
**Flashback**
Adira yang mengendarai mobilnya ketika pulang dari Cafe tempat bertemunya dengan Nadia. Air matanya Tak bisa dapat ia tahan yang mengalir secara terus menerus membasahi wajah cantiknya. Ia mengingat setiap ucapan yang dilontarkan oleh Nadia padanya, Ucapan itu terus terngiang-ngiang berputar memenuhi isi kepalanya. Namum hati dan pikirannya seakan menolak Ucap itu.
"Radit tidak mungkin setengah itu padaku, Dia tak mungkin hal yang menjijikan seperti itu, Dia tak mungkin setengah itu padaku apa lagi sampai mengkhianati ku." Lirih Adira, Ia terlihat sesekali menyeka air mata yang membasahi pipinya. Kebetulan jalanan sedang lenggang sore itu jadi dia bisa dengan leluasa menjalankan mobilnya dengan begitu kencang.
"Aku harus segera pergi untuk menemui Radit sekarang juga, Agar aku bisa mendengar ucapan dari mulutnya secara langsung. Tentang kebenaran atas ucapan Nadia barusan, Aku harus menanyakan kenapa sampai ia setengah itu mengkhianati ku" Ucap Adira lagi dengan terus melajukan mobilnya.
Adira yang yang banyak pikiran dan tak fokus menyetir sampai dia tidak melihat didepan terdapat mobil truk yang akan melintas. Mobil truk itu melaju dengan begitu kencangnya, Ketika tinggal beberapa meter lagi barulah Adira melihat mobil truk tersebut. Sehingga dia Segera menghindar, memutarkan setir mobilnya untuk menghindari mobil tersebut Dan saat ia menginjak rem ternyata remnya blong akhirnya ia menabrak pohon besar yang berada di samping jalan itu. Sehingga kecelakaan naas yang menimpa Adira tidak dapat dihindari oleh dirinya.
Beberapa orang yang berdiri tidak jauh dari tempat kejadian Segera berlari membuat kerumunan untuk melihat kecelakaan tunggal yang terjadi pada sore hari itu. Sedangkan mobil truk itu terus melaju tanpa ada niat berhenti dan bertanggung jawab sama sekali.
Sehingga membuat salah seorang dari kerumunan itu menelpon ambulans agar Adira segera bisa dilarikan dan mendapatkan pertolongan.
**Flashback off**
Seketika Adira berteriak dan membuka matanya, nafasnya terengah-engah dan bulir keringat membasahi wajahnya.
__ADS_1
Radit yang terkejut mendengar teriakkan Adira, Ia segera berdiri dan menghampirinya. Karena saat Adira mengatakan ingin istirahat Radit berpindah tempat duduk, Ia berpindah ke sofa ruang tersebut.
"Sayang, Kau kenapa? Apa ada yang sakit ?" Tanya Radit dengan wajah dan suara yang menunjukkan kekhawatiran Dan ia segera menduduki kursi yang berada di samping Adira dan menggenggam tangannya erat.
Adira melihat wajah Radit dan memanggilnya setelah ia dapat menguasai dirinya. "Radit "
"Ada apa sayang, apa kau perlu sesuatu? Apa perlu aku panggilkan dokter ?" Tanya Radit
"Aku sudah mengingat semuanya" Ucapan Adira itu membuat kening Radit berkerut menandakan ia sedang bingung dengan ucapan Adira barusan.
"Benarkah sayang" Spontan senyum manis Radit terukir di bibirnya.
Adira yang ingin membuka mulutnya untuk menanyakan kebenaran tentang ucapan Nadia tempo lalu, menjadi terhenti karena pintu ruangannya yang dibuka secara tiba-tiba. Menampilkan seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat khawatir.
"Sayang, kamu kenapa sampai bisa masuk rumah sakit seperti ini?" Tanya wanita paruh baya itu yang tidak lain adalah mama Anita.
Radit yang melihat mama Anita segera berdiri dari duduknya untuk memberikan tempat duduknya pada mama Anita.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Mama tidak perlu terlalu khawatir seperti itu" Jawab Adira
"Apa katamu, jangan khawatir mana ada seorang ibu yang tidak khawatir mendengarkan kabar anaknya masuk rumah sakit" Ucap mama Anita dengan wajah yang sendu. karena mengingat putri semata wayangnya pernah masuk rumah sakit dan dirawat berbulan-bulan lamanya. sehingga membuat mama Anita yang mendengar kabar Adira Masuk rumah sakit lagi menjadi trauma.
"Aku baik-baik saja, ma. Beruntung ada Radit yang menyelamatkan aku" ucapan Adira membuat mama Anita tersadar bukan cuman mereka berdua saja yang berada didalam ruangan ini. Beliau melihat Radit yang berdiri tepat disampingnya.
"Terimakasih nak Radit. Kau sudah menyelamatkan putri tante" Ucap mama Anita dengan tulus
"Tak perlu Tante berterima kasih pada saya Tan, itu sudah menjadi tugas saya untuk selalu melindungi Adira. Yang terpenting sekarang keadaan Adira sudah baik-baik saja, Karena saya yakin Tante sudah tahu seberarti apa putri Tante untuk ku" Ucap Radit dengan sangat serius. Sehingga membuat Adira menjadi malu karena ucapan yang Radit lontarkan pada sang mama. Sedangkan mama Anita tersenyum mendengar ucapan Radit.
"Kamu memang pria yang baik. Apa benar kau masih mencintai Adira?"Ucap mama Anita secara tiba-tiba
"Tidak perlu aku menjawab pertanyaan itu Tante. Karena Tante sendiri sudah tau jawabannya"
"Apa kau bisa menerima Adira apa adanya? Tante berharap kali ini kau yang menjadi jodoh Adira. Agar kau bisa menjaga dan melindungi dirinya" Ucapan Tante Anita membuat Radit tersenyum. Sedangkan Adira menjadi semakin malu sehingga pipinya menjadi merona.
Namun ketika Radit akan memberikan jawaban suara ketukan pintu dari luar menghentikan pembicaraan mereka.
__ADS_1