Pengantin Iblis Yang Malang

Pengantin Iblis Yang Malang
Bab 27


__ADS_3

Perpustakaan.


“Hah ...membosankan. Kenapa aku harus berada di sini ya?”


Jika diingat kembali oleh Mira, ia merasa aneh dengan ucapan paman hari ini. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Tapi Mira tidak berusaha untuk mencari tahu karena pasti itu tidaklah sopan.


“Semua buku di sini, tidak ada yang cocok. Kebanyakan berisi sejarah, padahal aku sedang membutuhkan ilmu bisnis. Ah, bagaimana ini?”


Di samping belajar, ia juga memikirkan banyak hal. Salah satunya adalah ucapan paman sebelum ini lalu satunya lagi adalah tentang Kina.


“Paman bilang, Kina mengurung diri di dalam kamar dengan sebab kelelahan. Aku mengerti itu. Tapi kenapa ya ...aku merasa ucapannya sedikit tidak bisa kupercaya.”


Hari sudah semakin siang, tinggal beberapa menit lagi hingga akhirnya matahari akan setinggi atas kepala. Cuaca yang panas tidak begitu dirasakan dalam perpustakaan yang memiliki pendingin. Ini cukup menyegarkan. Untuk sesaat ia memejamkan mata dan berujung ketiduran.


BRAK!


Sampai ketika Mira kembali terbangun dalam sekejap setelah mendengar suara gaduh di dekatnya. Kedua matanya yang kurang fokus, tetap memastikan siapa yang barusan membuat kegaduhan.


“Hei! Jangan tidur di sini! Kalau ngantuk, sana pulang ke rumah! Dasar! Memangnya kau tidak punya rumah?” Omelan dari penjaga perpustakaan lah yang membuat Mira tersadar sepenuhnya.


Ia lantas tertawa hambar, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan berkata, “Mohon maafkan saya yang kelewatan, bu.”


“Haha ...tertawa saja lagi kalau kau bisa!” amuknya sambil menggebrak meja sekali lagi.


Rupanya inilah sumber suara kegaduhan barusan. Secepatnya Mira beberes, ia hendak pergi tanpa meminjam buku satu pun. Niatnya ingin langsung pulang saja, namun penjaga tersebut malah menghentikan langkah Mira.


“Hei, kau yakin tidak mau mengambil satu buku?”


Mira menoleh ke belakang. Dengan tersenyum ia menjawab, “Tidak. Maaf.”


“Ngomong-ngomong kau itu siapa? Siapa namamu? Hampir tiga kali setiap seminggu kau datang kemari tapi aku tak tahu siapa namamu.”


Lagi-lagi Mira tertawa sebelum akhirnya menjawab, “Jika bu penjaga tahu, mungkin saya tidak akan bisa masuk ke perpus ini lagi.” Jawaban yang terdengar ambigu bagi si penjaga perpustakaan, namun meski begitu Mira tidak bisa menjelaskan hal lebih.


Penjaga perpustakaan cukup senang karena keberadaannya, sebab Mira lah yang paling sering ia lihat, terutama saat dirinya menghargai buku, tentu penjaga perpus akan merasa senang.


Lalu, dalam rentang waktu usai perbincangan antara Mira dan Ibu penjaga perpustakaan berakhir, datanglah seseorang dari balik pintu.

__ADS_1


“Saya mencari Anda ke mana-mana, ternyata Anda ada di tempat seperti ini?”


Kejadian ini kembali terjadi. Semua waktu terhenti hanya di dalam perpustakaan ini. Bu penjaga yang masih tersenyum kepadanya pun juga terhenti.


“Jangan-jangan kau lagi?”


Yang berbeda hanyalah Mira yang tak lagi terpengaruh penghentian waktu. Sosok misterius jubah bertudung kembali menghampirinya, sosok tersebut sempat menyunggingkan senyum dengan arti yang tidak jelas.


“Untuk apa orang asing sepertimu datang?”


“Mohon maafkan saya, saya datang kemari bukan hanya sekadar melakukan kejahilan semata. Mohon, untuk dimengerti.”


“Dari awal kau selalu bersikap sopan terhadapku. Aku tidak percaya ada orang ...hantu aneh sepertimu. Pergilah! Kenapa kau melakukan hal ini?!”


Mira menganggap sosok tersebut sangatlah berbahaya. Terlebih setiap kali sosok ini berbicara, pasti selalu terdengar tidak masuk akal. Ia bertindak seolah-olah adalah bawahan Mira.


“Jangan sampai lupa bahwa Anda bukanlah bagian dari dunia ini.” Setelah kalimat serta senyuman di akhir itu, sosoknya menghilang.


Sekali lagi waktu kembali berjalan, secepatnya Mira keluar dari perpustakaan.


“Dia aneh.”


“Sebelumnya Paman bilang kalau Kina ada di dalam kamar untuk mengurung diri. Jadi sekarang apa? Aku yakin mereka benar-benar sedang pergi sekarang.”


Mira menggelengkan kepala, mengalihkan fokusnya ke satu tujuan yakni pulang ke rumah. Dan ternyata sesampainya ia di sana, begitu membuka pintu, Mira mendapati paman dan Kina berada di dalam.


“Eh? Aku lupa mengunci pintu? Dan ...kalian berdua?”


Mira linglung, ia mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi sekarang.


“Selamat datang kembali ke rumahmu, Mira.”


“Mira! Aku masuk ke rumahmu sebagai keluarga.”


Disambut oleh dua orang yang sangat mengenali dirinya. Siapa yang akan menyangka ini akan terjadi.


“Aku sudah sangat sering berkunjung ke rumah kalian. Jangan-jangan ...,”

__ADS_1


“Sudah, jangan pikirkan hal itu. Kina sendiri yang memintaku untuk melakukan ini. Dia bilang, kamu pasti akan kesepian jika tidak ada orang di rumah. Maka dari itu kami merencanakan hal ini.”


“Di-diamlah, Ayah! Jangan katakan itu pada Mira!” pekik Kina terbata-bata. Malu mengakui bahwa ini idenya.


Rencana ini dilakukan oleh dua orang terdekat bagi Mira. Meski penyambutannya sangat sederhana, namun yang terpenting adalah isi hati mereka semua.


Termasuk paman, yang sebetulnya tak ingin mempertemukan mereka berdua sesuai yang diinginkan oleh kakaknya. Tapi, karena permintaan putri tersayang, paman yang luluh akhirnya jadi enggan menolaknya.


“Oh ya, aku lupa bilang. Selamat ya, sudah lulus!” Kina mengucapkan selamat atas hal lain, yakni kelulusannya di masa SMP.


Hari di mana ia masih remaja dan beranjak menuju kedewasaan akan dimulai saat hari itu tiba. Kina turut senang atas kelulusan Mira, tentunya Mira pun juga.


“Ya, terima kasih Kina. Lalu paman.”


“Ya!”


“Ngomong-ngomong, aku dengar kamu kelelahan. Bukankah kamu tidak seharusnya memaksakan diri seperti itu?” tanya Mira memastikan, ia juga cemas.


Bila terjadi sesuatu yang buruk akibat Kina terlalu memaksakan diri di saat seperti ini, maka Mira akan semakin cemas nantinya.


“Tenang saja. Setelah lama tiduran, siang ini aku langsung bangun dan teringat kamu Mira! Jadi, beginilah yang terjadi,” ucap Kina dengan memperlihatkan kesegaran di seluruh tubuh dan wajahnya.


Sementara mereka berdua sedang asik berbincang satu sama lain, paman meminta ijin pada si pemilik rumah untuk menggunakan kompor tuk memasak air.


Setelah beberapa saat, tiba-tiba saja terdengar suara gaduh di dapur. Lantas Mira bergegas pergi tuk memeriksa keadaannya.


“Paman, apa terjadi sesuatu?”


“Ah, ini ...,”


Banyak barang berserakan di bawah meja dapur, tepat di bawah kompor itu ada. Lekas Mira membantunya untuk membereskan barang sementara paman akan mematikan kompor usai air panas telah mendidih lebih cepat dari biasanya.


DAK!


“Aduh, Mira! Awas!”


Paman hendak membawa teko air itu ke tempat yang lebih aman, namun sayangnya tangan paman tergelincir dan membuat tutup teko itu terbuka lalu terjatuh ke bawah.

__ADS_1


“MIRAA!!”


Seketika air panas terjatuh, tumpah dan membasahi sekujur tubuh Mira.


__ADS_2