
Setelah malam yang panjang berakhir.
Mira kembali pulang saat fajar menyingsing. Rumah yang seakan telah lama tidak dihuni, mendadak jadi sangat menakutkan. Beberapa memori buruk terkadang melintas tidak tepat pada waktunya, entah yang lama ataupun yang baru kemarin terjadi.
“Aku merasakan firasat buruk saat ini. Kira-kira kenapa ya?”
Sejujurnya ia tidak ingin memikirkan hal itu lebih mendalam. Namun berhubung Kina tidak lagi dijerat oleh mahluk-mahluk tersebut, ia jadi bingung harus melakukan apa saat ini.
“Aku sudah lulus, dan tes awal dan akhir sudah berakhir. Sekarang yang tersisa adalah menunggu apakah aku akan diterima atau tidak. Yah, aku tidak begitu berharap, tapi ya sudahlah.”
Hari ini mungkin akan sama lamanya seperti malam itu. Hanya saja yang membedakan adalah apa yang akan terjadi pagi ini.
“Mungkin aku harus berjalan-jalan saja seperti biasanya.”
Walau tidak ada yang menyambut pagi, seperti biasa Mira berkeliling sembari mengumbar senyumnya dengan riang. Tidak peduli tanggapan semua orang terhadapnya, Mira selalu melakukan hal itu. Sesekali ia pergi ke taman, atau bahkan lapangan, juga toko buku yang biasa menyediakan buku bekas.
Keberadaannya memang tidak diterima dengan mudahnya namun ia tetap tenang dan menganggapnya biasa.
“Mira!” Hal yang jarang adalah seseorang memanggilnya. Tanpa mengenali suaranya pun Mira langsung tahu siapa yang memanggilnya dengan akrab.
“Paman!”
Tak lain adalah seorang paman sekaligus Ayah bagi Kina, yang memiliki Toko Barang Antik. Tampaknya ia sedang berbelanja sesuatu, dan secara kebetulan melihat Mira dalam perjalanan pulang.
“Sedang apa kamu di sini? Pagi-pagi seperti ini kamu jauh lebih semangat.”
“Ya, aku hanya bosan saja. Dan paman seharusnya tidak keluar dari rumah di saat kondisi paman tidak memungkinkan.”
“Haha! Tidak apa, tidak apa!” ucapnya dengan sangat semangat. Ia meninggikan suara seraya memegangi otot lengan yang sebetulnya tidak begitu terlihat.
“Paman masih sakit bukan?”
“Ini berkat 4 jam-ku, yang aku gunakan untuk tidur. Selama itu tubuhku beristirahat dan terasa sangat bugar ketika bangun tadi.”
“Hanya 4 jam saja, aku pikir itu tidak cukup paman.”
“Begitu 'kah? Lalu Mira, apa kamu ingin ke rumah kami? Kina sedang tidur tapi bagiku tidaklah masalah jika kamu datang.”
Mira menolak tawaran paman. Lantas keduanya pun berpisah di jalan itu. Dalam perjalanan pulang ke toko, paman melihat pintu toko sedikit terbuka.
“Pencuri di pagi-pagi seperti ini?”
__ADS_1
Terkejut karena hal itu, sebab dirinya yakin ia sudah menutup pintu dengan benar, bergegas ia memeriksa ke dalam sembari mewaspadai jika ada kemungkinan pencuri yang masuk.
“Pagi.” Dan ternyata bukanlah pencuri melainkan kakaknya sendiri.
“Apa ...ternyata hanya kakak rupanya. Aku kira siapa,” gumamnya lirih seraya menghela napas lega.
“Kenapa ekspresimu begitu? Tidak suka ya kalau aku ada di sini?” sindirnya begitu sinis.
“Yah, bukan apa-apa. Aku hanya kaget saja karena pintunya terbuka. Ngomong-ngomong Kina masih tidur, aku harap kakak tidak mengganggunya lebih dulu.”
“Tumben sekali kau berkata begitu. Pasti masalahnya sudah terselesaikan ya,” terka si kakak dengan benar.
“Kenapa kakak bisa mendapatkan kesimpulan seperti itu?”
“Kenapa? Bukankah kau yang menyuruhku untuk melakukan sesuatu secepatnya? Tapi sekarang kau menyuruhku untuk tidak menganggu Kina,” ujarnya.
Ucapan kakak paman itu benar. Paman seketika jadi tidak bisa berkata apa pun selain diam dan terus menghela napas. Lantas ia duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah kakaknya.
“Ya, itu benar. Berkat Mira, semuanya selesai.”
“Lalu? Dari mana kau dapatkan luka itu? Terlihatnya sangat parah, tidakkah kau pergi ke dokter?”
“Itu tidak perlu. Aku sudah sangat sehat bahkan sempat berlarian di luar.”
Alih-alih tak begitu mempersalahkan soal siapa yang menyelamatkan Kina dan bagaimana. Kakak paman justru menanyakan keadaan Kina, yang secara tak langsung tertuju dengan pertanyaan, "Apa penyebabnya."
Paman akhirnya menceritakan semua yang bisa ia ceritakan. Dimulai dari Kina yang kesakitan di bagian kedua kakinya. Ia terus berteriak dan meminta ampun sebab terlalu merasa kesakitan pada saat itu. Lalu, tak berselang lama Mira datang.
“Mira datang bukan karena kebetulan, aku yakin dia merasakannya. Sama sepertimu kak,” pikir paman.
“Kalau benar begitu, kenapa hanya dia? Sedangkan aku tidak sama sekali saat itu.”
“Tenanglah lebih dulu, kak.”
Berlanjut, pada Mira yang berusaha menolong Kina. Namun yang paman tahu Mira hanya berteriak memanggil Kina tanpa melakukan apa pun. Meski ada sedikit reaksi, tetapi pada akhirnya semakin memburuk.
Sosok hitam yang tampak memiliki wujud manusia namun juga tidak di saat bersamaan. Sosok yang menyerupai manusia, namun tidak memiliki bagian tubuh yang lengkap contohnya seperti wajah atau bagian yang lebih menonjol dari itu.
“Sejujurnya aku tidak pernah melihat itu.”
“Hei! Kalau sudah terjadi sesuatu yang buruk seharusnya kau hubungi aku, bodoh!”
__ADS_1
“Aku sudah mencobanya, kak. Maka dari itu dengarkan dulu ceritaku!”
Keduanya saling membentak karena mereka terlalu terburu-buru untuk memahami situasi malam itu.
“Baiklah, cepat sana! Lanjutkan!”
Sesaat sebelum kedatangan sosok tersebut, ada hal yang paling janggal yakni toko sekaligus rumah miliknya. Tak satupun jalan keluar dapat dibuka, baik pintu maupun jendela. Saat paman menceritakan ini padanya, si kakak justru tidak mempercayainya.
“Tidak mungkin!”
“Lalu kenapa? Aku sudah mencoba menghancurkannya tahu!”
“Itu karena kau tidak punya kekuatan fisik yang kuat!”
“Kak! Aku mencoba memecahkannya dengan alat bantu tahu!”
“Oh, begitu? Lalu kenapa tidak menghubungiku?”
“Sudah kubilang, teleponnya tidak berfungsi!”
Meski keduanya semakin lama semakin cekcok akibat si kakak terlalu tidak mempercayai hal-hal seperti itu. Namun paman tetap menceritakannya sampai akhir.
Sampai ketika ia mulai menceritakan, di mana sosok tersebut mulai menyerangnya dan Mira.
“Karena hantu itu, aku jadi begini. Jadi mana mungkin aku ke rumah sakit lalu menjelaskan hal yang sama.”
“Hah?”
Situasi yang paling tersulit adalah ketika Mira dan paman bersembunyi dari sosok itu. Lalu selama beberapa waktu mereka mencoba memikirkan jalan keluar, serta bagaimana cara menghadapi sosok itu.
Tapi setelah keluar dari tempat persembunyian, mereka justru tidak menemukan sosok itu dan pintunya pun bisa dibuka. Dikira sudah tenang, tapi nyatanya tidak sama sekali.
“Aku melihat kamar Kina menjadi sepenuhnya gelap, selain karena lampu mati, di sana aku melihat seperti jaring atau mungkin sesuatu yang berwarna hitam pekat.”
“Yang menjerat tubuh Kina?”
“Ya.” Paman menganggukkan kepala. “Kalau tidak salah, Mira pernah bilang bahwa Kina dalam bahaya lalu dia langsung menerobos masuk dan memintaku menunggu di luar.”
“Lalu?”
“Seperti biasa dia hanya memanggil Kina secara berulang, kadang-kadang juga bilang "Pergilah, pergilah!", sama ketika mereka kembali bertemu saat itu,” jelasnya.
__ADS_1
“Hm, lalu apa lagi yang aneh dengan Mira? Beritahukan aku.”
“Hal yang aneh ...mungkin karena Mira tidak pernah terluka?” Paman sedikit bingung menjelaskannya, bahkan ia ragu apakah itu benar terjadi atau tidak.