Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 28


__ADS_3

Setelah mematikan kompornya, paman hendak memindahkan ceret air itu ke meja sebelahnya namun karena tangannya licin, sehingga ceret itu pun terjatuh bebas ke bawah dalam keadaan tidak tertutup, lantas mengenai kepala Mira hingga ke sekujur tubuh.


Klontang!


Suara keras itu mengagetkan semua orang di rumah. Tak terkecuali Kina yang berada di ruang tamu saat ini, ia yang khawatir langsung bergegas menghampiri mereka berdua.


“Ayah, Mira? Apa yang terjadi?” Kina bertanya.


Untuk sesaat tidak ada jawaban di antara mereka berdua. Tampak Ayahnya dan Mira sama-sama syok karena keadaan tiba-tiba itu.


Air panas yang mengguyur ke sekujur tubuh Mira, tentunya itu akan membuatnya kesakitan tapi yang terjadi seolah yang tumpah hanyalah air biasa.


“Mira, apa kamu baik-baik saja?”


Saat setelah air panas itu tumpah ke tubuhnya, Mira terdiam sejenak guna berpikir apa yang tengah terjadi padanya. Kemudian ia teringat akan ceret air yang hendak dipindahkan paman.


“Ma-maaf.” Tanpa sadar, kata-katanya terucap, seakan dirinya yang bersalah. Tak hanya itu ia bahkan mengucapkannya dengan terbata-bata.


“Kenapa kamu yang minta maaf? Ayo, cepat berdiri ...atau kamu tidak bisa? Air panas tumpah ke tubuhmu, jadi ini harus segera dirawat.”


Belum selesai berucap, paman menoleh ke belakang. Kebetulan bertatapan dengan Kina lalu menyuruhnya untuk memanggil ambulans.


“Kina! Panggilkan ambulan!”


“Tidak, tidak perlu.” Mira menolak tawaran paman, sebab benar-benar tidak diperlukan.


Luka yang parah, kulit melepuh dan memerah itu terlihat sangat jelas di depan mata. Tak hanya paman, Kina juga melihatnya. Juga melihat apa yang terjadi setelah menunggu beberapa saat dari respon Mira.


Dalam beberapa waktu, kulit yang memerah dan melepuh itu kembali normal. Kulitnya kembali seperti sedia kala, dan tanpa adanya bekas sedikitpun.


Termasuk bagian wajah yang seharusnya Mira berteriak kesakitan karenanya. Tapi ini tidak, Mira bersikap cukup tenang, tidak ada tanda-tanda ia sedang tak sadarkan diri atau karena hal lainnya.


“Mira?”


Pemulihan luka yang terlalu cepat, tidaklah wajar di hadapan mereka berdua. Sementara Mira masih bersikap tenang setelah terjadi hal semengerikan itu.


'Eh ...aku terkena apa ya? Jangan bilang aku benar-benar ketumpahan air panas?' pikir Mira dalam benaknya. Sampai saat ini saja ia masih bingung, apakah benar itu yang terjadi atau bukan.


“Mira, benarkah kamu baik-baik saja?”


“Mira! Apa yang terjadi padamu? Dan Ayah, kenapa bisa seceroboh itu? Air panasnya tumpah karena Ayah 'kan?”

__ADS_1


Situasinya jadi semakin rumit. Ayah Kina dan Mira sempat bertengkar karena musibah yang menimpa Mira saat itu.


“Sudah, tidak masalah. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, kalian.”


Pada akhirnya Mira lah yang menjadi penengah. Membuat mereka terdiam setelah akhirnya Mira melerainya.


“Benarkah?”


“Ya. Lagi pula aku juga sering begini. Maksudku luka yang cepat sembuh, baru-baru ini aku menyadarinya. Jadi tenanglah,” tutur Mira. Namun tampaknya ekspresi Mira berkata lain.


“Sering begini?”


“Ya. Aneh ya? Yah, aku tahu ini aneh. Mungkin karena ini juga mereka semua takut padaku.”


Dari yang memanas seketika berubah menjadi muram. Hawa di sekitar mereka sedikit berat dan terasa sangat canggung.


Seusai menyelesaikan masalah di dapur, mereka bertiga tengah berdiam diri di ruang tamu. Tanpa adanya pembicaraan apa pun, mereka sama-sama terdiam seakan di rumah ini tidak ada seorang pun di sini.


“Aku juga sangat kaget melihat itu. Jadi apa kamu—”


Kina hendak mengatakan sesuatu, tapi dihentikan oleh Ayahnya sendiri, sebab tak ingin pembahasannya jadi semakin terasa dingin.


“Baiklah.”


“Maaf, apa paman terluka?” tanya Mira tiba-tiba.


“Tidak sama sekali kok. Tanganku yang tergelincir, dan kemudian jatuh mengenai dirimu, maafkan aku ya Mira.”


“Ya, tidak masalah bagiku. Lagi pula ceretnya juga sudah usang, tutupnya juga sedikit longgar jadi tumpah seperti yang tadi itu,” tukas Mira.


Selama beberapa jam mereka berada di rumah Mira. Sedikit demi sedikit, mereka perlahan berubah. Keadaan yang tadinya sangat canggung telah menjadi hangat kembali.


Penyambutan sederhana untuk kelulusan Mira, bagi Mira ini adalah hari yang terbaik. Mudah saja baginya mengesampingkan hal tersebut, tapi ia tahu betul bagaimana tanggapan Kina dan paman setelah tahu keabadian yang ia miliki itu.


“Mira, aku sudah membulatkan tekadku untuk pergi sekolah lagi. Tapi sepertinya tidak mungkin aku akan langsung loncat kelas begitu saja ya?”


“Ya, tentu saja. Memangnya semudah itu? Dasar Kina.”


“Yah, tadinya aku pikir jika pintar akan mudah langsung loncat kelas. Tapi sepertinya itu memang tidak mungkin. Jadi sampai saat itu, kita akan kuliah di tempat yang sama ya?”


Harapan Kina yang ingin menempuh pendidikan bersamanya, Mira menanggapinya dengan jawaban "Ya" sembari tersenyum lebar.

__ADS_1


***


Keesokan pagi harinya. Kini saatnya untuk mengetahui apakah Mira lulus atau tidaknya dari tes-tes yang diujikan di sekolah impiannya.


Pukul 7 pagi sudah ramai sekali para calon-calon murid yang berkumpul dalam satu tempat, di lapangan. Mereka masih menunggu informasi tentang masuk atau tidaknya mereka di sekolah tersebut.


Ketika Mira sedang berjalan ke depan dengan melihat ke sekitarnya, tanpa sadar ia menabrak seseorang hingga membuat keduanya terjatuh ke tanah.


“Aduh!”


“Ah, maaf! Maafkan aku!”


Mira yang panik lekas mengulurkan tangan agar perempuan itu dapat berdiri dengan bantuannya.


“Iya. Maafkan aku juga yang tidak melihatnya,” ucap gadis itu sembari menerima ulurun tangannya.


Karena masalah kecil itu, membuat semua calon atau murid yang sudah lama bersekolah di sini memperhatikan mereka berdua.


“Wah, kita jadi diperhatikan nih?”


“Maafkan aku yang ceroboh! Aku yang seharusnya disalahkan karena aku melihat ke arah lain saat berjalan ke depan,” ujar Mira. Ia sungguh meminta maaf, ia kemudian menyatukan kedua tangannya ke depan dengan mata terpejam kuat.


Berulang kali ia mengatakan, “Maaf, maaf, maafkan aku, maaf!”


Dan hal itu membuat mereka berdua semakin diperhatikan lebih lama. Tak sedikit murid yang mencoba untuk menahan tawa mereka, yang kemudian pada akhirnya mengacuhkan.


“Tidak apa-apa. Tolong jangan berlebihan begitu,” ucap gadis itu. Ia juga merasa bersalah, namun tampaknya tindakan gadis ini tidaklah seberlebihan Mira.


“Huh, syukurlah.”


Setelah akhirnya Mira mulai tenang, keduanya saling bertukar tatap. Mata mereka yang saling memandangi wajah satu sama lain dari pantulan mata mereka, sejenak membuat keduanya terdiam.


“Eh! Maafkan aku.”


Tahu itu tidak sopan, Mira kembali meminta maaf sedangkan gadis itu hanya bisa tersenyum kecut dan tertawa pendek lantas pergi meninggalkannya.


“Wah, belum juga aku tahu apakah aku akan masuk di sini atau tidak. Tapi sudah buat masalah, aku ini memang payah.”


Suasana di sekolah ini tidaklah begitu suram. Ini karena Mira hanya melihat sedikit bagian emosi negatif para murid dan calon-calon di belakang punggung mereka. Tidak separah saat ada di kelas, ketika mereka semua berkesepakat tuk mencontek.


“Nah, sekarang aku harus berkumpul dengan yang lainnya.”

__ADS_1


__ADS_2