Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 33. Suara Misterius


__ADS_3

“Baiklah kalau begitu. Aku akan menjawabnya, tapi tidak untuk sekarang, kak. Mohon pengertiannya.”


“Baiklah, terserah saja. Aku akan menunggu jawabanmu. Tapi tidak lebih dari 3 hari. Dan satu hal lagi, aku percaya bahwa kamu bukanlah orang seperti itu.”


Setelahnya Via pergi meninggalkan kamar kontrakan Mira. Dan tentunya ia tidak menjawab pertanyaan Mira, begitu juga dengan sebaliknya. Terkadang ada beberapa hal yang tak ingin dibeberkan oleh orang lain, itulah mengapa Mira ragu mengatakan hal itu.


Namun, mungkin ini tidak akan bertahan lama. Mira yang tahu hal itu disebabkan karena kejadian-kejadian sebelumnya, yang belum lama ini diketahui oleh paman dan Kina.


“Dia mencurigaiku sebagai pembunuh Kina dan paman ya?” pikir Mira.


“Kubilang, bunuh saja dia. Dengan begitu tidak akan ada yang menganggumu lagi,” tutur sesosok misterius. Ia hanya diperdengarkan suaranya saja.


Berulang kali, Mira mencoba mencarinya di sekitar namun berujung nihil.


“Oh, jadi ini yang kau maksud "lain kali"?”


“Benar. Aku tidak akan menunjukkan wujudku secara terang-terangan sebelum waktunya. Tapi bukan berarti aku akan melepaskan pandangan terhadapmu.”


“Hei, coba katakan alasanmu mengawasiku?”


“Itu karena dirimu. Apa lagi?”


“Itu tidak menjawab pertanyaanku. Tapi mungkin ini sesuai dugaan, kau mengincar tubuh abadi ini?”


“Tidak. Lebih tepatnya tidak mengincar, melainkan membawamu kembali. Bukankah sudah kubilang, kamu bukanlah bagian dari dunia ini.”


Setelah itu, suaranya tak lagi didengar oleh Mira. Tak perduli beberapa kali ia memanggil, suara itu tak lagi menyahutnya seperti sebelum ini.


“Entah kenapa semakin menjengkelkan saja. Aku harap yang barusan bukanlah emosi negatifku yang hidup.”


“Hahaha!!!” Tiba-tiba saja terdengar tawa yang begitu menggelegar.


“Kau?!”


“Kau sendiri adalah bagian dari mereka, tapi kau justru mengira bahwa suaraku adalah emosi negatifmu yang hidup? Hahaha!” sahut sosok tersebut yang mendadak jadi sombong sekali.


“Ini pertama kalinya aku mendengarmu tertawa sekeras ini, dan bersikap kurang ajar. Tidak seperti sebelumnya yang ramah!”


“Tentu saja. Kau pikir aku mau terus begitu? Dengar ya, walau kau ada di atasku, aku akan tetap berada di sampingmu. Selamanya.”


Setelahnya ia kembali menghilang. Situasi dalam kamar benar-benar hening tanpa suara kecuali suara-suara yang berasal dari luar ruangan. Sempat pemilik kontrakan datang, karena ia mengaku mendengar suara laki-laki di kamar Mira.


“Kamu bawa pacarmu ya?” tanya pemilik kontrakan.


“Eh, tidak! Ibu salah paham!” sangkal Mira panik. Gelagatnya yang terlihat gugup justru semakin dicurigai olehnya.


Namun setelah pemilik kontrakan sendiri yang memeriksa dalam kamar, barulah ia percaya tidak ada seorang pun kecuali Mira sendiri.


“Hah! Kali ini kamu lolos, nak. Suatu hari nanti, aku akan menemukan pacarmu yang ceaot kaburnya itu!” cetusnya lantas pergi dengan langkah besar, seperti raksasa.


“Ba-baik bu! Maaf! Tapi yang saya katakan itu benar!”


Tepat setelah kepergian Ibu pemilik kontrakan itu. Datang lagi suara yang sama, berbisik langsung ke telinga Mira saat ini.


“Hei, apa yang aku katakan sebelumnya itu bukan kebohongan seperti yang sering dilakukan manusia.”


“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”


“Suatu saat nanti, aku akan menunjukkan wujudku, entah yang asli atau yang palsu. Tapi perlu aku ingatkan, jika aku muncul dalam wujud asli maka saat itulah kau akan kembali bersamaku,” tuturnya.


“Aku ...tidak mengerti. Apa pun yang kau katakan, sama sekali tidak masuk akal. Aku itu manusia,” sahut Mira. Enggan menyangkal bahwa dirinya tetap adalah manusia dan bagian dari dunia ini.


***


Keesokan harinya, di sekolah. Hari kedua.


“Selamat pagi.”


Hari-hari ini tidak terasa menyenangkan lagi. Meskipun sudah mengucapkan selamat pagi, namun itu tak berefek pada satu murid.


Ania. Ia berdiri, berhadapan langsung dengan Mira di depan gerbang sekolah. Ia nampak menghalangi jalan Mira seakan enggan menyingkir ataupun setidaknya memberi sedikit jalan.


“Ada apa, Ania?”


Mira terlalu awal berada di sekolah sehingga masih belum banyak murid yang hadir. Lalu, ini adalah salah satu alasan mengapa mereka berdua berdiri di tengah gerbang sekolah.


“Kamu butuh sesuatu?” tanya Mira.


“Ya. Aku butuh jawaban dari pertanyaanku.” Ania menunjuk Mira, lekas ia kembali berkata, “Kenapa kamu masih hidup?”


Seketika Mira tersentak. Ia ingin sekali tidak menjawabnya dan mengalihkan topik pembicaraan. Tapi itu tidaklah mungkin, dikarenakan Ania sendiri tidak menyangkal bahwa dirinya memang berniat membunuh Mira.

__ADS_1


“Kalimatmu cukup kasar, Ania. Tapi tidak masalah. Baiklah aku akan menjawabnya.”


Selangkah ia maju ke depan, mendekati Ania dengan raut wajah biasa sementara Ania sendiri nampak sangat jengkel.


“Katakan!” bentak Ania.


Ania membentak dengan suara keras, tapi dari dekat semakin terlihat ia bukannya menegas tapi justru semakin merasa takut akan keberadaan Mira sendiri.


“Mungkin seharusnya aku memperjelas situasi ini.” Mira menunjuk boneka itu. “Kamu mengutukku melalui boneka yang sempat mirip denganku sebelumnya bukan? Aku tahu, kamu melukainya di bagian mana saja.”


Kembali ia menjaga jarak dari Ania. Ia menatap wajah Ania yang semakin lama semakin panik. Tapi Mira tetap tersenyum seakan tak pernah terjadi sesuatu.


“Tangan, kaki, leher, hampir semua tubuhku terpenggal. Mau aku kehabisan darah atau semacamnya, itu tetap tidak akan membuatku tersiksa.”


“Hah?! Itu tidak mungkin!! Pasti ada kesalahan kemarin,” ucap Ania yang masih bisa menyangkal. Ia juga merasa tak percaya bahwa targetnya saat ini masih hidup dan utuh dari atas sampai bawah.


“Itu mungkin. Karena aku abadi,” jawabnya sembari melewati posisi Ania. Ia pergi tanpa menunggu tanggapan Ania seperti apa setelah mendengar fakta tersebut.


“Bohong. Abadi? Manusia mana ada yang begitu? Dia monster ya? Tidak mungkin.”


“Itu benar. Buktinya aku masih hidup,” sahut Mira.


“Eh?”


Hawa tak enak, membuat perasaannya tidaklah nyaman, Ania bergidik merinding dan tak kuasa menahan beban beratnya sendiri. Hingga ia terjatuh dengan kedua lutut tertekuk lemas dan tak berdaya.


Tetapi, siapa yang akan menyangka. Percakapan di antara mereka berdua terdengar oleh sebagian murid yang baru saja datang. Dan itu menyebabkan semua murid perempuan di kelas berkumpul di mejanya saat menjelang istirahat.


“Hei, benarkah kamu bisa membuat perempuan itu terdiam? Bagaimana caramu melakukannya?”


“Kamu namanya Mira 'kan? Salam kenal, aku duduk di bangku paling depan. Lalu, bagaimana caramu menjatuhkan harga diri dia?”


“Aku yakin dia melakukannya dengan baik.”


“Mira memang hebat ya? Aku tidak menyangka selain cantik, Mira juga bukan perempuan yang lemah lembut.”


“Sisi tegasnya keren juga. Aku mulai suka dengan Mira.”


“Baguslah si Ania itu tidak lagi bersikap sombong. Dia benar-benar merepotkan!”


Banyak dari mereka yang mencibir Ania lalu membanggakan sikap Mira saat melawannya. Mereka semua mungkin sudah lama memiliki dendam terselubung pada anak murid satu itu. Entah apa yang Ania lakukan pada mereka, tapi jika dilihat dari reaksinya, mungkin saja berkaitan dengan boneka terkutuk itu.


Keadaan semakin tak terkendali usai berita lebih cepat menyebar. Dibanding kebaikan, nampaknya keburukan jauh lebih baik dan banyak dipikirkan oleh orang-orang seakan memang dibutuhkan.


“Aku tidak percaya, bahwa Mira ternyata bukan orang pendiam seperti yang kebanyakan orang kira. Apakah aku benar?”


“Hei, hei, jangan asal tanya begitu. Kau pikir Mira akan menjawabmu?”


“Sudahlah, aku ...sebenarnya tidak begitu mengerti apa yang kalian bicarakan saat ini,” sahut Mira kerepotan.


Duduk di bangku belakang pun, dirinya dikerumuni. Sepertinya banyak orang mulai menyukai diri Mira, tak seperti saat itu. Di mana semua orang akan menjauhinya setelah tahu jati diri Mira.


Ini adalah kali pertama Mira diperlakukan layaknya manusia.


Namun terjadi yang sebaliknya pada Ania. Posisi Ania seperti Mira di masa lalu, ada perasaan simpati akan tetapi ia tak bisa sembarangan mendekatinya. Terlebih setelah tahu apa yang Ania coba lakukan kepadanya di malam itu.


“Apa kalian berdua dulunya saling mengenal?”


“Tidak, tidak sama sekali. Aku tidak mengenalnya tapi kemarin dia mengajakku berbicara.”


Semuanya pun terkejut. Beberapa dari mereka saling mengontak mata satu sama lain, seakan tengah mengkode sesuatu.


“Hei, Mira.” Kemudian salah satu dari mereka berbisik pelan padanya.


“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan padanya kemarin. Tapi aku sarankan, jangan mendekatinya lebih dari sebelumnya.”


Saran dari salah seorang murid, dan diyakini oleh murid-murid lainnya. Entah apa maksud mereka, tapi yang pasti, informasi dari mereka akan berguna.


“Memangnya ada apa?” tanya Mira.


“Ania itu, dulu dikenal si pembuat onar. Meskipun dia pintar, tapi begitulah dia. Dulu pernah ada rumor dia membunuh salah satu murid yang menindasnya.”


“Eh? Apa itu benar?” Sontak saja ia terkejut. Ternyata Ania memang memiliki keberanian seperti itu. Rasanya memang pantas ia memiliki kemampuan boneka terkutuk, sehingga bukti kejahatan tak masuk akal pun akan lenyap dengan sendirinya.


Benar-benar gadis pemberani.


Brak!


Gebrakan meja terdengar dari meja bagian kanan di baris kedua. Tak lain adalah tempat duduk Ania, ia pergi setelah mendengar perbincangan antara Mira dan lainnya.


“Apa dia marah?” pikir Mira.

__ADS_1


Memastikan dengan mata kepalanya sendiri, Ania keluar kelas dan menuju ke bawah, lantas Mira segera membuntutinya sebelum kehilangan jejak.


“Eh? Kamu mau ke mana Mira?”


“Apa yang mau kamu lakukan? Tunggu!”


Banyak dari murid perempuan yang tak ingin Mira pergi, setelah mereka tahu bahwa Mira akan pergi menemui siapa. Tapi hal seperti itu tidaklah penting baginya, selain rasa penasaran akan murid perempuan yang bernama Ania Kartikawati ini.


“Tunggu, Ania!”


Hendak meraih tangannya, namun langsung ditepis dan diacuhkan begitu saja. Tak sampai situ, Mira masih mengikutinya hingga ke tempat yang jauh lebih sepi dibandingkan tempat-tempat lainnya di sekolah ini.


Di bagian halaman belakang.


“Kau ini! Kenapa masih mengikutiku?”


“Kenapa? Tentu saja aku ingin berbicara denganmu, Ania.”


“Hei, jangan sok akrab denganku! Dan jangan panggil aku begitu!”


“Apa yang kamu katakan? Namamu adalah Ania bukan? Kenapa aku tidak boleh memanggilmu begitu?” tanya Mira tidak bisa memahaminya.


“Karena kau mencoba untuk sok akrab denganku bukan?”


“Apa itu tidak boleh? Kupikir kamu tidak punya teman.“


“Heh, bicara seenaknya.”


Cara bicara yang ketus mengingatkannya akan Kina. Dari satu sisi Kina dan Ania begitu mirip. Namun kekejamannya tidaklah sejenis. Kina bukanlah orang yang mudah melayangkan senjata untuk membunuh seseorang atas dendamnya. Lain cerita jika Ania, sekali dibuat kesal maka nyawa mereka lah yang menjadi taruhan.


Jika dipikir-pikir pemikiran Ania sungguh tidak masuk akal. Dan meskipun emosi negatif itu hanya mengalir ke boneka yang disembunyikan di balik jaket miliknya, kenyataan itu tetaplah emosi negatif milik Ania. Takkan ada yang tahu kapan ia akan mengamuk.


“Aku tidak ingin mengulangi hal yang sama. Pergilah dari sini!”


“Tidak, sebelum kamu menceritakan kejadian yang sebenarnya. Aku yakin kamu bukanlah orang semacam itu,” ucap Mira yang berkata seolah-olah ia tak mempercayai rumor tersebut.


“Apa maksudmu?” balasnya bertanya selagi ia duduk bersandar pada bangku panjang.


“Kamu pasti mendengar percakapanku dengan yang lain bukan? Kamu dikira seorang pembunuh loh.”


“Memangnya kamu mau apa saat tahu itu?”


Lagi-lagi ia ketus begitu. Entah sampai kapan Ania akan keras kepala. Dan tak hanya itu, Ania tampak sedikit ketakutan dengan keberadaan Mira.


'Dia gadis abadi? Hm, siapa yang akan percaya itu,' batin Mira.


***


Ketidakpercayaannya akan keabadian Mira, membuat Ania nekat untuk pergi membuntuti Mira sepulang sekolah. Keduanya memang masih belum akrab, dan tanpa disadari bahwa Mira sebenarnya sudah menyadari keberadaannya.


“Hei, kau yakin tidak mau membunuh dia? Dia akan menjadi pengganggu kau tahu.” Sosok itu lagi-lagi berkomunikasi dengan Mira tiba-tiba.


“Memangnya kenapa jika dia pengganggu? Aku justru senang mendengar ada orang yang memiliki nasib seperti diriku.”


“Haha! Jangan membuatku tertawa. Bagiku, kau tidaklah sama dengan manusia rendahan seperti itu.”


“Berisik sekali kau ini.”


Hari sudah siang, dan waktu berlalu begitu cepat. Setelah pulang kembali ke kamar kontrakan, dirinya kembali keluar menuju ke sebuah tempat untuk membeli makanan.


Dan tampaknya Ania masih belum berniat untuk menyerah. Ia masih membuntuti Mira dengan sangat jelas.


“Cih, aku masih belum bisa mendapatkan bukti fakta tentang dia yang benar abadi atau tidak. Dan aku juga tidak bisa mengutuknya sekarang,” gerutu Ania lantas berdecih kesal tak karuan. Sesekali dirinya menggigit ibu jari, lekas ia pergi mengikutinya kembali.


“Ya ampun, kenapa tidak langsung mampir ke rumahku saja? Dan lagi, apa tidak ada orang yang akan mengkhawatirkannya di rumah karena dia belum pulang?” Mira bertanya-tanya sebebas apa Ania sebenarnya.


Kembali ke kamar kontrakan setelah membeli makanan untuknya di malam ini. Sembari menunggu waktu, Mira merebahkan diri sejenak dengan selimut membungkus sedikit bagian tubuhnya. Ia berbaring ke arah kanan menyamping, menghadap dinding yang memiliki warna pucat.


“Kau sekarang tidur?”


“Ya. Ngomong-ngomong suaramu terdengar dekat sekali. Kau ada di mana?” tanya Mira.


“Aku saat ini sedang tidur di sampingmu. Jadi kupikir wajar suaraku lebih keras dari biasanya, karena aku keseringan ada di belakangmu,” jawab sosok tak kasat mata itu.


Sontak Mira terkejut, ia beranjak dari alas tidur setipis beberapa lapis kain. Tidak mengherankan ia merespon begitu berlebihan sebab dirinya merasa takut apabila sosok itu mulai melakukan sesuatu tak benar saat ketika Mira mulai tertidur nanti.


“Hei, kenapa kau pergi? Bukannya kau ingin tidur sebentar?”


“Aku takut kau akan melahapku.”


“Jangan bercanda. Aku mana mungkin melakukan itu sebelum waktunya. Dan lagi, bukankah para manusia menyukai hal romantis seperti itu?”

__ADS_1


“Kau pikir kita kekasih? Dan darimananya romantis, jika hantu dan manusia tidur bersama?” sahut Mira dengan jengkel.


__ADS_2