
...Rupa...
Cuaca secerah ini di pagi hari, cocok sekali untuk berjalan-jalan di taman. Namun sayang sekali bagi seorang pelajar. Banyak orang bilang kalau hari senin adalah hari yang terkutuk, hari yang benar-benar dibenci oleh para pelajar.
Alasannya cukup mudah, hari senin mereka biasa dipergunakan untuk upacara. Mereka akan berkumpul dan berbaris rapi dengan seragam dan atribut lengkap. Seolah-olah dijemur di bawah sinar matahari yang panas, meski tak banyak ada satu dua di antara mereka yang jatuh pingsan akibat tidak sarapan pagi.
Selesai upacara pagi. Para murid baru di sekolah akan mencari kelas mereka dari selembar kertas yang tertempel di kaca. Melihat banyaknya murid, membuat Mira tak habis pikir.
“Mereka tidak kesusahan napas ya?”
Berdesak-desakan hanya untuk mencari nama mereka. Sepanjang koridor lantai dua sekolah dipenuhi oleh anak-anak baru yang tidak beraturan.
Mira yang lelah hanya karena melihat mereka, memutuskan untuk duduk sejenak di pinggiran taman kecil. Sembari menunggu koridor cukup sepi, sehingga Mira bisa bebas mencarinya dengan leluasa.
Setelah setengah jam lamanya. Akhirnya mulai sepi juga.
“Baiklah, sekarang untuk mencari namaku.”
Menghabiskan separuh air minum dalam botol dalam waktu setengah jam hanya karena lelah menunggu, ia merasa bahwa air minumnya tidak akan cukup untuk siang nanti.
“Kelas ...kelas ...kelas ...1 ....A?”
Siapa yang menyangka, ia akan berada di kelas A. Kelasnya cukup dekat dengan ruang guru kedua yang dekat dengan tangga. Ini cukup membuat Mira senang.
“Baguslah, tidak terlalu jauh. Apa ini keberuntunganku? Namaku terakhir disebut tapi tetap mendapatkan kelas terbaik?” Begitulah pikirnya.
Sampai ketika ia membuka pintu kelas. Ibarat angin dingin berembus kencang, hawa gelap tercemar ke setiap sudut di dalam kelas ini. Mira syok sampai tak bergerak di depan pintu sana. Matanya membulat kaget, berusaha untuk berpikir jernih selagi sadarkan diri.
“Tenanglah, tenanglah ...ini biasa terjadi.” Kemudian ia menggelengkan kepala dengan mata terpejam.
Memastikan apa yang ia lihat itu salah atau tidak, ia kembali membuka kedua matanya secara perlahan. Lalu mengitari area pandangan ke sekitar, memperhatikan setiap celah baik di meja maupun kursi. Banyak dari mereka, para mahluk kerdil dengan sinar merah seperti mata melekat di sana.
Mungkin hanya kecil tapi jumlah mereka hampir banyak dan setiap murid yang ada di kelas ini memiliki emosi negatif yang jauh lebih besar dari yang biasa ia lihat. Meski tak seberapa besar dan parahnya dari Kina, namun tetap saja mengerikan.
“Serius? Ternyata aku tidak salah lihat.”
Sejenak ia menghela napas dalam-dalam, lekas ia melangkah masuk ke dalam kelas dengan tatapan tajam. Embusan angin dingin barusan pun berbalik ke arah para mahluk tersebut, dan dalam sekejap mereka semua pergi menyingkir setelah menyadari keberadaan Mira.
'Sudah kuduga, mereka ketakutan.' Mira membatin.
Tak lama setelah itu, banyak dari mereka akhirnya memperhatikan sosok gadis cantik itu. Tubuh yang mungil, rambut hitam yang panjang dengan aksesoris berupa pita berwarna putih mengikat sedikit bagian rambutnya. Dirinya yang terlihat sangat cantik, membuat banyak dari lelaki dalam kelas berdecak kagum akan pesonanya.
Tak berbeda dengan anak laki-laki, bahkan anak-anak perempuan saja juga bersikap sama. Tetapi, mereka merasa bahwa pesona gadis bernama Mira yang terakhir datang itu terlihat sangat misterius. Seakan bukan bagian dari dunia ini, sosoknya yang sekilas nampak sempurna telah membuat mereka terpana.
“Wah, cantik. Siapa dia? Apa dia benar-benar murid kelas satu yang seharusnya ada di kelas ini?”
“Jangan tanyakan itu padaku. Aku sendiri saja tidak tahu. Tapi benar, aku heran kenapa perempuan secantik dia harus berada di kelas buruk ini?”
“Haha, sudah jangan khawatirkan itu. Bukankah ini yang terbaik? Di sini jarang sekali ada murid yang cantik.”
Para lelaki sibuk membicarakan Mira. Sedangkan Mira sendiri, sibuk mencari bangku yang berada di sudut bagian belakang. Ia berharap setidaknya tersisa satu.
Dengan menggunakan kejelian matanya, sekuat tenaga ia mencari bangku kosong.
“Ada!”
Seketika ia langsung menemukannya di tengah banyak murid yang kadangkala berkumpul dalam satu meja. Ia menemukan bangku tersisa di sudut belakang dekat jendela. Sungguh keberuntungan yang hakiki.
'Akhirnya aku mendapatkannya juga!' Ia berseru dalam batinnya.
Wajah bahagia terlukis cukup singkat, lantas ia melangkah lebih cepat tuk menuju ke bangku yang sudah ia tandai.
“Halo, boleh aku duduk di sampingmu?” tanya Mira.
“Ya, boleh.” Gadis pendiam yang memiliki poni menutupi wajah. Gadis yang cukup aneh ini satu meja bersama dengan Mira.
“Terima kasih.”
Dan tidak ada yang menyangka juga bahwa Mira yang terlihat sangat cantik di mata mereka lebih memilih untuk duduk di sudut bagian belakang di sana. Para murid menatap keheranan, mereka kembali menggosip dan mencoba untuk menebak, tentang mengapa ia memilih duduk di sana.
“Hei, dia duduk di sana? Aku tidak percaya.”
“Dia terlihat sangat pintar tapi kalau dia ditaruh di kelas ini, maka mungkin dia gadis bodoh,” celetuk seorang gadis.
“Haha, itu pasti. Karena tidak mungkin murid pintar ada di kelas terburuk ini.”
Kelas A bukan berarti kelas elit ataupun kelas di mana orang-orang pintar akan berkumpul. A yang berarti memiliki makna yang sebaliknya, yakni kelas sampah, terburuk yang pernah ada.
Lalu, ruang guru yang berdekatan dengan ruang kelas ini bukanlah kebetulan melainkan sudah diatur lebih awal. Agar para guru bisa mengawasi gerak-gerak seluruh siswa kelas A yang mungkin akan membuat masalah di setiap detiknya.
Meski saat ini tidak begitu terlihat, nyatanya Mira melihat sebatang rokok di bawah kedua kakinya. Dan sebatang itu sudah pendek namun masih terasa panas, yang berarti masih baru.
“Seburuk ini ya,” gumam Mira.
“Ma-maaf ...bolehkah ..a-aku ...,” Gadis yang duduk di sebelahnya hendak mengatakan sesuatu, tapi karena terbata-bata sehingga ia tak sempat mengatakannya.
Hingga guru laki-laki datang dengan buku besar di tangannya.
“Mohon perhatiannya!” Guru itu berteriak keras.
Setelah suasana mereda sedikit, barulah ia kembali berbicara.
“Di sini adalah kelas sampah, kalian yang memiliki sikap dan nilai buruk tetap diterima tapi dikumpulkan di kelas A ini. Ada yang keberatan?!”
“Ya, saya!” Seorang murid perempuan berdiri sambil mengangkat tangannya. Gadis dengan rambut kuncir dua, warna rambutnya tidak begitu hitam tapi ia memiliki mata yang lebar.
“Oh, kamu. Ania Kartikawati. Aku tahu kamu memiliki nilai yang bagus, tapi mohon maaf karena kelas lain sudah penuh dan yang tersisa hanya kelas ini saja. Tolong dimaklumi.”
Tanpa menjawabnya, gadis itu berdecak kesal lantas kembali duduk di tempat semula.
***
Hari istirahat, di koridor dua yang sepi akan murid. Mira dalam perjalanan menuju ke kantin bawah, namun langkahnya terhenti karena sebuah boneka dalam posisi duduk di tengah jalanan.
Penasaran, Mira pun mendekat. Dan begitu jarak di antara mereka sangat dekat, wujud boneka yang semula terlihat berbeda justru berubah menjadi mirip dengan Mira. Pakaian seragam serta gaya rambut dengan pita putihnya.
Boneka yang memiliki wujud manusia, dengan mata yang terbuat dari sebuah kancing lalu mulut yang nampak seperti dijahit. Sekilas memang terlihat sangat mengerikan, bahkan Mira saja sebenarnya enggan mendekat.
Namun karena keberadaannya yang terpancar aura jahat, mau tak mau Mira mendekati boneka itu yang ada di tengah koridor sepi seperti ini. Tetapi, setelah ia mendekat, bonekanya langsung berubah wujud menjadi seperti dirinya.
__ADS_1
Baik dari pakaian seragam, gaya rambut dan beberapa aksesoris yang dipakai Mira, semuanya sama.
“Boneka macam apa ini?”
Tak lama setelah itu, datang seorang gadis berkuncir dua. Ia menyeringai tipis saat ketika tahu Mira telah mendekati bonekanya.
“Oh, jadi kamu sudah ingin pergi dari lantai ini?” Begitu katanya yang pertama kali ia ucapkan.
“Maaf, siapa? Apa ini bonekamu?” tanya Mira memastikan.
Rasanya tidak mungkin ada siswa yang membawa boneka, padahal juga beranjak dewasa. Semakin dipikirkan semakin tidak mungkin, begitulah yang Mira pikir.
“Ya. Ini bonekaku.” Tapi ternyata perempuan ini tidaklah menyangkal sama sekali. Ia mengakui boneka itu adalah miliknya.
Sosoknya yang berdiri di bawah bayangan dinding, akhirnya melangkah keluar dan mendekati jendela. Wajahnya telah terlihat, dan Mira pun dibuat terkejut.
“Kamu ...murid yang pintar itu?” tanya Mira lagi. Ia nampaknya sangat terkejut karena dapat bertemu dan berbicara satu sama lain dengannya.
“Ya, benar. Kenapa? Apa kamu iri?”
“Tidak. Mana mungkin. Kamu adalah Ania Kartikawati, bukan? Murid pintar yang aku kagumi. Senang bertemu denganmu, aku Mira.”
Mira mengulurkan tangan sebagai tanda ia ingin menjabatnya. Namun Mira melakukannya dengan senyum terpaksa, sebab dirinya tahu bahwa boneka milik Ania bukanlah boneka sembarangan.
“Aku tidak butuh tanganmu untuk bersalaman. Lagi pula, di kelas itu banyak murid sampah.”
“Lalu, kenapa kamu berada di sini? Rasanya tidak mungkin murid pintar mau mendatangiku.”
“Iya, itu sedikit benar. Aku juga tidak mau bertemu dengan murid bodoh seperti kalian ataupun kamu. Tapi alasanku ini sedikit berbeda, bisa dikatakan aku ingin memberimu pelajaran.”
“Pelajaran? Kupikir ini waktunya istirahat?” sahut Mira dengan polosnya.
“Hah! Dasar bodoh! Hanya karena kamu cantik, tapi bukan berarti kamu bisa mengendalikan kelas itu. Kamu paham?!”
“Mengen ...dalikan?”
Semakin lama Mira semakin bingung, apa yang sebenarnya Ania bicarakan. Dan juga mana mungkin Ania yang merupakan murid cerdas mau bertemu dengan Mira yang tidak memiliki apa-apa.
“Ya! Kamu tanpa sadar sudah mengendalikan seluruh isi kelas sampah itu! Tentunya tidak dengan kepintaran melainkan kecantikanmu itu. Aku yakin kamu tahu itu!” pekik Ania.
“Maaf?”
Mira yang polos, ia benar-benar tak menyadari bahwa seluruh isi kelas memang secara tak langsung dapat dikendalikan olehnya sendiri. Walau jika ia sadar, namun bukan berarti ia akan mau melakukan itu, jujur saja jika mencolok maka dirinya akan melakukan kesalahan lagi.
'Sudah repot-repot ke sekolah ini. Bahkan rumah juga harus pindah ke daerah lain yang berjauhan dari sini. Aku bersyukur dia tidak tahu siapa aku, tapi kenapa masalahnya tetap ada ya?' batin Mira.
Berharap hidup tenang justru seakan beban kembali ke pundak. Saat ini Mira sedang berusaha untuk menenangkan kucing manis yakni Ania yang sejak tadi mencemooh Mira habis-habisan akibat rasa iri yang ia miliki.
Semakin kuat rasa itu maka semakin kuat pula lah aura jahat yang ada pada boneka tersebut.
“Aku punya firasat buruk tentang ini,” gumam Mira menatap bonekanya.
“Hei! Aku sedang bicara, dengarkan aku! Kamu pikir dengan—”
“Ya, ya. Maafkan aku yang telah membuatmu salah paham. Sebenarnya aku tidak punya niat untuk mengendalikan kelas sampah kita. Tapi biar aku peringatkan, tidak baik mencari masalah jika begitu maka kamu sendiri yang akan bermasalah,” sindir Mira.
Lekas ia beranjak pergi dari sana. Namun belum sempat mengambil langkah, Ania menghadang jalannya.
Ia berkata, “Aku belum selesai berbicara, Mira.” Kata-katanya terdengar tegas.
“Apa yang kamu butuhkan sekarang?”
“Aku yakin kamu bukan murid sampah.”
“Ya, aku tahu itu. Sedangkan namaku ada di bagian paling atas. Di sini, nama awal sampai akhir adalah bagian penentuan dari nilai kita.”
“Yah, begitulah.”
“Tapi aku tidak percaya! Kamu ini orang yang misterius! Aku merasakannya. Kamu ini bukan sembarangan murid biasa!” ungkap Ania dengan berani sembari menunjuk ke arahnya.
Aliran energi jahatnya sempat terhenti untuk sesaat ketika Ania membicarakan hal itu.
“Sejak kali pertama kita bertemu, aku cukup yakin kamu bukanlah gadis biasa. Tapi aku tidak bisa membuktikan hal-hal seperti itu sekarang.”
“Hal-hal?”
“Yah sudahlah. Aku tidak begitu peduli kamu ini siapa. Tapi berhati-hatilah saat melangkah, Mira.”
Ania Kartikawati. Murid perempuan yang memiliki kecerdasan yang seharusnya ia mendapatkan kelas lebih layak dari kelas sampah tersebut. Kepribadiannya jauh lebih sederhana, marah namun tidak marah sepenuhnya. Orang yang terang-terangan dan tidak ragu sedikitpun dengan ucapannya.
Mira akui, ia adalah gadis pemberani. Takkan takut dengan apa pun yang menghalangi. Bahkan dengan guru, nadanya saja tetap meninggi dan tegas.
Tetapi, ada satu hal lain yang membuat Mira terdiam dan kembali berpikir ulang mengenai tentangnya.
Ania Kartikawati mungkin memanglah cerdas tapi sebelum ini ada beberapa murid yang sempat menggosipkan dirinya, menyatakan bahwa Ania memiliki kepribadian buruk. Gadis yang suka melakukan hal-hal gila tak terkira. Dan masih banyak lagi keburukan yang Ania punyai.
'Hm, aku tidak mungkin langsung bertanya apakah dia seburuk itu? Yang ada memperburuk situasi,' batin Mira.
Tap, tap!
Langkah kakinya menggema disebabkan koridor yang sepi. Ania mengambil kembali boneka yang telah berubah wujudnya tanpa berkata apa-apa mengenai boneka tersebut.
“Aku tidak memiliki teman sama sekali. Dan lagi siapa yang mau berteman dengan murid sampah? Ya ampun aku heran kenapa kalian bisa masuk ke sekolah ini.”
“Bukankah kamu seharusnya tahu bahwa sekolah ini akan mendidik semua murid-murid yang nakal?”
“Oh, benarkah itu? Aku sama sekali tidak menyangka.”
Rumor buruk mengenai dirinya adalah, "Dukun", pernah sekali Mira mendengar ini dari perbincangan seorang gadis yang posisi duduknya tak jauh dari tempatnya. Sehingga Mira mau tak mau pun mendengar hal itu.
“Aku sudah puas mencermahimu, Mira. Tapi seperti yang aku peringatkan, berhati-hatilah saat melangkah nanti,” ucap Ania.
Ia kemudian berdiri di samping Mira. Sekali lagi ia berkata, “Jiwamu sudah terikat dengan boneka lucu milikku. Semoga kamu beruntung, Mira!”
Setelahnya ia pergi begitu saja. Saat menoleh ke bekekang, sosok Ania telah menghilang tanpa jejak. Terkesan ia bukan mahluk di dunia ini.
“Duh, aku jadi merinding,” ucap Mira berekspresi takut.
Mira berdiri diam sembari menggosokkan badan dengan kedua tangannya. Sesekali ia menggigil bahkan bibirnya saja bergetar usai percakapannya dengan seorang murid bernama Ania Kartikawati.
__ADS_1
Boneka yang memiliki wujud manusia, dengan mata yang terbuat dari sebuah kancing lalu mulut yang nampak seperti dijahit. Sekilas memang terlihat sangat mengerikan, bahkan Mira saja sebenarnya enggan mendekat.
Namun karena keberadaannya yang terpancar aura jahat, mau tak mau Mira mendekati boneka itu yang ada di tengah koridor sepi seperti ini. Tetapi, setelah ia mendekat, bonekanya langsung berubah wujud menjadi seperti dirinya.
Baik dari pakaian seragam, gaya rambut dan beberapa aksesoris yang dipakai Mira, semuanya sama.
“Boneka macam apa ini?”
Tak lama setelah itu, datang seorang gadis berkuncir dua. Ia menyeringai tipis saat ketika tahu Mira telah mendekati bonekanya.
“Oh, jadi kamu sudah ingin pergi dari lantai ini?” Begitu katanya yang pertama kali ia ucapkan.
“Maaf, siapa? Apa ini bonekamu?” tanya Mira memastikan.
Rasanya tidak mungkin ada siswa yang membawa boneka, padahal juga beranjak dewasa. Semakin dipikirkan semakin tidak mungkin, begitulah yang Mira pikir.
“Ya. Ini bonekaku.” Tapi ternyata perempuan ini tidaklah menyangkal sama sekali. Ia mengakui boneka itu adalah miliknya.
Sosoknya yang berdiri di bawah bayangan dinding, akhirnya melangkah keluar dan mendekati jendela. Wajahnya telah terlihat, dan Mira pun dibuat terkejut.
“Kamu ...murid yang pintar itu?” tanya Mira lagi. Ia nampaknya sangat terkejut karena dapat bertemu dan berbicara satu sama lain dengannya.
“Ya, benar. Kenapa? Apa kamu iri?”
“Tidak. Mana mungkin. Kamu adalah Ania Kartikawati, bukan? Murid pintar yang aku kagumi. Senang bertemu denganmu, aku Mira.”
Mira mengulurkan tangan sebagai tanda ia ingin menjabatnya. Namun Mira melakukannya dengan senyum terpaksa, sebab dirinya tahu bahwa boneka milik Ania bukanlah boneka sembarangan.
“Aku tidak butuh tanganmu untuk bersalaman. Lagi pula, di kelas itu banyak murid sampah.”
“Lalu, kenapa kamu berada di sini? Rasanya tidak mungkin murid pintar mau mendatangiku.”
“Iya, itu sedikit benar. Aku juga tidak mau bertemu dengan murid bodoh seperti kalian ataupun kamu. Tapi alasanku ini sedikit berbeda, bisa dikatakan aku ingin memberimu pelajaran.”
“Pelajaran? Kupikir ini waktunya istirahat?” sahut Mira dengan polosnya.
“Hah! Dasar bodoh! Hanya karena kamu cantik, tapi bukan berarti kamu bisa mengendalikan kelas itu. Kamu paham?!”
“Mengen ...dalikan?”
Semakin lama Mira semakin bingung, apa yang sebenarnya Ania bicarakan. Dan juga mana mungkin Ania yang merupakan murid cerdas mau bertemu dengan Mira yang tidak memiliki apa-apa.
“Ya! Kamu tanpa sadar sudah mengendalikan seluruh isi kelas sampah itu! Tentunya tidak dengan kepintaran melainkan kecantikanmu itu. Aku yakin kamu tahu itu!” pekik Ania.
“Maaf?”
Mira yang polos, ia benar-benar tak menyadari bahwa seluruh isi kelas memang secara tak langsung dapat dikendalikan olehnya sendiri. Walau jika ia sadar, namun bukan berarti ia akan mau melakukan itu, jujur saja jika mencolok maka dirinya akan melakukan kesalahan lagi.
'Sudah repot-repot ke sekolah ini. Bahkan rumah juga harus pindah ke daerah lain yang berjauhan dari sini. Aku bersyukur dia tidak tahu siapa aku, tapi kenapa masalahnya tetap ada ya?' batin Mira.
Berharap hidup tenang justru seakan beban kembali ke pundak. Saat ini Mira sedang berusaha untuk menenangkan kucing manis yakni Ania yang sejak tadi mencemooh Mira habis-habisan akibat rasa iri yang ia miliki.
Semakin kuat rasa itu maka semakin kuat pula lah aura jahat yang ada pada boneka tersebut.
“Aku punya firasat buruk tentang ini,” gumam Mira menatap bonekanya.
“Hei! Aku sedang bicara, dengarkan aku! Kamu pikir dengan—”
“Ya, ya. Maafkan aku yang telah membuatmu salah paham. Sebenarnya aku tidak punya niat untuk mengendalikan kelas sampah kita. Tapi biar aku peringatkan, tidak baik mencari masalah jika begitu maka kamu sendiri yang akan bermasalah,” sindir Mira.
Lekas ia beranjak pergi dari sana. Namun belum sempat mengambil langkah, Ania menghadang jalannya.
Ia berkata, “Aku belum selesai berbicara, Mira.” Kata-katanya terdengar tegas.
“Apa yang kamu butuhkan sekarang?”
“Aku yakin kamu bukan murid sampah.”
“Ya, aku tahu itu. Sedangkan namaku ada di bagian paling atas. Di sini, nama awal sampai akhir adalah bagian penentuan dari nilai kita.”
“Yah, begitulah.”
“Tapi aku tidak percaya! Kamu ini orang yang misterius! Aku merasakannya. Kamu ini bukan sembarangan murid biasa!” ungkap Ania dengan berani sembari menunjuk ke arahnya.
Aliran energi jahatnya sempat terhenti untuk sesaat ketika Ania membicarakan hal itu.
“Sejak kali pertama kita bertemu, aku cukup yakin kamu bukanlah gadis biasa. Tapi aku tidak bisa membuktikan hal-hal seperti itu sekarang.”
“Hal-hal?”
“Yah sudahlah. Aku tidak begitu peduli kamu ini siapa. Tapi berhati-hatilah saat melangkah, Mira.”
Ania Kartikawati. Murid perempuan yang memiliki kecerdasan yang seharusnya ia mendapatkan kelas lebih layak dari kelas sampah tersebut. Kepribadiannya jauh lebih sederhana, marah namun tidak marah sepenuhnya. Orang yang terang-terangan dan tidak ragu sedikitpun dengan ucapannya.
Mira akui, ia adalah gadis pemberani. Takkan takut dengan apa pun yang menghalangi. Bahkan dengan guru, nadanya saja tetap meninggi dan tegas.
Tetapi, ada satu hal lain yang membuat Mira terdiam dan kembali berpikir ulang mengenai tentangnya.
Ania Kartikawati mungkin memanglah cerdas tapi sebelum ini ada beberapa murid yang sempat menggosipkan dirinya, menyatakan bahwa Ania memiliki kepribadian buruk. Gadis yang suka melakukan hal-hal gila tak terkira. Dan masih banyak lagi keburukan yang Ania punyai.
'Hm, aku tidak mungkin langsung bertanya apakah dia seburuk itu? Yang ada memperburuk situasi,' batin Mira.
Tap, tap!
Langkah kakinya menggema disebabkan koridor yang sepi. Ania mengambil kembali boneka yang telah berubah wujudnya tanpa berkata apa-apa mengenai boneka tersebut.
“Aku tidak memiliki teman sama sekali. Dan lagi siapa yang mau berteman dengan murid sampah? Ya ampun aku heran kenapa kalian bisa masuk ke sekolah ini.”
“Bukankah kamu seharusnya tahu bahwa sekolah ini akan mendidik semua murid-murid yang nakal?”
“Oh, benarkah itu? Aku sama sekali tidak menyangka.”
Rumor buruk mengenai dirinya adalah, "Dukun", pernah sekali Mira mendengar ini dari perbincangan seorang gadis yang posisi duduknya tak jauh dari tempatnya. Sehingga Mira mau tak mau pun mendengar hal itu.
“Aku sudah puas mencermahimu, Mira. Tapi seperti yang aku peringatkan, berhati-hatilah saat melangkah nanti,” ucap Ania.
Ia kemudian berdiri di samping Mira. Sekali lagi ia berkata, “Jiwamu sudah terikat dengan boneka lucu milikku. Semoga kamu beruntung, Mira!”
Setelahnya ia pergi begitu saja. Saat menoleh ke bekekang, sosok Ania telah menghilang tanpa jejak. Terkesan ia bukan mahluk di dunia ini.
__ADS_1
“Duh, aku jadi merinding,” ucap Mira berekspresi takut.
Mira berdiri diam sembari menggosokkan badan dengan kedua tangannya. Sesekali ia menggigil bahkan bibirnya saja bergetar usai percakapannya dengan seorang murid bernama Ania Kartikawati.