
Pertemuannya dan percakapannya dengan Ania Kartikawati untuk kali pertama, jujur saja bagi Mira itu cukup mencengangkan. Biasanya orang akan menjauhi Mira tapi ini justru sebaliknya. Namun sayang sekali, ternyata Ania bukanlah gadis biasa seperti dirinya.
Hari pertama di sekolah pun berakhir. Di dalam rumah kontrakannya, Mira tengah termenung di depan buku pelajaran yang dalam keadaan terbuka semua.
Ia nampak bingung serta gelisah akibat boneka yang begitu mirip dengannya.
“Tidak salah lagi. Itu bukan boneka biasa. Mungkinkah seharusnya aku tidak mengomporinya? Yah, tapi aku sendiri bingung harus melakukan apa.”
Berdiri di jalan buntu dan hanya diam menatap dinding takkan membuat hasil apa pun. Saat tahu boneka itu bukanlah boneka biasa, dan lagi aura jahat itu mengalir dari jiwa milik seorang gadis tak lain adalah Ania.
“Yah, sudah. Lupakan saja. Aku tidak begitu memperdulikannya.”
Merasa aneh hanya karena memikirkannya, Mira memutuskan untuk melupakan kejadian aneh di sekolah hari itu. Lalu ia kembali fokus pada pelajarannya, mengulang kembali pelajaran singkat ini cukup berguna meski sebenarnya saat hari pertama ini sebagiannya dihabiskan untuk perkenalan.
Tak!
Setelah beberapa waktu, ia terkejut akan sesuatu yang membuatnya melepaskan alat tulis dari sela jari-jemarinya.
“Darah?”
Setetes darah keluar dari lubang hidung Mira, bahkan sampai mengotori buku berharga, Mira lantas menyingkirkan buku-buku tersebut dan kemudian pergi untuk membersihkan lukanya.
“Sejak kapan aku berdarah? Tapi kalau di hidung 'kan mimisan ...apakah aku terlalu memaksakan diri sampai kelelahan begini?” pikir Mira seraya bercermin di kaca kamar mandi miliknya.
Wajahnya tak memucat sama sekali. Tapi yang ada justru bertambah luka di bagian tubuh lain, bagian tangan. Darahnya mengalir cukup pelan, tanda lukanya tak seburuk yang ia kira. Akan tetapi luka itu tidak berhenti muncul.
Setelah mengeluarkan darah dari lubang hidung dan tangan, kini muncul luka di lehernya. Sadar yang terincar adalah bagian vital, Mira terbaring di sana dalam keadaan lemah dan bersimbah darah.
“Eh?”
Hal itu terjadi karena seseorang mengutuknya melalui boneka. Mira yang tidak bisa berpikir jernih tentang mengapa dirinya terluka tanpa sebab, tentu akan sulit mengetahuinya dalam waktu singkat.
Terlebih yang mengutuknya bukanlah orang biasa, ialah Ania. Gadis seusia Mira, sekelas pula. Hanya ialah yang bisa melakukan hal seperti ini.
“Khe ....khe ...khe ...aku harap kamu tidak melupakan apa yang aku katakan, Mira.”
Bak penyihir jahat, di dalam kamarnya yang sangat suram itu ia tengah terkikik-kikik, merasa senang akan kebiasannya mengutuk seseorang melalui bonekanya.
Boneka yang memiliki rupa yang sama dengan Mira, memiliki luka yang sama pula. Hidung, tangan lalu leher.
“Dengan begini kamu akan mati secara perlahan. Tenang saja, aku akan memanggil tukang kubur untuk menguburmu lebih cepat,” celetuk Ania.
Tak habis-habis ia menyiksa boneka dan secara tak langsung juga menyiksa Mira di tempat yang sangat jauh dari rumah Ania sendiri.
***
“Eh ...bagaimana ini?”
Tetapi, Ania tidak tahu siapa Mira sebenarnya. Luka seperti itu tidak akan terlalu mengganggunya setelah berpuluh-puluh kali ia sekarat. Luka itu hanyalah sebagian kecil dari penderitaan Mira.
Meski begitu, Mira sendiri tidak bisa melakukan sesukanya, ia harus menunggu sampai kondisinya pulih.
“Aku seperti dikutuk. Tubuhku jadi lemas, tapi ini akan berakhir sebentar lagi.”
Ketika ia mulai mencerna pikirannya yang sempat kosong sebelum ini, Mira mulai memikirkan siapa yang berkemungkinan melakukan hal keji ini secara tak langsung.
“Ania ...aura jahatnya tidak begitu terasa tapi warnanya lebih pekat. Apa itu berarti sejak awal dia memang memiliki niat membunuh?”
Setiap luka fatal telah menutup. Tapi ketika ia hendak bangkit, kedua kakinya tak mau menurut dan ternyata sudah terpisah dengan bagian tubuhnya.
“Sampai seperti ini? Dia gadis yang benar-benar mengerikan.”
Disusul dengan kedua tangannya. Darah pun sudah membanjiri kamar mandi sepetak kecil di sana. Mengotori pakaian dan kamar mandinya. Mira tidak pernah menyangka bahwa gadis yang seusia dengannya itu mampu melakukan hal sekeji ini.
Namun saking banyaknya luka yang ia dapatkan dari hasil kutukan, semakin Mira mati rasa. Luka separah itu tidak membuatnya mengerang kesakitan sama sekali. Baik Ania maupun Mira, keduanya sama-sama mengerikan.
Dan itulah yang membuat Mira tertarik pada Ania, yang memiliki kemampuan dan bahkan tidak memiliki hati untuk tetap melakukan pembunuhan ini.
“Mungkin jika aku bertemu orang yang sama mengerikannya denganku, maka aku tak perlu takut kehilangan,” pikir Mira.
Seusai anggota tubuhnya kembali sedia kala. Tanpa meninggalkan kamar mandi, ia tetap duduk setelah membuka pintunya. Takut bila terluka lagi maka darah akan mengotori bagian lainnya. Ia tak mau repot-repot membersihkannya nanti.
“Kapan kamu akan berhenti, Ania? Bukankah sudah cukup bagimu memotong tangan dan kakiku bahkan urat nadi di leherku?” gumam Mira.
Sementara Ania nampaknya terlalu puas karena asik menyiksa boneka yang terhubung dengan jiwa Mira saat ini. Setelah merobek bagian tangan, kaki dan bagian kepalanya, ia baru merasa puas.
__ADS_1
Setelahnya ia langsung melempar boneka itu ke sembarang arah, lalu berbaring di ranjang dengan senyum lebar seakan menantikan berita kematian teman sekelasnya esok hari.
Sedangkan ia tak tahu bahwa Mira masih hidup. Walau tubuhnya kembali menyatu, tapi sayang sekali dengan pakaian yang baru saja ia beli sudah berubah menjadi bagian darah itu sendiri.
“Baiklah, sepertinya dia sudah berhenti mengutukku.”
Tersisa, bagaimana ia akan membersihkan darah ini semua. Lantai, dinding, bahkan cerminnya juga ikut ternodai. Ia jadi takut apabila darah ini akan dilihat oleh orang-orang yang melintas di dekat bagian selokan kecil, namun ia berharap takkan ada yang menyadari bahwa itu darah.
***
Di satu sisi, seorang wanita dewasa dengan rambut panjang berwarna hitam, tengah berdiam diri di depan Toko Barang Antik. Toko itu sudah tidak ada orang yang menunggunya. Papan bertanda "tutup", juga masih melekat di bagian pintu toko ini.
Wanita yang merupakan bagian keluarga dari pemilik toko, hanya bisa mendesah lelah setelah melihat toko itu dengan kedua matanya. Entah apa yang sebenarnya ia pikirkan.
Lalu, setelah berlarut-larut dalam pikirannya sendiri, ia lantas pergi menuju ke sebuah tempat. Dengan menggunakan kendaraan umum, barulah ia sampai ke tujuan.
“Apakah ada gadis yang bernama Mira tinggal di tempat kontrakan ini?” tanyanya pada seorang wanita yang merupakan pemilik kontrakan.
“Oh, maksudnya yang baru pindah dua minggu lalu ya? Ya, ada. Dia ada di lantai dua, kamarnya ada di bagian sudut,” jawab si pemilik kontrakan sambil menunjuk ke bagian sudut atas di sana.
Wanita ini merupakan kakak dari Ayah Kina. Ia datang jauh-jauh hanya untuk seorang kenalan yang tak begitu akrab.
“Mira, kamu di sini?” Sembari memanggil ia mengetuk pintu kamar.
“Iya! Siapa?”
Tak lama Mira membukakan pintunya. Beruntung ia sudah berganti pakaian namun sayangnya ia masih belum menyelesaikan bersih-bersih di bagian kamar mandi.
Baru saja setengah bagian ia membersihkannya, datang tamu yang merepotkan. Mau tak mau Mira harus menyambutnya, entah siapa.
“Maaf, siapa?”
“Oh, rupanya aku dilupakan begitu saja. Yah, memang sih kita tidak sering bertemu. Kalau begitu,” ucapnya lantas mengulurkan tangan.
“Salam kenal aku Via. Saudara Ayah Kina,” imbuhnya mengajak perkenalan lagi.
Barulah Mira sadar, tamu yang datang lebih dari sekadar merepotkan. Mira takut apabila darah itu masih tercium sampai saat ini, dan lagi ia belum benar-benar menyelesaikannya.
“Ternyata bibi.” Mira membalas jabatan tangannya.
“Baiklah, kak Via. Silahkan masuk.”
Rasanya aneh bertemu dengan wanita ini setelah sekian lamanya tidak berjumpa. Berbeda dengan adiknya yakni paman atau Ayah Kina, wanita bernama Via ini memiliki sikap yang berbanding terbalik. Ekspresi datar dan nampak seperti sombong, begitulah kesan Mira kepadanya.
Enggan menolak, Mira mempersilahkannya masuk ke dalam.
“Silahkan masuk. Maaf tidak memberitahu kakak.”
“Sekarang kamu memanggilku kakak, aku senang tapi itu aneh.”
“Jadi aku harus memanggilmu apa?” tanya Mira sedikit tertawa, sembari menyuguhkan segelas air putih.
“Dan maaf hanya ini yang aku punya,” lanjut Mira.
“Tidak masalah. Begitu pun dengan acara pindahanmu yang mendadak. Maaf tidak bisa membantumu apa-apa.”
“Tidak masalah bagiku. Jadi, kenapa kak Via ada di sini?” tanya Mira. Ia semakin khawatir, terlebih wanita satu ini kadang mampir tanpa membuat alasan apa pun seakan ingin tinggal satu rumah.
“Aku di sini karena ingin bertemu denganmu, Mira. Lebih tepatnya sisi gelapmu.”
Seperti yang diduga, Via tak datang dengan alasan sepele. Justru lebih merepotkan dari yang diduga, entah bagaimana ia harus menjawabnya.
“Sisi gelap? Maaf?”
“Ah, mungkin kata-kataku terlalu berat untuk dicerna oleh siswa pelajar ya? Baiklah, aku akan menggantinya dengan kalimat lain.”
Sebelum mengatakannya, Via menenggak segelas air putih dalam hitungan detik. Sesaat setelah menghabiskannya, ia menghela napas cukup panjang.
“Huh ...air yang kamu sajikan cukup segar. Terima kasih atas jamuannya, Mira.”
“Ya, sama-sama.”
“Intinya, aku tahu kamu itu abadi.” Via langsung to the point tanpa memikirkan kata-kata lainnya. Tentu saja Mira terkejut, ia terdiam dengan mata membulat, dan tak dapat berkata apa-apa lagi.
“Abadi. Aku tahu kamu memahami perkataanku bukan?” sahut Via. Mengetes tanggapan apa yang akan diutarakan oleh Mira.
__ADS_1
Mira ragu untuk menjawab, iya atau tidak. Atau justru malah mengalihkan pembicaraan. Namun ia yang paling tahu bahwa Via bukanlah wanita yang mudah dihadapi.
“Kak Via datang kemari hanya untuk menanyakan hal itu?” Lebih memilih membalasnya dengan sebuah pertanyaan.
“Kamu tahu, orang yang membalas pertanyaan dengan pertanyaan justru menimbulkan kecurigaan?” sindir Via.
Lagi-lagi Mira dibuat bungkam hanya dengan beberapa kata ataupun kalimat dari Via.
“Aku tidak tahu apa maksud kakak. Tapi jika menurutmu aku orangnya begitu, mau bagaimana lagi.”
Awalnya Mira tidak tahu harus menjawabnya bagaimana. Memilih untuk menyangkal dan berbohong ataukah ia memilih untuk mengatakan yang sebenarnya, hanya dua pilihan ini yang ada di depan mata tapi saat itu tiba-tiba saja terlintas jawaban lainnya.
“Jika menurut kakak, aku adalah abadi. Mungkin benar begitu.” Menjawabnya namun secara tak langsung sengaja membuat Via menjawab apa yang dipilihnya.
Via adalah orang yang berhati-hati, ekspresinya saja tidak mudah dibaca. Namun bukan berarti ia harus berwaspada, sebab Mira tidak punya alasan untuk itu.
“Bunuh saja.” Dan secara tak terduga. Suara pria itu masuk ke dalam kepala Mira secara langsung. Nampaknya sosok tersebut ingin Mira membunuh Via yang mulai menyadari jati dirinya.
Tak!
Untuk yang ketiga kalinya, Via meletakkan gelas yang sudah tak lagi berisikan air putih itu. Mira kembali menuangkannya sampai penuh, setelah sadar bahwa tanda itu adalah tanda Via untuk meminta air sekali lagi.
“Hm, aku memujimu yang tahu maksudku.”
“Aku tidak mengerti apa yang kak Via bicarakan sebenarnya,” ujar Mira.
Setelah menenggaknya sampai habis ia kembali berkata, “Dari kecil hingga saat ini, setiap kali kamu terluka pasti akan selalu cepat sembuh. Ayah dan Ibumu tahu itu, memang tidak normal.”
Tiba-tiba saja ia membicarakan perihal kedua orang tua Mira.
“Kenapa kak Via membicarakan hal itu? Sekarang ...aku rasa—”
Via mengangkat tangannya ke depan, menghentikan ucapan Mira dengan sengaja.
Ia menyahut, “Karena aku tahu. Dulu kamu sempat dibawa ke laboratorium untuk menganalisis bagian tubuhmu yang kerap kali beregenerasi tak wajar itu. Hasilnya, Ayah dan Ibumu membawamu pergi dan kemudian sampai ke kota kelahiran Ayahmu.”
“Apakah itu artinya, kota kelahiranku bukan di tempat tinggalku saat itu?”
“Ya. Tempat kelahiranmu ada di negara lain.”
“Tak aku sangka ternyata begitu.”
“Kamu hampir dijadikan kelinci percobaan, mereka berusaha menyelamatkanmu. Tapi, sayangnya mereka meninggal saat menuju ke kota.”
“Jangan bilang, saat itu bukan berpergian untuk berlibur?”
“Ya. Yang kamu tahu, kamu dan keluargamu pergi bersenang-senang. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah, kamu menetap di laboratorium selama 2 tahun, dan kemudian saat kembali ke kota menggunakan bus, terjadilah kecelakaan itu.”
Kejadian yang ia pikir hanya terjadi dalam waktu sehari. Ternyata jangka waktunya selama dua tahun tanpa Mira sadari sama sekali.
“Apa maksud kakak dengan memberitahukan hal ini semua?” Mira kembali bertanya. Rasanya tak mungkin, jika Via menceritakan ini begitu saja.
“Keabadianmu itu tidak normal. Sebisa mungkin mereka membahagiakanmu.”
Via menatap Mira yang gelisah, tak tersirat maksud licik apa pun dalam sorot mata Via ketika menatap gadis lugu ini.
“Kamu tidak membunuh seseorang bukan?” Ternyata inilah maksud dari semua cerita panjang lebar yang barusan ia ceritakan. Inilah yang ia tanyakan.
“Kakak menanyakan itu, tapi harus berbasa-basi. Sebenarnya kakak menuduhku tentang apa? Kalau tentang Kina—”
Sekali lagi Via mengangkat tangan ke depan. Guna mencegah Mira mengatakan sesuatu hal lagi secara tak beraturan.
“Bukan. Aku menceritakannya karena ini perlu diceritakan. Lalu, aku tidak peduli kamu ini abadi atau apalah itu, tapi aku hanya ingin memastikan bahwa kamu bukanlah penjahat apalagi sebagai seorang pembunuh,” ujar Via.
Niat Via tidaklah buruk, itulah yang Mira rasakan. Meski begitu suara dari sosok misterius terus menganggu kedua telinganya, ia terus mengatakan kalimat sama yang secara langsung menyuruh Mira untuk membunuh Via di sini dan saat ini.
“Kak Via mencium bau darah dari dalam kamar mandi ya?” tanya Mira memastikan, namun dengan tanpa menatap wajah Via.
Terlihat sangat jelas ia mengalihkan pandangan karena takut akan sesuatu. Via yang tak ingin mencoba mendesaknya lebih jauh, kini hanya diam tanpa mengatakan apa pun lagi.
“Ada apa kak? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?”
“Aku tidak akan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Terlebih kamu belum menjawab pertanyaanku sama sekali, Mira.”
Nampaknya situasi ini jadi semakin rumit.
__ADS_1