
Berulang kali menghubungi teman-temannya, sempat tidak diangkat selama Kina terus mencoba untuk menghubungi mereka. Namun hingga saat ini masih belum ada jawaban, sama sekali.
Hingga ketika, Kina menghubungi Rena untuk yang kedua kalinya. Rena adalah teman terdekatnya, jadi Kina berpikir bahwa Rena pasti mengangkatnya.
Dan itu menjadi nyata.
[“Ya? Siapa?”]
Tetapi, ternyata Rena tidak menyimpan nomor milik Kina sehingga saat panggilan tersambung, Rena menanyakan identitas si pemanggil.
“Ini aku, Kina. Kamu nggak ingat aku, Rena?”
[“Ah, Kina? Kina yang dulunya pelari tercepat di sekolah?”]
“Ya, ya! Ini aku!” Saking senangnya panggilan itu akhirnya terangkat, Kina mengatakan "Ya" sebanyak dua kali.
[“Oh, jadi begitu. Apa? Ada apa?”]
“Rena, aku tahu kamu tidak akan melupakan aku begitu saja. Mau bagaimanapun kita adalah teman, tidak, sahabat terbaik!” seru Kina dengan sangat semangat.
Setelah itu Kina selalu saja mengoceh ini dan itu, sampai-sampai Rena tak mendapatkan kesempatan untuk berbicara. Yang ia lakukan hanyalah mendengar ocehan Kina.
“Lalu ...lalu, bagaimana belajarmu? Sukses?”
Ketika sibuk mengoceh, perasaan leganya itu seakan berkata, “Kenapa tidak aku lakukan ini sejak awal? Dengan begitu aku tidak akan kesepian.”
[“Hei, aku tidak tahu harus berkata apa selain, cobalah untuk tidak ikut campur dengan urusan pribadiku. Dan aku tidak lagi menganggapmu teman. Dengar ya, aku sengaja membiarkanmu mengoceh hanya karena tombol handphone-ku sedikit error.]
Tapi tidak lagi saat ketika Rena mengatakan kalimat panjang tersebut. Seketika harapan yang ia dambakan pupus dalam sekejap. Hal-hal positif yang semula ia pikirkan dalam benaknya, serta berpikir bahwa dirinya dan Mira tidaklah sama. Lalu pembuktian bahwa ia adalah anak perempuan yang paling berbahagia, benar-benar langsung lenyap begitu saja.
Seakan tali-tali yang ia ikatkan dalam genggamannya terputus tanpa disadari.
[“Hei, kau dengar aku 'kan? Kina ...Oi! Aku tahu kau terkejut saat aku membicarakan ini. Tapi yah—”]
Ungkapan lainnya terputus, dan digantikan oleh suara orang lain yang tak dikenal oleh Kina.
[“Maafkan pacarku yang kasar ya. Dia memang sulit diatur apalagi lidahnya sangat tajam jadi ...mohon dimaklumi ya, anu ...siapa namamu tadi?”]
Percakapan ini jadi sepenuhnya melenceng. Kebahagiaan Kina yang hancur, tergantikan oleh suara-suara dari dalam ponsel tersebut. Yang mana terdapat beberapa suara orang yang Kina kenali namun ada juga yang tidak.
__ADS_1
Memang mereka sering berkata maaf atau sejenisnya, yang mana mereka paham bahwa dirinya telah melakukan kesalahan namun entah mengapa Kina merasa itu hanyalah ejekan semata. Gunjingan demi gunjingan, sarkasme yang ada di setiap kalimat rendah mereka itu sangatlah muak didengarnya.
Kina jadi terdiam, bungkam dan tak lagi bicara apa pun. Ia masih menyimpan rasa kesal itu serta berpikir bahwa teman-temannya itu hanyalah bercanda saja.
“Maaf, maaf. Sepertinya aku terlalu banyak mengoceh jadi kalian semua tidak berkesempatan untuk bicara. Ngomong-ngomong apa aku boleh ikut ke sana? Sepertinya di sana sangat ramai dan asik.”
Mencoba berpikir positif, sama seperti sebelumnya. Kina yang naif kembali berinteraksi seolah berkata dirinya bodoh.
Lantas Rena menyahut, [“Kau pikir kau bisa? Kau 'kan cacat. Berdiri saja tidak bisa apalagi berjalan bahkan berlari juga tidak mungkin. Kau, apa kau melindur? Jangan lupa kau itu bukan lagi bagian dari kami,”] tuturnya dengan kejam.
Nampaknya Rena dan teman-teman barunya di sana tidak memiliki rasa simpati, mereka bahkan mengatakan banyak kalimat kejam sama seperti saat Kina mengata-ngatai Mira.
***
“Maaf aku datang di siang bolong begini. Apa ada masalah?”
Datang seorang tamu wanita ke toko barang antik. Datang hanya untuk menemui Ayah Kina yang nampaknya sedang kesulitan.
“Ya.” Ia mengangguk.
Tamu wanita itu memiliki potongan rambut pendek dengan pakaian sedikit panjang. Ekspresinya sulit ditebak karena wajah datarnya.
“Tidak apa-apa. Itu bukan kesalahanmu. Ngomong-ngomong sebelum memeriksa keadaannya, ada beberapa pertanyaan yang akan aku ajukan. Boleh?”
“Tidak masalah. Silahkan tanya apa saja.”
Sebelum ia mulai bertanya-tanya, wanita itu beranjak dari tempat duduknya lantas berjalan menuju ke sudut di mana terdapat sebuah foto di atas meja kecil.
Foto keluarga Kina, bersama Ayah dan Ibunya. Serta beberapa orang lainnya yang berkumpul di sana memiliki ekspresi bahagia kecuali dirinya.
“Hah ...memang benar di sini aku mulai merasa tidak nyaman,” celetuknya. Ia kemudian meletakkan foto tersebut, lalu kembali duduk ke tempat semula.
“Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan sebenarnya, kak?”
“Jangan panggil aku "kak", sementara aku belum menikah.”
“Tapi—”
“Sekarang pertanyaanku, apa gadis abadi itu terlibat lagi?”
__ADS_1
Pertanyaannya langsung mengarah ke hal yang begitu sensitif. Sontak saja sang Ayah Kina tersentak, ia kemudian diam guna berpikir apa yang menjadi jawabannya.
“Hei, jawab saja pertanyaanku. Ya atau tidak? Tidak perlu berpikir panjang mengenai alasannya.”
Lagi-lagi Ayah Kina dibuat terkejut oleh tamu wanita yang dipanggil sebagai seorang kakak. Ia pandai membaca pikiran dan hati seseorang, jadi mudah baginya mengetahui apa yang dirasakan lawan bicara termasuk adiknya sendiri.
“Maaf, kak. Kupikir itu tidak ada hu—”
“Tidak ada hubungannya?” sahut si kakak. “Mana mungkin. Beberapa insiden berkaitan dengannya, mana mungkin aku bisa menyangkal kalau perubahan sikap Kina ada hubungannya.”
“Maka dari itu kakak. Aku ingin—”
“Aku tahu kamu membantunya karena dia anak temanmu. Tapi dia yang menjadi penyebabnya atau bukan, itu tergantung dari jawabanmu.”
“Baiklah.” Akhirnya Ayah Kina terdesak. Ia dikalahkan dengan mudah oleh kakaknya sendiri.
“Jika aku harus bilang dia penyebabnya atau bukan maka jawabanku, "Bukan!", aku tahu siapa dia. Mira bukanlah orang seperti itu.”
“Jangan mengelak apalagi membela orang asing.”
“Kakak, sikapmu mirip sekali dengan Kina yang sekarang.”
“Oh, begitu.” Kakaknya acuh.
“Mira bukan penyebabnya. Kina sendirilah yang menjadi penyebabnya. Itu terjadi saat setelah kecelakaan, dia mengeluh kakinya berat.”
Kakaknya akhirnya mengerti, pembicaraan yang terus berputar ini tetap sampai pada satu titik yang mana sang Ayah sendiri berpikir bahwa Kina sendiri lah yang menjadi penyebab perubahan sikap Kina itu.
Dan tak hanya itu, dikatakan bahwa Kina pernah mengeluh kedua kakinya berat.
Lalu sekarang, kakaknya diam-diam membuka pintu dan sempat menguping pembicaraannya dengan seseorang melalui ponsel pintar.
“Dia sedang menelepon? Bukankah teman-temannya mengucilkan dia?”
“Hush, jangan mengatakan hal itu keras-keras.”
“Baiklah.”
Pembicaraan antara Kina dan beberapa temannya berlangsung cukup lama. Namun tak pernah kakaknya Ayah Kina ini berpikir bahwa pembicaraan mereka benar-benar murni.
__ADS_1
Ia merasa aneh sebab dirinya telah merasakan aura jahat telah menyebar ke sekeliling dalam kamar ini.