Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 11


__ADS_3

Mira tidak memiliki cara lain selain harus mendekati Kina. Namun, mendekatinya secara sembarangan mungkin memang bukan ide yang bagus.


“Kalau terus dibiarkan ...,”


“Kalau terus dibiarkan?” tanya paman. Ia penasaran sebab sejak tadi Mira bersikap aneh.


Sesekali Mira melirik ke belakang, arahnya yang ia tatap tak lain adalah kamar Kina. Meski begitu, Mira seakan tak ragu dalam membuat keputusannya.


Paman yang penasaran, merasa harus mengetahuinya.


“Ti-tidak.” Mira menjawab dengan gugup.


“Baiklah, kalau begitu. Terserah saja.”


Akhirnya paman menyerah mencari jawaban dari Mira. Ya, mau bagaimana lagi? Tak mungkin jika Mira memberitahukan kondisi kedua kaki Kina tak seperti dulu lagi serta mana mungkin ia percaya begitu saja terhadap omongan Mira.


“Paman, aku akan pulang.”


Mira kemudian berpamitan guna mencoba sesuatu. Tak lupa ia meninggalkan secarik kertas berupa surat singkat untuk temannya Kina.


Setelah Mira pergi dari toko sekaligus rumah Kina, aura jahat yang dirasakannya perlahan berkurang namun bukan berarti berkurang sepenuhnya. Seperti biasa tak ada tanda-tanda akan lenyap.


“Ternyata benar. Pengaruh perubahannya dikarenakan adanya aku. Tapi, segitunya Kina benci aku?”


Mira menolak percaya bahwa perubahan dalam aura jahat Kina ternyata berkaitan dengan keberadaan Mira. Meski tidak bisa dibuktikan karena Mira adalah gadis pembawa nasib buruk, namun satu hal yang pasti bahwa Kina sangat membenci Mira hingga saat ini.


“Kalau begini, aku tidak akan bisa mendekatinya.”


Ia pun bingung harus bagaimana.


**


Sementara itu, di dalam kamar Kina. Gadis seusia Mira saat ini sedang duduk di kursi roda sembari mengetuk-ngetuk pegangan kursinya. Wajah kesal yang tengah memikirkan sesuatu, semakin lama ia semakin resah.


“Ck, kenapa dia selalu ikut campur? Padahal ini bukan urusannya. Dan juga, Ayah membela dia terus-terusan? Bahkan kasih sayang Ayah sudah berpindah pada orang yang tidak cacat ya.”


Rasa cemburu, iri dan dengki. Hal-hal negatif yang saat ini dimiliki oleh Kina. Itulah penyebab mengapa kedua kakinya saat ini terasa jauh lebih berat dan semakin gelap.


Sesosok mahluk tentu akan merespon emosi negatif Kina sendiri, maka cepat atau lambat sesuatu akan terjadi padanya dan itu akan membahayakan nyawanya sendiri.


Namun sekarang, satu-satunya orang yang mengetahui kondisi adalah Mira. Betapa tidak beruntungnya kalau Mira menjadi pemicu emosi negatif Kina.

__ADS_1


Tok! Tok!


Suara ketukan yang begitu lembut terdengar di kedua telinga Kina. Lalu disusul oleh suara sang Ayah yang berasal dari luar pintu kamar ini. Segera Kina membukakan pintu.


Dan bertanya, “Ayah, ada apa?”


“Aku kira kamu sedang tidur atau apa. Bagaimana keadaanmu?” tanya Ayahnya.


“Tidak. Tidak ada apa-apa.”


Bilangnya tidak ada apa-apa namun yang sebenarnya terjadi adalah perubahan berat pada kedua kakinya. Entah kenapa Kina merasa kedua kakinya semakin berat, padahal seharusnya ia tidak bisa merasakan kakinya sendiri.


“Benarkah itu?” Seolah sadar, ia kembali memastikannya. Agar Kina tak lagi berbohong, sang Ayah memegang kedua pundaknya serta menatap Kina dengan serius.


“Ayah?”


“Katakan saja kalau ada sesuatu.”


“Sebenarnya apa yang dibicarakan olehnya?” ketus Kina. Sadar bahwa Ayahnya khawatir karena perkataan Mira.


“Ya. Mira bersikap aneh, dia seperti takut tapi juga khawatir padamu. Makanya aku kira, terjadi sesuatu pada anak kesayanganku.”


Tatapan Ayah yang begitu sendu, jelas sekali ia sedang mencemaskan putri semata wayangnya.


“Benarkah aku adalah anak kesayangan Ayah?”


“Memang begitu 'kan? Kenapa harus ditanyakan lagi?” balasnya.


“Ayah sama sekali tidak mengerti apa-apa. Ayah terlalu dekat dengan perempuan itu. Aku tidak suka. Atau jangan katakan kalau Ayah lebih suka punya anak yang normal-normal saja?” sahut Kina.


“Kina?” Si Ayah semakin bingung dan cemas terhadap sikap anaknya ini.


“Ayah pasti lebih suka kalau punya anak perempuan yang sok baik, dan pintar masak, juga dia tidak sepertiku yang cacat ini!” lanjutnya dengan menegas.


Kekesalan Kina semakin menjadi, dan itu terbukti pada dua mahluk yang bersemayam dalam kedua kakinya kembali memanjat hingga ke bagian tubuh atasnya. Sedikit demi sedikit makanan mereka yakni emosi negatif dilahapnya dan membuat mereka semakin membesar.


Kina terutama Ayahnya pasti tidak sadar. Hanya saja Kina meskipun tidak bisa melihat, namun bukan berarti dirinya tidak bisa merasakan. Saat ini, amarahnya makin melunjak jika mengingat tentang Mira dan makin beratlah beban yang ada pada bagian tubuh bawahnya itu.


“Ayah selalu saja memperhatikan perempuan itu ketimbang aku!”


“Bukan, Kina! Kamu tahu sendiri dia sudah tidak punya siapa-siapa, bahkan teman pun tidak ada. Jadi kamu seharusnya paham, dan bukan berarti Ayahmu membedakan kalian.”

__ADS_1


“Bohong!”


“Kina ...,”


“Ayah tahu aku tidak mau ke sekolah karena teman-temanku mengolokku. Tapi dia ...sok sekali! Berpura-pura memberi perhatian, memangnya aku akan luluh begitu saja?”


“Apa kamu tidak ingat kalau Mira dulu adalah teman masa kecilmu?”


“Siapa yang peduli.”


Kina semakin keras kepala. Tampaknya akan semakin memburuk jika Kina bertemu dengan Mira. Yang ada emosi negatifnya akan semakin berlimpah dan hal itu akan membuatnya mudah dirasuki.


“Kina, sikapmu hari ini jadi sangat aneh.”


Dan ya, benar apa yang dikatakan oleh Ayahnya sendiri. Meski tidak bisa melihat, sebagai Ayah ia tentu bisa merasakan adanya perbedaan secara drastis dari hari sebelumnya.


“Maksud Ayah apa? Aku sama tidak aneh. Justru Ayah yang aneh. Kenapa harus peduli pada perempuan yang tahunya hanya membawa nasib buruk!”


Plak!


Tamparan keras mendarat tepat ke wajah Kina. Ayah sudah sangat marah terhadap sikap serta cara bicara Kina, sedang Kina yang sama-sama marah itu kini semakin marah.


Hanya untuk sesaat saja situasi di antara mereka canggung. Keduanya terdiam karena tak tahu harus berkata apa setelah perlakuan si Ayah terhadap putrinya.


“Ayah? Ayah menamparku?” Kina hendak menangis, namun secepatnya ia memalingkan wajah.


Tanpa sadar ia menoleh ke arah meja, atau lebih tepatnya ke secarik kertas yang bertuliskan sebuah pesan singkat.


"Terima kasih. Lalu, maaf Kina." Itulah tulisannya.


“Dia ...lagi!”


Amarah membludak, ia menyingkirkan kertas tersebut dengan kasar. Lekas ia pergi menuju ke kamarnya. Meninggalkan Ayah yang sampai saat ini masih menatapnya tajam.


Tatapan itu tak pernah ada sebelumnya. Tatapan yang bahkan hanya sekali ini diperlihatkan pada Kina—putrinya sendiri.


“Ayah ...sebenarnya siapa yang sudah berubah? Aku atau Ayah? Ataukah pertengkaran ini karena keberadaan Mira? Perempuan itu!”


Sasaran emosinya berubah menuju ke seseorang, tak lain adalah Mira. Tanpa berkaca pada diri sendiri, Kina menyalahkan semuanya pada Mira.


“Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Mira! Ini salahmu! Ini salahmu karena aku bertengkar dengan Ayah! Dan juga kakiku ...berat!”

__ADS_1


Ia terus menggerutu di dalam kamar, dengan wajah kesal sekaligus mengalirkan air mata. Luapan emosinya benar-benar telah menjerat Kina sampai ke akar-akarnya.


__ADS_2