Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 19


__ADS_3

“Aku tidak menyangka kau akan di sini.”


“Maafkan aku. Aku datang karena khawatir.”


Ayah Kina mengintip dari celah pintu. Melihat Kina yang sudah tidak lagi bergelagat aneh ataupun mengerang kesakitan, ia tentu merasa sangat bersyukur. Perasaannya sudah lega dan seketika mendekap langsung putrinya itu.


“Syukurlah kamu baik-baik saja nak.”


“Ayah!”


Kina tersipu malu, saat Ayahnya memeluk ia di saat ada orang lain di sini.


“Eh? Apa aku menganggu? Ya sudah, aku akan pergi.” Entah apa yang sebenarnya paman bicarakan, namun Kina merasa akan jauh lebih baik jika Ayahnya pergi dari kamar ini.


Sementara itu, Mira dan Kina sama-sama canggung. Tak tahu apa lagi yang harus ia katakan, lantas Mira berpikir mungkin sudah saatnya ia pergi juga namun tampaknya Kina tak membiarkannya.


“Kalau begitu aku pergi.”


“Tidak! Tunggu!”


Saat itu, saat setitik kesadaran Kina yang tersisa terperangkap ke dalam kepompong besar, datang kesadaran Mira yang hendak membangunkannya. Di mana Mira dan Kina saling mengontak satu sama lain secara tidak langsung, dan hal itu membuat Kina mengetahui apa yang sebenarnya Mira rasakan terutama jika itu berkaitan dengan dirinya sendiri.


Ada perasaan tulus, tanpa kenal lelah terus mengejar persahabatan yang telah lama Mira dambakan. Kina terdiam saat tahu perasaan Mira yang sebenarnya.


“Kau ...menyelamatkanku?”


Sebelumnya Mira bertanya apakah Kina tak ingat apa pun, namun jawaban Kina sangat tidak enak didengar. Itulah mengapa mereka jadi canggung. Namun sekarang, Kina menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan kejadian malam ini.


Agaknya ia merasa malu, sehingga saat bertanya pun ragu.


“Hei!”


“Kina, itu ...hm, bagaimana aku menjelaskannya ya?” Mira sendiri bingung harus menjawab bagaimana.


“Ternyata benar dugaanku, kau tahu apa yang aku rasakan dan begitu juga denganku. Aku pikir kamu mendekatiku karena ada udang di balik batu tapi ternyata aku salah,” ucap Kina.


Kedua kalinya terasa ringan seringan kapas. Akan tetapi, kegelapan yang Mira lihat di kedua kakinya belum sepenuhnya hilang. Hanya karena wujud mereka menyusut, Mira tidak akan lengah sedikitpun.


“Begitu. Aku senang.”

__ADS_1


“Apanya yang senang?! Aku berulang kali menyakitimu tapi kau selalu berusaha lebih keras dari orang lain hanya untuk menyelamatkanku!” pekik Kina tiba-tiba. Ia tidak sedang marah melainkan kesal karena sikap lembek yang dimiliki Mira.


“Ma-maaf!” Saking terkejutnya, ia sampai berteriak dan melangkah mundur ketakutan.


Perubahan sikap secara tiba-tiba memang benar-benar membuat Mira terkejut. Namun beginilah sifat Kina yang saat ini.


“Aku tidak pernah sekalipun menganggapmu teman. Bagiku, tidak ...bagi semua orang, kau hanya gadis pembawa s*al.”


“Be-begitu 'kah? Ternyata aku seburuk itu.”


“Dengarkan aku dulu! Yah, meskipun itu pemikiranku tapi sekarang sudah berubah. Aku sudah tidak lagi berpikiran buruk tentangmu.”


Tulus atau tidaknya, dilihat dari ekspresi Kina ia sangatlah tulus. Setiap ucapannya hari ini tulus dan ia mengatakannya secara blak-blakkan. Mira merasa senang karena akhirnya percakapan di antara mereka tidak lagi membuat emosi negatif kembali mengacau.


Ini perkembangan pesat menilai Kina tak lagi berpikiran buruk pada Mira setelah apa yang susah payah Mira lakukan demi dirinya.


“Lain kali, aku akan membalas hutang budi ini.”


“Tenang saja. Itu tidak perlu.” Mira tersenyum seraya meraih kedua tangan Kina. Ia berkata, “Cukup bagiku kamu merasa sudah lebih baik.”


Mira tidak berubah, sejujurnya Kina sangat terkejut karena sifat keras kepala Mira. Tetapi ia tidak begitu mempermasalahkannya. Justru, ia lah yang merasa sangat bersalah.


“Kupikir bukan masalah karena setiap orang pasti berbuat kesalahan,” ucap Mira.


Kina tersenyum seakan puas. Ia kemudian duduk menghadap Mira, tampak ia ingin melakukan sesuatu seperti beranjak dari tempat tidurnya.


“Kamu mau ke mana?”


“Aku hanya ingin keluar dari kamar ini saja.” Kina memaksakan dirinya dengan mencoba untuk meraih kursi rodanya sendirian.


Namun saat ia berpegangan pada sisi meja, tak sengaja tangannya tergelincir dan kemudian membuat gelas di atas meja ikut terjatuh.


Prang!


Beruntungnya, pecahan gelas tak mengenai kaki Kina, tapi tidak dengan Mira. Sedikit dari bagian pecahannya menusuk mata kanannya.


“Mira!!” Kina pun panik.


“Tidak. Tidak apa-apa, Kina. Aku tidak apa-apa.” Sambil berkata begitu dengan tenang, ia menutup matanya. Setelah beberapa saat, ia kemudian menunjukkan matanya baik-baik saja.

__ADS_1


Padahal sebelumnya pecahan gelas itu benar-benar telah melukai mata Mira sampai akhirnya berdarah. Namun dalam sekejap ia sembuh tanpa ada bekas sama sekali.


“Mira?”


“Ya, tidak apa-apa. Tenang saja, Kina.” Senyumnya tak pernah memudar justru membuat Kina ketakutan.


Bagaimana bisa ia tenang dengan mudah sementara tadi Mira sempat terluka. Darah yang mengalir cukup banyak pun bukanlah ilusi semata. Kina merasa merinding, terlebih Mira berkata bahwa dirinya baik-baik saja.


'Dia aneh. Kenapa dia bilang baik-baik saja sedangkan matanya terluka begitu. Tapi ...sekarang hanya ada darahnya,' batin Kina.


“Ngomong-ngomong Kina. Kalau kamu ingin keluar dari kamar seharusnya bilang saja padaku. Maka aku akan membantumu duduk di kursi roda,” ujar Mira selagi membersihkan tetesan darah miliknya sendiri. Bahkan sampai sekarang ia masih bisa tersenyum, benar-benar terasa mengerikan.


“Maaf Mira. Aku tidak bermaksud melukaimu.”


“Ya, aku tahu kamu tidak sengaja melakukan hal itu.”


“Hei, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Kina.


“Ya. Ada apa?”


“Kenapa setiap kamu terluka kamu bisa sembuh? Aku melihatnya. Juga saat terjadi kecelakaan janggal itu.” Kina tak ingin terus memendam pertanyaan ini lebih lama lagi. Ia mengatakannya karena rasa penasaran.


“Oh, itu yah. Jujur saja aku sendiri tidak begitu mengerti, Kina. Bagaimana mengatakannya ya? Aku kaget tapi aku juga merasa aneh kalau itu benar-benar terjadi.”


“Eh? Memangnya kamu tidak merasakan sakit?” tanya Kina, semakin lama ia semakin penasaran serta merasa heran saja.


“Tidak sama sekali. Tapi darahku keluar, apakah itu berarti aku terluka?”


“Kau aneh. Aku 'kan yang bertanya. Tapi, kau benar-benar terluka tapi setelah itu kau langsung sembuh tanpa diobati sama sekali. Seolah-olah kau tidak bisa dilukai,” celetuk Kina.


“Eh, begitu 'kah?”


Pembahasan ini membuat Mira terkejut. Ia tak ingin membahas hal-hal yang telah membuatnya merasa ketakutan. Jika orang lain saja takut karena keabadian yang dimiliki oleh Mira, apalagi Mira sendiri yang bahkan tidak dapat memahami cara kerja tubuhnya sendiri.


“Apa terjadi sesuatu?” tanya paman, Ayah Kina.


“Tidak. Tidak ada masalah Ayah. Tadi gelasnya hanya pecah saja. Tidak ada yang terluka,” jawab Kina.


“Ya, maafkan aku paman karena telah membuat keributan di rumah ini,” sahut Mira.

__ADS_1


Keadaannya menjadi semakin canggung tepat setelah Ayahnya datang. Pembahasan yang begitu aneh itu akhirnya telah berakhir dengan mengambang misterius.


__ADS_2