Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 36. Keluarga dan Teman


__ADS_3

Suara ketukan pintu terdengar selama dua kali, lantas membukakan pintu bagi siapa yang barusan mengetuknya.


“Ania?”


“Bolehkah aku menginap di sini?” tanya Ania sembari memalingkan wajah, ia enggan menatap wajah Mira sementara dirinya tersipu malu setelah meminta sesuatu pada Mira.


“Aku harap kamu tidak keberatan karena di sini sempit.”


***


Malam ini Mira kedatangan tamu lagi, tamu yang sama yakni Ania Kartikawati. Entah apa yang membuatnya berpikir ia ingin di sini, namun setidaknya Mira tahu satu alasannya, tak lain dan tak bukan hanya untuk mencoba menghabisi Mira sekali lagi.


“Aku tahu alasanmu itu. Tapi aku pikir ada hal lain setelah melihat ekspresimu itu?”


“Y-ya ...di rumahku bermasalah. Maaf.”


“Ternyata benar kamu tidak punya teman ya,” cerocos Mira.


“Apa masalahmu?”


“Kalau begitu, mulai sekarang kita berteman ya?” Mira mengulurkan tangan, berteman dengan Ania tidaklah buruk menurutnya.


“Apa-apaan? Aku berniat menghabisimu tapi kau mengulurkan tangan dan berkata ingin berteman denganku?” tanyanya dengan curiga.


“Ya, mungkin banyak orang berpikir kau itu mengerikan. Tapi aku percaya kau melakukan itu bukanlah tanpa sebab seperti orang gila pada umumnya.”


Ia mengulurkan tangannya lebih mendekat pada Ania. Lalu sekali lagi ia berkata, “Tapi aku merasa bahwa kita sama. Itulah mengapa aku berpikir untuk menjadikanmu teman tidak akan membuatku tersakiti lagi.”


Di satu sisi kebencian datang tak terduga karena insting liar Ania yang mengatakannya. Namun di sisi lain, dirinya yang dingin dan dipenuhi aura gelap justru merasa hangat hanya dengan mendengar suara Mira saja. Dan dari semua itu hal yang membuatnya semakin senang ialah senyum seorang gadis ini.


'Pertama kalinya ada orang yang mau berbicara denganku. Aku senang,' batin Ania. Diam-diam ia tersenyum tipis dan bahagia berkatnya.


“Ayo makan dulu, kebetulan aku punya stok lebih makanan kalengnya.”


“Ya.”


Walau agaknya Ania mulai terbuai dari bujuk rayu Mira, namun tetap saja Ania mulai berwaspada akan hantu yang kapan saja bisa muncul nantinya.


“Ada apa Ania?” tanya Mira, memperhatikan Ania yang selalu tengok depan tengok belakang. Ia juga gelisah sehingga satu suap pun belum dimakannya.


“Hantu itu, apa akan muncul lagi?”


“Aku rasa tidak, seharian ini dia tidak menggangguku. Jadi aku pikir aman. Ataukah jangan bilang kamu di sini karena ingin membasmi hantu itu?” pikir Mira.


“Mana mungkin. Aku tidak bisa menghabisi sosok yang tak kasat mata. Bukankah kamu sendiri bisa?”


“Mana mungkin. Kamu pikir aku dukun? Aku hanya gadis biasa yang kebetulan diberkati sesuatu tak wajar,” ungkap Mira terang-terangan selagi ia memakan makanan kaleng dengan sangat lahap.


“Orang tuamu?”


“Sudah lama tiada semenjak aku masih kecil.”


“Begitu. Apa tidak ada kerabat lain? Tinggal di sini saat masih sekolah, aku pikir itu tidak wajar.”


Sembari senyum paksa, ia menjawab, “Kamu benar. Aku ke sini demi menghindari orang-orang yang pernah kenal denganku. Bahkan kerabat dekat maupun jauh sudah memutus hubungannya denganku.”


Itu adalah pertanyaan yang seharusnya tidak ditanyakan, namun Mira tetap menjawab seakan itu bukanlah masalah. Ania yang dapat membaca wajah Mira saat ini, sudah jelas Mira hanya memasang senyum palsu setelah topik pembahasan menyangkut hal kekeluargaan.


“Maaf, aku kelewatan. Seharusnya aku tidak mengatakan hal menyedihkan seperti itu pada orang yang akan terbunuh nantinya,” ujar Ania.


“Kamu masih bersikeras melakukan itu rupanya. Sudah aku duga.”


“Makanya jangan terlena hanya karena aku ingin menginap di sini,” sindir Ania sembari melirik ke segala arah. Ia masih mewaspadai sekitarnya, itulah mengapa Ania sangat berhati-hati bahkan ketika makan juga. Seolah-olah ada bakteri atau sejenis itu.


Sampai detik ini tiada kehadiran sosok juga dengan suaranya yang biasa menjengkelkan seperti nyamuk berdenging. Hal itu membuat Mira jauh lebih nyaman dan Ania pun juga tidak terganggu lagi.


“Karena kamu bilang akan menginap, aku jadi tidak bisa menyiapkan apa-apa. Dan lagi aku hidup sendirian seperti yang kamu lihat, apakah benar tidak masalah?”


“Ya, lagi pula aku tidak punya siapa pun juga di rumahku. Kupikir tidak masalah, selama aku bisa menjaga diri.”


Rencana Ania yang akan menghabisi Mira malam ini, walau sudah ketahuan pun ia tetap nekat. Bahkan ia tak perduli apabila Mira menghubungi kepolisian saat ini. Jika disergap mungkin ia telah menyiapkan sesuatu sehingga ia takkan mudah ditangkap begitu saja.


Jalan pemikiran Ania sulit ditebak, Mira juga tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Ania nantinya.


Malam semakin larut. Malam berkabut dengan bulan purnama. Cuaca juga sangat dingin, bagi Mira cuaca dingin seperti inilah yang membuatnya tertidur lebih cepat. Hasilnya sesuai dugaan, ia telah terlelap begitu tergeletak di alas tidur tipisnya.


“Hm, tak kusangka dia selengah ini. Dia pasti terlalu percaya diri pada keabadian tubuhnya. Tapi, aku pikir itu tidak akan terjadi kali ini,” gumam Ania merasa kesenangan.


Ia bahkan tidak begitu mengetahui keabadian macam apa yang dimiliki Mira. Namun ia tetap nekat melakukan tindakan kriminal di saat-saat seperti ini.


Satu, dua tusuk jarum mengenai dua titik vital pada boneka yang sudah mengikat jiwa Mira. Ania sendiri juga telah memastikan bahwa Mira benar-benar sudah mati detik itu juga.


“Ini sangat mudah.”


“Kamu berpikir kalau keabadianku ada selama hantu itu ada bersamaku ya?” celetuk Mira.


Kaget mendengar suara Mira tiba-tiba, ia lantas melangkah mundur sembari berwaspada. Boneka dalam genggamannya lalu beberapa jarum tusuk telah ia siapkan dan dapat digunakan kapan saja.

__ADS_1


“Kau! Masih hidup?!”


“Sudah aku bilang. Tapi kamu tidak percaya, ya sudah.”


Darah yang terciprat dari muntahan Mira pada akhirnya mengotori alas tidur. Meski hanya sedikit, darah tetaplah darah dan akan sulit dihilangkan begitu saja.


“Kenapa?!”


“Ania, padahal aku berharap kamu mau berteman denganku.”


“Seharusnya kau mati! Tidak ada yang selamat dari boneka ini! Tapi kau—!”


“Mungkin seharusnya aku tidak memberitahukan hal ini padamu ya,” pikir Mira. Entah kenapa baru sekarang ia merasa menyesal karena memberitahukan keabadiannya itu.


“Hei, jawab aku! Kenapa kau masih hidup?!”


“Aku abadi, tahu.”


“Lalu, kenapa kau diam saja? Aku mengincar nyawamu dan kau masih bersikap tenang hanya karena abadi. Itu tidak masuk akal! Kau bisa membalasku dengan membunuhku 'kan?!”


“Ya, aku bisa melakukan itu.”


“Lalu kenapa tidak kau lakukan sejak awal? Keadaanmu diuntungkan di sini.”


“Karena aku tidak mau melakukan itu, sebab aku berpikir jika aku berteman dengan orang-orang yang tidak biasa sama sepertiku, maka ke depannya tidak akan seburuk yang dulu pernah terjadi,” ujar Mira dengan jujur.


Pintu kembali diketuk oleh seseorang dari luar. Di malam selarut ini, entah siapa yang datang berkunjung di saat mereka berdua tengah membicarakan hal serius.


“Kak Via?”


“Maaf menganggumu, oh? Ada tamu lain ya?”


Rupa-rupanya adalah Via.


“Ya, temanku. Kakak sendiri untuk apa datang kemari di malam selarut ini?” balas Mira.


“Maaf. Aku datang ke sini untuk mengatakan bahwa aku ingin membuatmu menjadi bagian dari keluargaku.”


***


Via datang di malam dingin ini. Terlebih saat adanya Ania. Mira merasa canggung, apalagi mereka berdua sendiri.


“Itu ...barusan kak Via bilang apa ya?” tanya Mira sekali lagi.


“Aku ingin menjadikanmu sebagai anak angkatku. Yah, istilahnya begitu. Apa kamu tidak mau?”


“Mungkin kamu bertanya-tanya apa alasanku yang ingin menjadikanmu sebagai anak angkatku. Itu karena aku merasa berhutang budi padamu, Mira.”


“Hutang budi? Kupikir itu tidak, karena kita jarang sekali berbicara satu sama lain.”


“Maksudku, karena adikku dan Kina. Kamu tahu maksudku bukan.”


“Begitu rupanya.” Mira sedikit merasa sedih, sejujurnya ia mau-mau saja jika ada kaitan dengan keluarga Kina tapi ia juga tak mau merepotkan. Dan lagi perasaan bersalah terkadang muncul tak terduga sehingga membuatnya ragu.


“Bagaimana jawabanmu?”


Mira masih terdiam saat setelah mendengar pernyataan dari kak Via.


Via lantas menghela napas panjang, dan kemudian berkata, “Baiklah, aku akan menunggu jawabanmu. Pikirkan matang-matang atau kamu menyesal di kemudian hari.”


“Baik.”


***


Kembali bersekolah di cuaca yang masih terasa dingin ini. Matahari tertutup awan yang sedikit gelap, mungkin hujan akan turun.


Dan hari ini, rasanya murid semakin berkurang saja. Banyak dari mereka yang belum datang meski jam masuk sebentar lagi.


“Dia masih datang di cuaca seperti ini. Tidak aku sangka.”


“Haha, mungkin karena dia tidak pernah sakit jadi selalu masuk. Dia itu juga rajin, jangan lupakan itu.”


“Apa itu? Dukun yang rajin sekolah? Haha!”


Cara murid-murid terutama murid perempuan membicarakan seseorang dari belakang, benar-benar tidak membuat hati orang senang. Rasa sesak di dada, ingin sekali Ania menjambak rambutnya mereka itu.


“Ssstt, dia datang kemari. Diam dulu sebentar.”


Saat ketika Ania melintasi sekelompok murid perempuan tersebut, mereka diam seakan diri mereka tidak pernah membicarakan sesuatu hal buruk.


“Konyol,” gerutu Ania.


Padahal jelas sekali Ania mendengar suara mereka yang keras. Ania juga merasa bahwa mereka memang sengaja melakukan itu dari belakang.


“Menjengkelkan!”


Semakin lama ia semakin kesal, semakin cepat pula ia berjalan dan menuju ke lantai satu. Namun, baru saja ia menapaki tangga terakhir, bel masuk sudah berbunyi.

__ADS_1


“Apa? Sudah masuk saja?!”


Emosinya semakin membludak dari waktu ke waktu. Lekas ia kembali menuju kelas, yang ternyata guru sudah datang lebih cepat dari perkiraan.


“Hari ini hanya 10 murid yang datang?” tanya guru perempuan tersebut.


“Ya, bu!”


“Tunggu sebentar! Ania baru saja kembali dari luar,” sahut Mira. Dirinya hendak menyelamatkan Ania yang baru saja kembali ke kelas.


“Bu guru, Ania sepertinya tidak berniat untuk sekolah. Jadi kenapa tidak disuruh berdiri di luar saja?” sahut murid perempuan lainnya. Ia yang memiliki potongan pendek dan berponi, nampaknya ingin sekali melihat Ania dihukum.


'Cewe itu! Kenapa dia selalu saja ...! Argh! Awas kau!' amuk Ania dalam benaknya.


Sewaktu jam kosong anak perempuan berponi itu berkumpul dengan teman-teman lainnya. Kadangkala ia juga hanya berdua dengan anak perempuan yang memiliki tanda lahir di bagian lehernya.


“Awas saja.”


Ania membuntuti mereka berdua, yang kerap kali membicarakan Ania. Bukan berprasangka baik justru semakin buruk. Hal yang membuatnya jengkel adalah hal seperti ini.


Dalam kondisi seperti itu, tumbuhlah kebencian sedikit demi sedikit. Lalu Mira pun melihatnya, namun tidak bisa melakukan sesuatu untuk sekarang ini.


Sepulang sekolah, di rumah Ania yang sangat sepi. Ania kembali mengutak-atik bonekanya. Ia telah mengambil sesuatu yang merupakan bagian dari si target pertama, helaian rambut berwarna coklat.


“Hahaha, lihat saja. Aku tidak akan melepaskanmu. Ini balasan dariku,” gumam Ania.


Perangainya memang tidak berubah sedikitpun. Sesaat setelah wujud boneka menyerupai anak perempuan berponi, ia tak menyia-nyiakan waktu tuk menghabisinya melewati boneka terkutuk.


Hanya bermodalkan satu jarum yang tipis, ia menusuk tepat ke titik vital. Murid tersebut pun dalam sekejap tiada di kamarnya dalam keadaan pintu terkunci.


***


Keesokan pagi harinya, berita duka telah tersiar ke seluruh murid dan guru. Siapa pun tidak pernah berpikir akan ada kejadian mengenaskan seperti ini. Semuanya dihebohkan dengan berita yang kadangkala tidak bisa dipercayai.


Terutama teman dekat anak itu. Ia menangis sepanjang waktu, sempat berhenti meskipun dirinya merasa tidak bisa tenang.


“Bukankah ini aneh. Kemarin dia baik-baik saja. Aku tidak pernah mendengar dia sakit atau apa. Jadi kenapa tiba-tiba?”


“Sudah, aku tahu kau merasa sakit hati. Tapi bukan hanya kamu saja, kami juga.”


“Tapi ...tapi ...,”


“Sudah cukup, kita akan menggunakan waktu ini untuk berduka.”


Banyak dari mereka yang menangis, tak terkecuali dengan Mira. Meski hanya singkat saat memulai percakapan dengannya, tetap ia merasa sedih.


“Aku tidak pernah mengontaknya lebih jauh. Jadi kupikir ini bukanlah kesalahkanku.”


Kadangkala pikiran Mira dipenuhi dengan perasaan bersalah, terlebih saat ada seseorang yang meninggal di saat seperti ini.


Namun sekarang, orang yang berbeda dari manusia biasa tidak hanya Mira seorang. Ada satu hal yang membuatnya curiga.


“Ania, apa ini ulahmu?”


Tak terlihat wajah Ania yang merasa senang atau bahagia. Ia jelas terlihat biasa saja seakan hari-hari ini akan berlalu sama seperti biasanya.


“Ania, boleh aku bicara sebentar?”


“Mira? Kau berani menemuiku di saat kelas ramai begini?”


“Itu tidak ada hubungannya. Aku hanya ingin bertanya, setidaknya sebelum murid yang duduk di dekatmu belum kembali.”


Wajah seriusnya dengan tatapan sedikit tajam, tersirat perasaan kesal serta kecewa. Baru kali pertama ini Ania melihatnya.


“Ada apa? Kau mau melaporkanku?”


“Ternyata benar ini ulahmu. Kau tidak akan melakukannya jika mereka tidak menggunjingmu, tapi tindakan seperti itu sudah berlebihan,” ujar Mira.


“Berisik. Tidak usah ikut campur jika kau tidak berani mengadu.”


***


Sikap Ania terkesan seolah ia tengah diburu waktu. Selama jam pelajaran ia selalu memperhatikan Ania dan beberapa murid yang mungkin saja masih menyinggungnya hingga saat ini.


Selang beberapa waktu, tepat pada pukul 12 siang, gunjingan terhadap Ania tidak berhenti. Dan lagi mereka menuduh perbuatan itu adalah ulahnya Ania, sampai-sampai ia diadukan ke para guru.


“Itu percuma saja. Kalian tidak akan menemukan bukti apa pun. Apalagi mereka hanya sekadar bicara,” gumam Mira. Ia menguping pembicaraan antara pelapor dan guru.


Situasi itu tidak kunjung larut juga, Ania telah bergerak dan membuntuti salah satu murid yang adalah teman dekat korban itu.


Ia yang memiliki tanda lahir di leher, tidaklah sulit menemukannya sehingga kapan pun Mira dapat menghentikan tindakan Ania nantinya.


“Ania, tolong jangan lakukan hal bodoh.” Mira berharap.


Jam sekolah telah berakhir. Ania memperdekat jarak di antaranya dengan anak perempuan itu. Saat ketika ia berada persis di belakangnya, Ania mengulurkan tangan hendak meraih sesuatu darinya.


“Hei, kakakmu datang menjemput nih! Ayo cepat kemari!” seru seseorang, memanggil anak perempuan tersebut. Reflek Ania mengurungkan niatnya yang hendak mengambil helaian rambut.

__ADS_1


__ADS_2