
“Jangan bercanda. Aku mana mungkin melakukan itu sebelum waktunya. Dan lagi, bukankah para manusia menyukai hal romantis seperti itu?”
“Kau pikir kita kekasih? Dan darimananya romantis, jika hantu dan manusia tidur bersama?” sahut Mira dengan jengkel.
***
“Jangan sembarangan! Aku tidak suka kalau kau terus ada. Jadi cepatlah menyingkir, atau aku akan membasmimu seperti hantu!”
“Hah? Mau membasmiku? Padahal kau sendiri juga tidak ada bedanya. Hahaha.”
“Hantu yang menjengkelkan. Apa perlu aku sebar garam di atas kepalamu?!”
“Kau 'kan tidak bisa melihat wujudku sekarang. Jadi bagaimana bisa kau melemparkannya ke atas kepalaku sementara aku tidak terlihat di matamu.”
Percakapan antara Mira dan sosok tersebut terus berlanjut, mereka berdua saling bersahutan satu sama lain. Pertengkaran yang mungkin tidak akan selesai-selesai. Dan hal tersebut pun didengarkan oleh Ania yang berada di balik pintu ruangan.
“Apa itu?” Ia masih tidak mempercayai apa yang barusan ia dengar, hanya saja Ania hanya mendengar apa yang dikatakan oleh Mira. Dan bukan berarti dirinya juga mendengar sosok itu bicara.
Karena itulah ia bingung. Apa yang sebetulnya Mira bicarakan dan dengan siapa. Awalnya mengira mungkin saja salah satu anggota keluarga yang tinggal di tempat ini juga. Tapi setelah mengintip di balik jendela kecil, ia tak menemukan ada satu orang pun kecuali Mira sendiri.
Walau mungkin, seseorang ada di dalam kamar mandi juga tidak mungkin, jika dilihat dari pintu yang terbuka. Ania pun semakin dibuat penasaran.
“Ck, aku jadi tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mira, gadis itu benar-benar penuh dengan misteri. Aku harap mendapatkan —”
GUBRAK!!
Secara tidak sadar maupun sengaja, ia tersandung kakinya sendiri saat melangkah menjauhi jendela. Alhasil ia terjatuh, dan kemudian terdengar oleh Mira.
“Siapa di sana?”
Terkejut karena mendengar suara Mira, yang mungkin telah sadar akan keberadaan seseorang asing. Ania bergegas melarikan diri, akan tetapi saat ketika ia hendak melangkah melewati pintu, pintunya langsung terbuka.
Reflek Ania melompat mundur ke belakang. Ia terkejut karena pintu kamar kontrakan tiba-tiba saja terbuka tanpa aba-aba.
“Oh, Ania?”
Ketahuan sudah, keberadaan Ania yang dapat dipandang begitu menoleh sedikit ke arah kiri. Mira telah menemukan Ania yang selama ini bersembunyi, membuntuti, dan menguping.
“Ah ...itu ...itu ...,” Saking gugupnya, Ania jadi tidak bisa berkata apa-apa. Ucapannya terbata-bata, tak menentu serta pandangannya terus beralih dari satu sisi ke sisi yang lainnya.
“Kenapa kamu menghindari tatapanku, Ania? Apa kamu butuh sesuatu? Atau ada hal lain?” tanya Mira sembari mendekat padanya.
Setiap langkah yang ia buat untuk mendekati Ania, maka Ania akan melangkah mundur. Rupanya selain ia tak ingin mengontak mata, ia pun juga tidak ingin berada dekat dengan Mira.
“Ada apa Ania?”
Bukan hanya karena takut mengakui, Ania jadi teringat boneka yang rusak sekaligus pernyataan Mira tentang keabadian itu. Siapa pun akan tak percaya, namun karena ia tahu bagaimana cara kerja boneka terkutuk yang tak terelakkan, Ania mempertimbangkan banyak hal.
'Gadis monster ini akan mendekat. Aku tidak tahu kenapa dia bisa menyebut dirinya abadi. Tapi mungkin saja, jika dia bisa begitu maka pasti ada korbannya,' duga Ania dalam benaknya.
Dua, tiga langkah mundur ke belakang, sampai tersandung kakinya sekali lagi. Ania terjatuh tepat di hadapan Mira yang dianggapnya sebagai Gadis Monster, saking ia takut, pada akhirnya Ania lantas tak sadarkan diri di tempat.
“Eh? Aku bertanya-tanya kenapa dia ada di sini. Tapi tidak hanya menjawab, dia juga tertidur di sini. Apa dia kelelahan ya?” pikir Mira.
Sedangkan Mira tidak pernah sekali berpikir bahwa Ania ketakutan. Ia justru berpikir Ania hanya sedang kelelahan saja.
“Orang yang mudah pingsan ya.”
Setelah beberapa saat, akhirnya Ania terbangun juga dari tidur nyenyaknya. Begitu membuka kedua mata, terlihatnya langit-langit yang pendek dan sekitarnya yang sekilas terlalu sepi.
Namun saat menoleh ke kanan, barulah ia terkejut sebab Mira tengah duduk menunggunya sembari tersenyum.
“Sudah bangun?”
“WAH!!” Reflek, Ania bangkit dari sana. Punggungnya membentur dinding, dan semakin terpojoklah ia di sana.
“Kau mau apa?!”
“Mau apa? Aku tidak mau apa-apa selain jawaban, kenapa kamu ada di dekat rumahku? Jangan bilang yang berisik sebelumnya itu adalah kamu ya?” sindir Mira.
Sembari menunggu jawaban darinya, Mira membawakan segelas air putih untuknya.
“Ini, minumlah.”
“Racun?”
“Racun?” tanya Mira heran. “Itu tidak ada di dalam air ini. Yah, kecuali kamu ingin menambahkan racun di dalam minumanmu sendiri.”
__ADS_1
Dengan terpaksa ia meminum air putih tersebut. Selain haus, ia juga merasa sedikit tidak enak apabila menolaknya. Meski nampak jahat, hatinya tetaplah manusia. Sekalipun ia pembunuh.
“Kamu tinggal di sini sendirian?”
“Sebelum aku menjawabnya, aku berharap kamu mau menjawab pertanyaanku sebelum ini. Tapi jika aku harus menjawabnya sekarang, ya, itu benar. Aku tinggal sendirian di sini.”
“Oh. Yah, aku datang kemari hanya untuk melihat-lihat area sekitar. Rumahku tidak sejauh daerah ini,” ujar Ania.
“Jarang sekali murid yang berjalan-jalan setelah selesai sekolah. Baru pertama kali ini aku melihatnya, dan lagi sendirian?”
“Y-ya.” Ania menjawabnya dengan terbata-bata.
Siapa pun akan curiga bila Ania menyiapkan alasan penuh celah atau kejanggalan seperti itu.
“Yakin?” Masih dengan senyum yang sama. Ania merasa ngeri ketika dihadapkan oleh orang seperti Mira. Entah bagaimana Ania mendeskripsikannya, selain rasa ngeri berkelanjutan.
“Baiklah, sepertinya sulit berbohong. Aku datang untuk menghabisimu,” ungkap Ania terang-terangan.
Mira yang jelas tahu bagaimana sikap gadis ini, tetap saja terkejut setelah Ania mengungkapkannya tanpa berbasa-basi.
“Kenapa kamu mengatakan lelucon seperti itu?”
“Ha, lelucon? Kau pikir aku datang hanya untuk membuat lelucon.”
“Baiklah, terserah kau saja. Aku anggap itu nyata. Tapi apa alasanmu? Seingatku kita tidak pernah bermusuhan.”
“Sejak kita pertama kali bertemu, aku merasa kau itu misterius. Tanganku bergerak ingin membunuhmu cepat-cepat tapi saat aku kira semua sudah selesai, ternyata aku salah.”
Ania benar-benar mengatakannya tanpa berbasa-basi lagi. Ia mengatakan bahwa keinginannya untuk menghabisi seseorang telah gagal akibat sesuatu.
Tak lain adalah, keabadian Mira.
“Aku melihatmu masih hidup dan bersekolah tanpa luka segores pun. Bagaimana aku tidak berpikir aneh-aneh. Jujur saja aku merasa takut,” tutur Ania.
“Seperti yang aku bilang sebelumnya. Tak apa jika kamu tidak ingat, tapi jika ingat maka aku berharap padamu untuk tidak mengatakannya sembarangan,” tegas Mira.
“Yah, aku tahu. Lagipula tak ada untungnya melakukan itu. Selain aku yang benar-benar ingin membunuhmu, Mira.”
Alasannya tidak serumit yang Mira pikir. Ania berpikir untuk menghabisinya sebab ia merasa bahwa tindakan itu diperlukan. Seakan ia mengetahui sesuatu hal lebih dari dugaan Mira.
“Membunuhku adalah hal yang tepat. Tapi bagaimana denganmu, yang membunuh seseorang hanya karena dia membicarakanmu dari belakang?”
***
Bukanlah karena alasannya yang kekanak-kanakan melainkan karena tujuannya sendiri.
Salah satu dari rumor yang tersebar di kalangan anak gadis dalam kelasnya, ada yang menyatakan bahwa gadis bernama Ania ini sangat mengerikan.
Tentunya selain suka membuat onar, jadi sekalipun ia pintar maka dirinya akan ditempatkan di kelas sampah, kelas A.
"Dia membunuh murid yang menindasnya." Begitulah kata mereka mengenai tanggapannya tentang Ania.
Hanya itu saja takkan memperkuat rumornya. Mira yang ingin bertanya-tanya soal itu, masih ragu karena tidak cukup yakin apa benar Ania mampu melakukannya.
“Membunuhku adalah hal yang tepat. Tapi bagaimana denganmu, yang membunuh seseorang hanya karena dia membicarakanmu dari belakang?”
“Itu ...kenapa kamu ingin tahu?”
“Entahlah, aku sendiri ingin berteman dengan seseorang yang bukan orang biasa,” jawabnya ambigu.
Tapi siapa sangka, Ania sendiri yang mulai menceritakannya. Mengenai kemampuan dan hal-hal aneh yang hanya ada pada tubuh Ania sendiri.
Hal pertama tak lain adalah boneka terkutuk. Terbuat dari kain berisi kapas kasar, warna yang tergolong biasa coklat dengan mata yang terbuat dari kancing, serta mulut yang dibuat dengan jahitan benang. Sekilas memang nampak biasa, tapi setelah diperhatikan lebih jelas maka perasaan ngerinya jauh lebih terasa.
“Boneka ini akan berubah sesuai dengan apa yang aku ambil dari targetku. Sama seperti kau saat itu,” kata Ania sambil menunjuk Mira.
“Apa maksudmu?” tanya Mira yang semakin lama tidak mengerti penjelasan Ania.
“Bukankah aku sudah bilang sebelumnya. Saat pertama kali bertemu denganmu, aku merasa kau adalah orang yang misterius dan harus aku bunuh.”
“Jadi maksudmu, saat di koridor itu bukan kali pertama kita bertemu?”
“Ya. Tepat sekali. Pertama kali kita bertemu, adalah saat tes ujian. Aku duduk tepat di belakangmu, dan kemudian mengambil sehelai rambutmu,” ungkap Ania.
Kenyataan yang tak terbantahkan. Siapa yang mengira bahwa Mira bertemu dengannya saat tes awal saat itu. Emosi negatif Ania pun sama sekali tidak meningkat, justru kini saling terhubung dengan boneka itu secara berangsur-angsur.
Mira semakin yakin bahwa Ania bukanlah gadis biasa. Yang tentunya bukan hanya karena boneka itu.
__ADS_1
“Aku tidak merasakan sedikitpun kebencian darimu, justru sebaliknya. Mungkin orang lain berpikir kau adalah malaikat tapi bagiku, kau hanyalah satan berwujud gadis cantik,” tukas Ania.
“Kata-katamu tajam sekali, Ania. Tapi hanya karena itu kau ingin membunuhku. Bukankah itu berlebihan namanya?”
“Berlebihan? Bagiku itu sudah biasa. Lagi pula rumor yang kau dengar itu tidak hanya sekadar rumor belaka.”
“Kamu tahu, aku bisa saja sudah merekam suaramu lalu menunjukkannya pada polisi,” ucapnya mengancam secara sepihak.
Tidak ada perubahan sama sekali pada raut wajah Ania. Ia justru terlihat sangat tenang seakan itu bukanlah masalah atau kesalahannya sendiri.
Bertindak begitu percaya diri setelah dengan sengaja membeberkan segala tentangnya sendiri.
“Silahkan saja kau lakukan itu. Itupun kalau mereka mau mendengarnya.”
Hal-hal tak masuk akal tidak akan membuat kepolisan menuding pelaku yang secara logis tak ada bukti mengacu padanya. Ania tahu hal itu, dan kemudian membalas ancaman Mira dalam sekejap.
“Jika kau melakukannya, maka aku akan membuatmu mati di depan mereka. Lalu mau tak mau kau harus menunjukkan keabadianmu.”
Mira hanya bisa tersenyum sebagai ganti tidak bisa menanggapi perkataannya. Benar yang dikatakan oleh Ania, bisa saja ia melakukan itu bahkan tanpa ketahuan sekalipun.
“Bicaramu seperti itu akan mudah saja.”
Tapi, apa pun yang akan dilakukan Ania kepadanya, mana mungkin dibiarkan begitu saja oleh Mira.
“Hei, aku 'kan sudah kubilang, bunuh saja dia.” Sosok itu lagi-lagi menguping, dan kini menyahut satu persatu kalimat tanggapan baik dari Mira sendiri maupun Ania.
Meski tidak terlihat, Mira merasakan aura jahat mendekati Ania secara perlahan dari belakang pundaknya.
Dak!
Seakan hendak menyerang, Mira memukul ke arah atas pundak yang kemudian membenturkannya ke lantai. Meski tidak seberapa kuat pukulannya, namun tetap berdampak bagi sosok yang terlihat itu.
Ia melakukannya agar sosok itu tak lagi berbuat ulah pada Ania.
“Eh, apa? Apa yang mau kau lakukan?” tanya Ania terkejut sekaligus takut, bahkan sekarang ia mulai menjaga jarak dari Mira.
“Maaf, tadi ada nyamuk,” ucap Mira yang tidak pandai berbohong. Sembari ia menyunggingkan senyum tipis.
Insting tajam Ania seolah mengatakan, "Mira semakin berbahaya."
“Aku sudah menjawab pertanyaanmu dan kau juga. Tapi urusanku belum selesai.”
“Oh, apakah itu berarti kamu benar-benar ingin membunuhku, Ania?” Mira pikir, mereka berdua saling mengerti akan keadaan yang berbeda dari manusia pada umumnya.
Namun tampaknya Mira salah. Saat bertanya seperti itu, Mira menunjukkan ekspresi sedih dan kecewa.
“Tidak usah memasang wajah menyedihkan seperti itu. Aku tidak perlu belas kasihanmu hanya karena aku digunjing dari belakang. Lagi pula, ini sudah aku putuskan.”
“Meskipun sekarang aku mengetahui apa yang kamu rencanakan?”
“Ya. Aku tahu ini tidak akan mudah, dan juga berpikir ada kemungkinan kau menyergapku. Tapi tidak masalah, lagi pula aku tidak mudah mati.”
Berbicara mati, dan sebagainya, seakan-akan ia hidup hanya untuk membunuh. Ania sendiri yang membuat dirinya menjadi mesin pembunuh tak kenal perasaan, meskipun begitu Mira tidak bisa membiarkannya terus begini.
'Emosi negatifnya sepenuhnya terkendali, dia seperti orang biasa yang kebanyakan hanya mengeluh saja. Tapi dia berbeda, dia menganggap seseorang yang berbahaya sebagai musuh lalu membunuhnya,' batin Mira.
“Jadi, apa kamu akan melakukannya sekarang?”
“Kalau bisa.”
“Dan kamu pikir aku akan diam saja?”
“Tentu saja aku tidak pernah berpikir targetku akan lolos dan berdiam diri begitu saja, terutama setelah tahu maksud kedatanganku.”
Ania mengangkat tangan kanan, di antara sela-sela jari telunjuk dan jempol terdapat sehelai rambut hitam. Bisa dipastikan itu adalah milik Mira.
“Nah, mungkin sekarang aku bisa melakukannya.”
Sehelai rambut yang sekilas tak ada harganya itu dililitkan ke helaian benang dalam boneka. Setelah itu wujud boneka yang menyerupai beruang kini telah berubah menjadi sosok Mira.
“Mira, dengan begini kau sudah berakhir!”
Crak!
Dengan jarum setipis helaian rambut, ia menancapkannya langsung tepat ke jantung boneka, yang mana itu akan langsung menyerang target. Tak lain adalah Mira.
Berlangsung satu detik, Mira memuntahkan darah segar lalu tubuhnya pun tumbang tepat di hadapan Ania.
__ADS_1
“Hm, sukses. Lancar tanpa hambatan sama sekali. Tak kukira dia orang bodoh hehe,” ucap Ania kegirangan.
Tawanya yang menggelitik membuat perutnya terus geli, namun nyatanya kegembiraan Ania hanya berlangsung dalam waktu singkat sebab targetnya kembali bangkit begitu saja.