
Kakak Ayah Kina datang ke rumah mereka guna memastikan keadaan Kina yang dikhawatirkan. Dan ternyata sesuai dugaan si Ayah, Kina benar-benar dalam keadaan bahaya. Situasi itu jelas-jelas terasa bahkan Ayahnya yang tidak bisa melihat aura jahat pun mulai sadar akan sesuatu yang aneh.
“Kita bicarakan ini lain waktu lagi.”
“Eh, kak? Kenapa begitu? Bukankah sekarang waktunya?”
“Jangan bercanda. Untuk saat ini tidak mungkin. Aku tidak bisa melakukannya sekarang.”
“Kenapa? Setidaknya jelaskan alasannya padaku. Dan aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” ujarnya.
“Alasanku, tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa melakukannya sekarang. Selain itu, seharusnya Kina sendiri yang harus melewati cobaan itu.”
“Apa maksudnya?”
“Masalah ini berkaitan dengan permasalahan yang dimiliki oleh Kina sendiri.”
Setelah itu kakaknya pun pergi. Sebetulnya Ayah Kina percaya saja ucapannya namun ia khawatir serta tak tega jika membiarkan Kina untuk saat ini.
Lalu, malam telah tiba. Panggilan antara Kina dan teman-temannya telah lama berakhir dan sekarang Kina sedang berbaring di atas tidurnya. Ia sama sekali tidak makan, tidak berniat sama sekali setelah apa yang diucapkan oleh teman-temannya.
Siapa sangka bahwa sikap mereka berubah, terlebih hal itu terjadi setelah Kina mengalami kecelakaan yang merenggut kedua kakinya yang berharga.
“Semua orang sana saja. Tidak ada yang peduli padaku.”
Sama seperti gelapnya langit pada waktu ini, kamar Kina dipenuhi oleh aura jahat dengan sesuatu yang sama gelapnya melekat ke setiap sudut dinding dengan Kina sebagai pusatnya.
Kedua kaki Kina sudah semakin berat rasanya, namun dengan berbaring di atas ranjang hal itu membuatnya sedikit merasa tenang. Berlarut-larut dalam kekesalannya sendiri, Kina pun tertidur lelap dalam sekejap.
“Sakit!”
Mendengar putri kesayangannya mengeluh kesakitan, pintu kamar itu terbuka oleh Ayahnya sendiri. Ia datang karena cemas, tak lupa ia membawakan segelas air putih untuk berjaga-jaga.
“Kina, tenanglah! Ini minum airnya.”
“Ayah? Kenapa malah masuk ke kamarku begitu saja?” ucap Kina memprotes tindakan Ayahnya.
“Sudah jangan pikirkan hal itu. Minum air putih ini, siapa tahu kamu akan merasa lebih baik.”
“Memangnya ada apa dengan air putih ini?” sahut Kina seraya menerima pemberian itu.
__ADS_1
“Tidak ada yang spesial. Ini hanya air minum biasa.”
Memang secara kebetulan ia membawakannya. Sebab ia memiliki alasan lain sehingga dapat masuk ke dalam kamar. Tubuhnya sejak tadi merasa aneh, bergidik merinding seakan ditatap dari segala arah dalam kamar.
“Ya, ini air putih biasa.”
Setelah menenggaknya hingga tak bersisa, Kina kembali berbaring dan masih saja ia mengeluh kesakitan di bagian bawah tubuhnya.
“Sakit ...sakit sekali.”
“Ada apa? Apa yang sakit? Tunjukkan!” Panik, Ayahnya bertanya apa yang salah.
“Kakiku.”
Kina terus mengerang kesakitan seraya memegangi kedua kakinya. Melihat putrinya sudah tidak berdaya, ia memutuskan untuk menghubungi kakaknya, siapa tahu dapat bantuan lagi.
“Tunggu sebentar, Ayah akan kembali.”
Namun segalanya tak berjalan cukup lancar, tak sekalipun panggilannya diangkat dan semakin lama menunggu semakin ia merasa kasihan terhadap Kina yang terus merasakan kesakitan.
“Ayah! Sakit!! Sakit!!!”
Kini bagian perutnya mulai terasa kaku, seakan tubuhnya telah mulai digerogoti oleh mahluk-mahluk itu. Suara di sekitarnya termasuk suara dari Ayah tidak lagi ia dengar. Bahkan Kina sendiri saja sudah sulit berbicara juga bernapas. Kesulitan demi kesulitan ia alami dalam jangka waktu panjang.
Mira yang saat ini tengah tertidur pulas pun dibuat terbangun akibat riak air hitam yang ia lihat sekilas dalam benaknya. Dalam sekejap ia langsung tahu kalau yang dilihatnya berkaitan dengan Kina. Segera ia mendatangi rumah mereka dengan tergesa-gesa.
“Kina! Kina!!” Berulang kali memanggilnya dengan suara keras di jam 10 malam.
Ayah Kina mendengarnya, bergegas membukakan pintu.
Dengan ekspresi khawatir ia bertanya, “Apa kamu butuh sesuatu? Saat ini Kina sedang tidak sehat.”
“Aku tahu paman! Ayo cepat!”
Tidak mengerti apa yang sebenarnya Mira ucapkan, ia pula membiarkan Mira masuk ke dalam kamar Kina.
Baru saja ia membuka pintu kamar, aura yang kian memekat bermunculan dan berusaha untuk meraih sosok Mira di sana. Dengan Kina yang masih terbaring di ranjang tidur dalam keadaan tak sadarkan diri, dua mahluk yang memiliki sepasang mata bergerak pelan dari langit-langit kamar.
“Ini ...semakin bertambah buruk. Padahal aku tidak menemuinya, lalu apa yang menjadi penyebab Kina jadi seperti ini lebih cepat dari perkiraan?”
__ADS_1
“Mira? Apa yang kamu bicarakan? Jangan katakan kamu tahu sesuatu yang menjangkit Kina?”
“Ah, ya. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi ini terlalu berbahaya bagi paman untuk mendekat lebih dari ini. Jadi aku sarankan agar paman tetap berada di sini atau sedikit menjauh.”
“Tapi—”
Brak!
Mira lekas menutup pintu guna menghalau energi tak masuk akal itu. Mira bergegas mendekati Kina yang mengerang kesakitan dengan tanpa bersuara sama sekali. Namun terlihat sangat jelas ekspresi kesakitannya saat ini, Kina mungkin akan sulit bertahan setidaknya untuk satu menit saja.
“Bertahanlah, Kina! Dengarkan suaraku! Kina!!”
Kesadaran Kina sepenuhnya kosong, ia nyaris diambil alih sepenuhnya oleh mahluk tersebut. Entah bagaimana cara Mira agar dapat mengembalikan kesadaran Kina, tapi yang pasti ia selalu memanggilnya terus-menerus.
“Kina! Bertahanlah!”
Memanggilnya sembari menyentuh tangan Kina, suara yang lirih itu berusaha untuk sedikit meninggikannya hingga ketika retakan muncul di balik kepompong besar. Di sana ia menemukan kesadaran Kina yang tersisa, lekas ia berusaha untuk menariknya keluar dari sana.
“Kina!!!”
Mulai detik itu juga, kesadaran Kina yang hampir lenyap telah kembali seperti semula. Jendela, langit-langit, dinding, pintu, ranjang serta Kina sendiri yang sebelumnya berubah menjadi hitam gelap seperti diselimuti oleh sesuatu kini telah kembali seakan sejak awal tak pernah terjadi hal mengerikan.
“Syukurlah, kamu bisa sadar lagi. Syukurlah.”
Rasa lega mengiringi rasa haru, Mira memeluk temannya itu dengan sangat senang serta perasaan bersyukur yang amat mendalam. Napasnya juga sempat terengah-engah sebab kesulitan menarik kesadaran Kina kembali pada saat itu. Tapi ketika Kina telah kembali, rasa letih itu langsung hilang begitu saja.
“Eh ...kau ...kau lagi?”
Namun tampaknya Kina masih sama saja. Ia mendorong tubuh Mira agar tak lagi mendekapnya terlalu lama. Jengkel melihat Mira yang sok akrab, ia kemudian berpaling darinya.
“Kina ...syukurlah kamu baik-baik saja. Aku tahu kamu pasti bisa, tapi mungkin ini tidak akan bertahan lama.”
“Kau sedang apa di sini? Kenapa ada di kamarku?”
“Maaf, tadi ...”
“Sudah cukup! Aku tidak mau mendengar alasanmu. Kau tidak seharusnya masuk ke dalam kamarku.”
“Kamu tidak ingat apa yang terjadi padamu?” tanya Mira memastikan.
__ADS_1
“Hah? Apa?” Tanggapannya semakin lama semakin sinis saja.