
Genangan darah yang sekilas berwarna hitam pekat, tangan yang tergenggam menariknya ke bawah seakan hendak menenggelamkan dirinya. Mira yang terkejut, berusaha melakukan perlawanan.
“Hentikan!!!”
Ctak!
Sesaat setelah ia berteriak dengan sangat kencang, lampu kembali hidup dan semua yang Mira lihat berubah total.
“Eh?”
Tidak ada darah sama sekali, jejaknya sedikitpun tidak ada. Yang ada hanyalah sosok Kina yang terjerat oleh sesuatu yang hitam, ia melekat pada dinding bersamaan sesuatu hitam itu.
“Kina! Apa yang terjadi?”
Ayahnya hendak membantu namun Mira menghalanginya dan berkata, “Jangan sentuh itu!”
“Ada apa? Kenapa?” tanyanya.
“Maaf, ada sesuatu yang membuat Kina seperti menempel di dinding. Tolong jangan sentuh itu.”
Mira membuktikannya dengan cara melemparkan pecahan gelas ke bagian bawah, begitu terkena benda lengket hitam-hitam itu, pecahannya jadi meleleh.
“Ke mana perginya pecahan yang barusan kamu lempar?”
“Maaf, itu karena sesuatu di sana. Dan mungkin ada alasan tertentu kenapa Kina yang terkena efek itu masih utuh sampai sekarang.“
“Dia masih hidup bukan?”
“Ya.” Dengan yakin ia mengatakannya.
Keadaan yang jauh lebih mengerikan telah terjadi. Benda yang menyerupai slime atau sejenisnya itu kemudian bergerak sedikit demi sedikit. Saat Mira menyadarinya, ia lekas mendorong Ayah Kina agar menjauh darinya.
Sementara ia membiarkan tubuhnya terdorong cukup jauh hingga keluar dari kamar lalu menabrak kursi di sana. Punggung yang terasa nyeri sesaat terasa ada sesuatu hal lain, dan benar saja ketika Mira menoleh, ia melihat sesosok mahluk dengan sepasang mata berwarna merah. Mahluk itu menempel kuat di punggungnya.
“APA?! TIDAK!!!”
Karena panik, Mira berlarian dan berusaha untuk melepaskan diri darinya, tapi segala usaha yang ia lakukan berakhir percuma.
“Mira! Apa yang terjadi padamu?!”
__ADS_1
“Jangan mendekat, paman! Tolong jangan! Jika tidak paman akan terkena juga!” pekik Mira memberi peringatan keras.
Situasi ini terjadi secara tak terduga. Kina tak sadarkan diri dan dalam kondisi yang aneh saat ini, lalu Mira yang berusaha melepaskan diri dari mahluk aneh itu. Sementara pemilik toko barang antik berusaha meminta pertolongan dari orang lain melalui telepon. Kadang kala ia mencoba untuk pergi ke luar, tapi sama seperti sebelumnya pintu atau jendela dan banyaknya jalan keluar telah tertutup rapat seakan melekat pada dinding-dinding.
“Bagaimana bisa terjadi hal seperti ini? Ternyata benar dugaan kakak, kalau situasi Kina sudah jauh lebih parah. Tapi saat kedatangan Mira, semuanya berjalan kembali seperti sedia kala.”
Dak! Dak! Dak!
Sembari mendobrak pintu dengan paksa, ia terus memanggil kita putri semata wayangnya serta Mira yang masih disibukkan.
“Lalu sekarang kenapa jadi semakin bertambah buruk?” lanjutnya, bertanya-tanya apa yang menjadi penyebab Kina seperti ini.
Jawaban itu takkan muncul sebelum mereka melakukan sesuatu agar dapat terbebas dari kurungan rumah ini. Kalau tidak, mereka mungkin akan binasa tanpa seorang pun tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
“Tidak ada yang mengangkat telepon dan sekarang jalan keluar tertutup semuanya. Betapa tidak beruntungnya,” gerutu Ayah Kina.
Dak!
Seketika tindakannya berhenti saat suara keras terdengar ada di dekatnya. Padahal saat itu ia sudah tak lagi mendobrakkan pintu namun suara itu ada dan berada di dekatnya.
“Bukan Mira ...apalagi Kina. Lalu suara apa yang barusan aku dengar?”
Sekali lagi suara itu kembali didengarnya namun kali ini jauh lebih keras, tepat berada di sampingnya, nampak seperti bekas pukulan di bagian pintu tersebut.
“Hati-hati paman!”
Mira melompat ke arahnya, ia mendorong Ayah Kina lantas ia terkena pukulan tak terlihat. Mira terjatuh tepat di harapan Ayah Kina, sementara aura jahat agaknya mulai tersebar di ruangan ini juga.
“Mira! Apa yang kamu lakukan?”
“Tolong menjauhlah.”
Tadinya ia berkata begitu, tapi siapa sangka bahwa targetnya adalah Ayah Kina sendiri. Terkejut akan keberadaan yang hanya bisa dirasakan, di sana Mira mencoba untuk memastikan agar sosok tersebut tak lagi mendekat.
Setelah berulang kali memperingatkan paman agar menjauh dari sosok yang hanya bisa dilihat oleh Mira, lampu di setiap ruangan yang ada terkadang nyala dan mati secara bergantian, seakan saklarnya dibuat main-main.
Di samping itu, tak seorang pun yang melintas menyadari adanya keanehan dalam rumah mereka. Bahkan saat berteriak saja tidak ada yang mendengarnya. Terlihat seperti rumah milik mereka tidak ada dalam pandangannya. Hal tersebut justru semakin membuatnya khawatir.
Jangankan menyelesaikan masalah, bertahan hidup dari sesosok tak kasat mata yang selalu mendatangi mereka dengan niat buruk saja harus bersusah payah. Baik Mira maupun paman, yakni Ayah Kina, keduanya terus bertahan dalam posisi terburuk.
__ADS_1
“Paman, jangan ke sana!” peringat Mira sekali lagi, seraya ia menarik ujung pakaiannya agar tidak lagi mendekat ke arah kamar Kina.
Benda-benda hitam dari kamar Kina terlihat berkurang, sebab sebagain dari mereka kembali bergerak dengan merayap secara perlahan. Di mana benda-benda yang seakan hidup itu akan membuat mereka meleleh, bergerak mendekati mereka berdua.
“Cepat! Jangan sampai terkena sedikitpun!”
“Meskipun kamu bilang begitu, aku tidak bisa melihat apa-apa!”
“Kina juga dalam bahaya. Maka aku lah yang seharusnya menyelamatkannya!”
“Tidak! Tunggu!” sentak paman. Ia menghentikan langkah Mira lantas berkata, “Jangan bertindak gegabah. Berhubung aku tidak tahu apa yang sebenarnya kamu lihat —”
DUAKK!!
Baru saja ingin membicarakan sesuatu hal penting, secara tiba-tiba Mira terdorong mundur menjauhinya. Punggungnya menghantam kaca jendela dengan cukup keras, ia nyaris jatuh tak sadarkan diri akibat benturan langsung itu.
“Mira!!”
Tak lama setelah serangan kedua mendarat pada Mira, sesosok itu kini mulai menyerang paman. Tanpa ampun, ia memukulnya sekuat tenaga. Meski paman dapat bertahan, ia tak bisa selamanya terus seperti itu.
Dan untuk sesaat ketika dirinya dipukuli, ia melihat sekilas sosok menyerupai manusia tak berkulit yang hanya memiliki lendir hitam. Tak ada wajah atau jari, yang ada hanya dua kaki dan tangan memiliki wujud sama.
Bagian kepalanya seakan memiliki penglihatan, sehingga dengan mudahnya menyerang paman yang sudah tak berdaya.
“Paman!”
Langkah Mira tertatih-tatih, ia tetap nekat menyelamatkan paman dalam kondisi parahnya. Bisa dibilang ia seperti tak peduli lagi, dan itu bukanlah tanpa sebab.
'Lukaku sembuh,' batin Mira yang akhirnya sadar bahwa luka separah apa pun akan tetap pulih selama menunggu beberapa saat.
Masih dalam posisi bertahan dengan kedua lengan ke depan wajah, paman berusaha untuk tetap seperti itu. Ketika celah terbuka, di sanalah ia menangkap kedua tangan sesosok jahat.
“Akhirnya!”
“Jangan paman! Jangan disentuh!”
Sosok tersebut reflek menoleh ke sumber suara. Tepat berada di sampingnya, sosok itu mengubah target dari Ayah Kina menjadi Mira. Ia mencekik lehernya dan sepenuhnya membuat Mira tak berdaya dalam genggaman sosok si hitam.
“ARRGHHHH!!!”
__ADS_1
Sedangkan paman menjerit kesakitan akibat kulitnya terkelupas dan terasa panas.