
Danau hitam yang pekat, ruangan gelap tanpa suara dari luar. Benar-benar gelap dan tak bisa dilihat dengan kedua mata sekalipun mata itu sangatlah sehat.
Berdiam diri cukup lama seakan tengah menikmati air hitam di sana. Namun sekalinya tercebur, maka takkan pernah kembali ke permukaan untuk selamanya. Itulah yang Mira pikirkan saat berada di sana.
Tetesan air mulai terdengar dari arah depan, yang kemudian membuat gelombang besar pada danau, seketika Mira tersentak kaget. Tak tahu harus berbuat apa, ia hanya dapat berdiri dari sana.
Berusaha untuk melihat ada apa, namun yang ada justru pendengarannya semakin tajam. Satu persatu suara asing mulai didengar secara bergantian. Hawa-hawa yang misterius, wajar dirinya takut hingga membuat tubuh mungil itu bergidik ngeri.
“Ada apa ini?”
Saat ketika suara yang mencoba untuk memanggil nama Mira, ia tiba-tiba saja kembali terbangun. Sadar bahwa itu mimpi, lekas Mira menyadarkan dirinya agar pikirannya tidak terus berlarut ke sana dengan cara menenggak minuman air putih.
Rasa segar dari air putih membuat Mira tenang. Sejenak ia terdiam sembari memandangi arah luar dari balik jendela.
“Eh ...sejak kapan aku tertidur?”
Dan ia baru saja sadar, sejak kapan dirinya tertidur begitu pulas? Mimpi yang terkadang ada dan terus berputar seperti kaset video pun masih diingatnya dengan baik. Sampai-sampai kepala Mira pusing hanya karena dipenuhi dengan memori yang tak berguna.
“Jangan-jangan karena aku kelelahan?”
Setelah berpikir itu ia menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak, tidak. Seharusnya aku baru saja pulang. Oh, mungkinkah karena aku merasa bosan? Jadi aku tertidur.”
Sungguh alasan yang tidak masuk akal. Sejujurnya Mira hanya mengada-ngada saja mengenai alasannya. Sebab ia tidak begitu ingat sejak kapan ia tertidur.
Beranjak dari kasur, Mira menuju ke dapur. Melihat kotak makan yang sudah ada pada tempatnya, membuat ia yakin bahwa sebelum ini dirinya benar-benar berada di rumah Kina.
“Aku pikir aku masih bermimpi. Ternyata tidak ya. Syukurlah kalau begitu.”
“Ya, syukurlah.” Suara yang sama kembali didegar. Terkejut, Mira juga segera mencari asal keberadaan suara tersebut.
__ADS_1
“Siapa?!”
Hasilnya tidak ada siapa pun kecuali dirinya sendiri. Ia benar-benar sendiri, dan tidak ada orang lain selain dirinya sendiri.
“Apa aku masih setengah sadar?” celetuk Mira seraya menggaruk belakang kepalanya.
Hari-hari ini ia lewati dengan cukup aneh. Tak biasanya Mira begini, namun ia cukup paham mengapa kejanggalan ini terus dirasakan.
“Kina, tunggulah sebentar lagi. Aku akan menyelamatkanmu, tapi maaf jika tidak hari ini.”
Agar terhindar dari hal-hal memberikan, Mira menyetel televisi yang jarang sekali ia gunakan. Biasa sebulan sekali, itupun jika dirinya niat.
Niat hati mencari hiburan, justru ia melihat berita buruk dari salah satu chanel di sana. Seorang bayi yang dibuang, anak-anak yang diculik, anak yang dibunuh oleh orang tua sendiri. Benar-benar tak mengenakkan suasana hati saja.
“Kenapa setiap kali, selalu saja ada berita buruk. Tidak ada ya? Berita yang menceritakan sejarah atau makanan begitu?”
Berita buruk selalu terdepan. Tak banyak yang ia dapatkan dari berita buruk sepanjang waktu, pada akhirnya Mira tidak memiliki hiburan barang sedikitpun. Ia kini hanya duduk di kursi sembari menatap langit-langit rumah.
Tiada pengalaman. Sejujurnya ini kali pertama Mira berkeinginan untuk menghapus sisi gelap manusia. Yang dinamakan emosi negatif, luapan emosi yang meningkat yang akan berubah menjadi mahluk atau hantu. Jika suatu saat kegelapan itu hidup, maka saat itulah nyawa Kina dalam bahaya.
Bisa saja terlambat setelah mahluk tersebut merasuki tubuhnya. Keadaan tak menguntungkan membuatnya dalam keadaan buntung. Mira kehabisan cara lain, selain mencoba untuk memaksanya.
“Baiklah!”
Setelah memantapkan hati untuk bertemu dengan Kina sekali lagi, ia pun bersiap untuk pergi. Namun akan tetapi, niat itu hanya bertahan untuk sementara.
“Tidak. Kalau tambah buruk nanti bagaimana? Dan rasanya tidak mungkin jika aku harus menarik benda aneh itu,” ujar Mira seraya mematikan televisinya.
Ia kembali duduk di kursi, lantas kembali berpikir dengan lebih tenang. Berharap jawaban akan muncul, namun jelas itu tidak mungkin. Karena jika diam saja, maka selamanya akan kosong.
__ADS_1
“Tidak, tidak. Mungkinkah aku harus memberitahukan hal ini pada Ayahnya? Tidak, bukan. Jangan sampai. Kalau Ayahnya tahu pasti akan jauh lebih merepotkan.”
Setelah berulang kali menemukan cara, dirinya tetap saja tak merasa puas. Halangannya hanya ada satu yakni Kina sendiri, sebab pemicu amarahnya adalah Mira maka saat Kina bertemu dengan Mira maka pasti kemungkinan terburuknya menjadi nyata.
“Kina bilang, ini salahku. Karena keberadaanku, dia jadi seperti itu. Makanya aku berpikir aku harus segera bertanggung jawab. Tapi dia terang-terangan menolaknya. Dan bilang tidak ingin melihatku atau apalah.”
Hari-hari ia habiskan dengan sia-sia. Memikirkan jalan untuk Kina agar segera terlepas dari mahluk menjijikan itu. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa untuk melepasnya.
Hari-hari terus berlanjut pada musim panas. Kegiatannya semakin singkat dari waktu ke waktu, hingga akhirnya Mira beralih untuk persiapan sekolahnya.
“Baiklah, pertama-tama aku akan belajar. Jadi siapa yang tahu kalau nanti aku menemukan jalan keluar terbaiknya.”
Tidak ada siapa pun yang menemani, memang terasa sangat sepi. Bahkan Mira saat ini berharap sekaligus berkhayal tentang betapa serunya jika belajar bersama dengan teman-teman.
“Tidak, tidak. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Aku tidak mau berangan-angan konyol seperti itu. Hm, memangnya aku selemah apa sampai harus berangan seperti itu?”
Berpura-pura sok kuat, dirinya kembali melanjutkan belajar. Demi tes awal pada sekolah yang ia incar. Fokusnya mungkin terbagi antara Kina dan tes tersebut namun Mira tetap bisa mengendalikan pikiran utuhnya itu.
Walau ia membutuhkan waktu ekstra.
“Bagus, bagus. Aku akan melakukan apa yang aku inginkan. Pertama belajar, kedua Kina, lalu ketiga, makan, lalu keempat ...tidur?”
Sudah dua minggu berlalu, sudah lama Mira tak mampir ke toko barang antik. Suasana jalan tampak seperti biasa dan itu membuatnya sedikit tenang.
“Tinggal 3 hari lagi, aku akan pergi untuk tes awal. Semoga saja nanti aku mendapat nilai bagus lalu diterima di sana. Dengan begitu, aku akan tenang.”
Siang ini cuaca sedikit panas untuk belajar. Mira yang letih, lantas memutuskan untuk beristirahat sejenak sembari menyeruput minuman segar yang dingin.
“Betapa nikmatinya minuman ini. Aku sungguh bersyukur dengan apa yang aku punya. Tapi harta dari kedua orang tuaku takkan bertahan lama. Jadi mungkin aku akan ambil part-time.”
__ADS_1
Rumah sederhana dengan setiap ruangan yang sama sederhana. Setiap barang yang ada memiliki kenangan kecil terhadap kedua orang tuanya. Mengingat kenangan baik selalu membuat Mira semakin berpegang teguh terhadap kemandiriannya.