“Hei, kau tidur di sini ya?!”


Mira langsung sadar bahwa sosok satu ini telah berbagi selimut dengannya tanpa ia sadari sebelum ini terjadi. Kesal, ia langsung menyingkirkan selimutnya begitu saja.


“Hei! Jangan sembarangan!”


“Apa sih? Aku 'kan hanya ingin tidur bersamamu saja. Lagipula aku tidak akan berbuat iseng. Jadi tenang saja.”


“Dasar hantu yang tidak punya harga diri. Karena kau, aku selalu terlibat masalah.”


Mira mengambil gelas kosong yang terletak tak berada jauh dari jangkauannya, begitu ia merasakan sedikit kehadiran sosok tersebut, ia langsung melemparnya begitu saja.


Namun bukannya mengenai si target, gelas itu justru terlempar ke arah luar. Secara kebetulan pintunya terbuka dari luar dan kemudian gelasnya pecah tepat berada di samping seseorang.


“Eh, pintunya masih terbuka? Bukankah aku sebelumnya sudah menguncinya?”


“Mira!!!” Jeritan khas dari Ibu pemilik kontrakan, seketika membuat telinganya pekak. Di malam selarut ini, tentu jeritannya akan membangunkan sebagian orang yang ada di kawasan kontrakan.


“Maaf, bu. Saya berjanji tidak akan mengulanginya.” Alhasil yang harus ia lakukan tak lain adalah meminta maaf dengan berlutut sepenuh hati.


“Hahaha! Salah sasaran, deh!”


Ia melakukannya hanya demi mendapat maaf, sementara sosok kurang ajar itu justru tertawa bahak-bahak. Mira berusaha menahan rasa kesal dengan mengepalkan kedua tangannya erat-erat.


***


“Aku jadi berpikir, kenapa Mira bisa masuk ke kelas ini? Padahal kalau dilihat-lihat Mira itu tipe yang ramah,” sahut salah seorang murid perempuan.


Salah satu pertanyaan itu, mendukung keyakinan Mira sendiri. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidaklah se-sampah itu sampai harus dibuang ke kelas ini. Namun ia sedikit mengerti tentang alasan mengapa dirinya ada di sini.


'Pasti karena para guru di sekolahku yang lama mengatakan bahwa aku ini bermasalah. Apalagi aku dianggap dikutuk atau sejenisnya,' batin Mira.


Dan benar, itulah satu-satunya alasan mengapa ia berada di sini saat ini. Tapi apa pun itu Mira tidak begitu memperdulikannya. Asalkan ia dapat belajar dengan giat, itu sudah cukup.


“Yang kau katakan benar. Mira itu baik, murah senyum, suaranya lembut, wajahnya juga polos dan dia rajin. Jadi apa masalahnya?”


“Mungkin karena nilai?”


Tersentak, ibarat benda tajam telah menghujam bagian dadanya setelah mendengar pernyataan kemungkinan dari murid lainnya.


Tapi itu benar, itu adalah alasan kedua mengapa Mira berada di sini.


“Ah, ya. Aku memang tidak begitu pintar. Aku juga nyaris gagal. Ini sungguh memalukan.”


“Haha, tidak masalah. Bagiku itu lebih baik daripada jadi pembuat onar. Karena jika kau terlalu sempurna maka kami tidak akan bisa melakukan apa pun.”


Mereka semua yang asik berkumpul di mejanya, sibuk bergosip atau saling bercerita satu sama lain. Mereka dengan Mira sudah begitu akrab kecuali Ania yang masih memantau situasinya dari baris kedua meja.


“Hei, lihat itu. Tatapan dia,” bisiknya, seraya melirik ke seseorang.


“Dia?”


“Oh, itu si dia. Ania ya? Kenapa dia melihat kemari? Apa yang dia butuhkan?”


“Hei, dia sepertinya melirik Mira.”


“Apa-apaan dia itu? Dia sama sekali tidak berubah ya. Menjengkelkan.”


Banyak dari mereka memperingati Mira akan sosok Ania itu. Ia memiliki ekspresi ngeri di wajahnya yang kadangkala membuat mereka bergidik, Mira paham akan hal itu. Dan dirinya tahu kenapa saat ini Ania melirik dirinya.


Tapi, Mira selalu berusaha meyakinkan orang untuk jangan melihat wajahnya melainkan hatinya.


“Aku pikir dia hanyalah kesepian.”

__ADS_1


“Jangan berkata begitu. Dia itu sejak lahir sudah ditakdirkan untuk sendirian. Dia tidak pantas bersama kita, dia itu seperti penyihir jadi lebih baik jangan dekati dia, Mira.”


Tetapi, tak semua orang mampu merubah hatinya dalam sekejap hanya karena mendengar pernyataan sepihak seperti ini.


“Begitu. Baiklah, terserah kalian saja.”


Dugaan Mira memang sudah benar sejak awal, bahwa keberadaan Mira dan Ania yang tidak biasa bagi orang-orang sekitar takkan dapat dimengerti dengan baik oleh mereka.


Teman-teman Mira yang saat ini mengelilinginya, mungkin suatu saat nanti apabila mereka tahu siapa Mira maka mereka akan mulai menjauhinya.


'Mungkin sekarang aku aman. Tapi aku tidak mau terus berhubungan dengan orang-orang biasa, takut jika mereka tahu tentangku dan aku juga takut jika mereka aku sakiti tanpa sadar,' batin Mira. Dirinya sendiri menganggap bahwa ia masihlah pembawa nasib malang.


Mira juga takkan membiarkan orang-orang biasa akrab dengannya, sebab itu akan membawa malapetaka bagi mereka sendiri. Sebagai salah satu contohnya, Kina. Ataupun kedua orang tua Mira sendiri.


“Mira, lain kali mainlah ke rumahku ya!”


“Oh, iya, lain kali saja ya.”


***


Dua jam pelajaran berakhir, masa yang tersisa sembari menunggu dua jam lagi yang akan datang, digunakan untuk waktu istirahat sejenak. Semua murid akan pergi keluar kelas dan menuju ke kantin secara berbondong-bondong. Daripada urusan pelajaran, nampaknya urusan perut lebih diutamakan oleh mereka. Namun tak hanya itu, setelah diperas otak maka perut pun akan berbunyi sebagai ganti dari energi yang terkuras.


Akan tetapi, Ania tidaklah seperti itu. Ia selalu duduk di halaman belakang, yang kadangkala sepi akan murid di sana. Ia selalu sendirian bersama dengan boneka kecilnya yang kerap kali ia sembunyikan dalam jaket.


Sekilas terlihat seperti anak kecil, namun begitu melihat wajah garangnya, maka mereka akan menarik ungkapan "anak kecil" sekarang juga.


“Kamu sendirian?” Mira memutuskan untuk menghampirinya selagi bisa ia dekati.


“Mau apa kau? Tenang saja, aku tidak akan menghabisimu di sekolah, karena jika aku lakukan itu maka sekolah akan diliburkan.”


“Ah, aku ke sini bukan untuk memperingatimu atau apa pun yang kamu pikirkan tentangku. Tapi sepertinya kamu tidak suka berlibur ya?”


“Yah, begitulah.”


“Pantas saja. Karena kamu pintar, aku jadi sedikit iri.”


“Tentu saja aku pintar. Mana mungkin aku bisa belajar di hari libur.”


“Begitu. Kamu tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Tapi bukankah di rumahmu akan lebih santai daripada sekolah yang biasa ditentukan setiap jam-nya?”


“Itu ...,”


“Oh, mungkin saja karena adikmu atau siapa pun yang ada di rumahmu ya? Kadang kala aku menemukan keluarga yang cukup berisik, jadi di rumah kalau sedang belajar pasti terganggu,” sahut Mira.


“Jangan sok tahu. Aku di rumah hanya sendirian,” lirih Ania. Tatapan sendu mengarah ke bawah, nampak ia cukup tersinggung dan sedih akibat topik yang diangkat oleh Mira barusan.


“Maaf, sepertinya aku berlebihan.”


“Ya sudah sana pergi,” usir Ania, lantaran ia beranjak dari tempat duduknya dan kemudian pergi meninggalkan Mira.


“Ya ampun, Ania. Padahal aku repot-repot datang menemuimu tapi ini yang aku dapatkan?”


“Siapa yang bilang aku butuh dirimu? Jangan pikir aku tidak tahu maksudmu. Lagi pula bukankah sudah aku bilang bahwa aku tidak perlu belas kasihan darimu?” cetus Ania blak-blakan.


Lidahnya tidak banyak tergigit, kecap bibir selalu lolos dari kata tidak efektif seakan ia adalah mesin yang hanya diciptakan untuk menerjemahkan bahasa.


“Ania, aku 'kan ingin berteman denganmu.”


“Tidak perlu. Kau sudah banyak teman. Dan jangan dekati aku,” ucap Ania, agaknya ia masih takut dengan keberadaan Mira.


Kini Mira yang membuntutinya. Namun suatu ketika sepulang sekolah, Ania kembali membuntuti Mira untuk kali kedua. Mira sama sekali tidak menyadari keberadannya, dan masuk begitu saja ke rumah.


Ia mempercepat waktunya untuk segala hal seperti mengganti pakaian, membasuh muka lalu ia memakan hidangan siap saji yang telah ia beli guna mengisi perut yang sudah lama kosong.


“Baiklah, sekarang waktunya untuk ...,”


Tok, tok!


Suara ketukan pintu terdengar selama dua kali. Mira meletakkan sendok yang sudah ia genggam, lantas membukakan pintu bagi siapa yang barusan mengetuknya.


“Siapa?”


“Ini aku.”


Saking terkejutnya, wajah tamu berada dekat dengan posisi Mira, Mira nyaris terjungkal ke belakang. Ia melangkah mundur dan memastikan bukan orang jahat atau semacamnya yang datang kemari.


“Ania?”


“Bolehkah aku menginap di sini?” tanya Ania sembari memalingkan wajah, ia enggan menatap wajah Mira sementara dirinya tersipu malu setelah meminta sesuatu pada Mira.


“Aku harap kamu tidak keberatan karena di sini sempit.”

__ADS_1


__ADS_2